Jodoh Dari Malaysia

Jodoh Dari Malaysia
Rubik


__ADS_3

"Kalau dia ibu terbaik, dia akan menjagaku. Tidak mungkin lengah sedetik pun hingga memungkinkan bagi orang lain untuk menculikku. Dan setelah hilang dia menggantiku dengan anak lain yang memanggilnya dengan panggilan Mama juga. Dia harusnya mencariku, kan?" ketus Andini.


Apa pun alasannya, tidak semudah itu baginya untuk memaafkan dan menerima keluarga kandungnya. Jadi penjelasan seperti apa pun yang diberikan untuknya tetap sulit baginya untuk menerimanya. Jadi reaksinya akan penjelasan Yola adalah balas mencari-cari kesalahan sang ibu. Ibu yang selama beberapa tahun ini hanya bisa dia lihat dari kejauhan, atau diam-diam dia dengarkan suaranya lewat telepon iseng.


Yola menghela napas.


"Tidak, Andini. Mamah tidak pernah berhenti berjuang untuk menemukanmu. Kamu tidak tahu kan kalau aku dan abang menikah karenamu?"


"Udah tau," jawabnya jutek. "Tapi tetap nggak masuk akal. Apa hubungannya hilangnya aku dengan menikahkan anaknya denganmu? Bilang aja dia ingin mengganti keberadaan anaknya yang hilang itu dengan anak yang lain tanpa peduli pada kelanjutan nasib anak kandung sendiri di luar sana."


Terlihat sendu di wajah Andini.


"Dini, itu tidak benar. Memang betul Mama mengadopsi Hafiz untuk dijadikannya anak. Mama juga yang memaksa agar aku dinikahkan dengan abang untuk menggantikan kamu yang hilang. Semua itu beliau lakukan untuk tetap menjaga kewarasannya. Kehilangan seorang anak itu nggak gampang. Apa salahnya jika dia ingin tetap menyalurkan naluri keibuannya?Apa kau akan lebih senang jika dia murung dan bersedih hati hingga puluhan tahun lamanya?Apa mungkin jika itu yang sesungguhnya terjadi hatimu akan bahagia? Seandainya saat ini setelah puluhan tahun berlalu kamu baru mengetahui ini dan kondisi mamah tak sehat seperti ini, mungkin kamu mendapat kabar dia telah meninggal dunia karena terlalu tertekan batin oleh hilangnya kamu, atau mungkin dia sampai gila, apa mungkin kabar seperti itu yang membuatmu bahagia? Andin ..."


"Cukup!" sela Andini tak senang.


Tetapi itu malah membuat Yola menjadi tersenyum. Pertanyaan yang dilontarkannya pada Andini tentu dia bisa menjawabnya sendiri. Andai itu terjadi tak mungkin Andini akan bahagia. Mungkin jika itu terjadi dia akan menyesali banyak hal.


"Sekali pun di depan orang lain, mama terlihat bahagia dengan hidupnya yang sekarang dengan keluarga kecilnya tetapi yang sesungguhnya kamu tetap nggak akan bisa terganti di hati mama, Din! Tolong, ikutlah bersamaku pulang. Kami tidak akan menuntutmu untuk meninggalkan keluargamu yang sekarang. Hanya menambah satu keluarga lagi, itu nggak akan sulit, kan?" bujuk Yola pantang menyerah.


"Sudahlah, cukup! Berhenti menggangguku mulai dari sekarang. Sampai kapan pun aku tidak akan pernah mengakui keluarga Nirwan sebagai keluargaku! Never!" tegasnya.


Yola menghela napas. Baiklah, mungkin akan butuh waktu sedikit lebih lama lagi untuk membujuk Andini. Yola mungkin harus lebih banyak bersabar lagi.


"Baiklah, aku tidak akan memaksamu sekarang. Tetapi cobalah membuka hati Andini. Aku tahu kau hanya kecewa atas apa yang terjadi di masa lalu. Tetapi kadang hidup memang seperti itu. Kamu lihat dan tahu sendiri apa yang terjadi padaku. Aku menikah dengan abang karenamu tanpa aku tahu sebenarnya apa salahku? Lalu saat aku bisa menerima pernikahan itu dan mulai mencintai abang, karenamu juga aku harus berpisah dengan dia. Kamu mungkin belum tahu hal itu," kata Yola.


"Aku tahu, papaku sudah menceritakan itu padaku. Dan jangan berniat memanfaatkan cerita itu untuk membuatku merasa bersalah dan mau menuruti maumu ya?" katanya seolah tahu apa yang dipikirkan oleh Yola. "Kau sendiri akhirnya bahagia dengannya sekarang, kan?"


Yola mengangguk.


"Itu benar. Aku bahagia saat ini setelah banyak melewati masa-masa sulit itu. Karena kesalahpahaman waktu itu, aku mengira abang menikah lagi dengan Sonia karena mengkhianatiku, tetapi itu karena dia ingin menemukan adiknya sehingga dia harus mengorbankan hubungan dan perasaan kami. Aku tidak ingin mengungkit itu dan memanfaatkan alasan itu agar kau kembali pada kami. Tapi tak bisakah kamu berikan kami kesempatan untuk membuktikan kalau kita bisa hidup bahagia juga sebagaimana harusnya? Dini, kita bisa bahagia satu sama lain tanpa harus ada yang tersakiti jika kamu kembali. Tak ada yang berubah. Mereka orang yang telah kau anggap mama dan papa, mereka tetap orang tuamu. Tetapi jangan hukum mama seperti ini, tolong ...."


Ammar yang sedari tadi mendengarkan percakapan orang dewasa itu, nampaknya bisa memahami kesulitan sang mommy dalam hal membujuk aunty yang baru di kenalnya itu.


"Aunty!" panggilnya menyela percakapan Yola dan Andini.

__ADS_1


"Hmm?"


Andini mengalihkan perhatiannya dari Yola ke Ammar.


"Aunty suke permainan ape?" tanya Ammar.


Andini bingung dengan pertanyaan Ammar itu.


"Kenapa memangnya?"


"Aunty dan Ammar bermain satu permainan ape pun. kalau Aunty yang menang. Ammar dan Mommy akan turutkan ape pun yang aunty mahu. Tetapi kalau Ammar yang menang, Aunty mesti turutkan ape mahu Ammar. Macam mana?" tantang Ammar.


Andini mengernyitkan keningnya.


"Taruhan?"


"Hmm, that's right, Aunty. Bertaruh!"


Andini berpikir-pikir lagi.


Ammar manggut-manggut paham.


"Aunty nak ape?"


"Kalau aku menang, bilang ke mommy kamu, berhenti datang kesini," kata Andini dengan nada jutek sambil melirik Yola.


Ammar membuang napas. Dia tahu dari percakapan Yola dan Andini, Aunty-nya yang satu ini adalah aunty keras kepala.


"It's okay. No problem. But if I win?" tanyanya.


Andini mengangkat bahunya.


"Up to you. Kamu mau mau apa?" tanya Andini pada bocah itu. Sebenarnya dia menyukai bocah ini, namun karena ada Yola di situ, dia terpaksa harus jual mahal sedikit. Dia harus membuktikan kalau rencana Yola untuk memanfaatkan Ammar tak berpengaruh sama sekali untuknya.


"Emmm ...tak banyak Aunty, kalau Ammar menang, Aunty datanglah ke rumah berjumpa dengan grandma, macam mana?" tantang Ammar.

__ADS_1


Hmmm licik sekali, berarti dari awal Yola memang sengaja membawa putranya ke sini dan mencoba membujukku melalui taruhan kekanakan seperti ini, baiklah akan kuladeni! Memangnya bocah sebesar ini bisa memenangkan permainan seperti apa sih? Hehehe, batin Andini dalam hatinya.


"Aunty, macam mana?" tanya Ammar lagi.


"Okay, siapa takut! Memang permainan apa sih yang mau kita mainkan?Tapi pegang janjimu ya, kalau kamu kalah bilang sama mommy-mu, jangan datang-datang lagi kesini!" kata Andini galak sambil matanya memicing judes pada Yola.


"Kalau Ammar macam mana? Ammar tak boleh datang juge ke?" tanya bocah itu.


"Hmmm ..." Andini berpikir sejenak. "Boleh deh, tapi lain kali mommy-mu nggak boleh ikut. Ngantarin boleh, tapi nggak boleh masuk ke sini lagi," katanya memberi syarat sambil matanya melirik Yola yang sedang memandangnya dengan pandangan malas sambil geleng-geleng kepala.


"Kenape macam tu?" tanya Ammar keberatan.


"Karena dia nyebelin. Udah deh emang mau main apa?" tanya Andini.


Ammar melepaskan tas ranselnya yang masih melekat di punggungnya. Dari dalam tas itu dia mengeluarkan beberapa jenis rubik dengan aneka pola dan warna warni.


"Eeh, apaan tu?" Andini bengong melihat mainan yang dikeluarkan Ammar.


"Rubik's Cube, Aunty. Kalau Aunty dapat susun rubik ni ke pola semula dalam waktu 15 minit, Aunty menang. Kalau tak, Aunty kehilangan poin. Macam mana?" tanyanya.


Busyeet, mati aku!


***


Buat yang nggak tahu apa itu rubik. Ini ya guys. Author ingin menjelaskan tapi masih kurang fit ngetik panjang lebar. Pokoknya ini seperti permainan mengasah otak. Jenis dan tingkat kesulitannya berbeda. Kira-kira mampu nggak Andini mengalahkan Ammar ya?



Yang kayak gini othor pernah coba, sumpah sulit banget dah



Dan kayaknya masih banyak yang lebih sulit lagi. Semangat Onty Andini...


__ADS_1


Jangan lupa like dan komentarnya yak ....


__ADS_2