
Yola membuka pintu saat terdengar suara bel di apartemennya namun tak ada orang yang terlihat pada monitor interkom bel.
"Morning, aunty!" sapa Ammar.
Oh pantas saja tak terlihat, postur tubuh Ammar terlalu pendek untuk bisa tertangkap oleh kamera.
"Morn ...." Yola tak meneruskan sapaannya saat melihat Ilham juga ada dan bersandar di dinding.
"Aunty, baju seragam Ammar masih ada kat sini, boleh Ammar mandi di tempat aunty?" tanyanya polos.
Yola menatap Ammar bingung. Kenapa dia harus membawa Daddynya segala.
"Hmm .... Ya, tapi ...."
"And I want breakfast with Aunty. Aunty kate Daddy- ku boleh makan di tempat aunty. Betul tak?"
Yola menatap Ilham tak percaya. Lelaki itu pura- pura melihat ke langit- langit koridor seakan tak mau disalahkan atas permintaan Ammar ini.
"Tapi Aunty belum sempat beli bahan masakan. Hanya ada telur dan Ammar akan terlambat kalau Aunty pergi belanja dan masak. Aunty dan Daddy juga akan terlambat ke N-one. Bagaimana kalau lain kali saja?" tanya Yola dengan senyum manis.
Jangan harap kamu bisa memanfaatkan anakku, kata Yola dalam hati sambil memandang sebal Ilham
"Telur tak ape. Kami tak masalah makan omelet seperti yang kamu buat untuk Ammar semalam. Ammar bilang omelet buatan "aunty" sangatlah sedap. Jadi Daddy Ammar pun bolehlah ikut breakfast di sini?" jawab Ilham sambil tersenyum manis pula pada Yola.
Kalau aku nak gunakan anak kite buat kite rujuk kembali, kau mau ape? Ini semua demi kebahgiaan kite bersama, balas Ilham sambil menatap Yola yang sedang jengkel seolah tau apa yang dipikirkan ibu muda itu.
Yola tak dapat membantah lagi selain mempersilahkan keduanya masuk. Dalam hatinya Yola merengut pada Ilham. Ini bahkan baru jam 6 pagi tapi Ilham sudah mengganggunya.
"Kalian berdua menonton televisi saja dulu. Aunty akan memasak dulu. Nasi goreng apa Ammar suka?" tanya Yola.
"Ape pun yang Aunty masak Ammar pasti suka!" jawab bocah itu.
"Okey. Wait ...."
Yola pun segera menuju kamarnya untuk mengambil ikat rambut lalu bergegas ke dapur. Ilham pun tak lepas memperhatikan wanita itu. Yola yang saat itu hanya menggunakan daster rumahan sangat menarik perhatiannya. Dia sangat keibuan saat ini. Sangat berbeda dengan tampilannya yang fashionable saat berada di kantor.
Kalau tidak ingat pertengkarannya tadi malam dengan Yola dan sikap gadis itu yang menolak saat dia memeluknya, Ilham pasti saat ini sudah menyusulnya ke dapur dan memeluknya dengan mesra dari belakang. Seperti halnya yang pernah dilakukannya 7 tahun silam di green house, rumah pemberian Atok.
Flashback on,
"Abang, Yola mau masak mie dulu. Lepasin, abaaang aaaa ...." rengek Yola kala itu ketika Ilham mengganggunya di dapur.
"Sekejab je .... Yola jangan pelit dengan Abang," kata Ilham balas merengek.
"Iya. Yola tau. Tapi lepasin dulu tangan Abang. Yola angkat dulu mienya. Nanti mienya terlalu masak nanti nggak enak," rengek Yola.
"Ape pun yang kamu masak pasti enak sayang. Tapi abang pengen santap kamu dulu. Baru nanti mienya," kata Ilham nakal dan sudah pasti tangannya pun akan menjalar kemana-mana.
"Abang aaa, sudah donk. Nggak capek apa begituan mulu semalaman. Yola lapar, pengen makan dulu," kata Yola.
"Abang hanye 3 hari je bisa bersama Yola di KL. Lepas ni, abang mesti balik ke Berlin. Biarkanlah Abang melepas rindu dulu dengan isteri abang," bujuk Ilham sambil mematikan kompor.
Tanpa peduli rengekan Yola, Ilham mengangkat istrinya itu dan memikulnya dibahunya. Selanjutnya bisa ditebak hal- hal apa yang dilakukan Ilham dengan isterinya itu di dalam kamar utama rumah itu.
"Abang, Yola lupa bawa obat KB yang biasa disuruh Mama bawa kalau Yola sedang ke KL," kata Yola murung. "Bisakah kita membelinya di apotik nanti?"
"Tak payahlah minum obat macam tu. Abang juga heran sangat dengan Mama Ratih apelah nak beri kamu obat macam tu kalau sedang kemari. Bahkan saat kamu baru pertama kali dibawa ke sini. Macam betul aja abang nak ajak Yola yang masih budak kecik berhubungan suami isteri," kata Ilham. "Mama Ratih tu tak percaya sangat dengan Abang."
"Tapi memang abang nggak bisa dipercaya kok. Buktinya abang bohong sama mama dan papa. Katanya Atok pengen jumpa dengan Yola. Tapi mana? Mana? Abang malah ajak Yola berduaan di sini dan ...." Yola tak sanggup lanjutkan kata- katanya.
"Dan ....?" goda Ilham.
"Tau ah. Nggak usah dibahas," jawab Yola malu.
"Dan apa, sayang? Dan memadu kasih ke macam yang baru saja kite lakukan?" goda Ilham lagi.
"Abaaaaangg!!!! Nggak usah diperjelas lagi. Yola maluuuu," jerit Yola sambil melempar bantal ke wajah Ilham.
Ilham dengan sigap menangkap bantal itu dan memeluk istrinya itu.
__ADS_1
"Dahlah tu, Yola usah marah. Abang lakuin itu sekarang karena abang dah pun memperkirekan usia Yola yang dah beranjak dewasa. Dah 16 tahun pun. Itu dah cukup dewasa. Padahal Abang dah lama pun inginkan Yola," bisik Ilham diceruk leher Yola. "Tapi Yola mase tu masih budak kecil."
"Oh ya? Sejak kapan?" tanya Yola penasaran.
"Sejak abang perhatikan ada bidadari kecil tidur di kasur ni. Lalu abang ...."
"Lalu apa?!" desak Yola makin penasaran.
"Abang dapatkanlah first kiss-nya. Tapi bidadari tu tak tau pun. Dia tau-nye ade kotoran cicak di bibirnya," kata Ilham pura- pura tak merasa bersalah.
"Abaaaangggg!!!! Jadi benar waktu itu abang cium Yola. Dasar cabul! Mesum! Predator!" kata Yola seraya mendorong tubuh Ilham yang memeluknya erat.
Ilham hanya tertawa melihat Yola yang uring- uringan.
"Jangan marah, sayang. Sekarang lekaslah berpakaian. Abang dah tak sabar pun makan masakan Yola,"bujuknya.
Lalu saat mereka kembali ke dapur mie itu pun sudah bengkak karena terlalu lama tidak dimakan. Namun Ilham bersikeras memakannya meski Yola memberikan opsi untuk makan di luar.
"Kenape lagi Yola murung? Masakan Yola dah abang makan pun, usahlah merajuk lagi," bujuk Ilham sambil meneguk air minum dalam gelas.
"Abang, bagaimana kalau Yola hamil? Yola belum siap punya anak. Dan lagi pula Yola masih sekolah," kata Yola sedih.
Ilham mendesah mendengar kekhawatiran istrinya itu. Segera dia menggeser kursinya dekat dengan Yola.
"If you pregnant, itu mestilah jadi kabar bahgia untuk semua, kenape Yola sedih macam tak punye husband je. Abang mestilah bertanggungjawab untuk anak isteri abang. Kau jangan risaukan hal itu. Perihal school, nanti kita pikirkan lagi, ya. Dan lagi apa nak Yola risaukan saat Yola adalah calon isteri pewaris N-one dan juga pewaris tunggal Guna-1 punya papa Abi, semua itu bisa diatur, sayang ...."
"Tapi Abang...."
"Ssst .... Tak de tapi, selama mase 3 hari ni, jangan rusak dengan kerisauan macam tu," kata Ilham menenangkannya."
Flashback off.
"Oke, selesai! Mari kita makan!!!" seru Yola dari dapur.
"Yipppi, Mommy eh, aunty .... Aromanya harum sangat. Ammar jadi laparlah," kata Ammar dan segera berlari ke dapur.
Ilham pun mengikuti. Sementara Yola menatap Ilham tajam.
Sementara Ilham balas menatap Yola dengan senyumnya.
Ape aku kate, kita seperti ni dah persis pun macam keluarga sebagaimana mestinya. Iya tak?Batin Ilham.
Keluarga apaan? Sana kamu sama Sonia aja! Biarkan aku dengan anakku, balas Yola dalam hati.
Kaulah isteriku yang sesungguhnya kenape aku mesti dengan wanita ular tu? Pandang Ilham dengan tatapan menusuk pada Yola.
"Tidak tahu malu!" desis Yola pelan.
"Kau yang terlalu jual mahal ..." balas Ilham dengan menggumam.
Mereka seperti bisa melakukan telepati. Hingga akhirnya Ammar yang sedari tadi memperhatikan keduanya menggebrak meja.
"Daddy! Aunty! Whats happen with you? Kalian ade masalah yang mahu dibicarakan berdua?"
"Tidak mau!"
"Ya!"
Ilham dan Yola serentak menjawab dengan jawaban berbeda.
"Oke. Jika begitu berdamailah. Kasihan budak kecik ni mendengar pertikaian kalian orang dewasa, kalian tak kasihan ke dengan aku?" lerai Ammar.
Yola menarik napas mendengar kata- kata Ammar.
"Tidak sayang, aunty dan Daddymu tidak bertengkar. Kami hanya bercanda," kata Yola ngeles.
"Ya kami hanye bergurau je," kata Ilham juga.
"Oke! Kalau begitu lekaslah makan, lepas ni, Ammar mahu mandi di sini."
__ADS_1
"Aunty mandikan, ya?" Kata Yola menawarkan.
"Katakan pada Aunty, Daddy juga nak dimandikan," kata Ilham dengan muka tembok.
Dan kini tatapan mendelik bukan cuma dari Yola melainkan dari Ammar juga.
"Daddy, jangan keterlaluan."
"Oke, oke. Daddy hanye bergurau. Daddy mandi di apartemen kita," kata Ilham.
Dia mengelap mulutnya dengan serbet dan segera berdiri setelahnya.
"Thank for breakfast pagi ini. Maaf kalau Ammar merepotkanmu dengan sarapan dan mandi di sini," kata Ilham.
"You're wellcome, Ketua Pengarah. Ammar sama sekali tidak merepotkan,"ucapnya.
Tapi kau yang merepotkan! Sambungnya dalam hati.
Lalu selepas Ilham kembali ke apartemennya, Yola pun segera mengajak Ammar ke kamar mandi dan memandikan anak itu.
"Aunty, aku boleh mandi sendiri. I'm not kid anymore," rengeknya.
"Ya, tapi Aunty ingin mandikan Ammarlah. Sudah jangan bawel!" jawab Yola.
"Ikan?"
"Bukan. Jangan banyak cakap, maksud Aunty."
"Ohh, aunty. Bolehkah Ammar panggil Aunty Mommy?" rengek anak itu.
Itu membuat Yola sangat- sangat terharu. Tapi dia tak bisa langsung menjawab.
"Aunty tak nak? Ape karena Daddy? Aunty tak suka ke dengan Daddy Ammar?" tanya Ammar pura- pura sedih.
"Bukan, bukan seperti itu sayang, Aunty bukannya tak suka ...."
Belum lagi Yola selesai bicara Ammar telah memotong kata-katanya.
"Kalau begitu Aunty pasti suka Daddy! Aunty, Ammar mau Aunty jadi Mommy-nya Ammar. Daddy sebenarnya baik sangat. Aunty hanya belum tahu bagaimana baiknya Daddy aku!" kata anak itu ceria.
Ya, itu karena kau tak tahu boy apa yang dilakukannya pada Mommy jaman dulu, batin Yola pedih melihat kegembiraan Ammar.
"Jadi, can I call you Mommy?"
Yola ragu menjawabnya. Kalau Ilham tahu, dia pasti akan semakin besar kepala.
"Bolehlah? Bolehlah? Mommy! Aku nak Mommy!" rengek Ammar manja membuat Yola tak kuasa lagi menolak.
Biarlah. Memang sudah seharusnya kok. Dia memang adalah Mommynya Ammar. Soal Ilham, terserah apa yang dia pikirkan. Ini hanya untuk Ammar, batin Yola.
"Of course, you can, sayang."
Dan selanjutnya pagi ini,sesuatu tiba- tiba berbunga di hati Ilham melihat anak semata wayangnya memanggil Yola, Mommy. Mereka tampak seperti keluarga sesungguhnya. Apalagi saat Yola tak kuasa menolak untuk berangkat bersama ke N-one dengan Ilham setelah terkebih dahulu mengantar Ammar ke sekolahnya.
"Ammar, kau datang dengan siape?" tanya guru Ammar saat Yola dan Ilham dipaksa oleh Ammar mengantarnya sampai kelas.
Ammar juga ingin pamer pada teman-temannya bahwa ia juga punya kedua orang tua yang lengkap sama seperti yang lainnya. Selama ini memang Ammar tak pernah di antar dan dijemput oleh kedua orang tuanya ke sekolah. Kalau bukan supir yang menjemput, kadang Ilham sesekali kalau sempat mengingat jam terbangnya yang tinggi.
"Mommy dan Daddy Ammarlah, Cik gu!" jawab Ammar bangga.
"Cantiknya, Mommy kau, Ammar!" puji guru itu lagi.
"Mestilah. Mommy Ammar mesti cantik!" katanya sembari berlari ke kelasnya setelahnya.
"Oh, jadi puan ini lah, isteri dari Tuan Ilham?" tanya guru itu.
"Iya, benar. Dia isteri saya, Yolanda." kata Ilham sambil melirik Yola.
Dan Ilham merasa cukup puas dan senang karena kali ini Yola tidak membantahnya meski tadi dia merengut kesal pada Ilham. Ilham merasa tidak akan lama lagi keluarga kecilnya pasti akan berkumpul lagi.
__ADS_1
Dia, Yolanda dan Ammar.