
"Yuri, aku tidak menyangka kau seperti ini!!" tuding Yola.
Antara marah, kecewa, dan sedih terasa meluap-luap dalam hatinya, tak menyangka kalau sahabat masa kecilnya ini akan berubah menjadi duri dalam daging seperti ini.
Yuri merasa sesak dalam hatinya mendengar tudingan Yola.
"Kenapa kau lakukan ini?" tanya Yola lirih.
"Ehmmm!!!" dehem Lucas. "Rapat ini sudah usai. Yuri, mari kita pergi!! Tapi ingat! Saya tetap pemilik saham 42% di sini. Jadi saya masih akan kembali dan ada sangkut paut dengan N-one ini."
Mengatakan itu Lucas segera bangkit dari duduknya dan bergegas meninggalkan ruang rapat.
Yuri pun ikut bangkit dan mencoba mengikuti Lucas, namun Yola menahannya. Dia sigap menangkap pergelangan tangan Yuri.
"Lepasin aku!" kata Yuri.
"Nggak bisa! Kamu jelasin dulu padaku apa yang sebenarnya terjadi! Yuri! Sebenarnya apa maksudmu? Kenapa kamu merampok apartemenku dengan abang? Aku benar-benar tak habis pikir denganmu! Kenapa kamu lakukan ini?!" kata Yola gemas.
"Lepas!!!" Yuri menghentakkan tangannya mencoba melepaskan diri dari cekalan Yola.
Yuri berhasil melepaskan diri dari cekalan Yola dan buru-buru keluar ruang rapat. Tetapi Yola mengejarnya kembali dan berhasil menangkap tangan Yuri di luar meeting room.
"Nggak! Aku nggak akan lepasin kamu sebelum kamu bilang apa tujuan kamu ngelakuin ini. Ya Tuhan, Yuri!!! Aku benar-benar nggak kenal dengan kamu yang sekarang. Demi apa kamu berbuat seperti ini? Ada hubungan apa kamu dengan Tuan Lucas? Kenapa kamu bisa terlibat dengan dia? Dia itu sebenarnya siapa? Kenapa dia sangat ambisius ingin menguasai N-one? Sebenarnya apa yang terjadi Yuri???!!" tanya Yola histeris.
Yola hampir tak menghiraukan lagi peserta rapat lain yang sedang berada di dalam ruangan . Semua yang ada di dalam sana bisa mendengar dengan jelas pertengkaran dua teman yang berada di luar meeting room itu.
"Lepasin aku, aku bilang! Kamu benar! Kamu memang tidak mengenalku sejak awal, Yola! Anak yang terakhir dengan sendok emas di mulutnya sepertimu mana mungkin mengerti dengan anak yang terlahir dengan sendok yang hanya terbuat dari tempurung kelapa!Kamu tidak akan mengerti kehidupan orang sepertiku!! Hidupmu selalu beruntung tetapi tidak sepertiku!!!" teriak Yuri dengan marah.
Yola terdiam. Dia memang telah lama tidak akrab dengan Yuri. Mereka hanya bersahabat saat SD, dan juga tidak lupa bertiga dengan Friska. Hubungan persahabatan ketiganya mulai merenggang saat mereka sudah mulai masuk Sekolah Menengah Pertama. Meski Yuri satu sekolah dengannya, namun mereka tidak lagi satu kelas, karena peraturan sekolah yang menerapkan sistim kelas unggulan waktu itu. Yola dan Hafiz masuk kelas unggulan tapi tidak dengan Yuri. Perbedaan kelas lagi-lagi membuat Yola dan Yuri semakin menjauh. Tetapi yang tidak dimengerti Yola saat ini adalah apa maksud dari kata-kata Yuri bahwa Yola berbeda dengannya? Bahwa Yola yang terlahir beruntung sementara dirinya tidak? Setahu Yola, Yuri sahabatnya sewaktu Sekolah Dasar pun berasal dari keluarga yang cukup mampu. Lalu apa maksud kata-kata Yuri saat ini? Ketidakberuntungan yang bagaimana yang dimaksud oleh Yuri?
"Apa maksudmu Yuri?" tanya Yola. "Jelaskan padaku agar aku mengerti! Selama ini aku selalu mencoba memahamimu. Bahkan membantumu agar Hafiz mau bertanggung jawab dengan kehamilanmu. Tetapi .... "
Yola menghentikan kata-katanya sejenak dan menatap Yuri dengan pandangan curiga.
"Jangan bilang bahwa kehamilanmu itu juga bohong?" tebak Yola tak percaya.
__ADS_1
Yuri tak menjawab. Sekarang dia melepaskan tangan Yola yang mencekal lengannya. Sikapnya yang demikian sudah menjawab pertanyaan Yola. Bahwasanya kehamilannya akibat Hafiz hanya kebohongan semata.
"Kau berbohong?" tanya Yola masih tak percaya.
"Yuri!! Ayo cepat pergi!!!" perintah Lucas yang ternyata masih menunggu di ujung koridor.
Yuri memilih untuk tidak menjawab. Percuma, Yola tidak akan mengerti apa-apa dan mungkin akan memilih untuk tidak mengerti meski Yuri menjelaskannya. Perlahan dia meninggalkan Yola dengan sejuta pertanyaan yang tidak ia ingin jawab.
"Yuri!!!" panggil Yola frustasi.
Yuri tetap tidak menghiraukan Yola. Kini gadis itu melangkah pergi mendatangi Lucas. Nasibnya sedari dahulu memang tergantung pria itu.
****
Flashback Yuri
PLUKK!!!
Gadis kecil itu mendongak melihat pada orang yang melempar kepalanya dengan sesuatu itu. Kemudian dia berpaling lagi pada barang yang kini tergelatak begitu saja di kasur lusuh tempat ia sedang berbaring.
Saat itu Yuri masih berusia 10 tahun.
"Kamu besok pindah sekolah ke SD Akasia," kata wanita yang dipanggil Yuri ibu itu.
"Pindah? Tapi kenapa?" tanya Yuri bingung.
"Udah nggak usah banyak nanya deh! Kamu nggak pengen apa sekolah di sekolah bagus dan elit kayak begitu?" tanya Ibu itu lagi.
Yuri tertegun sesaat. Mereka sangat miskin saat ini. Dan ibunya hanya seorang pembantu rumah tangga di rumah Tuan Besar Roberto. Untuk apa ibunya memindahkannya di sekolah mahal nan elit itu? Apa itu tidak akan buang-buang duit? Dari pada memindahkannya ke sekolah mahal yang butuh banyak uang, bukankah akan lebih baik jika dia tetap berada di sekolah lama yang lebih murah tetapi diijinkan ke sekolah rutin setiap hari sama dengan anak-anak yang lain?
Selama ini Yuri jarang pergi ke sekolah. Entah kenapa ibunya selalu benci setiap kali dia ingin berangkat ke sekolah. Gadis kecil itu bahkan kerap dipukuli hanya karena dia sering tertangkap basah sang ibu sedang mengintip anak-anak yang yang sedang belajar di madrasah kecil tak jauh dari rumah.
Yuri akhirnya mengangguk. Percuma membantah sang ibu yang maha benar melebihi ucapan presiden yang tidak boleh dibantah sama sekali.
"Kalau kamu sekolah di tempat yang ibu maksud, kamu bisa sekolah tiap hari. Kamu bisa pakai baju bagus, tinggal di rumah gedong. Jajan banyak tiap hari. Mau nggak?" kata sang ibu mengiming-imingi Yuri.
__ADS_1
Semakin Yuri kecil tak mengerti jalan pikiran sang Ibu. Ibu yang selama ini kejam padanya apa tidak salah ingin memindahkannya ke sekolah bagus? Memberi banyak jajan dan tinggal di rumah gedung. Apa maksudnya? Apakah ibunya mendapat lotere dalam jumlah besar?
"Tapi, Bu. Kita dapat uang darimana? Bukannya Ibu yang bilang kalau kita nggak punya uang? Ibu dapat lotere, ya?" tanya Yuri polos.
Sang Ibu tersenyum.
"Ya, saatnya kita ambil lotere itu. Besok kamu pakai baju sekolah yang ibu beri itu! Dan satu lagi, kamu punya tugas di sekolah baru itu!" kata sang Ibu.
Yuri lagi-lagi merasa kebingungan.
"Kan belum masuk sekolah di situ, Bu? Kok udah ada aja tugasnya?" tanya Yuri lugu dan polos.
"Tunggu sebentar!" Sang Ibu kemudian meninggalkan kamar Yuri yang kumuh itu.
Tak lama kemudian dia pun kembali dan membawa selembar foto. Lalu si Ibu pun menyerahkan foto itu pada Yuri.
"Kau perhatikan baik-baik wajahnya!" perintah sang ibu denga tegas.
Yuri mengamati foto itu dengan seksama. Itu adalah seorang anak perempuan yang kira-kira usianya berkisar sama dengannya.
"Siapa ini, Bu?" tanya Yuri. Lagi-lagi bertanya bingung.
"Namanya Yolanda Gunawan. Dia sekolah International Akasia. Bagaimana pun caranya dekati dia. Berusahalah agar kamu bisa menjadi temannya.Apa pun caranya lakukan saja. Dia akan menjadi kartu lotere kita. Keberhasilan kita mendapat uang banyak tergantung dari pekerjaanmu. Mengerti?" kata sang Ibu.
Yuri menggeleng. Dia tidak mengerti pembahasan ibunya ini. Penjelasannya sama sekali tidak bisa dicerna oleh otak Yuri kecil.
"Astaga!! Begok banget nih anak!" caci wanita itu. Pokoknya apa pun yang terjadi, jadikan dia temanmu! Ibu nggak mau tau. Dan apa pun yang kau tahu tentang dia ceritakan saja semuanya! Dengar?" bentak ibu itu dengan rasa tak sabar.
Yuri terdiam. Dan menatap lagi foto anak perempuan imut dan terlihat terawat itu, beda sekali dengan dirinya.
"Ingat!! Cari cara agar dia mau berteman denganmu. Dan tentu saja jangan bilang kalau ibu yang menyuruhmu. Dengar?" kata ibu itu memperingatkan Yuri.
***
Hai reader jangan lupa like dan koment ya...
__ADS_1