Jodoh Dari Malaysia

Jodoh Dari Malaysia
Menuju Perceraian


__ADS_3

Di rumah keluarga Nirwan,


Zubaedah tengah sibuk beres-beres kekacauan akibat kebakaran itu. Dapur yang berantakan, hingga bahkan seluruh ruangan di rumah ini penuh dengan bau asap. Zubaedah memerintahkan semua asisten rumah tangganya untuk membuka seluruh gorden dan tirai, bahkan semua seprai di seluruh kamar diperintahkannya untuk dilaundry.


Di tengah kesibukannya itu, Yola, sang menantu pun meneleponnya.


"Kenape, Sayang?" sapanya saat panggilan telepon itu mulai tersambung.


"Anu, Mah. Mamah sibuk?" tanya Yola.


"Sikit je. Hanya nak bersihkan kekacauan kat rumah sini. kenape?" tanya Zubaedah.


"Mamah, bisa nggak Yola minta tolong sama Mamah untuk bujukin Hafiz menikahi Yuri segera? Kasihan dia lagi hamil seperti Yola. Kalau perutnya membesar nanti, apa kata orang, Mah?" kata Yola memelas


Zubaedah mendesah. Sesungguhnya dia belum sempat berpikir ke arah sana sebenarnya. Tapi kalau dipikir-pikir benar juga apa yang dikatakan menantunya itu.


"Betul juge, Sayang. Nanti Mamah kalau dah berjumpe dengan Hafiz, Mamah akan bujuk die. Nampaknya dia dan Ilham, masih ade kat hospital," kata Zubaedah.


Terdengar hembusan napas lega Yola di seberang sana.


"Tapi Mamah nggak apa-apa kalau Hafiz menikah dengan Yuri? Mamah kan belum terlalu kenal dengan Yuri?" tanya Yola lagi.


Zubaedah menghela napas sembari ikut membantu asisten rumah tangga melepas sarung bantal dan seprai yang ada di kamar yang ditempati Sonia itu.


"Pasal siape yang menjadi pilihan Hafiz, asalkan dia wanita baik-baik tak masalah untuk Mamah. Dia sayangkan Hafiz, mahu mendampingi Hafiz dalam suke dan duka Mamah dah rasa cukup dengan itu semua," kata Zubaedah.


"Syukurlah kalau macam tu, Mamah. Yola mungkin khawatir kalau Mamah tak setuju karena belum terlalu kenal dengan Yuri. Dia anak yang baik, kok!" kata Yola.

__ADS_1


"Kamu usah cemaskan pasal tu, Mamah setuju sahaja," kata Zubaedah.


Zubaedah tiba-tiba mengernyitkan keningnya saat melihat sesuatu di kantongan plastik bening kecil yang nampaknya seperti tempat sampah untuk penghuni kamar ini.


Kantong plastik itu berisi bungkusan-bungkusan sampah bekas cemilan jajan. Tetapi bukan itu yang menarik perhatian Zubaedah. Dia melihat jarum suntik yang nampaknya bekas injeksi di tumpukan bungkus jajanan itu.


Zubaedah mendekat dan memeriksa untuk memastikan bahwa apa yang dilihatnya itu benar. Dan ternyata dia tidak salah. Di dalam kantong plastik berisi sampah itu, memang ada jarum suntik. Zubaedah sekarang merasa heran, apa iya Sonia membutuhkan injeksi untuk pengobatannya?


"Mamah, gimana menurut Mamah, soal ide Yola yang mau Hafiz dan Yuri nikahannya barengan dengan resepsi Yola?" tanya Yola membuyarkan pikiran-pikiran Mamah Zubaedah tentang alat injeksi itu.


"Hmmm, kamu sendiri macam mana? Kamu yakin tak ape kalau majlis perkahwinan kau dan Ilham ade orang lain lagi yang jadi pusat perhatian? Artinya tak cuma kau dan Ilham yang akan jadi raja dan ratu sehari. Sayang, kau dan Ilham telah lama berkahwin, tetapi baru kali ini ade mase kau dan dia boleh dapat kesempatan menyelenggara majlis perkahwinan. Ini semestinya harus menjadi hal yang istimewa untuk kau dan Ilham, kan?" kata sang mamah mertua.


Yola yang mendengarnya malah tertawa cekikikan.


"Hallahh, Mah, mah ... Yola sama Abang udah mau punya dua anak kali. Nggak mikir sampai yang kayak begitu-begitulah Mah. Hahaha ... Resepsi pernikahan, majlis perkahwinan sebenarnya buat Yola tidak lagi terlalu penting. Fungsinya hanya untuk menunjukkan pada semua orang kalau Yola dan Abang sudah menikah. Jadi kalau suatu saat orang-orang melihat Yola dan abang ada di luar sedang jalan bersama, nggak ada yang berprasangka buruk lagi kalau Yola adalah perempuan simpanan," kata Yola.


Zubaedah yang mendengar Yola hanya bisa manggut-manggut mendengar pemikiran sang menantu.


"Tunggu, tunggu sekejap. Ape maksudnya Yuri hanye mengabari keluarganya di Jakarta? Orang tua dan keluarganya tak nak datang ke ke perkahwinan dia dan Hafiz kat sini?" tanya Mama Zubaedah heran.


Yola jadi ikut berpikir banyak mendengar pertanyaan mertuanya itu.


"Ehmmm, mungkin maksudnya bukan gimana-gimana, Mah. Setahuku Yuri berasal dari keluarga yang biasa-biasa aja. Sederhana gitu. Mungkin kalau mereka semua kesini, akan ada kendala di ongkos. Mungkin ...." kata Yola menebak-nebak. "Tapi dia punya abang di sini kok yang bisa jadi walinya dia buat menikahkan dia dengan Hafiz."


"Tak seronoklah macam tu, macam mana tak ade acara pinangan dan acara lainnya. Meski Hafiz tu tak Mamah lahirkan dari rahim Mamah, tapi Mamah tak nak dia berkahwin seadanya. Bila kelak dia nak kahwinkan seorang wanita, Mamah nak buatkan majlis perkahwinan untuknya. Mamah buatkan pinangan untuk menantu Mamah pula, tak macam tulah," protes Zubaedah keberatan.


"Kita bisa bicarakan lagi itu nanti, Mah, kalau Hafiz sudah setuju untuk menikah, hmmm?" bujuk Yola.

__ADS_1


"Baiklah kalau macam tu. Ammar dah bangun?" tanya Zubaedah menanyakan keadaan cucu sulungnya itu. "Ammar jadi tak dapat ke tadika hari ini," keluhnya.


"Sudah Yola telepon tadi Cikgu-nya, Mah. Yola udah ngejelasin ada kebakaran di rumah," kata Yola menjelaskan.


"Baguslah kalau macam tu. Jadi dia boleh cuti hari ini,"kaya Zubaedah.


"He em, udah dulu, ya Mah," kata Yola yang kini tiba-tiba mengalami morning sickness lagi.


Perutnya tiba-tiba mual dan tak menunggu jawaban Zubaedah, Yola telah berlari ke kamar mandi.


***


Siang ini Atok Yahya sudah diperbolehkan pulang oleh dokter. Kondisi beliau yang hanya mengalami sedikit syok karena suara ledakan nampaknya tidak terlalu parah sehinggan dokter dengan cepat mengabulkan permohonan Ilham untuk membawa Atok Yahya pulang.


Tetapi tentu sajaa, dia tidak bisa membawa sang kakek untuk kembali ke rumahnya yang baru saja terbakar itu sekarang. Meski pun yang terbakar hanya bagian belakang, namun Ilham mengkhawatirkan udara di sana mungkin masih terkontaminasi akibat asap tebal tadi malam. Dan pastinya itu tidak baik untuk kesehatan sang Atok. Karena itu Ilham akan memindahkannya semeentara di rumah Green House sampai nanti rumah Atok selesai dibersihkan dan dibenahi kembali.


Sedang Ilham sibuk mengurus administrasi kepulangan sang Atok, ponselnya pun berdering. Telepon dari sahabatnya Omar yang mengurus perceraiannya dengan Sonia.


"Hallo, Mar! Macam mana?"tanyanya to the point.


"Ilham, kau mesti membayarku lebih," katanya. "Rayuanmu kepada Mahkamah Syariah terhadap perceraianmu dengan Sonia, nampaknya akan dikabulkan."


"Betul ke?" tanya Ilham nyaris tak percaya.


"Betul.


***

__ADS_1


Siapa yang sedang menanti perceraian Abang dan Sonia?


Like dan koment jangan lupa beib.


__ADS_2