Jodoh Dari Malaysia

Jodoh Dari Malaysia
Marahnya Yola


__ADS_3

"Mama? Abang? Apa maksudnya kalau Eva adalah anak papa?" tanya Yola pada Ilham dan Mama Ratih yang diam terpaku tak menyangka kalau Yola mendengar pembicaraan mereka.


Ilham mengira tadinya bumilnya itu tengah sibuk membereskan barang-barang belanjaannya yang sejibun. Tapi ternyata Yola yang sedang mencoba pasmina baru yang baru dia beli dan ingin menunjukkannya pada Ilham tak menyangka kalau dia akan mendengar hal mengejutkan seperti ini.


"Loh? Kok pada diem?" tuntut wanita itu.


Ilham dan Mama Ratih saling pandang. Ratih tak pernah menyangka kalau akhiry Yola akan mengetahui aib papanya dari mulutnya sendiri. Dia juga tak bisa sepenuhnya menyalah-nyalahkan Ilham, karena dia sendiri tadi yang menanyakan hal itu pada Ilham.


Selama ini mereka menyimpannya sendiri, tak membiarkan Yola tahu agar kebanggaan Yola pada sang Papa tidak hancur. Dan tentu saja itu juga demi menjaga perasaan Yola sendiri dan hubungan kekerabatan keluarga Gunawan. Bagaimana pun, Eva kini adalah anak tiri dari Septian, Omnya Yola.


"Mama ... " Kini Yola mendudukkan dirinya di samping Mama Ratih.


Mama lagi dan lagi hanya bisa menarik napas dan membuangnya perlahan, kali ini sambil mengusap punggung Yola.


"Papa yang Abang dan Mama maksud bukan Papanya Yola, kan Ma?"


Tapi kemudian senyum simpul mama sudah menjawab semuanya.


"Mama bohooong," tudingnya.


"Itu kenyataannya, Sayang. Sebelum papa menikah sama Mama, papa menjalin hubungan dengan Mira, Mamanya Eva. Dari situ lahirlah Eva," kata mama menjelaskan meski dengan nada tidak antusias sama sekali.


"Terus kenapa aku nggak tau? Tunggu, tunggu ... abang juga tau semua ini tapi nggak mau ngomong sama aku?? Udah berapa lama abang tau?!" tuding Yola.


Yah, akhirnya kena imbasnya juga Ilham. Ilham bingung bagaimana cara menjelaskannya sekarang.


"Maafkan Abang, Sayang. Abang pikir abang tak punya kuasa untuk memberi tahu Yola kabar ni, kalau pun Yola harus tau tetapi itu mestinya bukan dari abang," ujar Ilham mencoba memberi penjelasan.

__ADS_1


"Terus harusnya aku tahu dari siapa? Dari orang lain gitu? Tau nggak sih abang udah bikin aku kecewa? Mendengar ini aja aku udah nggak tau kecewanya gimana, apa lagi tahu kalau abang merahasiakan ini sejak lama dari aku. Aku nggak tau lagi ahhh!"


Yola yang dipenuhi rasa amarah diakibatkan kecewa langsung bangkit dari duduknya dan kembali ke kamar. Sungguh dia belum sanggup mendengar penjelasan lebih rinci terkait kabar mengejutkan ini. Papanya meski keras dalam mendidiknya selama ini, yang dia pikir adalah bentuk dari usaha papanya dalam menjaga martabat keluarga mereka, nyatanya malah punya skandal sebesar ini. Gila! Mimpi apa dia semalam sampai dia bisa mendapat kabar seburuk ini hari ini? Eva adalah kakak kandungnya seayah tapi beda ibu, musuh bebuyutan sejak lahir. Damned! Tersial! Sangat sial!


Ratih dengan khawatir ikut bangkit dari duduknya, ingin membujuk Yola. Tetapi Ilham menahannya.


"Beri waktu bagi Yola sekejap menenangkan diri, Ma. Biar Ilham yang membujuk dia nanti." Pria itu mencoba menenangkan sang Mertua.


"Yola pasti marah besar sekarang ke Mama sama Papa. Kalau begini Mama makin nggak bisa pulang nih. Mana tiket udah dibeli untuk lusa lagi," keluh Ratih.


"Mamah tak usah pening. Ilham kat sini akan merayu dia, Ok? Yola itu sebenarnya pemaaf. Mamah usah risau," bujuk Ilham.


Ratih mengangguk perlahan. Dadanya sedikit sesak melihat kekecewaan putrinya itu.


"Mamah, selain yang kita bicarakan ni, Ilham ade pula permintaan lain," kata Ilham.


***


Sudah dua hari sejak terbongkarnya rahasia besar itu. Sudah dua hari pula Yola mogok bicara pada sang Mama, bahkan pada Ilham pun sikapnya selalu jutek, meski pun karena beberapa hal di terpaksa harus tetap bertegur sapa dengan sang suami. Sejatinya itu pun karena urusan di kantor N-one mau pun karena hal yang bersifat pribadi. Misalnya, ketika Ilham menanyakan padanya dimana-mana barang-barang pribadinya seperti dasi, bahkan pakaian dalam. Padahal barang-barang Ilham yang seperti itu pun sebenarnya jarang sekali Yola yang mengurusi karena semua dikerjakan asisten rumah tangga keluarga Nirwan. Tetapi demi tetap bisa mengajak istrinya mengobrol, apa pun akan Ilham lakukan.


Ratih menghela napas panjang saat untuk kesekian kalinya pagi ini di meja makan Yola kembali me-reject panggilan telepon dari Abimanyu dengan wajah yang sangat kesal. Padahal Ratih tahu Abimanyu juga ingin membujuk Yola dan menjelaskan situasinya saat ini. Tetapi Yola tetaplah Yola, meski Ilham bilang putri tunggalnya itu adalah orang yang pemaaf tapi nyatanya, tetapi dialah yang paling tahu kalau Yola adalah orang yang sulit memberi maaf.


"Yola, diangkat donk, Sayang. Papa mau ngomong tuh," bujuk Ratih.


Yola dengan malas menyuap sarapannya dan mengacuhkan Ratih. Sementara Zubaedah sendiri memandang menantunya itu dengan penuh perhatian. Dia pun baru diberi tahu oleh Ilham situasinya, kalau besannya punya anak lain di luar nikah yang berujung pada kemarahan Yola.


"Yola, jangan begitu donk. Mama berapa jam lagi juga bakal berangkat pulang ke Jakarta. Kalau Yola marah begini, terus hati Mama nggak tenang gimana? Entar kalau ada apa-apa di jalan gimana?" kata Ratih sedikit menakut-nakuti.

__ADS_1


"Ck ..." Yola hanya berdecak. Selera makannya yang kurang karena hal ini, menjadi semakin hilang.


"Yola, tak baik macam tu, Sayang. Kalau ade perkara ape pun tak baik didiamkan macam ni. Alangkah baik pabila dibicarakan, dirundingkan bersama supaya jelas macam mana baiknya. Supaya hati yang panas boleh dingin," nasehat Zubaedah.


Yola tersenyum kecut mendengar petuah dari mertuanya. Ilham sendiri tak ingin memancing ikan di air keruh. Yola sudah sangat marah padanya. Jika dia ikut-ikutan menasehati Yola di waktu yang bersamaan, bukan tak mungkin bumilnya ini akan semakin meradang melihatnya.


"Jadi macam mana? Hari ini kau tak nak cuti ke? Kite hantar Mama bersama ke airport," tanya Ilham masih bernada membujuk.


"Terserah abang aja," jawab Yola malas sembari bangkit dari kursinya dan meninggalkan ruang makan.


Ilham menghembuskan napas melihat sikap Yola yang sulit dibujuk itu. Tetapi untungnya Yola mau berangkat bersama-sama mengantar Mama Ratih ke bandara.


"Beri dia mase sembuhkan dia punya luka. Sama dengan luka dia pada kite mase tu, mase ni pun Yola mesti merasa sakit hati akan hal macam ni," kata Zubaedah pada Ilham dan Ratih.


Keduanya pun setuju dan menganggukan kepala.


"Mamah betul," kata Ilham membenarkan sambil mengelus lengan mertuanya itu.


Di saat itulah ada panggilan telepon di ponselnya dari nomor tak di kenal. Nampaknya itu bukan kode negara wilayah Malaysia.


Sejenak Ilham mengerutkan keningnya. Namun tak lama dia menyentuh ikon telepon berwarna hijau di layar ponselnya.


"Hallo ... "


"Abang, ini aku Hafiz."


***

__ADS_1


Hai, hai, hai ... Maaf ya telat up hari ini. Othor banyak cucian gengs plus bersih-bersih rumah. Jangan lupa like dan komentnya ya ...


__ADS_2