
#Cinta_Dua_Negara/Jodoh dari Malaysia
Part 19
French kiss di pagi hari adalah sarapan terbaik di dunia yang dimaksud oleh Ilham. Tindakannya Ilham yang mencium Yola itu tak hanya mengagetkan si pemilik bibir, melainkan mengagetkan Saidah bahkan Zubaedah. Dan siapa yang sangka si kecil Ammar juga yang menyusul ke dapur untuk berbicara dengan grandma-nya turut melihat pemandangan itu.
"Dad???!!!"
Yola yang sedari tadi sangking terkejutnya hanya membiarkan Ilham melakukan apa yang dia mau, tersadar dan mendorong Ilham kasar. Sementara Saidah buru- buru menarik tangan Ammar menjauh dari situ. Sungguh pemandangan yang membuat Saidah ikut merasa malu. Dia tak menyangka kalau majikannya yang dingin itu akan melakukan hal itu pada wanita pemilik apartemen ini. Siapa yang menyangka kalau dia memergokinya sendiri. Wanita yang dipanggil Mommy oleh Ammar.
"Aku mau mandi dulu. Habis ini aku mau langsung ke N-one. Kamu antar Ammar aja ke tadika," kata Yola yang segera bergegas meninggalkan dapur.
"Kite berangkat bersame- same," kata Ilham sembari mengejar Yola.
"Nggak usah, kita nggak sedekat itu Tuan Pengarah," jawab Yola ketus.
"Yola! Abang serius ingin memulai semua lagi dari awal," kata Ilham tak mau menyerah.
Yola tak peduli. Dia segera masuk ke dalam kamarnya untuk mandi, Ilham mengikutinya.
"Stop! Sampai di situ aja. Tolong ketahui batasanmu, Ketua Pengarah!" larang Yola pada Ilham yang ingin masuk ke dalam kamarnya.
"Kenape? Semalam abang dah tidur pun kat sini," jawab Ilham.
"Itu cuma kesalahan yang tak kuinginkan, bukan berarti untuk selanjutnya kamu bebas keluar masuk apartemenku apalagi kamarku," jawab Yola jutek. "Sudah! Sekarang kembalilah ke unitmu!" kata Yola sembari membanting pintu kamarnya dan menguncinya dari dalam.
Di kamar Yola memijat- mijat pelipisnya. Sebenarnya dia sangat pusing saat ini. Benarkah dia dan Ilham telah melakukan lagi hubungan seperti itu tadi malam? Bagaimana kalau sampai benar seperti itu? Bagaimana kalau sampai dia hamil lagi? Perkataannya tentang dia yang memakai alat kontrasepsi jangka panjang itu tak lebih hanya kebohongannya semata.
Mendapat penolakan lagi dari Yola, Ilham hanya bisa berpasrah dan bersabar. Tapi Ilham sadar kalau Yola tak sepenuhnya menolaknya. Wanita itu tadi menerima begitu saja ciumannya andai Ammar dan pengasuhnya tak datang memergoki mereka.
Selepas Yola mandi, Yola segera berpakaian. Dia sedikit menggerutu karena tidak memiliki baju berleher tinggi untuk menutupi bekas kissmark hasil perbuatan Ilham semalam saat ia tak sadarkan diri. Untuk menyamarkan bekas itu, Yola hanya bisa mengoleskan foundation. Nanti sesampai di N-one, dia akan mencari di supermarket apa disana menjual koyo untuk menutupinya, walaupun nantinya itu akan sangat merusak penampilannya.
Usai berdandan, Yola segera keluar dari flatnya dan turun ke bawah. Tak disangka ternyata Ilham, Ammar dan pengasuhnya telah menunggunya sedari tadi.
"Masuklah ke kereta, kita berangkat bersama-sama," ajak Ilham.
Yola acuh pada ajakan Ilham, namun dia mendekati jendela mobil belakang, di tempat Ammar menyembulkan kepalanya.
"Sayang, Mommy nggak bisa antar kamu hari ini, ya. Mommy ada urusan pekerjaan di kantor dan harus ke N-one pinggir utara kota pagi ini. Biar Daddy yang antar kamu," kata Yola memberi pengertian pada putranya itu.
"Come on, Mom. Let's heading to N-one together. " bujuk Ammar padanya.
"Ya, kalau kamu memang tergesa-gesa, aku boleh antar kau lebih dahulu ke N-one. Lepas tu baru aku antar Ammar ke Tadika," kata Ilham.
"Itu tidak perlu. Jarak dari N-one ke sini cukup dekat. Aku bisa berjalan kaki saja,"tolak Yola.
Ilham menggeram jengkel dan membuka pintu kemudinya.
"I don't accept any refuse. Aku tak menerima penolakan," katanya dan menarik tangan Yola dan membukakan pintu mobil di sisi lain.
Setengah memaksa, Ilham mendorong Yola masuk ke dalam mobil dan duduk di sebelahnya. Yola mendesah. Lagi- lagi ia tak bisa menolak Ilham. Menolak Ilham di depan Ammar tentu akan membuat anak itu akan melihat pertengkaran mereka nanti. Hingga dalam sekejab saja mobil itu pun akhirnya berhenti di depan N-one.
"Kau masuklah dahulu, aku hantar Ammar dahulu ke tadika," kata Ilham.
Yola mengangguk.
"Ammar, say bye to Mommy!" kata Ilham mengajarkan putranya.
"Bye, Mom!" ucap Ammar.
"Bye, sayang. Have a nice day in a school, ok?" balas Yola sambil mengecup pipi Ammar dari luar jendela mobil.
"Of Course, Mom."
"Can I get it too?" bisik Ilham nakal.
"Enggak ya! Jangan ngarep!" jawab Yola judes.
__ADS_1
Jawaban itu disambut tawa oleh Ilham.
Bagaimana mungkin Yola mau memberi kecupan yang sama dengan yang diberikannya pada Ammar? Mimpi! batin Yola.
Selepas mengantar Yola lebih dulu ke N-one, Ilham pun langsung melajukan mobilnya ke Tadika Ceria, tempat Ammar sekolah.
"Dad, what are you doing di dapur Mommy tadi?" tanya Ammar dengan mata memicing curiga.
Itu membuat Ilham gelagapan untuk menjawabnya.
"Nothing. Hanya memberi Mommy sikit cinta," jawab Ilham asal.
"Owh, pantas sahaja Mommy marah dengan Daddy. Daddy kasih Mommy sikit je cintanya Daddy," jawab Ammar.
"Itu tak betul, sayang. Daddy sangat sayang dengan Mommy dan kau Ammar."
"Kalau macam tu, kenape Daddy harus ada Mommy Sonia pula? Ammar tak suka dengan Mommy Sonia."
Ilham menarik napas panjang.
"Ammar, kau belum lagi dewase. Nanti kalau Ammar dah besar, Daddy akan ceritakan semua yang Ammar ingin tahu tentang Daddy, Mommy Yola dan Mommy Sonia. Walaupun begitu, kau tak boleh macam tu dengan Mommy Sonia. Meski bagaimana, Mommy Sonia tu orang yang lebih tua, wajib kau hormati, dengar Daddy tak?"
"Hmmm," gumam Ammar tak ikhlas.
Dan tak lama mobil itu pun sampai di Tadika Ceria.
"Okey, little buddy, kite dah sampai. Have a nice day in a school. Belajar baik- baik, Daddy bertolak ke N- one dulu."
"You too, Dad. Bye!"
Ammar pun turun bersama Saidah. Seperti biasa sebelum menjalankan misi mereka untuk membuat Mommy Yola kembali, Ammar memang ditunggui oleh pengasuhnya di sekolah sampai pelajarannya selesai.
Tak lama setelah Ammar masuk ke kelas, ponsel Saidah berdering lagi. Telepon dari Zubaidah lagi. Saidah mengangkatnya.
"Ammar dah masuk kelas?" tanya Zubaedah.
"Dah pun sedari tadi, Puan," jawab Saidah.
"Tentang yang mane, Puan?"
"Tentang Ilham dan Yola. Sejak bile mereka bersama lagi? Ammar dah tahu kalau Yola adalah Mommy-nya?" tanya Zubaedah beruntun.
"Emm, jadi Puan yang tadi itu Mommy-nya Tuan muda Ammar?" tanya pengasuh itu bingung.
Dia sering mendengar celoteh Ammar tentang Mommy Yola-nya. Tetapi dia tak betul- betul tahu yang mana orangnya. Yola tidak memiliki banyak foto di keluarga Nirwan.
"Iyalah. Memang siape lagi? Jadi semenjak bile mereka bersama lagi?" tanya Zubaedah tak sabar.
"Saya tak tahu, Puan. Tuan Ilham dan Puan Yola tak tinggal satu apartemen, tetapi jiran bersebelah. Saye tak tahu ape yang terjadi di antara mereka. Pasalnya Saye pun baru dipanggil kemarin tinggal kat situ untuk mengurus Ammar." jawab pengasuh itu.
Zubaedah mengernyitkan keningnya heran. Tak tinggal satu apartemen? Tapi jelas- jelas tadi dia melihat sendiri kalau putranya itu sedang mencium mesra istrinya itu.
"Tapi tadi malam Tuan Ilham tak pulang ke apartemen. Tetapi ketika Ammar meminta saye membawa die ke apartemen Puan Yola, di sana ada Tuan Ilham. Tuan Ilham bermalam di apartemen Puan Yola dan nampak .... Ah, bagaimana saya boleh menjelaskan? Tuan Ilham tampak keluar dari kamar, sedang memasang kancing bajunya seperti telah terjadi sesuatu tadi malam. Aduuh, saye jadi malu menceritakannya pada Puan," kata Pengasuh itu tersipu-sipu.
Zubaedah nampak berbinar- binar mendengarnya. Kalau benar begitu, bukan tidak mungkin dia akan mendapatkan cucu lagi tahun ini. Lebih dari itu tak ada kebahagiaan terbesar saat melihat anak, menantu dan cucunya berkumpul kembali.
"Betulkah cakap kau tu Saidah?"
"Betul, Puan. Dan di leher Puan Yola pun ada banyak sangat tanda cinta macam .... Ah, Puan pasti dah paham pun maksud saye," kata Saidah.
Oh Ilham ni! Diam- diam tapi menghanyutkan. Bahkan dulu Zubaedah pun tak menyangka kalau anaknya itu bahkan curi start lebih awal dari kesepakatan untuk menggauli Yola tanpa sepengetahuan siapa pun. Siapa yang menyangka kalau menantunya itu telah hamil di usia yang sangat belia. Ilham tak sabar menunggu 2 tahun lagi.
Tak ada yang mempermasalahkan hal itu andai waktu itu Ilham tak memutuskan untuk menikah lagi dengan Sonia. Andai waktu itu dirinya tak tergoda dengan bujuk rayu Sonia untuk mempertemukan dia dengan putrinya yang hilang dulu, mungkin dia tak akan mengijinkan Ilham menikah lagi. Mungkin Yola dan kedua orangtuanya tak akan merasakan sakit hati yang teramat sangat karena pernikahan kedua Ilham. Dan mungkin andai pernikahan kedua itu tak terjadi, Ilham dan Yola telah memberikan dia satu atau dua cucu lagi selain Ammar. Dan ini saatnya untuk memperbaiki lagi semuanya.
Soal Sonia, secepatnya dia akan menyuruh Ilham menceraikannya. 7 tahun berlalu, wanita itu bahkan tak bisa menepati janjinya untuk mempertemukan mereka lagi dengan Andini, adik perempuan Ilham.
\*\*\*\*\*
__ADS_1
Di N-one Grocery,
Sesampai Yola di N-one, wanita itu pun tidak langsung naik ke lantai atas, ke kantornya. Dia harus mencari koyo dulu di supermarket N-one di lantai bawah. Setwlah menemukan koyo di rak obat- obatan umum, Yola pun segera membayar dan kembali ke lantai atas. Tak langsung ke ruangannya, Yola memutuskan untuk ke toilet dulu untuk memasang koyo ini di lehernya. Setidaknya toilet memiliki kaca yang besar untuk bercermin.
Yola menggeram sebal saat melihat setidaknya ada 4 kissmark yang menghiasi lehernya. Ilham benar- benar sudah gila melakukan itu padanya. Dan koyo ini selain menutupi dan membuat penampilannya kurang menarik pastilah juga akan terasa panas saat dipakai. Tetapi apa boleh buat, Yola tak memiliki baju berleher tinggi yang bisa dipakai untuk menutupi keseluruhan lehernya. Mungkin lain kali dia perlu membelinya.
What? Lain kali? Buat apa aku membelinya? Gerutunya. Tentu dia tak berharap kejadiab seperti ini akan terulang kembali kan?
"Amboi, amboi .... Sepertinya ade yang melewatkan malam panas semalam?" goda seseorang.
Yola menoleh dan melihat Nadira yang kini berdiri di sampingnya untuk merapikan riasannya.
Yola sedikit jengkel mendengarnya.
"Nadira, aku mau tanya. Tadi malam kenapa aku bisa pulang bersama ketua pengarah?" tanya Yola.
Nadira mengangkat bahunya.
"Entah, saat kau mabuk tu, Victor tawarkan kite untuk rehat di salah satu kamar hotel dan melakukan spa. Kerana kau sedang tak sadar, kau hanya dipijat saja sedangkan aku treatment scrubbing dan ikut pula spa di hotel tu. Saat aku berendam, kau nampaknya telepon Ilham dan suruh dia jemput kau pulang. Lalu aku kalian tinggal sendiri di hotel tu," keluh Nadira.
Nadira sebelumnya telah ditelepon Ilham pagi ini untuk membantunya berbohong lagi pada Yola. Berbohong dan berpura-pura untuk mengatakan kalau Yola sendirilah yang menelepon Ilham.
Yola menghembuskan napasnya kasar. Jadi benar dia dan Ilham ....
"Kenape? Sesuatu terjadi antara kau dan Ilham tadi malam?" tebak Nadira kepo.
"Nggak juga. Nggak terjadi apa pun," elak Yolanda.
"Aduhai, masih nak berdusta dengan aku. Lalu yang kau nak tutupi tu ape?" goda Nadira.
Yola menutup mulut Nadira. Mereka mungkin tak tahu ada telinga di mana- mana.
Nadira mengikuti langkah Yola dengan penasaran hingga ke ruangannya.
"Jadi betul kau dan Ilham terjadi sesuatu?" tanyanya lagi.
Yola tak menjawab melainkan terus menarik napas berulang- ulang sambil mencari- cari proposal yang akan dibawanya ke supermarket pinggir utara kota.
Diamnya Yola tentu Nadira bisa melihat kalau itu berarti telah terjadi sesuatu di antara mereka.
"Sepertinya Ilham tertarik padamu. Kenape tak kau coba terima perasaan die?" tanya Nadira tiba- tiba mengagetkan Yola.
"Kau sedang menjodohkan lelaki beristri denganku? Kau mau aku jadi pelakor?" tanya Yola sebal.
"Aku dan Ilham telah bersahabat lama. Dah belasan tahun pun. Dari saat kami masih sekolah menengah. Dan aku tahu Ilham hanya mencintai mantan isterinya ...." kata Nadira sengaja memancing respon Yola.
Yola terdiam. Nadira tidak mungkin tau kalau aku adalah mantan isterinya Ilham, kan? pikirnya.
"Oh, itu kan mantan isterinya. Bukan aku." jawab Yola asal.
"Isterinya yang sekarang, Sonia. Mereka menikah hanya kerana terpaksa. Entah penyebabnya ape, aku pun kurang begitu jelas akan hal itu. Tetapi selama bertahun- tahun ni, Ilham tak pernah membuka diri pada wanita lain. Die begitu terluka kerana perpisahannya dengan isteri pertama dia. Ditambah lagi isterinya mengandung dan tak inginkan anak mereka," kata Nadira.
Dan lagi- lagi dia melihat perubahan wajah Yola yang kini agak sedikit menunduk.
"Kau tahu Ammar? Isterinya tak inginkan anak mereka, oleh kerana itu Ilham membawanya tinggal di Jerman dengan dia punya Mamah selama beberapa tahun ni sebelum balik ke Malaysia. Ilham tak nak anaknya kurang kasih sayang dari Mommy-nya, kurang kasih sayang pula dari Daddy-nya. Ilham jadi single fighter beberapa tahun ni. Dia tak pernah dekat dengan Sonia, bahkan serumah pun tidak. Dan kini kau datang di kehidupannya. Kenape tak kau buka hatimu untuknya. Masa lalu hanyalah masa lalu, Yola."
Yola tersenyum kecut.
"Kau mengatakan semua ini kepadaku sebagai mantan isterinya atau kepadaku sebagai wanita baru di hidupnya?"
Nadira terkejut. Sebenarnya tadi dia ingin berkata dengan hati- hati agar Yola tak tahu kalau dia sudah mengetahui kalau Yola adalah isteri pertama Ilham.
"Yola ...." bujuk Nadira.
"Nadira," Yola menggenggam tangan Nadira. "Kisah cintamu dengan Leon pasti sangat membahagiakan, kan? Tapi tidak dengan aku dan Ilham. Hanya ada rasa sakit yang tak bisa dimengerti oleh orang lain yang tak merasakannya. Oke, aku bodoh. Harusnya dari awal aku sudah tahu kalau kalian sudah mengatur semua ini agar aku bisa dekat kembali dengannya. Tapi sungguh aku tak bisa memberikan lagi kesempatan itu. Bukan hanya lukaku yang kupikirkan di sini. Tapi sakit hati yang dirasakan oleh orang tuaku juga."
Yola menahan sesak di dadanya.
__ADS_1
"Sebelum pernikahan itu pun, dia telah mengkhianatiku dengan Sonia. Berhubungan di belakangku. Kamu tahu rasanya hamil di usia belia? Aku masih di bawah umur kala itu. Tanpa didampingi suamiku, aku menerima hujatan dari semua orang. Kau tak akan mengerti rasanya," kata Yola sembari mengambil tasnya dan berlalu meninggalkan Nadira.
"Aku akan ke supermarket pinggir utara kota. Mungkin aku akan sibuk mengerjakan persiapan ulang tahun perusahaan di cabang N-one sana dan tak akan kembali hingga sore," pamit Yola.