
Yola tiba di hotel dan langsung membaringkan tubuhnya secara perlahan di ranjang. Perutnya masih sedikit keram.
"Kau kenape?" tanya Ilham melihat Yola yang sedang meringis.
"Perutku keram, Abang. Aku datang bulan .... " rintihnya.
Ilham mengangkat alisnya. Datang bulan? Apa itu?
"Terus macem mana? Yola mahu ke doctor ke?" tanya Ilham.
Yola menggeleng.
"Aku udah minum jamu pereda nyeri saat datang bulan, nanti juga sembuh sendiri," kata Yola.
"Kalau macam tu rehatlah sekejap," kata Ilham.
"Maksudku, aku haid. Biasanya memang agak keram dan sakit kayak gini," kata Yola sebelum Ilham kembali dengan melontarkan banyak pertanyaan.
"Kalau begitu macam mana Abang boleh berikan perlakuan romantis untuk Yola kalau Yola sakit macam ni?" tanya Ilham sedikit kecewa.
"Biarkan aku istirahat sebentar aja, Abang. Sampai aku agak membaik sedikit," kata Yola.
Ilham mengangguk dan ikut berbaring di samping Yola. Dengan sayang, dia memeluk Yola dan menyusupkan tangannya ke balik baju Yola dan mengelus-elusnya.
"Merase lebih baik?" tanya Ilham yang disahuti oleh anggukan wanita itu.
Tangan Ilham seperti obat ajaib yang langsung bisa meredakan keram di perutnya. Maka tak lama setelah keram yang Yola rasakan mereda ibu muda itu pun kembali merengek menuntut janji suaminya itu.
"Abang, ayo kita pergi. Abang janji pada Yola akan memberi kejutan romantis, kan?" tuntut Yola.
"Tapi Yola sedang sakit," kata Ilham.
"Nggak kok, udah sembuh," kata gadis itu lagi.
Ilham menatap Yola kembali. Betapa manjanya .... Ini benar-benar mirip Yola kecil. Ada apa dengannya?
"Oke, oke. Kalau macam tu, Abang berganti baju dahulu," kata Ilham.
Yola pun dengan patuh menurut. Hingga Ilham selesai mandi dan Yola selesai berkemas- kemas keduanya turun ke bawah.
"Kita nggak naik sepeda motor lagi?" tanya Yola.
"Tak. Kite naik kereta sahaja. Mataharinya terik sangat," kata pria itu
Yola manggut-manggut namun menurut saat Ilham menuntunnya naik ke mobil
"Yola tutup mata dahulu," kata Ilham lagi sembari mengeluarkan saputangan dari dalam kantongnya.
"Kenapa?"
__ADS_1
"Kan surprise romantis," kata Ilham.
"Oh, iya ya ... Oke deh kalau begitu," jawab Yola.
Lalu Ilham pun menutup mata Yola dengan sapu tangan itu dan membawanya ke suatu tempat yang Yola belum tahu akan dibawa kemana.
Tidak lama perjalanan itu, akhirnya mobil itu berhenti.
"Dah sampai," kata Ilham.
Yola akan membuka sapu tangan yang menutup matanya tapi Ilham melarangnya.
"Eitss.... belum boleh, Sayang," katanya.
"Tapi aku penasaran, Abaaang ...." rengek Yola lagi.
"Sekejap lagi," kata Ilham. "Kau tunggu sahaja!"
Lepas mengatakan itu, Ilham pun keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Yola. Dengan pelan- pelan Yola dituntun oleh Ilham untuk keluar dari mobil dan berjalan memasuki sebuah gedung.
"Kita mau kemana, Abang?" tanya Yola.
Dia bisa merasakan saat Ilham membawanya masuk ke dalam sebuah lift.
"Yola usah bisinglah. Ape itu yang sering Yola cakap? Hmmm .... usah bawel ...."
"Isss .... Abaaang ...."
Entah mereka akan pergi ke lantai berapa, yang pasti Yola bisa merasakan dari lamanya mereka di dalam lift kalau mereka berada di lantai puluhan.
Hingga akhirnya lift itu terhenti. Ilham menuntun Yola untuk keluar dari sana. Yola berjalan pelan- pelan dan merasa seperti mereka berada di luar ruangan. Yola bisa merasakan itu dari cahaya matahari yang menerpa wajahnya dan juga terpaan angin yang mengibas rambutnya.
"Tunggu sekejap, kite pakai ini dulu," kata Ilham.
Yola manut saat Ilham membuka sandal yang dia pakai, dan menggantinya dengan sepasang alas kaki dari kain namun sepertinya bukan kaos kaki. Dia sepertinya mulai sedikit curiga ke mana Ilham membawanya terlebih lagi saat pria itu menuntunnya untuk berjalan beberapa langkah lagi, Yola bisa merasakan permukaan lantai itu berbeda dengan yang sebelumnya dua injak.
Benar saja dugaan Yola saat Ilham membuka penutup matanya.
"A- a- abaaaang ...." Yola gemetar.
Mereka kini sedang berada sebuah jembatan kaca di ketinggian ratusan meter dari lantai bawah gedung.
Yola merasa sangat gamang melihat pemandangan di bawah jembatan itu. Nun jauh di bawah sana terlihat banyak bangunan dan jalan raya yang nampak begitu keci dengan mobil- mobil dan kenderaan yang juga terlihat seperti miniatur mobilan yang terlihat berjalan seperti semut. Kakinya lemas seketika.
Di hadapannya Ilham sedang berlutut dan dan menyerahkan sebuket bunga mawar merah untuknya.
"Yola, ini salah satu yang bisa abang lakukan untuk Yola. Macam mana? Romantis, kan?" tanya Ilham.
Haaaa? Apa katanya? Romantis?
__ADS_1
"Terimalah bunga dari Abang!"
Yola masih bengong tak percaya.
"Kakak!!! Terima sahaja pinangan abang tu!!!" teriak seseorang.
Yola baru saja menyadari kalau mereka tidak berdua di sana. Tempat itu ramai oleh pengunjung yang memang datang untuk mencoba Skywalk yang merupakan salah satu tempat yang berada di kota Penang ini. Hanya saja di jembatan kaca ini, saat ini memang hanya ada mereka berdua karena sebelumnya Ilham telah meminta pihak lanitia untuk mengijinkan hanya mereka berdua dulu yang berada di skywalk dan yang lain menunggu di luar pintu pembatas. Dan orang-orang di sana pasti mengira kalau Ilham tengah melakukan lamaran pada kekasihnya.
Ilham sendiri mendapat kesempatan untuk masuk ke sana tanpa harus melakukan antrian seperti pengunjung lain karena pengelola tempat itu masih memiliki hubungan keluarga yang dekat dengan Atok.
"Macam mana? Indah tak?" tanya Ilham menunjuk pada pemandangan sekeliling mereka.
Indah sih indah, tapi kalau begini caranya Yola bisa pingsan karena gemetar.
Perlahan Yola mencoba berjongkok di lantai kaca itu. Pelan- pelan ia beringsut mendekati Ilham yang sedang berlutut dan menyerahkan sebuket bunga untuk dia terima.
"A- abang, aku takuuut ...."
Yola akhirnya bisa meraih Ilham dan memeluknya. Dia benar-benar sangat takut sekarang. Mereka berada di ketinggian lebih dari 230 meter.
Ilham mengernyitkan keningnya? Takut?
"Macam mana? Abang romantis, kan?"
Yola menutup matanya sambil memeluk Ilham dengan erat yang disalahpahami oleh pengunjung lain sebagai pinangan Ilham yang diterima oleh Yola. Mereka bertepuk tangan untuk keduanya.
Yola memukul bahu Ilham sebal.
"Romantis apaan, Abang?! Yola takuuut .... Bawa Yola dari sini!" rengek Yola.
"Takut? Bukannya kau suka ketinggian seperti di Royale Hotel waktu si gendut meminangmu?" tanya Ilham masih tak percaya kalau usaha yang dilakukannya malah gagal romantis.
"Ya, bedalah. Tingginya nggak kayak begini! Udah gitu nggak disuruh berdiri di lantai kaca juga kaliii ...." keluh Yola.
"Lalu macam mana? Kite balik?"
Masih memejamkan matanya di pundak Ilham, Yola mengangguk.
"Yola takuut ...." gumamnya lirih.
Ilham menarik napas panjang. Yah, gagal usaha romantisnya.
"Oke, kite balik," katanya sambil membimbing Yola untuk berdiri.
Yola masih memejamkan matanya sambil berjalan di atas lantai kaca. Dia tak sanggup lagi melihat ke bawah. Kakinya benar- benar lemas.
"Tahniah, Tuan! Tahniah, Puan!"
Ucapan selamat dari pengunjung lain yang mengira moment lamarannya berhasil membuat Ilham garuk- garuk kepala. Dia harus memikirkan cara lain yang benar- benar romantis. Bukan yang menakuti Yola seperti ini. Ilham yakin dia bisa.
__ADS_1
***
Hai reader .... Masih setia dengan kelanjutan Jodoh dari Malaysia, banyakin like dan komentarnya ya gengs .... Author belum sempat membalas satu- satu, karena sibuk dengan target NWA. Tapi pasti author baca kok! Jadi tetap ikuti cerita ini ya...