Jodoh Dari Malaysia

Jodoh Dari Malaysia
Kedatangan Mama Zubaedah


__ADS_3

"Dalam rangka memeriahkan ulang tahun N-one grocery, cabang utara kota yang akan diadakan dalam seminggu lagi apa ada usulan kita akan mengadakan acara apa untuk menarik pengunjung ke mari? Ya, walaupun tujuan mereka awalnya bukan untuk berbelanja tidak apa- apa. Nanti di saat hari H, kita akan menunjukkan hal yang baru dari supermarket kita. Jadi jika kalian punya masukan, silahkan diutarakan sekarang juga. Mumpung saya membawa tim dari departemen perencanaan dan pengembangan ke sini," kata Yola pada peserta rapat.


"Puan direktur, macam mana kalau kita buat perhelatan di halaman N-one ini dengan melangsungkan kompetisi yang diminati anak- anak muda jaman sekarang? Nanti sepanjang acara pastilah banyak orang singgah untuk menengok kita punya acara," usul salah seoramg karyawan.


"Oke, kompetisi macam apa?" tanya ketua tim perencanaan.


"Macam mana kalau kita buat kompetisi dance cover k-pop. Mase ni dance cover sangat diminati kalangan anak muda. Nanti kite bikin pula hadiah menarik berupa wang tunai dan voucher belanja di supermarket kite. Macam mana?"


"Saya pikir itu ide bagus. Tolong segera siapkan proposalnya dan apa- apa yang diperlukan. Waktu kita nggak banyak. Dalam seminggu itu sudah harus selesai," kata Yola. "Untuk anggaran dan biaya yang harus dikeluarkan silahkan berdiskusi lebih lanjut pada tim perencanaan agar bisa segera diajukan pada departemen keuangan," kata Yola.


"Baik, Puan. Secepatnya akan segera kami laksanakan," kata Aldi.


Yola mengangguk sambil memperhatikan beberapa point lagi yang harus dia selesaikan. Di tengah kesibukannya mempersiapkan perencanaan acara ulang tahun perusahaan itu, pintu meeting room diketuk oleh salah seorang karyawan N-one.


"Puan Direktur, ade seseorang yang nak jumpa dengan Puan," katanya.


Yola mengernyitkan keningnya.


"Siapa?" tanya Yola.


"Tuan Victor Alexander, Puan."


Yola mengangguk paham dan segera berdiri. Victor memang sudah menghubunginya untuk bertemu sejak ia masih di perjalanan tadi. Dan kebetulan dia ada di pinggir utara kota dia merasa tak keberatan menemuinya.


"Saya tinggal sebentar. Sementara saya pergi, silahkan kalian urus dan bahas persiapan acara itu. Nanti kalau sudah silahkan laporkan pada saya terlebih dahulu," kata Yola.


"Baik, Puan."


Yola segera keluar mengikuti langkah karyawati itu. Dan benar saja, Victor telah menunggunya di ruangan customer service.


"Hai, lama menunggu?" Sapa Yola pada Victor.


"Tak juga. Baru je saye sampai kat sini," jawab Victor.


"Kita ke ruangan managerku aja bagaimana?" kata Yola menawarkan.


Bagaimana pun tidak nyaman untuk mengobrol di ruangan customer service.


"Kalau kau tak keberatan macam mana kalau aku melayan kau minum kopi di coffe shop kat situ?"


"Melayan?" tanya Yola tak paham pada bahasa yang diucapkan Victor.


"Ya. Melayan tu, aku buy a coffe untuk kite nikmati bersama," kata Victor menjelaskan.


"Oh, hahaha. Maksudmu traktir? Oke. Aku mau."


"Oke. Kalau begitu kita pergi sekarang."


Tak membutuhkan waktu lama, akhirnya Yola dan Victor sampai juga di sebuah coffe shop. Setelah memesan minuman yang mereka inginkan, Victor segera membuka topik pembicaraan.


"Yola, kalau aku boleh tahu, ade hubungan ape kau dan Ilham?" tanyanya dengan hati- hati.


Sesungguhnya Victor sangat penasaran tentang hal itu. Dia melihat sendiri dari cctv victoria hotel bagaimana marahnya Ilham menjemput Yola dan menggendongnya keluar dari hotel. Dalam pikirannya mungkinkan Yolanda adalah wanita simpanannya Ilham? Sementara Victor sendir sangat tahu kalau istrinya Ilham adalah Sonia, wanita yang selama ini Victor cintai.


"Kenapa kau menanyakan itu?" tanya Yola kurang senang.


"Maaf kalau pertanyaan aku membuat kau tak suke. Aku hanya rasa penasaran sahaja. Semalam dia datang jemput kau di hotel mengamuk, jadi siapa pun pasti mengire kalau kau adalah seseorang yang sangat penting bagi die," jawab Victor. "Tapi kalau kau tak mahu jawab pun tak ape. Aku tak akan memaksa."


Yola terdiam sejenak saat pelayan mengantarkan dua cangkir latte pesanan mereka. Perlahan-lahan dia menyeruput minuman panas itu dengan hati- hati, setelah itu mengelap bibirnya dengan sehelai tisu.


"Ilham adalah masa laluku." Jawab Yola jujur.


"Mase lalu macam mana?" tanya Victor.


Setahunya dari dulu Ilham hanya berhubungan dengan Sonia semenjak dia masih sekolah, bahkan hingga keduanya berangkat ke Berlin. Jadi bagaimana mungkin Yolanda ini adalah mantan kekasihnya Ilham?


"Aku mantan istrinya," jawab Yola.


"What??? Macam mana boleh? Kau .... Kau bukannya masih gadis? Dan Ilham ...."


Yola menarik napas panjang.


"Kalau kau mengatakan aku gadis berdasarkan info yang kau terima saat menyelidiki aku, itu artinya usaha papa untuk membersihkan masa laluku berhasil. Aku benar-benar telah menikah dengannya 11 tahun yang lalu," jawab Yola


Victor semakin terkejut. 11 tahun yang lalu? Itu artinya Yola menikah dengan Ilham saat gadis itu masih berusia 12 tahun? Bagaimana bisa?


"Kau mungkin tidak percaya, tapi aku bahkan telah memiliki seorang anak dengannya. Ammar, dia adalah putraku," kata Yola.


"Ape??? Aku kire Ammar adalah putranya Sonia," gumam Victor tak percaya.


Yola menggeleng.


"Ceritanya panjang. Tapi sebaiknya kita membahas tentang bisnis aja, bagaimana. Aku sedang tidak berminat membahasnya," kata Yola.


"Hmmm, baiklah. Kalau begitu kerja same macam ape yang kau mau," tanya Victor.


"Aku mau brand N-one ada di Victoria Hotel, di toserba Victoria. Sebaliknya kami pun akan mempromosikan Victoria hotel pada pengunjung supermarket kami, bagaimana? Kita akan lakukan simbiosis mutualisme dalam hubungan kerja sama ini. Kerja sama saling menguntungkan bagi kedua belah pihak. Untuk rinciannya, saya telah membawanya. Silahkan dibaca dulu," kata Yola sembari memberikan proposal perencanaannya pada Victor.


Victor menerimanya dan membacanya perlahan. Namun yang ada di pikirannya saat ini adalah tentang Yola, Ilham dan Sonia. Bagaimana mungkin ini terjadi? Dia telah tertarik pada Yolanda sejak pertama kali dia bertemu gadis itu. Dan sekarang dia harus menerima lagi kenyataan kalau gadis yang dia sukai ternyata selalu ada hubungannya dengan Ilham.


Victor telah lama mengenal Sonia. Ayah Sonia kebetulan bekerja sebagai asistennya Ayahnya Victor. Sejak kecil Sonia telah terbiasa di bawa ke rumahnya atau ke hotel Victoria dikala ayahnya sedang senggang dan tidak terlalu banyak pekerjaan. Mengenal gadis itu dari kecil hingga remaja, diam- diam membuat Victor menaruh hati pada Sonia. Itu bukan hal yang aneh. Sonia memiliki paras yang cantik dan juga cerdas di sekolahnya. Meski memiliki perbedaan usia 5 tahun, Victor dan Sonia terbilang akrab, bahkan banyak yang mengira mereka adalah kakak beradik.


Hingga saat gadis itu masuk sekolah menengah, Sonia memperkenalkan Ilham padanya. Yang kemudian di waktu yang lain Sonia mengakui kalau dia memiliki perasaan pada Ilham. Patah hati pastinya yang dirasakan Victor, tapi tak mengapa asal Sonia bahagia.Hingga gadis itu berangkat ke Berlin dengan Ilham dan mendekati kelulusan mereka, Ilham dan Sonia memutuskan untuk menikah dan kembali ke Berlin bersama melanjutkan pendidikan.


Tahun berikutnya Victor mendengar kabar bahwa Sonia dan Ilham telah memiliki seorang putra. Semua berjalab sebagaimana mestinya, hingga dua tahun setelah pernikahan mereka, Sonia datang menemuinya dalam keadaan frustasi. Sepertinya hubungan pernikahannya dengan Ilham tak harmonis. Sonia mengajaknya minum hingga keduanya mabuk dan terjadilah apa yang seharusnya tak boleh terjadi. Victor tak sengaja berhubungan intim dengan Sonia dalam kondisi keduanya sedang mabuk. Dan tak disangka Sonia hamil karenanya. Ilham yang tidak terima akan hal itu bertengkar dengan Sonia hingga kecelakaan itu pun terjadi. Sonia keguguran. Membuat Victor gusar karena telah merelakan gadis yang dicintainya pada Ilham dan disia-siakan malah akhirnya membuat dia kehilangan anaknya juga.


Sejak saat itu hubungan kerja sama antara Victoria dan N-one yang telah lama terjalin, pupus begitu saja. Victor merasa sangat sakit hati pada Ilham, tetapi kedatangan Yolanda dalam hidupnya membuat Victor merasa sedikit berbeda. Ya ini aneh.

__ADS_1


"Bagaimana? Sudah dibaca proposal perencanaannya?" Tanya Yolanda pada Victor yang sedari tadi dia lihat sangat serius membaca lembaran- lembaran kertas itu. Padahal yang sebenarnya terjadi adalah pria itu sesang melamunkan masa lalunya.


"Ya, mari kita lakukan kerja sama ini. Aku menyetujuinya," jawabnya dengan senyum.


"Wah, Victor! Kau benar-benar keren. Aku berterima kasih padamu. Aku janji kalau aku bisa menaikkan omset N-one pinggir utara kota dalam bulan ini, aku akan mentraktirmu makan enak di grill, oke?" Kata Yola girang. "Kamu tau, aku dapat tantangan dari wakil ketua pengarah utuk menaikkan omset N-one cabang pinggir utara kota sebanyak 2% masa percobaanku jadi direktur marketing akan dipersingkat dari 3 bulan menjadi satu bulan."


"Ohhh, kerana itulah kau ingin manfaatkan Victoria hotel demi jawatan yang kau mahu?" Sindir Victor.


"Hehehe .... Maaf," jawab Yola cengengesan.


"Tak ape. Aku boleh bantu kau. Tapi Yola, usia kita terpaut jauh. Aku mahu kau panggil aku abang sahaja, macam mana?"


"A- abang?"


"Iyalah. Abang Victor jauh lebih tua dari Yola. Masa Yola panggil "kau, kau" pada abang?"


"Ehmmm ...."


"Macam mana?"


"Ya udah deh, Abang ..."


"Macam tu kan bagus. Gembira abang dengar."


\*\*\*\*\*\*


"Bro! Kau terlambat. Kau dari mana saje?" tanya Leon sambil tangannya menepuk pundak Ilham dengan keras.


"Anak cilake!" umpat Ilham kesal.


"Hey! Ape yang salah dengan kau?!" pekik Leon tak mengerti.


"Ini sakit, tau tak!" kata Ilham kesal.


Tepukan tangan Leon di bahunya tepat mengenai bekas gigitan Yola semalam.


"Macam tu pun sakit, kalau macam ni bagaimana??"


Leon menepuk pundak itu sekali lagi dengan tenaga yang lebih keras lagi


"Leon!!!! Kau ni! Ini betul- betul sakit, tau tak?!"


"Hey, kenape boleh macam tu? Siape berani gigit Ketua Pengarah macam ni?" gelak Leon beberapa saat setelah mereka berada di ruangan Ilham.


Pundak Ilham yang digigit Yola tadi malam memang menyisakan bekas luka yang berdarah dan terasa sedikit ngilu.


"Leon .... Kau boleh diam tak?"


"Ampun, ampun .... Ketua Pengarah! Jadi kalau boleh aku simpulkan, isteri ketua pengarahlah ni yang boleh berbuat macam tu," tebak Leon masih dengan tawa mengoloknya.


"Memanglah, siape lagi. Tapi aku rase itu sesuai. Kau pun dah banyak bikin Yola sakit hati. Kau melakukan apa padanya tadi malam ketua pengarah? Sampai dia harus tutupi lehernya dengan tampalan?"


"Kalian ni mau tau je urusan percintaan orang lain. Sudahlah tu, kau bawa ape tu?" tanya Ilham mengalihkan pembicaraan.


"Beberapa waktu lalu Yola memecat beberapa karyawan di N-one cabang pinggir utara kota, jadi kita mesti ada penggantinya. Hufftt .... Yola membuat jobku bertambah banyak saje," keluh Nadira.


"Bersabarlah sikit. Nanti awal bulan kau mestilah dapat bonus tambahan dari aku," kata Ilham mencoba menyuap Nadira.


Tak lama telepon di atas meja Ilham pun berdering. Ilham mengangkatnya.


"Ya. Ada ape?"


"Tuan Pengarah, ada Ibu-nya Tuan Pengarah datang ingin berjumpa," kata sekretarisnya.


Mamah? Buat apa Mamah kemari? Pikir Ilham.


"Ya, suruh masuk je," titah Ilham kemudian menutup telepon.


"Siape?" tanya Leon kepo.


"Mamah aku datang nak berjumpe," kata Ilham.


"Kenape makcik berkebetulan datang ke N-one?" tanya Leon lagi.


"Entah ...."


"Ilhaaam ....."


Belum selesai Ilham berbicara Zubaedah telah datang dan menyelonong masuk.


"Mamah, apa hal mamah datang tiba- tiba? Bila mamah sampai di KL?"


"Mamah baru sampai pagi ni. Ke rumah Atok sebentar barulah datang ke sini," kata Mamah Zubaedah.


"Makcik ape kabar?" sapa Nadira sembari mencium punggung tangan Mamah Zubaedah.


"Nadira, lama tak jumpe. Makin cantik je makcik lihat Nadira ni. Leon mestinya bersyukur sangat punya isteri cantik macam kau. Ya tak Leon?" balas Mama Zubaedah.


"Begitulah, makcik. Makcik apa kabar?"


Kali ini giliran Leon yang menyalim tangan orang tua itu.


"Alhamdulillah, makcik sehat. Kalian macam mana? Sehat tak?"


"Alhamdulillah, Makcik. Kami pun sehat," jawab Leon.


"Mana dia?" tanya Mama Zubaedah dengan pandangan menyelidik pada Ilham.

__ADS_1


"Siape?" tanya Ilham pura- pura tidak tahu.


"Kau ni!!! Sampai bila kau mau sembunyikan dari Mamah? Mana menantu Mamah Yolanda? Atok dah cerite pada Mamah, kalau Yola bekerja di N-one mase ni." desak Mamah.


"Yolanda sedang ade kunjungan di N-one pinggir utara kota, Makcik," kali ini Nadira yang menjawab. "Dia sedang mempersiapkan ulang tahun perusahaan di cabang N-one sana. Nanti sore baru balik."


"Oh, macam tu. Kau ni Ilham, macam mana kau tak boleh bagi tahu mamah kalau Yola dah balik kat sini? Mama jauh- jauh datang dari Johor cuma nak bertemu Yola saje." keluh Zubaedah.


"Eh, Ilham, Makcik, kami pamit dahulu. Kami ade pula yang harus diurus," kata Nadira sembari menggaet tangan Leon.


"Ah, iya, betul. Kami undur diri dulu, makcik." Kata Leon.


"Ah, iya. Tak ape. Kalian bekerjalah dahulu," kata Zubaedah.


Selepas kepergian Leon dan Nadira, Zubaedah kembali menginterogasi putranya itu.


"Jadi macam mana kau dan Yola boleh tinggal jadi jiran?"


"Mamah ini sebenarnya mahu ape?"


"Kau dan Yola sebenarnya punya niat rujuk atau tidak? Kalian tak tinggal serumah, tapi bermesra- mesraan di lain waktu. Ape kata orang nanti Ilham??" desak Mamah Zubaedah.


"Bermesra-mesra ape maksud Mamah? Astaga, jangan cakap Mamah suruh orang jadi mata- mata untuk mengawasi Ilham ...." selidik Ilham.


"Iye. Mamah memang suruh orang. Mamah juga tahu kau dan Yola jiran bersebelah di apartemen yang sama. Mamah juga tahu pasal ciuman romantis di dapur pagi ini. Terus ape? Kau masih mengelak lagi?"


"Astaga Mamah!!!" pekik Ilham jengkel. "Siape yang Mamah suruh mengawasi Ilham?"


"Adelah tu. Jadi kau dan Yola ada niat untuk bersama lagi, kan?" tanya Mama Zubaedah.


Ilham menarik napas panjang.


"Ilham ada niat, tapi menantu Mamah tu tak nak kembali dengan Ilham. Susah payah Ilham bujuk dan rayu die, tapi sakit hatinya masih belum sembuh hingga mase ni, macam mana


ni, Mah?" kata Ilham setengah putus asa.


Zubaedah memandang putranya itu dengan rasa iba. Selama 7 tahun ini dia sangat tahu betapa menderitanya Ilham kehilangan Yola. Ia bahkan memilih untuk membawa Ammar ke Jerman agar bisa mengasuhnya sendiri karena rasa bersalahnya pada anak istrinya walaupun tentu saja Ilham masih membutuhkan bantuan Zubaedah. Tinggal di sana selama 5 tahunlah yang membuat cucunya itu fasih berbahasa Inggris karena pergaulan dan teman-teman Ilham yang kerap datang berkunjung dan bermain bersama bocah itu.


"Kau usah khawatir. Mamah akan bantu kau untuk buat Yola kembali," kata Zubaedah yakin.


Ilham tiba-tiba mendelik tak percaya.


"Tak usahlah, Mah. Nanti bukannya buat Yola kembali dengan Ilham, malah membuat Yola semakin menjauh dari mamah," kata Ilham meragukan. Karena Ilham sangat tahu terkadang betapa aneh dan ekstrimnya ide- ide Mamahnya ini.


"Tak. Mamah akan bantu Ilham. Mamah juga turut bersalah dengan Yola. Bagaimana pun Yola adalah menantu kesayangan Mamah. Mamah sayang padanya sedari dia masih baby. Dia pengganti Andini bagi Mamah. Kerana keserakahan Mamah yang ingin putri kandung Mamah balik akhirnya Mamah mengorbankan Yola pula," sesal Mamah. "Pokoknya kau percaye sahaja dengan Mamah."


"Baiklah. Terserah Mamah sahaja," kata Ilham pasrah.


\*\*\*\*\*\*\*


Yola sampai di rumah telah lewat maghrib. Kesibukannya mengurus persiapan ulang tahun N-one dan rencana kerja samanya dengan Victor membuat dia menghabiskan banyak waktu di wilayah pinggir utara kota. Hal ini dikarenakan tenggat waktu sebulan yang diberikan Leon padanya sudah berkurang beberapa hari. Jadi Yola memutuskan untuk mengecek toserba hotel Victoria sekali lagi dan menyusun ulang rencana- rencana kerja samanya.


Yola baru selesai mandi dan sholat, ketika bel apartemennya berbunyi. Buru- buru dia ke depan tanpa melihat monitor intercom bel sebelumnya. Itu pasti Ammar pikirnya. Karena hanya Ammarlah yang selalu berkepentingan untuk datang menemuinya. Dan siapa lagi selain Daddy-nya.


Ketika Yola membuka pintu, terkejut melihat siapa yang datang menemuinya.


"Ma- mah?"


"Iya. Ini saye. Kau tak nak bukakan pintu?"


"Haah? Ah iya, silahkan masuk, Mah," kata Yola mempersilahkan Zubaidah masuk.


Yola mempersilahkan Zubaedah masuk ke ruang tamu dan mempersilahkannya duduk.


"Mamah mau minum apa?" tanyanya.


"Tak perlu," kata Mama Zubaedah terdengar tidak ramah. "Yola, kau masih memanggil saye mamah walaupun kau dah berpisah dengan Ilham. Saye nak cakap terus terang dengan kau Yola, saye dah bicara dengan Atok dan dah tahu pun tujuanmu datang ke KL dan bergabung dengan N- one. Semua demi Ammar, betul?"


Yola menelan ludah. Dan akhirnya dia mengangguk.


"Saye tak setuju, kau datang nak bawa Ammar dari kami. Ammar adalah budak yang sudah kau buang. Kau lupakan dia, terus nak datang bawa dia kembali?"


"Mamah, aku sudah menyadari kesalahanku. Aku menyesal tak pernah menemuinya selama ini. Tapi jauh dalam lubuk hatiku, aku selalu memikirkannya, tak pernah sekalipun melupakannya," kata Yola dengan hati yang sesak. "Aku biar bagaimanapun adalah seorang ibu."


"Oh, kau dah ingat ke kalau kau adalah ibu? Saye juga adalah seorang ibu. Dan saye paling tahu betapa menderitanya Ilham selama ini sebab kau."


Yola tersenyum miris.


"Dia menderita karena apa? Apa aku menyakitinya? Mamah bilang semua karena aku? Dia menikah lagi dengan wanita lain, Mah! Dia mengkhianati aku, setelah berhasil merayuku. Dan waktu itu pun tak ada dari keluarga Nirwan yang datang untuk membelaku, jadi sekarang kenapa aku yang salah?" jerit Yola dengan tangis.


"Kau meninggalkan Ilham. Kau tak berusaha mencari tahu ape penyebab Ilham melakukan itu! Lalu kau juga membuang anakmu sendiri," tuding Zubaidah.


"Tidak! Aku tidak membuangnya. Mamah dan Atok yang menjemputnya," bantah Yola dengan tangis yang sesenggukan. "Dan aku tak perlu mencari tahu apa penyebab abang menikahi Sonia. Dia mencintai Sonia dan hanya mempermainkanku."


"Mamah dan Atok mengambil Ammar agar kau datang kembali pada Ilham walaupun hanya demi Ammar. Tapi kau tak datang sama sekali, Yola. Hatimu membatu. Dan kini kau datang pula nak ambil Ammar dari Ilham? Jangan berharap banyak! Kecuali ...."


Zubaedah berdiri dari duduknya. Memandang Yola yang masih bersimbah air mata.


Yola menunggu kata- kata yang keluar dari mulut mertuanya itu. Kecuali apa? Apa maksudnya.


"Kecuali kau rujuk kembali dengan Ilham!"


Haah? Rujuk?


"Mamah, mamah .... Mamah boleh minta apa pun pada Yola, tapi jangan itu. Yola nggak bisa lagi rujuk dengan abang ...." kata Yola sambil berpindah duduk ke dekat mertuanya itu. Ia menggenggam tangan Zubaedah sembari memohon.


"Kalau kau tak nak. Lupakan je, niatmu untuk bawa Ammar. Jangankan untuk membawanya pulang ke Indonesia, mulai detik dimana kau menolak untuk rujuk dengan Ilham pun, Mamah dah putuskan kau tak boleh lagi berjumpe dengan Ammar. Kau paham tak? Bahkan Atok sekali pun takkan boleh berbuat ape- ape. Kerana apa? Kerana hak asuh Ammar ada pada Ilham dan Sonia. Kau paham tak, kenape kau tak boleh memiliki Ammar tanpa berkahwin dengan Ilham? Kau tak punya dasar hukum. Kau nak Ammar balik? Kau harus berkahwin secara sah dengan Ilham!"

__ADS_1


Yola mendengar kata- kata Zubaedah bagai tertampar keras tak bisa berkata apa- apa. Berkahwin, menikah, rujuk, dimadu, istri kedua, poligami semua kata- kata itu silih berganti mengisi otaknya.


__ADS_2