Jodoh Dari Malaysia

Jodoh Dari Malaysia
Menjalankan Misi


__ADS_3

Malam berinai curi. Hari ini Yola terlihat cantik sekali. Entah mitos atau sugesti yang tertanam di pikiran oleh orang-orang, nampaknya keberadaan mak andam di rumah keluarga Nirwan, sepertinya memang mampu mengeluarkan aura dan seri di diri pengantin yang telah menjadi ibu itu.


Mak andam mulai menempelkan daun inai yang telah ditumbuk halus di kuku Yola. Sebenarnya di jaman sekarang ini telah tersedia berbagai merek jenis inai instan langsung pakai yang bisa dibeli di pasaran, tetapi Saripah sebagai mak andam yang telah turun temurun mewarisi ilmu 'mengasuh' dan merias pengantin lebih percaya bahwa untuk meracik semua bahan-bahan yang diperlukan untuk pengantin secara alami dan tradisional.


Di malam berinai ini, ada banyak orang juga yang datang. Tetangga kompleks perumahan Atok Yahya, para kerabat dan bahkan Nadira datang bersama putrinya Lily.


"Amboi, amboi ... Lama tak muncul kat N-one rupanya Puan Pengarah Pemasaran N-one ni ade kat sini jadi bakal pengantin," kata Nadira menggoda Yola.


Yola tertawa sambil masih pasrah tangannya dilukis henna oleh mak andam Saripah.


"Kamu datang, Nadira? Ayo duduk! Di sini!"katanya sambil menepuk lantai yang dilapisi ambal itu dengan tangannya yang belum dilukis dengan henna itu.


"Mestilah aku datang. Kite dah pun berkawan, kan?Dan lagi kalau aku tak datang kat sini, macam mana kalau King Devil marah dan turunkan jawatanku kat N-one? Itu tak kan lucu, kan?" kata Nadira.


Yola terkekeh. Masih dengan posisinya dengan tangan satu terletak di meja, perhatian Yola kini tertuju padaseorang anak perempuan cantik yang sedang mengintip dari balik tubuh Nadira.


"Hai, kamu Lily, ya?" sapa Yola berbasa-basi.


Bocah mungil perempuan itu dengan malu-malu mengangguk mengiyakan. Dia tetap bersembunyi di belakang sang Mama.


"Ya Tuhan, calon menantuku cantik sekali," celutuk Yola antara memuji dan bergurau. "Kalau begini mah, Ammar harus hati-hati agar Lily tak diambil orang nanti!"


Nadira sang Ibu tertawa.


"Ammar mana? Lily carilah Ammar dahulu. Lily main dahulu dengan Ammar, ya?" bujuk Nadira pada buah hatinya itu.


"Oh, mmmm ...." sela Yola. "Ammar nggak ada disini. Dia masih di Jakarta. Mungkin besok Ammar baru datang kesini bersama Mama Papaku," jawab Yola.


"Oh, macam tu ... " Nadira kini manggut-manggut. "Macam mana ni, Lily? Ammar tak de kat sini. Kamu bermain bersama yang lain sahaja dahulu, oke?"


Yola mengangguk setuju.


"Hmmm betul, disini banyak juga anak-anak. Sebentar ya Lily makcik panggilkan," kata Yola.

__ADS_1


Dengan menyuruh salah satu asisten rumah tangga, Yola meminta mereka untuk membawa Lily bergabung bersama anak-anak dari kerabat Atok Yahya untuk bermain di sekitar rumah.


"Hmmm, Leon mana?" tanya Yola sambil celingak-celinguk.


Mendengar pertanyaan Yola itu, Nadira menjadi merengut mendengarnya.


"Tak payah bertanya tentang dia," kata Badira kesal.


"Kenapa?" tanya Yola.


Nadira menggeleng.


"Wanita cilake tu masih ade kat sini ke?" tanya Nadira.


"Siapa?" tanya Yola pura-pura tidak tahu.


Dia merasa tidak enak membahas tentang Sonia di sini, sementara ada banyak orang lain yang mungkin bisa mendengarkan percakapan mereka di ruang tamu Atok Yahya yang besar ini.


"Siape lagi. Wanita cilake yang suke sangat merebut lelakinya orang tu, hhh!" kata Nadira kesal.


"Dia ada di dalam," jawab Yola seadanya.


"Kenape tak kau usir sahaja die dari sini Yola? Wanita tu sungguh sangat licik.Tak akan lucu kalau dia buat kekacauan di majlis perkahwinan kau nanti," kata Nadira.


Yola mengedipkan matanya sambil mencubit kecil tangan Nadira untuk memberi kode agar tak melanjutkan pembahasan soal Sonia di situ. Tapi kelihatannya Yola bisa menduga kalau Sonia pasti ada sangkut pautnya dengan kemarahan Nadira kali ini. Mungkinkah ini berkaitan dengan Leon? Astaga ....


"Nggak usah kita bahas itu, ya! Sekarang kamu mau pakai inai juga nggak?" tanya Yola sekaligus menawarkan pada Nadira.


"Sikit sahaja. Aku pun tak kan dapat pakai berlama-lama. Siape yang akan bawa kereta nanti?" jawab Nadira.


Yola paham dan segera meminta anak buah Saripah untuk memakaikan sedikit inai pada Yola.


Di dalam kamar Melisa terlihat gelisah menyusun rencananya. Rumah keluarga Nirwan ini adalah rumah besar berlantai satu. Ruang kerja Atok Yahya berada berhadapan dengan ruang tamu. Sementara kamar Atok Yahya pula berada bersebelahan dengan ruang kerja itu. Oleh karena itu tak akan memungkinkan bagi Melisa untuk bisa masuk ke dalam kamar itu tanpa sepengetahuan orang-orang yang sedang ramai di depan sana untuk berinai. Jalan satu-satunya dia harus mencoba masuk lewat bagian samping rumah walaupun dia harus mencongkel jendela kamar pemilik N-one Grocery itu.

__ADS_1


"Ayo, ikut aku!" kata Melisa pada Sonia yang terbaring di atas tempat tidur itu.


Dengan paksaan Melisa pun membantu Sonia untuk pindah duduk di kursi roda. Dalam hati Sonia dia bertanya-tanya akan kemana gadis ini membawanya malam-malam. Tetapi lagi-lagi Sonia tak bisa berbuat apa-apa. Tubuhnya kehilangan daya.


"Melisa, kau nak bawa dia kemana?" tanya salah seorang asisten rumah tangga yang kebetulan melihat mereka lewat dari pintu belakang.


"Saye nak bawa Puan Sonia berjalan-jalan kat luar sini sahaja, Makcik," jawab Melisa ngeles. "Nampak dia gerah sangat kat dalam bilik, kasihan dia, Makcik!"


"Helleh, tak payahlah kau terlalu pikirkan wanita ni. Dia pun dah bercerai pula dengan Ilham. Baru pun merasa panas dalam bilik dah pun macam tu, apa lagi panas dalam neraka," kata Makcik tu lagi.


"Tak bolehlah macam tu, Makcik. Saye pun ade kat sini dibayar untuk uruskan dia sampai sihat. Macam mana saya boleh biarkan dia tak diurus macam ni? Lama kelamaan saye pula yang akan masuk neraka kalau macam tu," jawab Melisa ramah.


"Iyalah, iyalah!Terserah kau sahaja. Tapi jangan berlama-lama pula kat luar situ. Nanti dia kedinginan, tambah sakit, tambah pusing Ilham pula."


"Iyalah, Makcik" jawab Melisa lagi.


Setelah asisten rumah tangga itu kembali ke depan untuk bergabung dengan yang lain, Melisa pun kembali dengan niatnya ingin menyelinap ke kamar Atok Yahya. Sengaja Melisa membawa Sonia ke samping rumah sebagai tameng andai ada yang memergoki dia berada di samping kamar Atok Yahya, dia bisa beralasan sedang membawa Sonia berjalan-jalan.


Dari pintu belakang rumah, Melisa mendorong kursi roda Sonia menuju ke samping rumah hingga akhirnya mereka tiba di samping jendela kaca kamar Atok Yahya.


Masih terdengar suara sholawatan dari rumah bagian depan pertanda kalau acara malam berinai itu masih berlangsung.


Melisa pun berkeliling sebentar untuk mengamati situasi. Dan saat dia memastikan memang tak ada orang lain di sana, Melisa mulai mencongkel jendela kamar Atok Yahya itu dengan menggunakan pisau kecil yang selalu dia bawa kemana-mana untuk berjaga-jaga.


Klekkk!!!


Terdengah bunyi ceklekan pertanda kunci jendela bagian dalam kamar itu telah berhasil dia rusak.


"Kau tunggu si sini!" katanya pada Sonia.


Melisa tanpa berpikir panjang segera masuk ke dalam dan menutup kembali pintu itu.


***

__ADS_1


Melisa... melisa... kau lagi!


Apa yang akan terjadi setelah ini beibs... Jangan lupa like dan komentarnya dulu ya...


__ADS_2