Jodoh Dari Malaysia

Jodoh Dari Malaysia
Penemuan Surat dan Obat


__ADS_3

Tak membuang waktu lama, Ilham pun segera berangkat menuju kantor polisi begitu dia mendapatkan informasi dari salah seorang petugas polisi kalau Melisa, tersangka pelaku pembunuhan Atok Yahya telah berhasil mereka tangkap.


Di kantor polisi itu, pria itu dipertemukan dengan juru rawat Sonia, Melisa.


"Kami dah tangkap perempuan ni, Tuan Ilham. Dia dah bersiap-siap nak bertolak meninggalkan Malaysia di airport. Beruntung kami cepat datang dan menggagalkan dia punya rancangann," kata polisi itu.


Ilham menghampiri Melisa dengan didampingi oleh salah seorang petugas polisi wanita. Wanita itu berada di penjara sementara balai polis sebelum bisa diputuskan dia bersalah atau tidak untuk dipindahkan di penjara narapidana yang sesungguhnya.


"Kau yang membunuh Atokku?" tanya Ilham dingin pada Melisa yang menunduk menatap lantai.


Melisa mengangkat kepalanya dengan pandangan menantang.


"Kalau aku kate aku tak lakukan, kau percaya ke?" tanyanya balik.


"Tak. Aku tak percaye. Kau mestilah yang melakukan. Kalau kau tak lakukan, kau tak mungkin melarikan diri dari rumah kami pade saat kejadiaan tu," jawab Ilham benci.


Melisa manggut-manggut.


"Kalau kau dah cakap macam tu, kenape masih sahaja bertanya? Kau balik sahaja kat rumah kau sana! Tetapi aku bagi tahu, kau akan menyesal kerana telah menangkap orang yang salah. Yang membunuh Tengku Yahya Nirwan bukan aku, tetapi orang lain," kata Melisa sambil terkekeh.


"Siape?? Kau cakap padaku siape yang lakukan!!!" bentak Ilham. Dia mulai terprovokasi sekarang. "Kau jangan coba membuat kisah dusta, ya?"


Melisa tersenyum meledek.


"Aku pun tak tahu siape dia," kata Melisa.


"Berarti betul kau hanya mengarang cerita sahaja," tuduh Ilham.


"Kalau kau dapat keluarkan aku dari sini, aku akan bagi tahu siape lawaan kau yang sebetulnya," kata Melisa penuh harap.


Kali ini Ilham yang tertawa terkekeh.

__ADS_1


"Aku ni businessman, aku ni banyak lawan. Tak payah kau bagi tahu siape-siape yang jadi lawan aku. Sebab meski aku nih banyak lawan tak akan mungkin mereka akan sampaii hati nak bunuh Atok. Aku datang kat sini, nak cari tahu ape motif kau membunuh Atok aku. Dia ade salah ape dengan kau, sampai kau boleh berbuat keji macam tu dengan orang tua yang dah bagi kau rumah dia tempat kau berduduk hampir sebulan ni! Sekarang cakap, kau nak mencuri ape kat bilik Atok aku ketika malam berinai tu? Jangan cakap kau nak mencuri wang. Aku tak percaye pasal tu!" kata Ilham mencoba meredam amarahnya yang memuncak.


"Aku tak akan bagi tahu kau apa-apa. Kau balik sahaja!" Melisa menolak kooperatif.


"Kalau macam tu kau membusuk sahaja kat sini," kata Ilham geregetan. "Aku akan pastikan kau tak akan dapat keluar lagi dari sini."


Dengan geram Ilham meninggalkan Melisa. Sementara Melisa sendiri yang tak menyangka Ilham akan pergi begitu saja, berteriak, menyeru memanggil Ilham kembali.


"Kau akan menyesal kalau tak keluarkan aku dari sini!!! Kau tak tahu siape yang kau hadapi!!" teriak Melisa dari balik jeruji besi. "Tuan Ilhaaamm!!! Kau jangan pergi!!! Jom kite buat kesepakatan lagi!!!"


Tapi Ilham tak menghiraukan. Apa pun alasannya dia tak akan mengeluarkan wanita itu dari penjara. Biarlah untuk sementara dia membiarkan wanita itu menderita di bui, sebelum nanti dia kembali untuk mendesak Melisa untuk buka mulut.


"Untuk sementara, kami tak dapat simpulkan siape pelaku yang sebenarnya yang telah membunuh Tengku Yahya Nirwan. Tetapi, dari tempat kejadian perkara kami telah temukan bahwasanye CCTV di rumah Tengku Yahya, telah dirusak beberapa hari sebelumnya. Dan untuk pelaku pembakaran sendiri, kami dah temukan pula, kalau pelakunya adalah Melisa. Dia panaskan periuk kosong tertutup di atas tungku, hingga periuk tu pun meledak dikeranakan tekanan suhu panas dari dalam periuk. Kami rase Melisa tu bukan orang biase. Dia tuh cerdik dan licik," kata polisi yang ditemui Ilham setelah dia bertemu dengan Melisa.


Benar-benar! Wanita itu benar-benar perempuan licik! Ilham menggeram. Jadi selama ini mereka telah membiarkan ular berbisa masuk ke dalam keluarga Nirwan.


"Jadi, kalau menurut Tuan Polis, besar kemungkinan kalau dialah yang membunuh Atok saye?" tanya Ilham lagi.


"Surat?" tanya Ilham.


Polisi itu mengangguk.


"Ya, surat dari Tengku Yahya Nirwan yang agaknya dengan seseorang bernama Salim Gunawan," kata pria itu lagi.


Ilham mengernyitkan keningnya.


"Tuan Ilham kenal?"


Ilham mengangguk. "Hmm ... Beliau kakek atau datuk dari isteri saye, Yolanda."


Polisi itu manggut-manggut.

__ADS_1


"Saye tak begitu paham isi dari surat itu, tetapi nampaknya itu surat penting hingga Melisa tu sangat berniat untuk mencurinya," kata polisi itu.


"Oh macam tu? Surat ape tu kalau boleh saye tahu?" tanya Ilham penasaran.


"Maaf kalau saye lancang, Tuan Ilham, Kalau saye tengok lebih dalam, agaknya itu berkenaan dengan asal muasal harta keluarga Nirwan. Tapi saye pula tak nak mencampuri lebih dalam tanpa ijin dari keluarga Nirwan. Kalau Tuan Ilham mahu sila, tengok sendiri. Bila mana Tuan Ilham perlu bantuan kami untuk menyelidik case ni lebih dalam, kami akan menyediakan diri untuk membantu Tuan. Tetapi untuk sementari kami hendak berkonsentrasi pade kasus pembunuhan Tuan Yahya Nirwan dahulu," kata poliso itu.


Surat berisikan asal muasal harta keluarga Nirwan? Ilham mengernyitkan keningnya lagi. Setahunya sudah jelas kalau Atok mendapatkan semua harta yang dia miliki dari hasil kerja kerasnya saat bekerja sebagai ABK (Anak Buah Kapal) di kapal milik perusahaan Jerman.


"Boleh saye tengok surat yang Tuan Polis maksudkan?" tanya Ilham.


Polisi itu langsung mengangguk-angguk mengiyakan.


"Boleh, boleh! Tentu sahaja. Tunggu sekejap!" katanya sambil beranjak mengambil tas Melisa ke ruangan yang lain.


Sepanjang polisi itu pergi untuk mengambil tas itu, banyak pertanyaan yang hinggap di pikiran Ilham. Surat Atok Yahya dan Kakek Salim Gunawan. Isinya membahas asal muasal harta keluarga Nirwan? Sesungguhnya apa yang terjadi? Kenapa Melisa ingin mencurinya? Dapat keuntungan apa gadis itu hanya dengan mencuri surat?


Tak lama menunggu, polisi itu pun datang.


"Ini bag kepunyaan Melisa. Selain surat di dalamnya pun kami temukan berbagai macam ubat-ubatan," kata polisi praia itu sambil menyerahkan sebuah tas jinjing pada Ilham.


"Hmm, dia memang juru rawat," kata Ilham menegaskan kalau tidak ada yang perlu dicurigai tentang penemuan obat di tas Melisa.


Polisi itu menggeleng.


"Tak sesederhana tu. Ubat-ubatan yang kami temukan berbeza. Kami belum dapat simpulkan ubat ape yang ade kat bag-nya itu. Mase ni sedang ade di laboratory untuk diperiksa lebih lanjut."


Ilham mengernyit bingung.


"Ubat?"


*****

__ADS_1


Like dan komentnya beib biar othor rajin up. Jangan lupa mampi di karya othor yang lain ya ...


__ADS_2