
#Cinta_Dua_Negara/Jodoh dari Malaysia
Part 16
Beberapa menit sebelumnya,
"Dimana Pengarah Pemasaran?" tanya Ilham pada Juli, sekretaris direktur pemasaran.
"Oh, Puan Pengarah sedang ada kunjungan ke supermarket pinggir Utara kota dengan wakil pengarah pemasaran, Tuan Pengarah," jawab Juli.
Juli sangat heran, kenapa Ketua Pengarah Ilham ini sangat sering menanyakan Pengarah pemasaran Yola. Benarkah desas desus di antara karyawan N-one tentang hubungan spesial antara duo devil ini?
"Ya sudah, lanjutkan saja pekerjaanmu," kata Ilham terdengar kecewa.
Tadinya dia ingin mengajak Yola makan siang, namun begitu mendengar kalau Yola sedang di luar Ilham memutuskan untuk kembali ke ruangannya.
Terkejut, itu yang dirasakan Ilham ketika melihat siapa yang kini sedang berada di kursinya.
"Kamu nak buat ape di sini?" tanya Ilham dingin pada Sonia.
"Ilham, kenape cakap kau macam orang tak suka tengok aku ada kat sini?" protes Sonia. "Aku ini isteri kau, kau tak mahu tahu ke kapan aku sampai?"
Sonia segera bangkit dari kursi Ilham saat Ilham mendekat dan memberi kode kalau dia ingin duduk di kursinya.
Ilham menghela napas panjang.
"Itu sama sekali tak perlu. Jika tak de lagi yang ingin kau nak katakan, kau pulanglah saja. Aku ada banyak hal yang hendak aku kerjakan. Tolong jangan ganggu aku," kata Ilham seraya duduk di kursinya setelah Sonia berdiri dari sana.
Namun tak disangka setelah Ilham duduk, Sonia malah nekad duduk di pangkuan Ilham.
"Ilham sampai bila kita nak begini? Tak boleh ke kite menjalin hubungan layaknya pasangan suami isteri lain? Aku benar-benar mencintai kamu Ilham ...."
"Sonia, kamu .... Apa yang kau bikin ni? Bangkit tak sekarang ...." gertak Ilham dengan geram.
Tapi Sonia bersikeras tak mau bangkit dari pangkuan Ilham. Yang ada dia malah mengalungkan tangannya di leher lelaki itu.
"Ilham, jangan abaikan aku terus macam ini, ini sudah terlalu lama ...."
Pada saat yang bersamaan, seseorang datang mengetuk pintu.
"Maaf, saya ada yang harus saya ...."
Kata-kata kata itu terhenti, Ilham juga merasa shock. Sial! Kenapa Yola harus datang di saat seperti sekarang? Dia pasti akan salah paham.
"Ka- ka- kau!!!" jerit Sonia terdengar shock.
Ilham tak menyangka kalau ekspresi Yolanda begitu gampang berubah. Dia sesegera mungkin menguasai keterkejutannya dan kembali dalam mode tenang.
"Ya. Ini aku, Yolanda Gunawan. Lama tak berjumpa, Ms. Nirwan, Kakak Sonia," ucap Yolanda.
"Kau! Yolanda! Mengapa kau ada di sini? Ape kau bikin di sini?" teriaknya.
Hal itu menarik perhatian para karyawan lain di luar ruangan itu, namun mereka tak berani mendekat untuk mencari tahu.
"Kakak Sonia, tenanglah sedikit. Aku di sini tentu untuk bekerja. Memangnya mau ngapain? Dan karena aku sudah di sini, bisakah kau biarkan aku berbicara dengan Ketua Pengarah dulu? Ada yang ingin saya bicarakan," kata Yola dengan senyum tenang.
"Nak bicare ape? Apa yang kalian nak bicarakan? Ilham apa hal ini? Kenape budak ni ada kat sini? Apa yang dilakukan Yola di sini? Kalian .... Kalian berselingkuh di belakang aku?" jerit Sonia histeris.
Mendengar itu Yola hanya menghembuskan napas masa bodoh. Sementara Ilham bersikap acuh pada Sonia.
"Sonia, kau pulanglah dulu. Aku dan Yola ada yang harus dibicarakan," kata Ilham. "Yola, sila duduk!"
Ilham mempersilahkan Yola duduk di kursi di hadapannya. Jarang-jarang Yola mencarinya, kenapa dia harus melewatkan kesempatan ini? Dan permintaannya mempersilakan Yola duduk segera diiyakan Yola. Dia duduk di hadapan Ilham.
"Tak! Aku tak nak pergi dari sini, sebelum kalian katakan ade hubungan apa di antara kalian? Kalian bersama lagi? Ilham ....?"
Nada ancaman yang mengintimidasi terdengar pada kata-katanya.
"Kalau kau tak nak pulang, kau tunggu dan duduklah kat sofa sana! Aku ada yang mesti dibicarakan dengan Direktur Marketing aku. Kau usah buat kekacauan di sini, Ok?" balas Ilham.
"Direktur Marketing? Ilham? Maksudmu saat ini, budak ni, direktur marketing N-one? Macam mana boleh?!"
Sonia semakin tak terima. Sementara Yola acuh dengan pertengkaran suami istri itu.
"Tentu saja boleh. Aku punya kemampuan. Dan aku mengajukan lamaran dengan prosedur penerimaan resmi dari perusahaan," jawab Yola.
Yola tidak tahu, kalau saat interview, Ilham memang sudah memutuskan untuk dia sebagai direktur pemasaran dengan membatalkan interview kandidat lain.
"Katakan ape maksud dan tujuan kau datang ke KL? Ditambah lagi dengan bergabung di N-one? Kau nak datang rebut Ilham dari aku?!!" bentak Sonia pada Yola.
Yola memutar bola matanya dengan malas.
"Ms. Nirwan, aku tak pernah kekurangan lelaki berkualitas yang mengejar-ngejar dan menginginkan aku. Dan aku percaya diri kalau aku cantik. Jadi untuk apa aku merebut suamimu? Macem tak de pria lain je," olok Yola yang langsung dibalas dengan pandangan tajam menusuk dari Ilham.
Ilham merasa harga dirinya terluka akan kata-kata kata Yola.
__ADS_1
Oh, jadi begitu ke pikiran kau, Yola? Kite lihat je, siape lelaki yang berani mengganggu wanita milik Ilham dan mengambil kau dari aku, batin Ilham geram.
Sonia memperhatikan Yola dari ujung kaki hingga ujung rambut. Wanita itu memang cantik secara alami. Dari dulu hingga kini dia semakin menawan karena telah mendewasa seiring bertambahnya usianya. Penampilannya yang stylish dan fahionable serta kemampuannya berdandan pun sungguh mendekati kata sempurna. Jadi bukan cakap besar kalau Yola mengatakan hal itu. Sonia dalam hatinya pun mengakui itu dan dia mengkhawatirkan Ilham akan pergi darinya jika gadis itu tetap berada di sisi Ilham.
"Kalau memang macam tu, ape yang kau inginkan sehingga kau datang ke N-one? Orang tua kau pun punya perusahaan, kan?"
"Apa alasanku bekerja di sini, itu sama sekali bukan urusanmu," jawab Yola datar.
"Jika bukan mahu merebut Ilham apa lagi? Aku peringatkan kau Yola, jangan pernah memikirkan hal macam tu. Aku isteri sah Ilham secara agama dan negara. Aku tak nak membiarkan wanita mana pun boleh merebut dia dari aku! Aku sarankan kau pergi dari N-one dan jauhi Ilham sekarang!" kata Sonia menegaskan.
Yola tersenyum tenang sembari mengangguk. Kemudian mengangkat sebelah kakinya berpangku pada kakinya yang lain.
"Aku akan meninggalkan N-one atau tidak, itu bukan kau yang memutuskan. Soal kekhawatiranmu aku akan merebut suamimu itu sih tergantung bagaimana cara dia merayuku," kata Yola sembari mengedipkan mata nakalnya pada Ilham, membuat lelaki itu salah tingkah.
Rasanya menyenangkan melihat ekspresi Sonia yang seperti kebakaran jenggot.
"Ka- kau ....!"
"Cukup Sonia! Pulanglah! Ini tempat bekerja! Aku dah kate jangan buat kekacauan kat sini. Kalau kau terus begini, aku takkan segan panggilkan pihak keamanan antarkan kau keluar!"
"Ilham! Kau belakan budak ni ketimbang isteri kau sendiri?"
"Keluar!!!" bentak Ilham tak peduli
"Ba- baik. Aku akan diam. Tapi aku tak nak keluar. Aku akan tetap berada di sini. Aku akan duduk di kursi sebelah sana," kata Sonia sembari beranjak duduk di sofa di pojok ruangan Ilham.
Sesaat suasana kembali hening. Sonia pun dalam diam tetap mengawasi Yola dari sofa. Bagaimana pun Yola tak bisa diremehkan. Sonia tahu dalam hati Ilham, Ilham hanya mencintai gadis itu. Pernikahannya dan Ilham tak lebih dari pernikahan terbodoh yang pernah ada. Ilham tak pernah mencintainya. Mereka menikah pun tak lebih dari siasat dirinya di masa silam. Bahkan saat ini Ilham tidak menceraikannya saja adalah suatu keberuntungan karena hal itu.
"Ape yang kau ingin bicarakan?" tanya Ilham memecah keheningan di antara mereka.
"Aku ingin Ketua Pengarah menyetujui perencanaanku terhadap supermarket pinggir kota," jawab Yola.
"Aku dah terima laporan hasil meeting waktu itu. Aku akan menyetujuinya," jawab Ilham.
Yola meletakkan coret-coretannya di depan Ilham.
"Bukan yang itu. Saya punya perencanaan tambahan untuk menaikkan penghasilan supermarket pinggir Utara kota," jawab Yola lagi.
Ilham menerima kertas itu dan membaca tulisan tangan Yola.
"Kerja sama dengan hotel Victoria?" tanya Ilham terperangah.
Yola mengangguk.
"Ya benar. Aku rasa ini akan sangat menguntungkan jika ...."
"Kenapa?" tanya Yola meski dia sudah tahu jawabannya.
Sonia yang mendengar hal itu terkekeh mendengarnya.
"Kau tak tahu apa pun soal N-one nak jadi direktur kat sini? Yola! Aku bagi tahu kau, antara Victoria dan N-one macam air dan minyak. Tak bolehlah bersatu." jawab Sonia.
"Kenapa tak boleh bersatu? Apa karena hubungan cinta segitiga kalian yang rumit?" tanya Yolanda balas kekeh.
Itu membuat Ilham dan Sonia tambah terkejut. Bagaimana mungkin Yola yang baru saja ada di sini mengetahui hal itu.
"Aku tidak peduli hubungan seperti apa yang kalian miliki dengan Victor, tapi aku tidak ingin masalah pribadi kalian merusak target dan kinerjaku di N-one. Untuk itu saya katakan, saya tidak peduli. Saya tetap akan menjalin hubungan kerja sama dengan hotel Victoria tanpa melibatkan urusan pribadi pihak mana pun." kata Yola tegas.
"Memangnya kau ade kuasa ape boleh nak lakukan hal semau kamu di sini? Hubungan antara N-one dan Victoria tak boleh terjalin lagi, aku tak setuju!" kata Sonia keras.
Yola kembali terkekeh.
"Aku ada kuasa apa? Jelas aku punya. Aku direktur marketing di sini. Lalu kamu sendiri ada kekuasaan apa di sini? Apa ini wewenang khusus dari isteri ketua pengarah?" sindir Yola meremehkan pada Ilham.
Ilham tak bergeming. Ia tak habis pikir jalan pikiran wanita yang masih dianggapnya istri ini.
"Bagaimana? Bisakah ketua pengarah menyetujuinya? Aku janji akan menjalankannya rencanaku ini dengan lancar tanpa merugikan pihak mana pun?" tanya Yola setengah membujuk Ilham.
"Jika pun Ilham setuju, kau kire Victor mahu bekerja sama dengan N- one?" tanya Sonia sinis, tak kalah menyepelekan.
Ilham dan Yola saling pandangan. Ilham sedang menebak-nebak apa yang dipikirkan Yola sedangkan Yola sendiri menunggu keputusan Ilham.
"Baiklah, aku setuju. Asal kau bisa menjalin hubungan kerja sama kembali dengan hotel Victoria kembali tanpa membawa masalah privacy, aku akan ikut pada rencanamu," jawab Ilham.
"Ilham!" protes Sonia.
Tapi Ilham tak menghiraukan.
Senyum mengembang di bibir Yola mendengarnya. Dia ingin mengucapkan terima kasih tapi ponselnya tiba-tiba berdering. Nomor tak dikenal. Yola ragu mengangkatnya. Hal itu juga membuat Ilham penasaran. Siapa yang dekat dengan Yola, bahkan siapa yang menghubungi wanita itu ia ingin tahu semuanya.
"Angkatlah!" perintahnya tanpa sadar manakala ponsel itu berdering untuk kedua kali.
Yola mengernyitkan dahinya, namun dia mengangkatnya.
"Halo ..." sapanya.
__ADS_1
"Puan Yolanda?" suara di seberang sana agak sedikit familiar.
"Ya, saya sendiri. Ini siapa?" tanya Yolanda.
" Kawan kaulah. Kau dah lupa ke?"
Yola mengernyitkan lagi keningnya.
"Kawan?" Yola balik bertanya.
"Ya, kawan." Jawab lelaki itu.
"Kawan yang mana?" tanya Yolanda bingung.
"Aku pun tak tahu kawan yang mana. Tapi kata resepsionis aku tadi, ada kawan aku yang nak jumpa dan beri nama card ...."
Yola terperanjat mendengarnya.
"Tuan Victor??" tanya Yola terkejut setengah girang.
Hal itu membuat Ilham dan Sonia tak kalah terkejut. Kening Ilham sudah tidak tahu menunjukkan kerut berapa mendengar percakapan Yola di telepon.
"Yup! Victoria Alexander. Aku nak bertemu kawan aku, bolehlah aku meminta ketulusan Puan Yolanda untuk berkawan dengan aku?Boleh kite berjumpa esok malam?" tanya Victor.
Senyum gembira langsung mengembang di wajah Yola.
"Oke, boleh, boleh. Bertemu di mana?" tanyanya antusias.
"Victoria Bar & Lounge, Hotel Victoria lantai 9." jawab Victor.
"Baiklah, saya akan datang besok malam," jawab Yola.
Saat panggilan itu berakhir Ilham menatapnya dengan intens seakan ingin menelannya hidup-hidup hidup.
"Itu siape? Victor? Kau nak jumpa dengan die?" tanyanya menginterogasi.
"Ya," jawab Yola. "Aku akan pastikan kerja sama ini berjalan lancar."
"Kau jangan berjunpa dia di luar lingkup hubungan kerja," larang Ilham terdengar posesif.
"Tuan Ilham! Aku rasa sebaiknya jangan campuri urusan pribadiku. Bagaimana pun sebelum kerja sama itu terjalin ini adalah masalah pribadiku. Anda tau terima beres dari saya saja." jawab Yola ketus.
"Yola ...." panggil Ilham dengan nada membujuk.
Terdengar seperti seorang lelaki yang sedang membujuk kekasihnya. Hal itu membuat Sonia merasa sangat cemburu. Dulu saat mereka masih sekolah Ilham sering memanggilnya seperti itu. Namun sekarang Ilham tak pernah lagi memanggilnya seperti itu sejak mereka menikah. Lebih tepatnya sejak dia memaksa Ilham menikahinya.
"Sebaiknya aku pergi sekarang. Silahkan lanjutkan kemesraannya kembali. Maaf dan terima kasih atas waktunya," kata Yola sembari bangkit dari duduknya.
Yola segera pergi dari sana dan Ilham bermaksud mengejarnya.
"Yola !" panggil Ilham.
Yola tak menghiraukan, sementara itu Sonia berusaha menahan Ilham.
"Ilham, sudahlah! Kenape kau mesti kejarkan dia. Dia bukan siapa-siapa kamu lagi. Akulah isteri kamu yang sah. Kenape kau abaikan aku macam ni. Ilham!"
Sonia menarik lengan lelaki itu, berusaha keras mencegah Ilham mengejar Yola.
"Sonia!" Ilham menghentikan langkahnya.
Terlihat dingin dan geram terhadap tindakan Sonia.
"Sejak 7 tahun lalu, aku dah kate pada kau. Aku boleh memberikan seluruh dunia pada kau termasuk perkawinan dan status sebagai Ms. Nirwan. Tapi tidak dengan cinta dan keturunanku."
Sonia menangis.
"Aku tahu .... Aku tahu. Aku tak kire kau akan sekeras ini. Aku sangka waktu akan merubah perasaanmu pada Yola. Tapi .... Tapi, tak bisa ke Ilham kau perlakukan aku macam isteri kau yang sebenarnya? Aku juga wanita, aku manusia, aku punya hati Ilham. Aku tak harap banyak boleh dapat keturunan dari aku Ilham. Tapi tolong .... Tolong, sekali je kau perlakukan aku sebagaimana seorang isteri. Aku ... Aku butuh kau Ilham ...." ratapnya dalam tangis.
Ilham menghela napas dan melepaskan genggaman tangan Sonia dari lengannya.
"Sonia, sejak kau memulai ini, kau dah tahu pun ape resikonya. Perkawinan yang dipaksakan takkan baik akhirnya. Satu-satunya wanita yang kuanggap isteri hanya Yolanda. Sedangkan dia je isteri yang kuanggap sebagai sebenar- benarnya isteri tak boleh kuperlakukan sebagaimana mestinya. Macam mana boleh kau isteri yang terpaksa kukahwini boleh diperlakukan sebagaimana isteri? Aku seperti kau biasa cakap, bukanlah suami dan husband yang baik. Bahkan untuk Yola pun aku tak pula berhasil jadi suami yang baik untuknya, macam mana pula kau boleh berharap aku jadi suami yang baik untuk kau? Kerana itu Sonia, kalau kau dah tak tahan dengan aku, kau boleh pula meminta berpisah dengan aku. Sila gugat cerai aku!" kata Ilham.
"Tak! Tak nak Ilham! Aku tak nak bercerai dengan kau Ilhaaam.... Aku tak nak. Maaf, ampuni aku .... Aku takkan lagi menuntut lebih dari kamu Ilham, tapi jangan bahas perceraian dengan aku, tolong.... Aku tak mahu kehilangan kamu Ilham," ratap Sonia lagi.
Wanita itu menangis sejadi-jadinya.
Lagi-lagi Ilham hanya bisa menghela napas.
"Jangan pernah kau ganggukan Yola. Terserah apa yang akan kau pikirkan. Aku jujur memberi tahumu. Aku mahu Yola kembali ke sisiku. Dan aku dengan tegas peringatkan kau, jangan berani kau sakiti dia!" kata Ilham.
"Ilham, kau tak boleh lakukan hal itu padaku. Aku tak mahu kau kembali padanya," kata Sonia. "Kau mesti ingat, hanya aku satu-satunya kunci yang boleh pertemukan kau dan adik kau."
Ilham tersenyum.
"7 tahun berlalu, kau tetap tak boleh pertemukan kami. Kau nak mempermainkan aku Sonia? Kau juga mesti ingat. Meski itu bukan Yolanda, wanita Ilham tak harus dirimu, Sonia."
__ADS_1
Mengatakan itu Ilham langsung pergi dan meninggal Sonia yang menangis bersimpuh di lantai.