
"Argggghhhh!!! Sakiiiiitttt!!!!" jerit Yola.
Orang yang menendang bola tadi ke arahnya seketika menjadi panik, begitu pun dengn teman- temannya.
"Bubar yuk, Bubar! Sebelum ada guru yang datang kesini!!!"
"Mamaaaaa!!! Sakiiiiit ...." rintihnya.
Beberapa orang dari siswi kelas sebelah merasa kasihan dan mencoba membantunya. Tapi Yola sudah tidak percaya lagi pada orang lain. Dia tidak mau dibantu berdiri. Kepercayaannya pada orang lain bahkan pada dirinya sendiri sepertinya telah sampai di titik paling krisis dalam hidupnya.
Tetapi hanya ada satu orang yang dia percaya dan dia yakin tidak akan pernah menyakitinya. Dia Hafiz.
Begitu melihat Hafiz datang, Yola langsung memeluknya erat.
"Ehsaaaan, untung kamu datang ... Bawa aku dari sini, Nduuut. I- ini sakit sekaliiii .... huuuu ... sakiiiiit ...."
Hafiz yang baru saja datang setelah dapat kabar dari temannya kalau Yola dalam situasi yang sulit, segera berusaha menenangkan sahabatnya itu.
Hafiz balas memeluknya. Tak peduli lagi apa dan bagaimana pandangan orang lain terhadapnya. Dia juga ingin menangis melihat keadaan Yola saat ini.
"Yola, kau tenang sahaja, ok? Aku akan panggilkan ibu guru sekejap je" katanya sembari mengusap rambut Yola. Hatinya pilu melihat Yola yang selalu ceria dari dulu sangat bertolak belakang dengan yang sekarang.
Yola menggeleng.
"Nggak, Nduuut. Jangan tinggalin aku. Ini sakiiit sekali," katanya sambil meringis.
Tak hanya fisiknya yang sakit saat ini. Hatinya juga. Sedih karena penolakan orang- orang di sekitarnya terhadapnya. Kenapa orang- orang memperlakukannya seperti penjahat? Apa salahnya kalau dia hamil? Kenapa orang- orang tak percaya dia sudah menikah?
Ilham, suaminya sendiri telah menoreh luka yang paling dalam di hatinya. Tidakkah itu cukup? Kenapa orang- orang ini masih ingin menabur garam di atas luka itu? Apa salahnya? Dia tidak menyakiti siapa pun tapi kenapa semua orang ingin menyakitinya?
Hafiz melepaskan pelukannya dari Yola dan menatap wajah kuyu itu dengan perasaan kacau yang teramat sangat.
"Yola, kau masih boleh berdiri ke? Aku nak bawa kau ke hospital. Kau jangan menangis macam tu. Kau masih ade aku, aku takkan tinggalkan kau," kata Hafiz mencoba menenangkan sahabatnya itu.
Yola mengangguk.
Dengan dibantu oleh Hafiz Yola berusaha berdiri dan dipapah oleh Hafiz. Setelah meminta ijin pada guru, Hafiz dan salah seorang guru mendampingi mereka ke rumah sakit.
"Masih sakit?" tanya Hafiz.
Yola mengangguk pelan.
"Sedikit," jawabnya.
Kontraksi pada perutnya memang agak berkurang sekarang.
__ADS_1
"Yola, sekejap lagi, Mak Cik Ratih akan tiba kat sini. Kau usah cemas. Semua akan baik- baik sahaja," kata Hafiz mencoba menguatkan Yola.
Tangannya menggenggam tangan calon ibu muda itu.
"Ehsan, terima kasih untuk semuanya," ucap Yola.
"Kau ni cakap ape? Kite ni sahabat, kan?" jawab Hafiz.
Yola menarik napas panjang menahan sesak dalam hatinya.
"Andai waktu itu kau yang dinikahkan denganku, mungkin aku tidak perlu mengalami semua ini, kan?" kata Yola menyesali semua yang terjadi padanya.
Hafiz tersenyum pahit.
"Kalau aku yang berkahwin dengan kau, mestilah aku yang menangis kerana dibully terus olehmu," kata pria itu.
Yola tertawa sambil menangis.
"Aku ini memang menyedihkan ya, Ndut?"
Hafiz menggeleng dengan raut wajah muram.
"Aku yang lebih menyedihkan daripada kau. Kau cakap tadi andai aku yang berkahwin denganmu? Kau tahu tak Yola, kau tak mungkin boleh berkahwin dengan aku. Kau tahu kenape?" tanya Hafiz balik.
"Kerana aku bukan darah daging keturunan Nirwan," kata Hafiz.
Bersamaan dengan itu tangisnya pecah membuat perhatian pasien dan keluarganya dari ranjang sebelah di IGD itu beralih pada mereka.
"Maksudnya, Ndut?" tanya Yola tak mengerti.
Sejak Hafiz tahu tentang status dirinya yang hanya anak pungut di keluarga Nirwan, dia memang belum pernah memberi tahu Yola tentang kebenaran ini.
"Aku bukan anak kandungnya Mamah. Aku hanya anak yang dipungut oleh keluarga Nirwan sahaja. Huuuu huuuu ... Aku ni bukan siape- siape!"
Hafiz tak kuasa menahan air matanya lagi.
Yola tercengang mendengar pengakuan Hafiz. Dia berharap ini hanya gurauan Hafiz. Namun nyatanya lelaki bertubuh gemuk itu sedang menangis sesenggukan di hadapannya. Dia terlihat hancur. Dan harusnya Yola sudah melihat perubahan sikap Hafiz dari beberapa bulan lalu. Kenapa dia tidak peka? Yola menyesalinya.
Terakhir yang bisa Yola lakukan hanya memeluk Hafiz.
"Kau masih punya aku, Ndut!"
Begitulah. Apa yang mereka lewati bersama, baik itu suka atau pun duka telah membuat keduanya dekat melebihi saudara.
Hingga akhirnya Yola tiba waktunya melahirkan. Hanya ada Hafiz yang menungguinya meski pun hanya sebatas di luar ruangan saja.
__ADS_1
"Dia ganteng sekali, sayang!" puji Ratih sesaat setelah bayi itu selesai dibersihkan dan kini berada di gendongannya.
Yola membuang muka tak ingin melihat anak itu.
"Yola susuin Ammar, ya ..." bujuk Mama Ratih.
Ammar Gunawan, begitu Mama Ratih ingin memberi nama pada cucu pertamanya itu.
"Yola nggak mau, Mah!" tolak Yola.
"Sayang, kasihan Ammar nanti. Dia lapar ...." bujuk sang Mama lagi.
"Belikan aja susu formula untuk bayi. Nggak perlu memaksa Yola kayak begitu," kata Abimanyu yang tiba- tiba kini telah masuk ke ruang perawatan bersalin tempat Yola dirawat.
"Susu formula? Buat apa kalau memang Yola bisa memberi ASI?" jawab Ratih tak terima.
Abimanyu mendengus.
"Tengku Yahya Nirwan, baru saja menelepon Papa. Mereka mau cucu mereka ..."
"Terus Papa mengijinkan??" tanya Ratih dengan menaikkan intonasi suaranya.
"Demi kebaikan Yola. Yola perlu menata hidupnya kembali. Adanya anak itu disini hanya akan menghambat kemajuan Yola dalam memperbaiki masa depannya. Kita harus membereskan kekacauan ini, Mah. Yola akan papa pindahkan ke sekolah lain. Dan setelah dia tamat SMA, papa akan kirim dia belajar ke Amerika, ke universitas Warthon," kata Abimanyu.
Ratih hampir tak percaya pada yang didengarnya.
"Papa? Papa bercanda? Yola adalah anak kita satu- satunya. Dan Ammar dia cucu kita Papa, coba lihat! Bagaimana Papa bisa berpikir akan memisahkan seorang bayi dengan ibunya?" teriak Mama Ratih marah.
"Justru karena Yola anak kita satu- satunya, Papa tidak mau hidupnya hancur . Kita masih bisa perbaiki hidup Yola. Dan soal cucu, kelak jika Yola menikah lagi dengan lelaki yang lebih pantas, kita bisa mendapatkan cucu lagi. Apa masalahnya?" balas Abimanyu.
Yola hanya mendengar kedua orang tuanya saling bertengkar dan berteriak. Keduanya sama- sama punya pendapat yang menurut Yola sama- sama demi kepentingan dirinya.
Selang beberapa saat wanita yang baru saja habis melahirkan itu mencoba duduk dan bangkit. Lalu Yola mengulurkan tangan ke arah sang Mama, meminta baby Ammar untuk digendongnya.
Ratih dengan rasa bahagia menyerahkan Ammar ke pangkuan Yola. Syukurlah putrinya itu kini tak menolak Ammar lagi.
Dengan canggung Yola menyingkap bajunya dan mencoba memberi Ammar ASI.
Melihat dan merasakan bayi itu mengambil asupan makanan lewat ASI dari tubuhnya rasa tak percaya kalau dirinya kini adalah seorang ibu dari bayi mungil itu. Tapi mengingat bayi itu adalah hasil dari kejahatan Ilham merayunya kemudian mencampakkannya, membuat hatinya tak urung menjadi sedih.
"Yola akan ikut apa kata Papah, Ma. Ammar biarkan ikut keluarga Nirwan
***
Like dan komentarnya dulu reader akoe ....
__ADS_1