
Yola mendongakkan wajahnya melihat pada Hafiz yang posisinya lebih tinggi daripadanya.
"Kalau kau menyuruhku memilih siapa sahabat yang lebih baik antara kau dan abang, tentu saja aku akan memilihmu, Ndut. Tapi kalau kau menyuruhku memilih kalian sebagai personal aku tidak bisa melakukan itu. Aku mencintai abang. Aku menyayangimu juga. Aku ingin kau dampingi aku sebagai sahabatku, dan biarkan abang yang mendampingi aku sebagai suamiku," kata Yola.
Yola kini ikut berdiri.
"Aku mau bersih- bersih dan istirahat dulu. Mungkin sebaiknya mulai sekarang aku akan pindah ke apartemen abang, di sebelah," kata Yola sembari berdiri.
Yola kemudian meninggalkn Hafiz yang masih berdiri terpaku di dapur. Yola kembali ke kamar dan mengunci pintu dari dalam. Bagaimana pun hatinya juga terasa sesak harus melakukan ini pada Hafiz.
Mandi dan berendam adalah pilihan yang baik untuk sekedar memghilangkan kepenatan dan kelelahan yang dia rasakan.
Usai Yola mandi, Yola keluar kamar mandi dengan hanya memakai bathrobe dan rambut yang digulung dengan handuk. Kemudian dia pun membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Perutnya mulai terasa lapar, namun dia enggan keluar dan bertemu Hafiz lagi.
Tak ada pilihan lain baginya selain hanya bertahan saat ini di dalam kamar dan juga memainkan ponselnya. Tak ada yang menarik di akun media sosialnya karena dia jarang memiliki waktu luang untuk sekedar beramah tamah dengan teman- temannya yang bergabung dalam media sosial yang sama. Hingga akhirnya Yola memilih untuk bermain game online saja.
Tok!Tok!Tok!!
Suara ketukan di pintu kamar membuyarkan konsentrasinya dalam bermain game. Yola masih asyik memainkannya, seolah dia masih punya harapan untuk memenangkan game itu kembali dan mendapat level di tingkat yang lebih tinggi dari pada level yang sebelumnya.
Tok!TokTok!!
Suara ketukan itu terdengar lagi.
"Yola!! Buka pintunya!"
Tok!Tok! Tok!!
Suara ketukan itu semakin keras dan nampak kalau orang yang mengetuk itu sedang tidak sabaran. Yola segera turun dari ranjang dan berjalan sambil masih memainkan game pada ponselnya.
Tok!Tok! ...
"Apaan sih, Ndut ngetuk- ngetuk pintu sampe kayak gitu? Telingaku masih fungsi tau. Ini juga udah dibukain," kata Yola sebal.
"Baguslah kalau macam tu. Aku sangka kau dah bunuh diri kerana takut kehilangan aku," ledek Hafiz.
Nampak sendu masih menguasai raut wajah itu, namun dia berusaha menahannya. Dia pun tidak mau kehilangan Yola.
"Diiihh ... pedenya ..." Yola balas mencibir.
Dalam hatinya dia bersyukur Hafiz setidaknya masih mempertimbangkan keinginannya untuk mereka agar tetap bersahabat.
__ADS_1
Hafiz cengengesan.
"Kamu kenapa kesini? Bukannya kita musuhan, ya?" canda Yola sambil mata dan tangannya tetap melekat pada ponsel.
Hafiz merebut ponsel itu dan mengembalikannya ke menu awal.
"Nduuuuut!!! Kamu itu apa- apaan? Itu dikit lagi aku bakal menang, tau nggak?!!!" protes Yola marah. "Kamu tau nggak susahnya dapat batu mirah itu, aku sudah lama ...."
Ocehannya tentang kekesalannya yang membuat dia kehilangan kesempatan dapat level di game yang dimainkannya tak dihiraukan oleh Hafiz. Pria itu segera menariknya ke dapur setelah mengembalikan ponsel yang direbutnya tadi pada pemiliknya.
"Kau ni bermain game sahaja terus. Perut kau tu dipikirkan dahulu. Tak lapar ke? Tak pikir kandungan kau ke?" omel Hafiz dan mendudukkan Yola di kursi makan.
"Bawel ...." balas Yola acuh sambil memeriksa kembali gamenya tadi yang telah hilang karena perbuatan Hafiz.
Hafiz kembali menarik ponsel itu dari tangan Yola dan mengantonginya.
"Makan dahulu. Aku dah masak sop ayam untuk kau dan si baby biar dia boleh tumbuh sehat dan kuat macam uncle Hafiz," kata Hafiz sambil meletakkan piring di hadapan Yola.
Pemilihan kata "uncle" yang diucapkan Hafiz membuat Yola semakin merasakan haru. Itu seakan Hafiz sudah menerima keputusan yang dia buat. Begitulah persahabatan mereka yang terjalin selama bertahun- tahun ini lamanya.
"Terima kasih, Hafiz," ucap Yola pada Hafiz yang sibuk menyendok nasi dan sayur sop ke piring Yola.
"Kau bagi tahu dia, aku mengalah mase ni tak berarti dia boleh sakiti kau lagi sesukanya," kata Hafiz.
Yola mengangguk.
"Nanti aku kasih tau," kata Yola penuh perhatian.
"Dia mesti ceraikan Sonia dan mengangkat derajat dan marwahmu sebagai isteri yang sah di mata hukum dan negara," kata Hafiz.
Yola terdiam sesaat. Ilham memang sudah ada rencana untuk membawa pernikahannya dengan Sonia ke arah perceraian dan itu pula yang membuatnya hari ini ingin menemui temannya dan tak ikut mengantar Yola pulang.
Yola menghembuskan napasnya. Entah apa yang akan terjadi nanti saat Sonia mendapat gugatan cerai itu dari Ilham. Mungkin Yola perlu bersiap- siap menghadapi kemarahan calon mantan istri suaminya itu.
"Dan kalau dia sakiti kau lagi, entah dia berkahwin lagi dengan wanita lain, jangan salahkan aku kalah aku akan pukul buaya darat tu sampai masuk hospital," kata Hafiz geram.
Yola mengangguk.
"Oke, Ndut, kau pukul saja dia kalau dia berani kawin lagi," kata Yola. "Dan kalau kalian berkelahi aku yang akan jadi juri sekaligus suporternya. Hahahahahaa ...."
Yola tertawa terbahak- bahak membayangkannya.
__ADS_1
Hafiz mencubit pipi Yola gemas.
"Aku nak belakan kau tetapi kau hanye jadi suporter sahaja? Ckck ... Tak patut, tak patut ...." katanya sambil geleng- geleng kepala.
Sungguh ikatan persahabatan yang aneh memang. Setelah tadi mereka terlibat pembicaraan yang cukup serius dan membahas hubungan antar hati yang rumit, hanya dalam waktu satu jam saja keduanya telah kembali berubah menjadi sahabat gokil sebagaimana mereka biasanya. Meski pun dalam hati Hafiz rasa sakit dan kecewa atas penolakan Yola terhadap rencana pernikahan mereka pasti tidak akan hilang secepat itu.
"Ndut, kukira kamu cuma bisa masak nasi goreng loh, ternyata masak masakan sejenis sayur- sayuran kau juga bisa ternyata. Ini enak loh, beneran. Sumpah!" puji Yola dengan mulut masih penuh makanan.
Hafiz menyuapinya makan.
"Sungguh tak beruntung wanita yang menolak jadi isteri aku. Jadi sekarang macam mana? Kau menyesal?" balas Hafiz
Yola menggeleng.
"Abang juga pintar masak, dia bisa masak steak yang enak," puji Yola memberi tahu.
"Senang je kalau hanye bikin steak," cibir Hafiz.
"Memang kamu bisa?"
"Bisa donk ...." jawab Hafiz.
"Cieee ... dia pakai bahasa Indonesia, cuyyy!!!" goda Yola. "Ndut, kamu nggak mau gitu kujodohin? Aku punya calon cewek Indonesia loh yang cocok buat kamu."
Yola mulai memancing- mancing Hafiz, siapa tahu rencananya untuk mendekatkan Yuri dan Hafiz berhasil Tapi Hafiz yang malah teringat sama Yuri malah jadi semakin tidak selera membahas itu.
Yola melihat perubahan raut wajah tak senang itu.
"Hafiz, kamu nggak makan?" tanya Yola untuk mengendalikan situasi yang sempat memburuk karena idenya untuk menjodohkan Hafiz dan Yuri tadi.
"Tak payah makan. Aku dah kenyang pun," jawab Hafiz ketus sambil tangannya tetap menyuapi Yola makan.
"Makan hati karena aku, ya?" ledek Yola.
"Hu uh!"Hafiz mengiyakan dan mengetuk jidat Yola dengan sendok.
"Kalau kau tak nak aku memaksa kau berkahwin lagi, usah cuba jodohkan aku dengan orang lain, oke?"
****
Kita next 1 bab lagi nanti, tapi sebelumnya jangan lupa sumbangin like dan komentarmu untuk menyemangati author, ya...
__ADS_1