
"Yola, kamu buat apa di sini??" tanya Sonia tak suka.
Dia merasa terganggu akan kehadiran Yola. Karena tak bisa disembunyikan Ilham seperti berusaha menjaga sikap padanya begitu melihat Yola. Sial! Yola masih sangat berpengaruh di hati Ilham, pikir Sonia.
"Mrs. Nirwan, jangan lupa aku bekerja di sini, di N- one Grocery. Jadi selama masih berhubungan dengan urusan job dan pekerjaan, aku bisa melangkah ke sudut bagian mana pun di gedung N- one ini," kata Yola ketus.
Ilham menatap Yola dengan cemas. Di satu sisi dia masih tidak bisa mengungkapkan hubungannya dengan Yola mengingat dia masih membutuhkan Sonia untuk memperoleh informasi tentang Mr. Y.
"Kakak Sonia biasa aja donk ekspresinya, nggak usah gitu. Aku ke sini bukan mau menggoda Ketua Pengarah, tetapi ingin bertemu dengan Wakil Ketua Pengarah. Sekretarisnya bilang wakil ketua Leon ada di sini. Ya ampuuuun! Apa ini? Pasembur?? Uhhh enaaknya .... Aku boleh minta sedikit nggak sih? Aku pengen nyicip dikiit ..." rengek Yola pada Leon yang terpana mendapat reaksi seperti itu dari pengarah pemasaran N-one itu.
"Tapi ini dah aku makan pun," kata Leon dengan perasaan yang masih merasa bersalah.
Tadi dia tak ingin memakannya, tapi setelah melihat Sonia membuka bungkusan pasembur itu, akhirnya pertahanannya keburu roboh karena pasembur itu terlihat sangat enak.
"Tak apa. Aku cuma minta sedikit aja. Aku lapar sekali tapi pesananku nggak datang- datang juga," sindir Yola dengan senyum kecut.
Leon menatap Ilham seperti ingin bertanya apa yang harus dia lakukan.
"Aku ambil sedikit, ya ..." kata Yola sambil merebut sendok itu dari tangan Leon.
Tanpa menunggu persetujuan Leon, Yola pun akhirnya memakan beberapa suap pasembur itu.
"Hmmm .... Ini lumayan enak. Atau itu karena kita makan dari sendok yang sama? Tau nggak sih, kata orang kalau makan dari sendok atau gelas yang sama, itu berarti kita telah bersentuhan bibir secara tidak langsung? Yang artinya kita udah ciuman secara nggak langsung. Hahaha .... Wakil Ketua Pengarah pernah mendengar hal seperti itu nggak sih?" tanya Yola sambil tertawa dengan mulut yang masih mengunyah.
Kata- kata provokasi dari Yolanda nampaknya mampu merubah suasana di ruangan itu. Leon terlihat salah tingkah ketika beradu pandang dengan Ilham yang tak terima kalau Yola dan Leon telah berciuman secara tak langsung.
"Hahaha ... apa maksud Puan Pengarah? Mana ada ciuman hanya kerana makan dari sudu dan minum dari gelas yang sama. Puan Pengarah ni kelakarnya macam betul je ..." bantah Leon.
"Kalau ciuman beneran gimana? Mau?" goda Yola tak serius.
Misinya hanya ingin membalas suaminya King Devil itu. Bisa- bisanya di saat dia sedang merasa sangat lapar- laparnya, pesanan makanan yang harusnya untuknya malah diberikan pada Sonia. Dan tak cukup hanya itu, dia pun harus melihat adegan romantis, suaminya disuap oleh wanita j*lang itu.
Leon salah tingkah dibuatnya. Matilah aku, mati ... Kalau kalian ade problem, mengapa nakk seret- seret aku macam ni, gerutu Leon dalam hati.
__ADS_1
"Nampaknya Puan Pengarah pandai sangatlah bergurau, hahaha ... Tapi macam mana? Aku tak boleh membalas gurauan Puan Pengarah tu. Nanti ade yang gusar pulak," kata Leon berusaha ingin menyelamatkan diri dari situasi itu.
Tapi kelihatannya dia pun di situasi maju kena, mundur kena. Karena sekarang Sonia yang sedang melotot padanya dengan pandangan marah. Tak terima kalau Leon menganggap Ilham masih cemburu terhadap Yolanda.
"Maksud aku Hafiz. Jangan sampai dia dengar gurauan Puan Pengarah ni, tak selamat pula aku nanti. Hahaha, kalau macam tu, aku balik sahaja. Aku masih ade janji makan siang dengan Nadira. Puan Pengarah masih mahu pasemburnya?" tanyanya pada Yola.
Kali ini dia tak mau lagi melihat ke arah Ilham yang sudah pasti seperti akan menelannya hidup- hidup.
"Nggak ah. Aku rasa cukup. Aku juga mau pergi sekarang aja. Nggak enak ganggu kemesraan Ketua Pengarah dan isterinya," sindir Yola.
Yola membalikkan badannya bergegas untuk pergi.
"Kenape tergesa- gesa? Kau kate tadi nak berjumpa dengan Leon?" tegur Ilham geram walaupun sebenarnya Ilham tahu kalau Yola datang ke ruangannya adalah untuk menjemput pasembur pesanannya, bukan untuk berjumpa dengan Leon.
"Oh, iya benar. Wakil Ketua Pengarah, bagaimana kalau kita lanjut membicarakan ini di ruanganmu saja?" tanya Yola.
Rasanya dia belum puas memprovokasi Ilham. Sementara Leon dengan pandangan memelas berharap agar Yola menghentikan aksinya memanfaatkan Leon untuk membuat Ilham cemburu.
Yola mendorong Leon untuk segera keluar dari ruangan Ilham. Sementara itu sesampai di luar pria itu langsung berhenti dan menahan Yola untuk berhenti pula.
"Ape maksud kau ni, gunakan aku untuk buat Ilham merasa jealous?" tanya Leon setengah meringis. "Dia akan bunuh aku nanti."
"Tak ada maksud apa- apa. Kamu juga suka memprovokasi orang, kan? Rasanya menyenangkan juga. Hahaha ..." tawa Yola senang seraya berlalu.
Dia merasa menang. Dia masih ingat saat Leon mencoba memprovokasinya ketika Sonia memiliki banyak bekas kissmark di lehernya. Dia sempat sangat frustasi dengan hal itu.
"Eh, Yola! Yola!" Leon mengejar Yola.
"Jangan mengejarku. Nanti dilihat oleh Nadira, dia salah paham juga nanti, bagaimana?" tantang Yola.
"Kau ni ...."
"Salah paham apa?"
__ADS_1
Tiba- tiba saja suara Nadira terdengar di belakang mereka. Leon dan Yola menoleh.
"Haiss ... Tengoklah kawan kau ni. Dia gunakan aku untuk buat Ilham rasa cemburu," keluh Leon yang dibalas oleh cekikikan Yola.
"Betul ke? Gunakan macam mana?" tanya Nadira penasaran.
Yola sambil tertawa menggandeng Nadira untuk kembali berjalan. Dia juga tak mau membuat sahabat barunya ini merasa curiga dan cemburu padanya.
Sementara itu di ruangan Ilham, lelaki itu sudah merasa tak sabar ingin mendengar informasi tentang Mr. Y dari Sonia.
"Sekarang bagi tahu aku, dimane kau melihat Mr. Y? Bukannya kau kate kau cuma pernah bertemu dengannya di Tiergarten 7 tahun lalu?" desak Ilham.
"Sabar sikitlah, Ilham. Kau minumlah dahulu," kata Sonia seraya meraih botol air mineral di atas meja.
Ilham dengan keras mencekal tangan Sonia.
"Jangan bermain- main dengan aku. Kau tahu aku tak suke dipermainkan," katanya dengan mencengkram tangan Sonia kasar.
"Le- lepaskan dahulu, Ilham. A- aku tadi melihat dia ada di depan N- one. Aku pun tak tahu dia ada urusan ape kat sini. Tapi aku lihat dia sedang menunggu seorang wanita keluar dari N- one," kata Sonia.
"Kau yakin itu dia?" tanya Ilham meyakinkan
"I- iya. Lepaskan dahulu tanganku. Sakiiit ...."
Ilham melepaskan cengkraman tanganya pada Sonia.
"Kau balik sahaja sekarang, aku masih ade yang perlu diurus pula," kata Ilham seraya mengambil botol air minum dan menenggak isinya.
Dia harus memeriksa CCTV sekarang!
***
Like, komentar dan hatinya author butuhkan untuk meningkatkan performa reader dear. Jangan pelit tinggalkan jejakmu!
__ADS_1