Jodoh Dari Malaysia

Jodoh Dari Malaysia
Cinta Masa Kecil


__ADS_3

"Hallo, Pa?"


Sambil menyapa Abimanyu di telepon Yola sengaja menjauh dari Ilham dan Ammar untuk mengantisipasi segala percakapan atau suasana ruang yang tidak Yola inginkan.


"Yola, kau baik- baik saja?" tanya Papa di teleponm


"Hmm, iya. Papa dan Mama gimana? Mama sehat, kan Pa?" tanya Yola balik.


"Yola, Papa ingin minta tolong sama kamu, bisa?"


Yola mengernyitkan keningnya. Papa yang agak sedikit arogan ini minta tolong padanya?


"Papa mau minta tolong apa?" tanya Yola.


"Papa ingin mengirim Eva ke Kuala Lumpur tinggal sama kamu, kamu tolong carikan dia pekerjaan. Di N-one juga nggak apa- apa. Di sini dia menganggur. Dengan posisimu sebagai direktur marketing di N- one, kamu pasti bisa mencarikan dia satu posisi karyawan, kan?" tanya Papa.


Yola terdiam sesaat. Eva adalah kakak sepupunya dari keluarga Papa yang berbeda usia 4 tahun darinya. Usia Eva sekarang 27 tahun. Dan yang perlu di garisbawahi Yola dan Eva tidak pernah akur, begitu pun Mama dengan orang tuanya Eva.


"Kenapa harus ke sini, Pa? Kenapa harus bekerja di N-one? Dia bisa bekerja di perusahan Guna-1. Papa nggak mungkin nggak bisa masukin salah satu keponakan Papa di perusahaan Papa, kan?"


"Yola! Kamu kenapa selalu ingin bertengkar dengan Papa? Papa hanya minta tolong untuk masukin Eva kerja aja kamu sudah nggak bersedia. Gimana kalau Papa meminta hal yang lain sama kamu?!" tuding Papa di telepon. Nada suaranya benar- benar meninggi sekarang.


Yola menarik napas dalam- dalam.


"Kalau saja Papa tidak lupa, selama ini Yola selalu menuruti keinginan Papa. Dari menikahkan Yola di usia muda, mengirim Yola keluar negeri dan, hingga berpisah dari anak Yola. Papa nggak ingat semua itu kah? Dan sekarang Papa mau kirim Eva ke sini, itu buat memata- matai Yola, kan?" jawab Yola dengan nada suara yang sesak.


Sebisa mungkin Yola berusaha menahan air matanya yang sedikit lagi terjun bebas di pipinya. Yola begitu tak habis pikir, kenapa di usianya yang bahkan sudah dewasa ini, Papa masih saja otoriter, bahkan tidak segan-segan mengirim seseorang untuk mengawasinya.


"Kalau iya memang kenapa? Papa tidak percaya padamu. Saat ini Hafiz sedang ada di Serawak, kan? Kai bisa saja kembali pada pria itu ..."


"Mom?"


Tiba- tiba Ammar muncul mengagetkan Yola. Tak terkecuali Abimanyu yang mendengar suara cucunya itu di seberang sana.


"Why do you cry, Mom?" tanya Ammar polos.


Yola segera menggeleng dan berjongkok di hadapan Ammar.


"Ammar ke depan dulu, ya! Nanti Mommy menyusul," katanya lembut.


Ammar terlihat sedih melihat mata Yola yang berkaca-kaca. Tapi dia menurut.


"Benar dugaan Papa, kan? Kamu memang nggak bisa dipercaya! Kami sama anak itu di sana?" tanya Abimanyu sinis.


"Pa, anak yang Papa maksud itu punya nama. Dia Ammar. Anak Yola, juga darah daging Papa, dia juga cucu keluarga Gunawan! Apa salahnya kalau Yola bertemu Ammar?" tanya Yola mulai emosi.


"Nggak ada yang salah. Dia memang cucu Papa, dia darah daging keluarga Gunawan. Tapi tidak dengan ayahnya. Kau jujur saja, ada Ilham di sana, kan?"


Yola tak menjawab. Dia tak berani menjawab. Di tengah sikap Papa yang selalu memojokkannya, tiba- tiba sebuah tangan kokoh memeluknya dari belakang, seakan memberinya kekuatan. Ilham menempelkan dagunya di bahu Yola, turut mendengar percakapan Yola di telepon dengan Papa mertuanya itu.


Terdengar dengusan sinis Abimanyu di telepon.


"Kelihatannya benar tebakan Papa, dengar Yola! Kamu jangan berani macam- macam dengan rencana pernikahan kamu dan Hafiz. Jangan bikin Papa malu. Dan soal Eva, Papa tetap akan kirim dia ke KL untuk mengawasi kamu. Papa nggak mau tahu, kamu harus masukin dia ke N-one! Cuma dengan begitu kamu bisa terkontrol. Titik!"

__ADS_1


Yola sangat malu sekarang. Ditambah lagi Ilham yang menempel di pundaknya ikut mendengarkan. Yola rasanya masih ingin membantah papanya yang diktator itu, tapi pada akhirnya dia urung saat Ilham mengelus- elus lengannya mencoba menenangkan. Ilham juga menggelengkan kepalanya pertanda ia melarang Yola untuk membantah lebih lanjut.


"Baiklah, Pa."


Dan akhirnya kata- kata itu menjadi penutup panggilan telepon Yola dan Abimanyu.


***


"Abang harusnya nggak lihat itu," keluh Yola merasa bersalah.


Ilham menarik Yola ke dalam pelukannya.


"Tak ape, Sayang. Abang adalah suami Yola. Sudah pasti abang harus tau ape yang menimpa istri Abang," kata Ilham mencoba menenangkan.


"Tapi itu memalukan. Abang nggak lihat sikap Papa?" Kata Yola sambil membenamkan wajahnya dalam- dalam di dada bidang Ilham.


"Abang sangat tahu. Dia mertua Abang, macam mana abang boleh tak tahu sifat dari mertua abang sendiri?"


"Terus abang tak sakit hati?"


Ilham menarik napasnya dalam.


"Abang yang lebih dahulu salah menyakiti hati anak perempuannya. Macam mana Abang boleh sakit hati? Kelak abang juga akan sakit hati kalau menantu abang menyakiti hati anak kita," katanya.


Yola menarik dirinya dari pelukan pria itu. Dengan gemas Yola mencubit Ilham.


"Abang! Ammar masih kecil! Jangan jodoh- jodohin dia!" omel Yola.


"Wah, macam mana? Abang dah punya pun calon isteri untuk Ammar. Dia sangat comel. Kau pasti suke dengannya," kata Ilham sembari menarik kursi di meja makan.


"Tapi macam mana, Ammar pun suka sangat dengan budak tu. Atok pun dah setuju kalau Lily yang jadi pendamping Ammar kelak," kata Ilham lagi.


Yola menatap Ilham dengan pandangan tak percaya.


"Serius???"


"Hu uh," jawab Ilham acuh.


Yola mengedip- ngedipkan matanya tak percaya. Ammar anaknya juga telah punya jodoh dari kecil? Seriously?


"Anak siapa dia Abang? Aku nggak terima ya, anakku dijodohin tanpa sepengetahuanku!" protes Yola keberatan.


Ilham tersenyum.


"Dia anaknya Nadira dan Leon. Namanya Lily, kau mesti berjumpa dengannya. Kau pasti suke. Dia mirip sangat dengan cinta mase kecil abang dulu," kata Ilham.


Yola terdiam. Cinta masa kecil?


Ilham yang melihat perubahan raut wajah Yola menjadi tersenyum.


"Abang cinte sangat dengan gadis masa kecil abang tu," kata Ilham. "Dia cantik, comel pula ...."


Yola berpikir keras. Siapa yang Ilham maksud? Dirinyakah? Ah, tidak mungkin. Dia memang pernah bertemu Ilham saat kecil dulu dan itu dibuktikan dengan foto mereka di menara petronas. Tapi itu kan cuma sekali. Lagi pula Yola tidak ingat.

__ADS_1


"Ya sudah, kalau gitu kenapa Abang nikahnya bukan dengan cinta masa kecil abang?" kata Yola sengit yang dibalas dengan gelak tawa Ilham.


"Hahaha .... Memang sudah pun. Abang dah berkahwin dengannya," kata Ilham.


"Sonia?" tebak Yola. Mengucapkannya pun dia sakit hati.


Dan kali ini Ilham tak berani meledek Yola atau hanya sekedar bergurau. Dia tau, peran Sonia dalam menyakiti Yola sangatlah besar.


Perlahan pria itu menarik Yola untuk duduk di pangkuannya.


"Cinta mase kecil Abang tu bukan Sonia, tapi Yola. Tau tak?"


"Bohong!" tuding Yola. "Abang cuma mau nyenengin hati Yola, kan?Abang nggak usah bohong deh. Yola juga sudah dewasa kali. Siapa pun cinta masa kecil abang, apa urusannya sama Yola?"


"Tak. Abang tak bohong. Abang dah lama kenal dengan Yola. Dari Yola masih baby. Abang pun baru- baru ni je ingat pasal tu,"


"Isss, nggak percaya aku!"


"Kalau kau tak percaya, bolehlah kau tanya Mama Ratih. Dulu mase Yola baby, Yola suka sangat dengan Abang. Kau suka ciumkan Abang, suka gigitkan abang, sampai berliur- liur wajah abang ni," ledek Ilham.


"Apa siiih, aku nggak percaya ... abang nih ngarang. Mana mungkin aku kayak gitu," bantah Yola.


Meski begitu Yola tertawa geli mengatakannya.


"Udah macam tu, mase Yola umur 3 tahun, Yola datang melancong kat sini. Abang bawalah Yola pusing- pusing sekitar perumahan Atok. Yola minta bunga pula, sampai abang mencuri di kebun tetangga," kenang Ilham.


"Bohong .... Hahaha ...."


"Abang tak berdusta. Dah macam tu, abang ambilkanlah bunga mawar merah untuk Yola, Yola tak nak pula.'Yola mahu bunga utih Abang, bunga mawal ada dulinya hahaha," Ilham menirukan rengekan Yola waktu kecil. "Jadi Abang panjat pagar makcik Halimah, abang curi bunga aster putih untuk Yola, sampai telinga Abang ditarik makcik tu, hahaha ..." kata Ilham mengisahkan dengab gelak tawa.


Sebaliknya Yola malah terdiam seperti memikirkan sesuatu.


"Kenape?" tanya Ilham bingung.


"Jadi itulah sebabnya kenapa aku suka mawar merah," gumam Yola.


"Hmmm?"


Ilham tak mengerti.


"Di dalam memoriku yang samar- samar, aku selalu merasa ada seorang anak laki- laki yang pernah memberikan bunga mawar merah padaku. Aku tak ingat dia. Tapi aku selalu bisa merasakan ketulusannya untuk membuatku bahagia," kata Yola.


Ilham tersenyum.


"Ya, itu abang. Kerana itu abah membawakanmu bunga aster putih saat kau sakit. Abang kira kau masih suka bunga itu seperti kau masih kecil dulu," kata Ilham.


"Sekarang aku sukanya abang," gombal Yola sambil memberikan sebuah ciuman untuk Ilham yang dibalas oleh lelaki itu dengan ciuman yang lebih dalam.


"Mom, Ammar nak tidur. Ammar mengantuk."


Tiba- tiba saja Ammar selalu menjadi pengganggu di antara kedua pasangan itu.


***

__ADS_1


Segini dulu deh... Jangan lupa like, koment dan votenya kawan- kawan. Jangan pelit- pelitlah...


__ADS_2