
Hari yang tak diharapkan oleh Yola itu akhirnya datang juga. Pada akhirnya, Sonia tiba juga di keluarga Nirwan dengan langsung diantar oleh Leon sendiri.
Wanita yang duduk di kursi roda itu menatap Yola tajam, seakan Yola adalah musuh yang paling dia benci. Duduk dengan kondisi tak berdaya di kursi roda itu membuat Sonia merasa seperti dia adalah pecundang. Andai keadaannya sehat sudah pasti dia akan menyerang gadis itu dan mencakarnya.
Yola menghembuskan napas kasar melihat kedatangan Sonia.
"Hai, Mrs. Nirwan lama tak tak jumpe, upps!! Maksudku ... Yola, aku datang hantar Sonia kat sini," kata Leon meralat ucapannya.
Entah Leon sengaja mengucapkan itu Yola tidak tahu, karena Leon memang agak suka iseng memprovokasi orang lain. Kali ini entah Sonia atau Yola yang ingin dia provokasi, yang jelas Yola menjadi tidak nyaman karenanya.
"Oh, hmmm. Sebentar aku panggilkan Mamah dulu," kata Yola.
Dia sungguh malas berurusan dengan Sonia.
"Siape?" tanya Mamah Zubaedah yang tiba- tiba saja telah keluar dari kamarnya dan mendengar ada orang yang datang.
Sambil membenahi songkok (penutup kepalanya) beliau pun menghampiri Yola.
"Hmmm, itu ..." Yola rasanya tak kuasa untuk menyebutkan nama Sonia.
Dia hanya bisa melihat pada Sonia dan kini berganti melihat mertuanya itu.
"Hmmm ... anu, ada ... dia. Yola nggak tau dia harus tidur di kamar yang mana. Jadi Mamah aja yang atur ya," kata Yola.
"Yola ...." Zubaedah memanggil nama Yola lirih dengan nada membujuk.
Itu membuat Sonia merasa cemburu, sangat cemburu. Selama pernikahannya dengan Ilham, wanita itu tak pernah sebelumnya dipanggil selembut itu oleh mertuanya itu. Tapi kini dengan menantunya yang satu ini, kenapa orang tua ini bisa bersikap lembut? Begitulah kira- kira yang ada di pikiran Sonia saat ini.
"Yola mau balik ke kamar dulu ya, Mah," kata Yola.
Zubaedah menyempatkan diri untuk mengelus- elus pundak menantu kesayangannya itu. Dia mengerti apa yang dirasakan Yola saat ini.
Sebenarnya bukan hanya Sonia yang merasa sakit. Yola pun sangat merasa tidak nyaman akan kehadiran wanita itu. Meski pun Ilham telah menceraikannya, bukankah mereka masih tercatat sah sebagai suami istri di JAIS? Dan kini Yola harus menerima kenyataan kalau dia dan Sonia harus tinggal di bawah atap yang sama.
Setelah Yola pergi, Zubaedah segera meminta Leon untuk mendorong Sonia ke kamar tamu yang kebetulan kamar itu juga tidak jauh berseberangan dengan kamar Yola dan Ilham.
__ADS_1
"Nampaknya kita memerlukan perawat untuk membantu mengurus Sonia kat sini. Makcik nak susahkan kau sekali lagi, Leon. Tolong bantu Makcik mencarikan seorang perawat untuk merawat dia kat sini," kata Zubaedah memint tolong pada Leon.
Leon mengangguk.
"Baik, makcik. Makcik usah risaukan hal tu. Ilham pun dah suruh saye untuk carikan perawat untuk Sonia," kata Leon sambil mengambil ancang- ancang untuk menggendong Sonia dari kursi roda dan memindahkannya ke tempat tidur.
"Wah, makcik merase berterima kasih sekali kau dah ma bantu semua ape pun yang kite perlukan. Baik memang, anak makcik satu ni," puji Zubaedah.
"Hahaha ... biasa sahaja, Makcik. Kite dah macam keluarga pun. Makcik pula dah saye anggap macam mamah saye sendiri," kata Leon.
"Kau memang yang paling best, Pantaslah Nadira cinte dengan lelaki macam kau ni. Tak macam Ilham tu selalu bikin makcik pening," sindir Zubaedah sambil melirik pada Sonia.
Wanita itu hanya bisa mendengar tanpa bisa membalas perkataan orang tua itu meski pun dia ingin membantahnya.
"Istrimu Nadira dan bakal cucu menantu Makcik, Lily sihat ke?" tanya Zubaedah mencoba berbasa- basi lagi dengan Leon.
"Alhamdulillah, semua sihat Makcik Berkat doa dari makcik juge. Lily pun suke sangat bertanya tentang Makcik dan Ammar," kata Leon senang istri dan putrinya ditanyai oleh Zubaedah.
"Di lain waktu kau datanglah bawa mereka kat sini. Korang semua dah lama tak datang kat sini," kata Zubaedah.
"Oke, makcik. Saye akan ingat pasal tu. Nanti kalau ade cuti, saye akan sempatkan nak bawa mereka kat sini," kata Leon. "Tapi Makcik, saye nak pamit dahulu. Saye balik dari Penang langsung kat sini. Nadira dah pun manalipon semenjak tadi. Saye mesti ke N- one sekejap sebelum balik kat rumah."
"Baiklah. Kamu tak nak makan dahulu kat sini?" kata Zubaedah menawarkan.
"Tak payah makcik. Di lain waktu sahaja," kata Leon. "Saye permisi, Makcik!"
****
"Kau dah datang?"
Leon mengangguk.
"Hmm, aku dah antar Sonia kat rumah Atok," kata Leon memberi tahu. "Aku datang kat sini sebentar sahaja. Lepas ni aku nak rehat hari ini dan esok di rumah sahaja. Ketua Pengarah, bagi aku cuti, esok hmmm?"
Ilham mengangguk- angguk.
__ADS_1
"Baiklah macam tu. Kau boleh cuti esok," kata Ilham. "Tetapi kalau kau dah temukan perawat untuk Sonia. Aku tak nak Mamah dan Yola merase kesulitan uruskan die."
Belum sempat Leon menjawab, tiba- tiba saja pintu ruang kerja Ilham diketuk oleh sekretarisnya.
"Ketua Pengarah, di sini ade Tuan Lucas nak bertemu dengan Tuan," kata sekretaris itu memberitahu.
"Lucas? Siape?" tanya Leon ingin tahu.
"Oh, die owner dari syarikat besar di Kambodia. Die nak menjalin kerja sama dengan N- one. Berkebetulan die ade di KL, dia nak berjumpe secara langsung dengan kite," kata Ilham memberi tahu.
Ilham tak sempat menjelaskan secara panjang lebar pada Leon tentang pria itu, karena dia pun baru mengetahui tentang orang itu sekilas saja. Terlebih- lebih orang itu sekarang sudah ada di luar ruang kerjanya.
"Persilaken Tuan tu masuk," kata Ilham pada sekretarisnya itu.
"Baiklah, Tuan. Tuan sila masuk!" kata sekretaris itu mempersilahkan Lucas masuk.
Ilham sempat mengira kalau lelaki itu adalah seseorang yang mungkin usianya lebih muda darinya. Namun, dia sedikit tersentak mengetahui kalau pria di depannya ini adalah seseorang yang terlihat setua Atok Yahya namun dengan kondisi tubuh yang lebih fit dan tegap.
"Hallo Mr. Lucas. Nice to meet you. Sit down, please!" Ilham mempersilahkan Lucas duduk.
Pria itu tertawa ramah menampilkan
deretan giginya yang masih utuh.
"Bahasa Indonesia saja, bagaimana? Saya mendengar istri Ketua Pengarah Ilham adalah orang Indonesia. Saya sudah lama tak berinteraksi dengan orang lain dengan menggunakan bahasa Ibu. Jadi saya sedikit merindukannya," kata Lucas membuat Ilham dan Leon menjadi terpesona dibuatnya.
"Jadi syarikat besar macam Y&Y company, ownernya adalah orang Indonesia? Wah, saye tak menyangka, Tuan Lucas. Ini mesti jadi inspirasi untuk kami kaum muda," puji Ilham.
"Hahaha ... inspirasi apa. Bukannya Tuan Ilham yang harusnya menjadi inspirasi karena di usia semuda ini telah memiliki perusahaan sebesar N- one ini?" puji Lucas balik.
"Taklah. Tuan Lucas, sebelum memutuskab kerja sama dengan N- one tak cari tahu dulu ke siape owner dari N- obe Grocery? Itu bukan saye. Tapi Atok saye, Tengku Yahya Nirwan. Saye hanye Ketua Pengarah kat sini. CEO! Atok adalah ownernya. Saye hanya perpanjangan tangan Atok uruskan N- one."
Pria itu manggut- manggut menyunggingkan senyumnya mendengar nama itu.
"Tengku ... Yahya ... Nirwan. Saya akan ingat nama itu dan tak akan salah menyebutkannya di lain waktu. Oh ya, Tuan Yahya Nirwan ada dimana?"
__ADS_1
****
Konflik! Thor kok konflik mulu sih? Kalau nanti dibikin sweet terus kapan donk alurnya bisa maju. Btw, nanti bikin abang sama Yola adegan sweet- sweet depan Sonia biar kalian senang. Tapi jangan lupa like dan komentnya dulu reader beib ....u