
"Ilham! Kau ni lama sangat bukakan pintu!" omel Zubaedah begitu Ilham membuka pintu apartemennya.
Zubaedah datang bersama Ammar.
"Maaf, Mah! Ilham sedang buang hajat di tandas tadi!" jawab Ilham.
"Dad?!" seru Ammar yang dengan senangnya langsung melompat ke pelukan Ilham dan segera ditangkap oleh Ilham dan langsung menggendongnya.
Mamah Zubaedah tak serta merta percaya pada jawaban putranya itu. Dilihat dari Ilham yang bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana boxer, ditambah lagi saat mata Mama Zubaedah masih sempat menangkap ke bagian bawah putranya yang belum sepenuhnya redup itu, Zubaedah langsung memalingkan wajahnya.
Ya ampun, ape yang sedang dilakukan Ilham tu? pikir Mamah. Dugaannya Ilham pasti baru saja melakukan sesuatu yang tak bisa dijelaskan. Apakah dia membawa wanita ke apartemennya? Apakah dia sudah seputus asa itu mengejar Yola agar kembali padanya? Apakah wanita yang sedang bersamanya saat ini adalah Sonia?
Tak mau berlarut- larut hanya memikirkannya, Zubaedah pun mengambil inisiatif dan mencari wanita itu ke kamar Ilham. Semua sudut kamar itu diperiksanya, hingga ke toilet dalam kamar Ilham. Namun Zubaedah tak menemukan siapa pun.
Tak menemukan siapa- siapa di kamar Ilham, akhirnya Zubaedah mencoba memeriksa dapur dan kamar mandi belakang, namun tetap tak menemukan siapa- siapa di situ.
"Mamah sedang cari ape?" tanya Ilham saat wanita yang telah melahirkannya itu hendak membuka pintu balkon.
Mata Zubaedah langsung memicing curiga pada Ilham. Di pikirannya Ilham pasti takut ketahuan.
"Kau sembunyikan dia dimane" tanya Mamah Zubaedah.
"Siape?" tanya Ilham tak mengerti.
"Wanita itu, yang kamu bawa ke Royale Hotel pekan lalu," jawab Mamah sekaligus menuduh.
Ilham menarik napas kesal. Siapa orang kurang kerjaan yang sempat- sempatnya mengadukan hal itu pada Mamah? Itu yang ada dalam batin Ilham.
"Aku dan Sonia tak seperti Mamah pikirkan. Aku ada alasan sendiri bawa dia bermalam di hotel mase tu," kata Ilham mencoba membela diri.
"Kau tak usahlah berdusta dengan Mamah. Kau bermalam di hotel dengan Sonia tak mungkin tak terjadi sesuatu. Orang- orang di N-one pun ade pula mendengar cakap pasal kemesraan Ketua Pengarah dengan isterinya. Kau tak pikir ke perasaan Yola kalau dia dengar cerita tu? Ini pun dia dah mahu berkahwin dengan Hafiz. Kau tak takut kehilangan dia ke?"
Ilham mendesah, "Mamah tak usahlah susah payah nak pikirkan hal tu. Yola dah tahu pun," katanya acuh.
"Ilham!!!" Mamah memukul pundak anak lelaki sulungnya itu. "Kau nampaknya tak peduli akan hal ni. Macam mana kalau Yola tak mahu rujuk lagi dengan kau, Ilham? Kau dah menyerah ke dengan die?"
Zubaedah terlihat kesal akan sikap Ilham. Sementara Ilham sendiri merasa acuh karena dia sendiri sudah berhasil membuat Yola rujuk dengannya. Sebagian beban kecemasannya telah hilang, jadi buat apa terlalu memusingkannya?
"Aihhh, Mamah dahlah tuh. Yola pun tak peningkan pasal itu juga. Sekarang Mamah mau apa ke sini?" tanya Ilham mencoba mengalihkan pembicaraan.
Dia tak ingin Mama terlalu banyak menggali informasi tentang hubungannya dengan Yola mengingat mereka telah sepakat untuk menyembunyikannya sementara waktu.
"Kau usah mengalihkan pembicaraan dengan Mamah. Yola itu wanita. Tak mungkin dia tak sakit hati mendengar kau dan Sonia menghabiskan malam di hotel Royal," kata Mamah.
Ilham tak menampik apa yang dikatakan Mamanya. Tapi dia tak menyesal telah membawa Sonia ke hotel malam itu. Kalau bukan karena hal itu dan berita kemesraannya dengan Sonia tersebar di N-one, tak mungkin Yola akan merasa cemburu dan berakhir di pelukannya seperti hari ini.
"Mamah, sebenarnya Ilham dah lama nak tanyakan satu hal pada Mamah. Kenape Mamah sangat ingin Ilham bersama dengan Yola? Mamah tak bolehkan kita bercerai. Padahal Yola dan Ilham dah pun sama- sama dewasa dan telah bisa memilih jalan hidup sendiri. Kenape Mamah terkesan Ilham harus dengan Yola? Ade yang Mamah sembunyi dari Ilham ke?"
Sedikit tersentak Mamah mendengar pertanyaan yang tidak ia sangka akan keluar dari mulut Ilham.
"Ahh, ape maksud pertanyaan kau tu Ilham? Mamah dah kate Mamah telah suka Yolanda dari sejak baby, kenape kau tak percaye?"
"Bukan tak percaye, tapi Mamah ni kadang- kadang sayangkan Yola melebihi sayang pada Ilham je. Ilham ni kadang mesti macam anak tiri," kata Ilham pura- pura merajuk.
"Memanglah, kau ni anak yang Mamah pungut dari semak- semak. Kasihan Mamah lihat Ilham kedinginan tak berbaju pula dalam kotak kardus, habis tu Mamah pungutlah," kata Mamah Zubaedah serius.
"Hah? Yang betul, Mah?"
Ilham langsung menarik tangan Zubaedah untuk duduk ke sofa.
Zubaedah tertawa kecil melihat keseriusan Ilham akan gurauannya.
"Tak. Mamah hanya bergurau je. Ilham ni anak Mamah yang comel," jawab Zubaedah.
"Ahhh, Mamah ni. Seriuslah, Ma ..." desak Ilham.
Zubaedah mengusap pipi Ilham.
"Serius, Sayang! Ilham anak yang lahir dari rahim Mamah. Macam mana pula Mamah akan berdusta sedang kau dan Mamah mirip sangat?"
Ilham mengangguk lega.
"Kalau macam tu, bolehlah Mamah bagi tahu Ilham, macam mana si gendut Hafiz jadi adik Ilham di masa lampau? Mamah temukan dia dimana? Dan kenape Hafiz diserahkan keluarganya begitu sahaja pade kite, sementara saat Hafiz besar, mereka menerima Hafiz begitu saja, padahal saat Hafiz kecil, mereka tak de pun mengunjungi Hafiz," tanya Ilham.
Mamah terdiam sejenak.
"Mamah?" desak Ilham.
__ADS_1
"Itu akan Mamah ceritakan pada kau di lain waktu, Ilham," kata Mamah terlihat seperti mengelak.
Ilham masih akan mendesak sang Mama andai Ammar tak datang dan merengek padanya untuk dibawa ke apartemen Yola.
"Dad! Jom ke unit Mommy, Ammar rindu sangat dengan Mommy Yola!" rengek Ammar.
"Tak! Kau tak boleh ke sana!" larang Zubaedah.
Zubaedah terlihat masih kesal dengan Yola.
"Why do you angry, Granny? Ammar nak jumpe dengan Mommy. Rindu sangatlah, Grandma ..." rengek Ammar lagi.
Zubaedah tak bisa menjelaskan apa yang menjadi alasan dia marah pada Yola. Dia tak mungkin bercerita pada cucunya itu kalau Yola akan menikah dengan Hafiz yang merupakan paman dari Ammar.
"Daddy akan bawa kau ke unit Mommy. Tunggu sekejap, Daddy pakai baju dahulu," kata Ilham.
Ilham segera masuk ke kamar untuk memakai kaos dan celana pendeknya. Padahal kalau bukan karena kedatangan Mamah dan Ammar, saat ini dia pasti lebih senang tidak memakai apa- apa di dalam kamar Yola.
"Kau tak perlu bawa Ammar pada Yola, biar dia berpisah dengan anaknya dulu dan nanti lama- lama mengurungkan niatnya bersama Hafiz kalau dia dah rindu sangat pada Ammar," kata Zubaedah.
"Tak ape, Mah. Mamah usah berpikir terlalu banyak. Biarkan Ammar berjumpa dengan Mommy-nya. Mamah di sini sahaja dahulu. Nanti kalau mahu balik rumah, sila balik dahulu. Nanti Ilham hantar Ammar ke rumah Atok!" kata Ilham.
"Jom, Boy! Daddy nak hantarkan kau ke tempat Mommy!"
***
Yola baru saja selesai mandi saat Ilham dan Ammar berkunjung ke unitnya. Masih memakai bathrobe dan handuk yang menggulung rambutnya yang basah, Yola pun mempersilahkan keduanya masuk.
"Mom, Ammar rindu sangat dengan Mommy!"
"Mommy juga, Kid, rindu sangat dengan Ammar. Are you hungry, Boy? Mommy ada sereal dan susu coklat," kata Yola menawarkan.
"Mahu, Mom! Ammar mahu sereal chocomilk," kata bocah itu senang.
"Oke. Tunggu sebentar, mama buatkan. Ehm, Daddy Ammar, bisa tolong nyalakan televisi agar Ammar bisa menonton?"
Ilham tersentak dapat panggilan seperti itu dari Yola. "Daddy Ammar", panggilan itu terdengar sangat merdu di telinganya.
"Ehmmm ..." dehemnya. "Ammar, kau nak menonton Omar Hana ke?"
"Tak. Ammar tak nak menonton Omar Hana. Itu tontonan budak perempuan, Dad."
"Kalau macam tu, kau tonton Ejen Ali sahaja," kata Ilham seraya mengeluarkan ponselnya dan membatalkan menyalakan televisi.
Melalui platform pencarian vidio, Ilham pun mencari film kartun untuk puteranya itu.
"Ini. Ejen Ali. Kau tontonlah situ. Daddy tolong Mommy dulu nak bikin sereal," kata Ilham.
Ammar langsung terpaku pada ponsel itu begitu film kartun kesukaannya diputar disitu. Dan Ilham? Tentu saja dia ke dapur bukan untuk membantu Yola membuat sereal, melainkan untuk menuntut Yola, meminta haknya.
Yola yang melihat kedatangan Ilham ke dapur langsung pura- pura menyibukkan diri.
"Jadi, Mommy Ammar nak berbuat curang dengan Daddy Ammar ke?" bisik Ilham di telinga Yola begitu dia berada di samping wanita itu.
"Curang apaan, sih? Abang ni," Yola geleng-geleng kepala.
"Kite bahkan belum mulai, tapi kau dah mandi lebih dahulu, tak tunggu abang pula," kata Ilham merengut.
"Ini kan sudah sore, Abang. Nanti Yola kemalaman mandinya kalau nungguin abang," kata Yola.
"Kau sengaja!" kata Ilham sambil menarik pinggang Yola agar merapat padanya.
"Ya, nggaklah," bantah Yola. "A- abang. Jangan begini. Nanti Ammar lihat, itu .... Serealnya ...."
Yola semakin gelabakan saat tangan Ilham mulai menyusup ke dalam bathrobe yang dipakainya, mengelus- elus perutnya dan saat tali pengikat bathrobe itu sedikit lagi terlepas ....
"Mom? Dad? What are you doing?"
Ammar tiba- tiba saja muncul di pintu ruang makan. Heran melihat Daddy Ilham yang menempel erat pada Mommy Yola. Ini posisi yang tidak dimengerti oleh bocah seusianya.
Yola langsung membalikkan badannya dari Ammar dan buru- buru kembali mengikat tali bathrobenya
"Hai, sayang. Mommy sudah hampir seleaai dengan serealnya," kata Yola buru- buru menyeduhnya dengan air panas lalu segera membawanya dan menarik tangan Ammar ke ruang tengah.
Sementara Ilham hanya bisa menghembuskan napas kesal. Tadi dia berpikir setidaknya dia bisa bercinta dengan Yola meskipun harus ekspress. Huhfttt .... Bocah itu!
Mereka persis keluarga utuh seperti keluarga orang lain sekarang. Tawa ketiganya saat menonton film bersama benar- benar tak seperti keluarga yang pernah tercerai berai.
__ADS_1
"Mom, Ammar mahu tidur dengan Mommy malam ini," pinta bocah itu.
Yola melirik Ilham melihat reaksi laki- laki itu. Dia bukannya tak mau tidur dengan putranya malam ini tapi dia juga punya janji dengan Ilham akan menginap di green house malam ini.
"Tak! Ammar nanti Daddy hantarkan ke rumah Atok. Ammar tak boleh tidur kat sini. Daddy dan Mommy ade urusan job yang mesti dikerjakan malam ni," kata Ilham tegas
Dia tak terima jadwalnya memadu kasih dengan Yola gagal lagi malam ini hanya karena rengekan Ammar.
"Dad!" protes Ammar. "Ammar nak tidur dengan Mommy. Mom .... Macam mana ni? Daddy tak bolehkan Ammar bermalam kat sini," rengek Ammar manja.
"Abang ...."
"Yola," sela Ilham cepat. "Yola ade janji dengan abang!" katanya mengingatkan.
"Iya, aku tau, tapi itu kan bisa besok- besok atau nanti kalau Ammar ...." Yola canggung mengatakan kalau mereka bisa saja melakukannya di kamar lain setelah Ammar tidur.
"Ammar tak akan ganggu Daddy dan Mommy bekerja. Atau kalau tak ...."
Ammar mengatakannya dengan nada ancaman.
"Kalau tak ape?" tanya Ilham.
"Kalau tak Ammar akan cerita dengan Grandma, kalau tadi Daddy lama sangat buka pintu kerana Daddy ada di apartemen Mommy," ancam bocah itu.
Ahhhh, bagaimana Ammar bisa tau hal itu? Ilham jadi gemas melihat kecerdasan putranya itu.
"Darimana kau tahu Daddy ade di sini? Tak ade bukti namanya fitnah ya..."
"Ammar ada bukti. Tuh! Kasut Daddy ada di rak dekat pintu. Dan baju kerja Daddy ade pula di kamar Mommy," kata bocah itu dengan intonasi penuh kemenangan.
Akhhhp .... Yola membekap mulutnya sendiri.
"Ammar tak sengaja pun masuk kamar Mommy tadi ketika nak cari Daddy, ternyata Ammar berjumpe barang bukti kalau Daddy tadi ada kat sini. Hehehe ..." kata Ammar dengan senyum usil.
Entah bakat dari mana kejahilan itu? Apa itu menurun dari Yola? Mata Ilham mulai memicing pada istrinya itu.
"Kenapa Abang lihat Yola seperti itu?" protes Yola.
"Baiklah kalau macam tu, kau takkan punya Lil brother, Daddy hanya akan kasih kau little sitter sahaja, bolehlah kau bermain masak- masakan dengan adik kau nanti," balas Ilham dengan nada mengolok dan mengancam.
"Dad!!!" jerit Ammar tak terima. "Adik AmmarLil bro! Ammar tak nak lil sister!"
"Kalau kau tak nak balik rumah Atok, lil sister sahaja!!" Ilham masih tak mau mengalah pada Ammar.
Ya Tuhan! Sebenarnya pembahasan apa yang dilakukan oleh dua orang ini, batin Yola.
"Tak! Ammar mahu tidur dengan Mommy malam ni. Lagi pula, Daddy kate, Ammar minta lil bro hanya pade Mommy, bukan pade Daddy! Daddy hanya boleh beri lil sister, kalau nak lil bro, Mommy yang boleh berikan. Mom, Ammar nak little brother! Ammar tak nak little sister!" pinta Ammar pada Yola.
Haaa??? Yola mendelik meminta penjelasab pada Ilham sekarang. Sebenarnya apa yang telah dibicarakan anak semata wayangnya ini dengan Daddy-nya. Little bro? Little Sister? Adik? Yola saja baru rujuk siang tadi dengan Ilham dan bocah ini dan Daddy-nya telaah punya rencana untuk menuntut adiknya Ammar pada dirinya?
"Moooomm! Ammar mahu adik sekarang! Ammar mahu lil bro, Mom!" rengek anak itu.
Glekk! Yola menelan salivanya. Dia menatap Ilham yang sepertinya sedang senyum- senyum sekarang.
"Baiklah, ta- tapi nggak sekarang sayang, itu butuh proses, you know?"
Yola bingung bagaimana cara menjelaskannya. Dia menatap Ilham memohon bantuan agar bisa menjelaskannya padanya.
"Baiklah, Ammar boleh sahaja tidur di sini.Tetapi Ammar mesti lekas tidur nanti malam. Ammar dengar Daddy tak? Tak boleh main game, tak boleh nonton yo*tube. Dan tak boleh cerite ape- ape pade Grandma, Ammar janji?"
"Hu uh," Ammar mengangguk menyanggupi syarat dari Ilham.
Ilham pikir- pikir biarlah Ammar tidur di sini, toh setelah Ammar tidur dia dan Yola bisa pindah dan melanjutkan schedule cinta mereka di kamar yang satunya.
"Persiapkan dirimu, sayang," bisik Ilham pada Yola membuat wanita itu kembali merona.
Di saat Yola sedang menikmati masa- masa kebersamaannya dengan anak dan suaminya itu, dering ponselnya pun berbunyi.
Telepon dari Papa. Membuat Yola rasanya sesak bernapas.
"Hallo, Pa?"
***
Hallo reader, aku ingatin jangan lupa like koment, dan votenya ya...
Btw, kalau author up tiap hari tapi hanya sekitar separuh dari yang biasa author update tiap hari, bagaimana pendapat kalian. Biasa author update 2000-2700 kata tiap dua hari. Kalau up cuma 1000 kata lebih tiap hari, bagaimana menurut kalian? Jawab ya....
__ADS_1