
"Kau ni cakap ape, Yuri?"
Hafiz tersentak akan kata-kata Yuri baru saja. Dari mana Yuri tahu kalau Atok Yahya mengatakan padanya kalau Montha Somnang ada di kapal Yolanda? Saat itu hanya ada Hafiz dan Atok di dalam kamar itu. Hafiz yakin sekali. Bahkan Ilham, Yola dan yang lainnya tidak akan tahu masalah Montha Somnang ada di kapal Yolanda jika bukan karena dirinya yang menceritakan semuanya. Tapi kini ... Yuri tahu? Sungguh? Hafiz menjadi masygul melihat wanita itu. Ada yang tidak beres, dia tahu itu.
"Ah, oh ..." Yuri menjadi tergagap saat sadar dengan kesalahan besar yang telah dia perbuat. Jangan sampai Hafiz tahu kalau dia yang menghabisi nyawa orang tua itu.
"Yuri?" Hafiz masih tetap mencoba mengontrol dirinya.
"Hmm, ah iya. aku memang pernah mendengar itu dari Lucas. Patung emas Montha Somnang itu adalah patung emas hasih jarahannya di kapal pesiar Yolanda puluhan tahun silam. Dan ... dan Tengku Yahya Nirwan dan kakeknya Yola yang waktu itu bekerja sebagai ABK pekerja kasar di kapal pasiar itu, membawa lari patung Montha Somnang dan membuang tubuh Lucas yang terluka ke laut," papar Yuri.
Satu informasi yang berharga telah Hafiz dapatkan sekaligus mengejutkan pastinya. Oh, jadi itu yang seseungguhnya terjadi? batinnya.
"Jadi Montha Somnang itu ... patung emas?" gumamnya setengah tak percaya.
Yuri mengangguk.
"Setahuku begitu. Kalau tidak salah beratnya lebih dari 1 kwintal," lanjutnya.
Yuri tak punya pilihan lain selain membeberkan seluruh fakta yang dia tahu tentang Lucas. Setidaknya dia harus mengalihkan perhatian Hafiz dari kata-kata yang tidak sengaja dia lontarkan tadi. Sekaligus tindakan bunuh diri karena jika Hafiz sampai curiga kenapa dia bisa tahu tentang percakapannya denga Yahya Nirwan waktu itu, bisa dipastikan rahasia Yuri sebagai pembunuh Tengku Yahya Nirwan pasti akan ketahuan. Jangan sampai itu terjadi!
Sementara Hafiz sendiri semakin menganga mendengarnya. Namun dia semakin bergairah untuk bertanya lebih lanjut. Dia tidak menyangka ternyata akan semudah ini mencari tahu tentang apa sebenarnya Montha Somnang itu.
"Teruskan!" pintanya sambil tangannya masih mengelus-elus pipi wanita itu, seolah-olah Hafiz sayang padanya.
Diperlakukan seperti itu, membuat Yuri semakin tak dapat mengontrol lidahnya. Lidah memang tak bertulang. Siapa yang mengira jika hanya karena seorang Hafiz dia akhirnya bisa membongkar rahasia Lucas dengan mudahnya? Kalau Lucas tahu, pria tua itu pasti akan membunuhnya tanpa ampun.
Seperti orang bodoh Yuri menuruti begitu saja permintaan Hafiz, menceritakan apa yang dia tahu.
"Monta Somnang itu sepertinya adalah nama seorang anak pengusaha kaya. Lucas tidak pernah bercerita padaku soal asal muasal patung itu, tetapi aku sempat mencari tahu sendiri," katanya.
Oh, jadi dia mencari tahu tanpa sepengetahuan Lucas? Baiklah, sepertinya dari awal Yuri memang sudah ada niat berkhianat pada Lucas.
"Jadi macam mana kau boleh tahu wasiat terakhir atok padaku waktu itu? Tentang Montha Somnang masih ade kat kapal? Seingatku tak ade siapa pun yang mendengar hal tu, bahkan abang dengan Mamah, Papah pun tak ade?" selidik Hafiz.
__ADS_1
Dia tahu Yuri pasti akan mencoba berdusta sebisanya tetapi Hafiz hanya ingin mengulur waktu, setidaknya sampai semua jelas.
"Oh ... itu," Yuri mencoba mencari alasan semasuk akal mungkin. "Lucas mengirim orang untuk mencari tahu tentang Montha Somnang hari itu saat rumah keluarga Nirwan sepi. Orang itu sempat mendengar Tengku Yahya Nirwan mengucapkan itu padamu."
Dan orang tu boleh jadi kau sendiri, batin Hafiz geram tapi dia mencoba menyembunyikannya. Kalau benar dugaannya, bisa jadi Yuri juga terlibat dalam kematian Atok Yahya.
Hafiz mengubah wajahnya dengan ekspresi sangat murung.
"Mungkinkah orang itu yang membunuh atok, Yuri?" tanyanya lirih tapi sebisa mungkin menghindari nada menuduh. "Waktu itu aku disuruh oleh Atok keluar bilik. Hanya sekejap, tak lama pun, Atok dah aku temukan tak bernyawa lagi."
Sedih bercampur geram yang dia rasakan. Lalu entah sudah tak punya malu pada diri sendiri, Yuri memeluknya seakan bersimpati.
"Sabar, Ndut. Semua akan ada ganjarannya," katanya sambil memeluk kepala Hafiz dan membawanya ke dadanya.
Informasi tentang Montha Somnang, Hafiz rasa cukup sampai di situ dulu, karena memang Yuri tak tahu lagi hal lain tentang patung emas itu, misalnya tentang siapa pemiliknya atau dimana kira-kira patung emas itu berada sekarang.
Tetapi mumpung waktu dan keadaan mendukung, Hafiz tak menyia-nyiakan kesempatan untuk bertanya tentang masa lalu Yuri.
Yuri mengernyitkan alisnya. Apa dia tidak bermimpi? Serius Hafiz ingin mengenalnya lebih dekat? Untuk apa? Apakah untuk hubungan yang lebih serius? Ya Tuhan, dia tak berharap lebih sebenarnya. Dulu pun dia hanya berpura-pura. Tapi sekarang? Sungguhkah Hafiz memiliki perasaan padanya?
"Boleh tak?" tanya Hafiz lagi.
Yuri menatap wajah tampan itu. Sungguh tak disangka si gendut Ehsan yang sering dia bully saat masih SD dulu ternyata kini telah berubah menjadi pria penuh pesona, membuat matanya ingin berlama-lama memandang pria itu.
"Kamu ingin tahu apa?" tanya Yuri akhirnya.
Hafiz tersenyum sambil menyelipkan anak rambut Yuri ke belakang telinga gadis itu.
"Aku nak tahu tentang semuanya. Masa kecilmu, masa lalumu dan ape-ape yang dah kau lewati hingga kau sedewasa ni," kata Hafiz lembut. "Jadi, kalau boleh aku nak tahu, kemane orang tua kandungmu, Yuri? Kemana mereka hingga kau punya bapak angkat macam Lucas tu? Kalau aku tak salah ingat, mase kite SMP dulu kat Jakarta, ade anak-anak degil yang ganggu kau sepulang kite sekolah. Mereka cakap sesuatu yang berbeda. Maksudku ... kau terlihat mampu, berada tetapi kenape mereka cakap kau ni miskin dan .... ah, maaf!"
Hafiz mengurungkan kalimatnya saat melihat mata Yuri mulai berkaca-kaca. Dia berpikir, mungkin dia terlalu tak sabaran ingin menyelidiki semuanya, tapi respon dari Yuri sungguh tak disangka-sangkanya. Gadis itu malah memeluknya dengan haru.
"Ndut?? Kamu masih ingat itu?"
__ADS_1
Hafiz terkejut dengan respon Yuri yang begitu mendadak.
"Tentu sahaja, macam mana aku boleh lupa. Aku bagi budak-budak degil tu wang ku yang tersisa, hahaha," selorohnya.
"Maaf!" Yuri melepaskan pelukannya dari hafiz dan memukul dada pria itu manja.
Hafiz mengelus-elus puncak kepala Yuri.
"Jadi macam mana? Kau boleh ceritakan pada aku ke?" tanya Hafiz lagi.
Yuri mengangguk. Yakin. Tak ada keraguan pada Hafiz.
"Sebenarnya orang tuaku masih ada," katanya memulai cerita perjalanan hidupnya.
"Kalau ada, macam mana Lucas boleh mengangkat kau anak. Dia tak ade anak ke?" tanya Hafiz penasaran.
"Anak dia punya. Martin namanya."
"Lepas tu? Kalau ade anak buat ape angkat anak lain?"
Yuri tersenyum getir.
"Dia mengadopsiku bukan demi menyalurkan hasrat kebapakannnya atau demi bakti sosial, tapi demi mewujudkan dendamnya," jawab Yuri. Angannya kini menerawang jauh.
Hafiz semakin tak mengerti.
"Dendam? Pada siape?"
"Salim Gunawan."
****
Kita bongkar dulu satu-satu ya reader beib... Jangan lupa yang rajin donk like dan komentnya biar aku rajin juga updatenya.
__ADS_1