
"Kenapa matamu bengkak begitu? Nangis?" Abimanyu menatap tajam Yola saat gadis itu hendak pergi ke sekolah.
Yola hanya diam tak kuasa menatap sang Papa.
"Lupakan anak itu, Yola! Biarkan keluarga Nirwan yang mengurusnya. Kau anggap saja mereka tak pernah ada dalam hidup kita, termasuk bayi itu tentunya!" kecam Abimanyu.
"Papa!" protes Mama Ratih tak terima. "Ammar cucu kita! Wajar donk kalau Yola ma ..."
"No debat! Habiskan makananmu, ikut sama Papa berangkat ke sekolah!"
Diktator, otoriter itulah Abimanyu. Ratih hanya bisa mengelus punggung Yola untuk menyabarkan hati sang putri. Dan Yola seperti biasa tak berani membantah papa.
****
Tepat seperti yang direncanakan, akhirnya Ammar diboyong juga ke Berlin oleh Ilham. Dengan Mamanya, ketiganya hidup di negeri orang.
Life must go on. Hidup tetap berjalan. Dalam seminggu Ilham terkadang menanyakan kabar tentang Yola pada Ana. Dari asisten rumah tangga itulah sedikit banyak Ilham dapat mengetahui tentang perkembangan Yola, apa yang dilakukan istrinya itu meski Ana tidak selalu bisa memberikan info secara detail. Tetapi info yang dia berikan selalu berguna. Misal ketika Yola lulus SMA dan Abimanyu mengirimnya ke Pensylvania, orang yang memberinya info tentu saja adalah Ana, lengkap dengan universitas dan nama fakultas tempat Yola menimba ilmu. Dari situ Ilham tahu dan kemudian mengirim seseorang dari jauh juga untuk mengawasi Yola.
Pernah sekali Ilham mencoba nekad ke sana dan bermaksud menemui Yola, sayang sungguh disayang, tenyata istrinya itu masih dijaga dengan protektif oleh Abimanyu. Beberapa meter sebelum dia berhasil menghampiri Yola, dua orang bodyguard sudah mencekalnya. Tentu saja mereka akan laporkan hal itu pada Abimanyu. Dan lagi-lagi Abimanyu melalui panggilan seluler mengancam Ilham untuk tidak mengganggu putrinya.
Sementara Ammar dia bertumbuh menjadi balita yang cerdas, dikelilingi teman-teman sang ayah membuatnya banyak menyerap bahasa yang mereka gunakan. Termasuk panggilan pada ayah dan neneknya. Bocah itu menjadi terbiasa memanggil Ilham "Daddy" berkat teman-teman ayahnya. Begitu pula dengan panggilan nenek "Grandma, Granny".
Dengan adanya Zubaedah, Ilham merasa sangat terbantu, namun dikarenakan Zubaedah harus pulang kadang-kadang untuk menjenguk suaminya dan Hafiz, ada kalanya Ilham terpaksa harus kerepotan mengurus semuanya. Bahkan jika Zubaedah tak ada, jika ada jam mata kuliah di kampusnya, dia terpaksa membawa baby Ammar ke kampus. Anak imut nan menggemaskan itu sering menjadi rebutan teman-teman sekampusnya. Dan Ilham hanya perlu menitipkannya pada teman-temanya yang kebetulan memiliki jam kuliah kosong saat Ilham tengah mengikuti mata kuliah.
Semua itu berlangsung selama beberapa tahun, hingga akhirnya Ilham menyelesaikan pendidikannya dan kembali ke Kuala Lumpur bersama Ammar dan sang Mama. Dan Sonia tentunya tak mau ketinggalan meski Ilham tetap menolak serumah dengannya, wanita itu tetap mengekorinya kemana pun dia pergi.
Kembalinya Ilham telah ditunggu lama oleh Tengku Yahya Nirwan. Penyerahan tampuk kepemimpinan Chief Eksekutif Officer (CEO) atau dengan bahasa lokalnya Ketua Pengarah, segera dilakukan. Dan untuk mempermudah tugas dan tanggung jawabnya sebagai ketua pengarah, pria itu menghubungi sahabat-sahabat lamanya yaitu Leon dan Nadira untuk bergabung dengan N-one Grocery. Keduanya yang saat itu sudah bekerja di perusahaan lain menyambut dengan senang hati ajakan Ilham dan mengajukan resign ke tempat kerja mereka masing-masing.
Semua berjalan sebagaimana mestinya hingga di suatu waktu Ilham ditugaskan untuk menangani syarikat N-one Grocery di Johor Bahru. Beberapa lama berselang, Nadira tiba-tiba menghubunginya di pagi buta.
"Ilham! Cuba kau periksa email yang kukirimkan padamu," suruh Nadira di telepon.
"Aku ni masih mengantuk. Ada ape telepon subuh-subuh macam ni? Email ape?" tanya Ilham balik.
"Kau tengok sahaja dahulu. Aku kirimkan daftar pelamar kerja untuk posisi pengarah marketing beserta CV-nya (Curriculum Vitae atau Daftar Riwayat Hidup), cuba kau tengok kandidatnya tu dahulu," suruh Nadira lagi.
"Hoaam, aku nih masih mengantuklah, Nadira. Macam ni pun kau tak dapat tangani seorang ke? Pengarah Personalia macam apa suruh-suruh Ketua Pengarah nak urus pekerjaan dia," gerutu Ilham.
"Tak payah banyak cakap! Kau akan menyesal kalau tak tengok kandidat pengarah marketing satu ni. Dia cantik sangat agaknya. Cocok ni buat ketua pengarah!" goda Nadira.
"Kau jangan banyak bergurau, Nadira. Kalau salary kau kupotong nanti macam mana?" ancam Ilham sebal.
__ADS_1
"Tak ape kalau mahu dipotong pun. Tapi tengok dahulu calon kandidat tu, siapa tahu cocok dijadikan isteri, hihihi...." Nadira makin menjadi-jadi menggodanya.
"Aissss ..." desis Ilham sambil menggerutu jengkel. " Baik aku tengok sekarang! Tapi kalau ni tak penting, awas sahaja. Salary kau mesti dipotong 50% bulan ni!"
"Oke, tapi aku yakin kau mesti bagi aku tambahan salary 50% kerana ni, percayalah Ilham!"
Segera Ilham bangun dan mencari laptopnya serta mengecek email yang dikirim Nadira. Dia memeriksa daftar-daftar kandidat dan CV pelamar pengarah marketing di N-one Pusat Kuala Lumpur. Dari atas Ilhan scrool hingga ke tengah dan ke bawah lagi ... Ketika dia sampi di urutan ke 12 pelamar itu ...
Deg!
Tertera nama seseorang dan pas fotonya di sana. Seseorang yang telah lama dirindukannya. Masih tak percaya, Ilham meraih ponselnya dan kembali berbicara pada Nadira.
"Yolanda Gunawan? Ini .... ini, betul ke? Nadira, kau dapat ni dari mana?"
"Jadi macam mana? Aku dapat bonus 50% tak?" godanya lagi. "Dia cantik kan? Cocok menjadi isteri ketua pengarah ni! Hahahah!"
"Baiklah, aku akan bertolak ke KL sekarang!"
Saat itu masih subuh dan Ilham segera menuju airport Senai. Tak memikirkan apa-apa lagi selain menemui seseorang yang telah lama dinanti. Yolanda.
*Flashback Off*
"Lepas tu Abang langsung bertolak ke KL, dan kite pun berjumpa lagi saat sesi interview, Isteriku," kata Ilham sambil mengerling nakal pada Yola.
Amarah yang sempat datang tadi mereda ketika dia menceritakan kembali apa yang Ilham lalui selama tak ada Yola di sisinya. Dan Yola yang sedari tadi mendengarkan kini berdiam diri, sedih kalau dia ingat saat dulu dia dipisahkan dari Ammar.
"Terus kenapa abang nggak pernah bercerita apa-apa padaku selama ini?"
"Ni dah pun abang cerita."
"Maksudku kemarin-kemarin, Abang! Bukan sekarang! Soal abang ngasih Mbak Ana uang, iss pantas habis Ammar dibawa pergi, perasaanku Kak Ana sangat sering bawakan aku makanan, bikinin makanan kesukaanku. Sempat heran sih, kirain tulus sekalinya karena disuruh sama Abang!" gerutu Yola.
Ilham hanya terkekeh menndengar gerutuan Yola.
"Kak Ana tulus, Sayang. Dia tuh awalnya juga ragu nak tolong Abang, lalu dia tanya abang, 'kamu sayang Non Yola ke?', abang dengan sigap jawab 'sangat!', barulah dia nak tolong Abang," kenang Ilham.
"Tapi tetap aja Mbak Ana salah, cih!" decih Yola sebal yang disambut dengan gelak tawa Ilham.
Perjalanan menuju apartemen Gold Century memakan waktu hingga setengah jam. Sehak mendengar cerita Ilham, Yola lebih banyak diam. Dia mengira selama ini hanya dia saja yang menderita tenyata Ilham dan Sonia juga. Huffft ... sekarang mereka hanya bisa mengambil hikmahnya. Dan jodoh memang tak akan pernah lari kemana-mana.
"Siap ketemu Hafiz nggak ini, Put?" goda Yola begitu mereka turun dari mobil. "Hafiz pasti kaget nih!"
__ADS_1
Putri memegang Ammar dengan sebelah tangannya sementara tangannya menyentuh dadanya. Oh my God!Jantungnya rasa mau copot! Betapa grogi dan tidak nyamannya dia.
"Yol, anu kita pulang aja, ya ..." rengeknya.
"Loh aneh, udah nyampe KL, udah nyampe di apartemen doi malah mau kabur. Cemen!!!" ledek Yola.
"Aku takut ..."
"Kamu cuma grogi."
"Aku mau pipis."
"Nanti aja kalau udah sampai di sana."
"Yola! Aku mau pulang!" rengeknya bak anak kecil.
Tapi Yola tak menghiraukan. Setelah menunggu Ilham memarkirkan mobil, mereka berempat pun segera ke lantai 9 gedung apartemen itu.
Tepat di depan pintu sebuah flat apartemen mereka berhenti.
"Beneran udah pulang nggak nih Hafiz?" tanya Yola pada Ilham ingin memastikan.
"He em."
Yola pun memencet bel. Tak langsung ada sahutan. Yola mengulanginya lagi. Tetap belum ada sahutan. Ketiga kali Yola hendak memasukkan passcode tiba-tiba pintu terbuka.
"Tunggu sebentar!" Suara dari interkom membuat Yola, Ilham dan putri bingung. Itu suara perempuan.
Seseorang yang sedang memakai kimono mandi membuka pintu.
"Yuri?!" Yola membelalakkan matanya.
Putri tak paham apa yang terjadi. Yang dia tahu, ada wanita di apartemen Hafiz. Dan di lihat dari penampilannya, tak mungkin dia hanya teman Hafiz, kan?
Tiba-tiba saja Putri merasa patah hati.
***
Hai reader flashback Ilham sampai situ aja dulu, ya! Takut reader bosan dan biar nggak kepanjangan juga authornya nulisnya. Biar cepat ditamatin soalnya.
Jangab lupa like dan komentnya ya
__ADS_1