Jodoh Dari Malaysia

Jodoh Dari Malaysia
Pelakor?


__ADS_3

"Lily kemana ye?" gumam Nadira sambil celingak-celinguk mencari keberadaan putrinya itu.


Yola yang sedari tadi telah selesai dengan lukisan inainya juga ikut melihat pandangannya ke sekeliling mencari-cari Lily, anaknya Nadira dan Leon.


"Tadi kayaknya dia main sama anak-anak keluarganya Atok juga deh, di luar teras. Bentar deh aku cariin," kata Yola sembari ingin bangkit dan berdiri.


"Tak. Tak payah! Biarkan aku sahaja yang mencari dia. Aku hanya nak bertanya ape dia mahu dipakaikan inai juge atau tak," kata Nadira yang buru-buru memaksa Yola untuk duduk kembali.


Yola mengangguk.


"Baiklah, kau coba cari dulu. Paling dia hanya bermain di luar atau kalau nggak di rumah tetangga di sebelah," kata Yola.


Beberapa tetangga Atok Yahya memang sengaja menawarkan rumah mereka dipakai untuk kepentingan resepsi perkawinan Yola dan Ilham.


"He em," jawab Nadira.


Lalu tanpa menunggu lama dia pun segera bangkit dari duduknya dan keluar menuju teras depan.


"Lily!" panggilnya.


Di luar rumah Atok Yahya juga ramai berkumpul para tetangga dan juga kumpulan para anak gadis yang bertempat tinggal di sekitaran rumah. Semuanya hanya demi bisa memakai inai dari mak andam yang dipercaya dapat mengeluarkan seri atau aura kecantikn dari wanita yang memakainya.


Mak andam sendiri di jaman sekarang ini sudah mulai langka keberadaanya. Hal ini dikarenakan orang-orang yng berprofesi sebagai Mak Andam terdahulu sudah banyak yang telah memasuki usia senja, bahkan ada yang telah almarhum. Sementara semakin menjamurnya jasa make up artist modern, juga yang menjadi penyebab semakin tersisihnya profesi mak andam sekarang. Membuat jumlah mereka semakin sedikit dari hari ke hari.


Tetapi untuk sebagian orang di kalangan bangsa Melayu, menggunakan jasa mak andam masih tetap menjadi pilihan utama karena selain bisa merias wajah pengantin, mak andam dipercaya juga dapat menangkal segala macam keburukan dan tolak bala bagi pengantin. Itulah sebabnya para anak gadis itu kini berkumpul di rumah atok Yahya untuk bisa memakai inai racikan dari mak andam Saripah.


"Dik, korang ade tengok budak kecil sebesar ni ke?" Nadira bertanya pada kumpulan anak gadis yang sedang saling mengaplikasikan inai pada temannya secara bergantian satu sama lain.

__ADS_1


Sekelompok anak itu tampak menggeleng.


"Tak tahu, Kak! Kami pun baru datang kat sni," jawab salah seorang dari mereka.


Nadira berjalan ke arah samping rumah, menatap lurus hingga ke belakang, siapa tahu Lily sedang bermain dengan anak-anak kerabatnya Atok Yahya. Niatnya adalah seandainya memang tidak ada anak-anak itu di sana, Nadira ingin langsung pergi ke tetangga sebelah untuk mengecek apakah di sana ada Lily.


Namun yang membuat dia mengurungkan diri sejenak mencari Lily adalah ketika dia melihat seseorang yang berada di halaman samping rumah. Seorang wanita yang berada di kursi roda.


Tak berlama-lama, Nadira segera mendatangi wanita itu.


"Amboi, amboi! Coba aku tengok ade siape kat sini. Jadi macam mana wanita lumpuh ni ade kat sini? Aku kira kau tak bergerak dari tilam. Jadi kau berada di sini dengan siape malam-malam macam ni?" tanya Nadira dengan mimik sinis pada Sonia.


"N-na-nad .... t-tu ..." gumam Sonia dengan bibir yang bergetar.


Rasany dia ingin mengatakan pada Nadira kalau ada Melisa di kamar Atok Yahya.


Dari dalam kamar Atok Yahya, Melisa bisa mendengar apa yang terjadi. Sialan! Siapa lgi yang sedang berbicara dengan Sonia itu? Sungguh sangat berbahaya jika dia sampai ketahuan menyelinap ke dalam pemilik rumah besar ini. Perasaan Melisa menjadi tidak enak kalau harus menjalankan misinya lagi. Tetapi satu-satunya kesempatan yang dia punya hanya malam ini.


Maka mumpung orang itu sedang berbicara serius atau lebih tepatnya seperti melabrak Sonia, Melisa memutuskan akan tetap menjalankan misinya untuk mengambil lagi surat-surat yang mungkin bisa jadi petunjuk baginya untuk mencari tahu keberadaan patung emas itu.


Dengan berjingkat, Melisa perlahan-lahan mendekati lemari Atok Yahya, tempat dia menemukan surat itu minggu yang lalu.


"Sonia!! Aku nak tanya kau! Kau ni tak puas jadi pelakor di antara perkahwinan Ilham dan Yola. Kau nak juga jadi pelakor di antara aku dan Leon?" tuding Nadira.


Sonia sungguh tidak paham apa yang terjadi pada Nadira. Apa masudnya menjadi pelakor antara Leon dan Nadira? Sonia mengakui kalau dia memang menjadi orang ketiga di pernikahan Yola dan Ilham. Tetapi itu karena dia mencintai Ilham. Bahkan karena alasan itulah Sonia rela bercerai dengan Ilham. Demi kebahagiaan pria itu. Jadi untuk apa dia ingin jadi pelakor di rumah tangga Leon dan Nadira?


Kemudian Sonia memutuskan untuk menggeleng pelan. Dia tak bisa menjelaskan dengan berbicara langsung. Tenggorokannya sakit, tercekat.

__ADS_1


"Kau tak payah berdusta. Aku tahu semenjak kite masih masa sekolah, kau dan Leon sudah saling menaruh hati, kan?" tuduh Nadira lagi.


Lagi-lagi Sonia menggeleng.


"Sonia, aku bagi tahu kau . Aku dan Leon dah pun berkahwin. Sama hal dengan Yola dan Ilham. Kau tak dapat mengerti itu ke? Dah pun bercerai dengan Ilham, kini kau nak ganggu aku pula dengan Leon?"


"**- ttakk ..." Sonia lagi-lagi menggeleng.


Di dalam kamar, Melisa dapat mendengar dengan jelas percakapan di antara dua orang itu. Dia tak ada waktu untuk memikirkan masalah kedua orang itu. Sesegera mungkin dia membuka lemari Atok Yahya dan membuka laci dimana dia mendapat surat-surat itu di malam kebakaran itu terjdi .


Sreeekkk!!


Melisa membuka pintu laci itu dan terkejut dengan apa yang dilihatnya. Tak ada apa-apa di laci itu. Sialan!!! Apakah Atok Yahya telah menyadari kalau beberapa pucuk surat lamanya dengan sahabatnya Salim Gunawan telah hilang?


"Tak??? Kalau macam tu kau dapat berjanji ke kalau kau tak akan ganggu rumah tanggaku dengan Leon?" tuntut Nadira pada Sonia.


Sonia hanya bia mengangguk kelu. Sungguh dia tak pernah menaruh hati pada Leon apalagi ingin mengganggunya. Benar-benar pemikiran yang sesat.


"Baiklah kalau macam tu. Sekarang bagi tahu aku, ape yang kau lakukan sendiri kat samping rumah macam ni?" tanya Nadira. "Mana juru rawat yang dicari Leon untukmu?"


"Ttttu- tuuu ..."


Sonia memonyongkan bibirnya memberi kode pada Nadira kalau Melisa ada di kamar Atok Yahya.


Dari dalam kamar, Melisa yang mendengar usaha Sonia untuk membocorkan keberadaannya yang kini sedang berada di kamar Atok Yahya mengumpat. Sungguh, gadis cilaka! umpatnya dalam hati.


****

__ADS_1


Jangan lupa like dan komentarnya reader sayang akoe...


__ADS_2