Jodoh Dari Malaysia

Jodoh Dari Malaysia
Solusi Dari Zuhri


__ADS_3

Kesepakatan antara Abidin dan pria itu, orang yang belakangan dia ketahui namanya bernama Mr.Y, terjadi begitu saja. Seperti janji Mr. Y, anaknya Farida langsung mereka pulangkan dengan selamat ke rumah. Tetapi itu tak serta merta membuat Abidin lepas dari masalah karena anak buahnya Mr. Y, mengawasi mereka. Zuhri namanya. Pria itu ditugaskan mengantar Farida pulang ke rumahnya, sekaligus akan membawa Abidin langsung ke Jakarta, tempat mereka akan menjalankan rencana mereka menculik Andini. Mereka tak punya banyak waktu karena diperkirakan waktu Yahya dan Zubaedah di Jakarta hanya beberapa hari saja untuk menculik Andini. Sedang jika dilakukan di kediaman keluarga Nirwan, akan sangat banyak resiko dan kecurigaan yang harus mereka hadapi dari Tengku Yahya Nirwan nanti.


Keluarga Abidin tentu heran termasuk anak pertama dan keduanya kenapa tiba-tiba sang ayah mendadak ingin berangkat ke Jakarta, ditambah lagi oleh Farida yang tidak pulang selama satu malam dan diantar oleh seorang pria yang anehnya, ayah mereka tidak memarahinya. Sebelumnya Farida telah diancam dan diintimidasi untuk tidak menceritakan masalah penculikan itu pada orang lain, tak terkecuali siapa pun sehingga apa yang menimpanya hari itu hanya menjadi rahasianya dan Abidin hingga bertahun-tahun kemudian. Dan Abidin pun tidak masalah dengan itu, selama anaknya pulang dalam keadaan selamat dan keluarganya dipastikan dalam keadaan baik-baik saja.


Singkat cerita, Abidin dan Zuhri mengurus keberangkatan mereka ke Indonesia dengan akomodasi dan keperluan ditanggung oleh Mr. Y tentunya. Sepanjang perjalanan Zuhri dan Abidin banyak bercerita. Dari Penang ke Kuala Lumpur yang memakan waktu sepanjang 6 jam perjalanan, dilewati mereka dengan saling bercerita. Dan ternyata Abidin baru menyadari kalau Zuhri ini tidak sekeji bosnya yang dijuluki Mr. Y itu.


"Kenapa paman tidak memilih Ilham saja untuk diculik?" tanya Zuhri saat mobil yang mereka tumpangi melaju dari Penang ke Kuala Lumpur.


Abidin merasa galau mendapat pertanyaan yang seperti itu dari Zuhri. Dia menggeleng, membayangkan sosok Ilham.


"Saye tak dapat lakukan itu. Ilham dah besar. Dia dah berumur 7 tahun. Setiap kali dia datang ke Penang atau saye yang datang ke KL, kami berdua selalu bercengkrama sebagaimana layaknya datuk dan cucu. Atau mungkin sahaja, dia lebih dekat dengan saye daripada dengan datuknya sendiri, Yahya. Saye tak akan sanggup mendustai dia, membawa dia pergi untuk diberikan pada orang lain yang jahat. Ape nanti dia kate? Dia akan cakap saye ni Atok yang jahat. Tak ... saye tak mahu dia menjauhi saye. Dia dah seperti cucu saye sendiri. Saye tak nak bagi dia dengan orang jahat," jawab Abidin seraya menggelengkan kepalanya beberapa kali.


"Terus bagaimana dengan Andini?" tanya Zuhri pula.


"Andini baru berusia enam bulan. Saye baru berjumpa dengan dia sekalli sahaja ketika aqiqah dia dilangsungkan oleh Yahya beberapa bulan lalu. Kerana bersua pun baru sekali, belum puas juge saye nak timang daan sayang budak satu tu, pertalian batin ni dengan dia pun nampaknya belum terlalu kuat. Itu sebab ketika saye diberi pilihan oleh Mr.Y tu, tak saye sadari saye memilih dia untuk dikorbankan daripada Ilham," jawabnya lagi dengan murung.


Zuhri tak bereaksi apa-apa saat mendapatkan jawaban seperti itu dari Abidin. Dia mengertiñ perasaan orang tua itu. Sebenarnya dalam hatinya memberontak melakukan pekerjaan seperti ini. Dia adalah kaki tangan Lucas, alias Mr. Y.


Banyak pekerjaan kotor yang telah mereka lakukan sejauh ini, selama bertahun-tahun dia mengikuti Lucas. Dari berjualan obat-obatan terlarang, penyelundupan senjata api dan beberapa kali mereka bahkan pernah terlibat kasus pembunuhan. Tetapi itu musuh mereka, beda sindikat, yang sama-sama adalah orang dari dunia hitam dan berkecimpung di penjualan barang-barang haram dan illegal, sehingga dia tak merasa sebersalah itu melakukannya.


Namun kali ini Zuhri tidak menyangka kalau Mr. Y akan memerintahkan dia melakukan hal seperti ini. Menculik bayi, mengintimidasi wanita hingga mengawasi orang tua di hadapannya ini dan menghajarnya tanpa ampun, jika Abidin berani macam-macam. Itu yang Mr. Y perintahkan padanya.


"Tak dapat ke awak membantu saye, Zuhri?" tanya Abidin tiba-tiba dengan air muka memelas.


Tampaknya perbincangannya kali ini dengan Zuhri membuat hatinya yang memang bimbang menjadi semakin lebih bimbang lagi.


"Andini itu memanglah bukan cucu kandung saye. Dia cucu dari abang saye Tengku Yahya Nirwan. Tetapi meski macam tu, anak dari Yahya sama sahaja dengan anak-anak saye, begitu pun cucu dia tak ada yang berbeza dengan saye kalau kelak saye memiliki cucu. Abang saye pun selalu menganggap anak-anak saya seperti anaknya sendiri. Macam mana ni Zuhri? Jika saye lakukan ni, berarti saye sama sahaja mencelakakan cucu saye sendiri. Tetapi jika saye tak lakukan ni, anak perempuan saye pula yang akan jadi taruhannya," keluh orang tua itu dengan menghiba.


"Apa yang dapat saya lakukan, Paman? Saya pun hanya orang suruhan, dan Mr. Y itu adalah orang yang menakutkan. Jika pun Andini tidak kita culik hari ini, di lain waktu dia tetap akan melakukannya dengan caranya sendiri. Meski aku dan Paman tidak bersedia, dia akan selalu menemukan orang lain untuk mewujudkan ambisinya," kata Zuhri memaparkan.


Abidin terhenyak. Sungguhkah dia tak punya pilihan lain? Apakah memang harus, Andini berakhir tragis di tangannya sendiri? Apakah nanti orang bernama Mr.Y itu akan menghabisi nyawa bayi berusia 6 bulan itu? Apa dia bermaksud membesarkannya, kemudian menjualnya saat anak itu dewasa nantinya? Berbagai tanya berkecamuk di pikirannya.


Sedih, marah, tak berdaya, hingga putus asa tergambar jelas di wajah Abidin, hingga membuat Zuhri merasa tak sampai hati melihatnya. Abidin terlihat seusia ayahnya.


"Aku akan memikirkan bagaimana jalan keluarnya. Paman tenanglah sedikit. Perjalanan kita masih panjang hingga sampai di Jakarta nanti," kata Zuhri dalam perjalanan mereka menuju Kuala Lumpur.


Abidin sungguh tak berharap terlalu banyak pada Zuhri. Sungguh pun dia sepertinya baik, tapi tetap saja dia anak buah Mr. Y, kan? Musuh dari abangnya. Mana mungkin lelaki ini akan membelanya.

__ADS_1


Setelah membahas hal itu, selama berjam-jam sebelum akhirnya mereka hampir sampai di Kuala Lumpur, tiba-tiba Zuhri menyampaikan idenya pada Abidin.


"Kalau bayi yang ingin diculik itu kita tukar dengan bayi lain, bagaimana kira-kira?" usul Zuhri mencetuskan idenya.


Abidin mengernyitkan keningnya.


"Ditukar? Maksudnya diganti ke?" tanyanya bingung.


"Hum," gumam Zuhri membenarkan.


"Tapi macam mana boleh? Baby siape kite nak tukar dengan Andini?" Pria berusia 47 tahun itu bingung.


"Paman, aku punya teman perempuan di Jakarta, kupu-kupu malam, maksudku ... paman mengerti kan? Dia punya bayi, dan baginya bayi itu seperti pengganggu, karena dia tak leluasa untuk bekerja. Maksudku, bagaimana kalau kita minta saja bayi itu, atau berikan dia sejumlah uang untuk kita berikan pada Mr. Y? Biarkan Mr. Y mengira itu bayi Andini," usul Zuhri.


Haaah? Ide macam apa itu?


"Macam mana kite boleh lakukan tu? Memisahkan seorang baby dari mama dia. Itu tak baik ..." Abidin ingin menolak mentah-mentah ide itu. "Dan lagi pula kalau macam tu, ape Mr.Y tak curiga ke? Ape dia tak awasi family abang saye ke nanti? Kalau dia tahu kite berdusta dengan dia macam mana nanti?"


"Pikirkanlah baik-baik, Paman. Hanya ini jalan keluar satu-satunya kurasa. Agar kkhawatiran yang paman rasakan takut cucu paman disakiti bisa hilang. Namun tetap saja dalam hal ini kita harus menculik Andini, tetapi kita akan tetap pastikan dia aman, titipkan dia pada orang baik yang mau merawatnya, dan biarkan keluarga Yahya Nirwan tetap kehilangan bayinya untuk sementara. Kelak kalau masalah di antara mereka sudah selesai, baru kasih tau kalau Andini masih hidup. Dia baik-baik saja," lanjut Zuhri.


Abidin menimbang-nimbang baik buruknya ide dari Zuhri itu.


Zuhri menghela napas.


"Soal bayi pengganti itu biarkan dia ikut Lucas. Saya rasa Lucas juga tak bermaksud membunuhnya. Toh dia bersama ibu kandungnya yang seperti itu sama sekali bukan pilihan hidup yang baik juga. Ya, saya memang tidak bisa meramal bagaimana nasib kita ke depannya dan saya juga tahu ini bukan jalan keluar yang baik. Dalam hal ini memang tak ada satu pun pilihan yang baik. Melaporkan pada polisi pun, rasanya juga bukan solusi. Jaringan sindikat yang menaungi Mr.Y bukan jaringan biasa. Mereka akan melindungi Mr.Y sehingga tak tersentuh oleh pihak berwajib. Bahkan jika dia bersembunyi pun tak akan ada tahu di mana keberadaannya. Tetapi jika setelah paman dan keluarga melapor ke polisi, dia bisa menyelamatkan diri dan membalas dendam semakin keji tak hanya pada Yahya Nirwan tapi juga pada keluarga paman, bagaimana?"


Abidin menelan ludah pahit. Analisa Zuhri ini sangat masuk akal sebenarnya. Tetapi bagaimana? Egoiskah dia memilih jalan keluar seperti ini? Mengurangi sedikit kekhawatirannya akan nasib Andini di kemudian hari, tetapi sebaliknya membuat hancur hati abangnya dan anak menantunya. Tetapi apa dia masih punya opsi lain?


"Paman pasti tak akan percaya kan kalau saya bilang tak hanya Tengku Yahya Nirwan dan keluarganya yang menjadi target Mr. Y? Ada orang lain lagi yanh masuk dalam daftar balas dendamnya." Zuhri menatapnya serius dengan tatapan mencoba meyakinkan. "Mau tau siapa?"


"Sa-saye? Keluarga saye?" tebak Abidin dengan tergagap.


Zuhri tersenyum penuh makna.


"Bukan, Paman dan keluarga Paman bukan target utamanya, dia hanya ingin memperalat paman untuk mencapai tujuannya. Tetapi Salim Gunawan, sahabat karib Tengku Yahya Nirwan. Dia bahkan telah mempersiapkan kematian orang itu jauh-jauh hari. Hanya menunggu eksekusinya saja," kata Zuhri santai.


"Ta-tapi ... mengape? Ape salah Abang saye dan Salim?"

__ADS_1


Abidin belum pernah bertemu sebelumnya dengan Salim Gunawan, tetapi dia tahu orang itu meski beda negara dengan abangnya, adalah sahabat karib Yahya.


"Entahlah, saya kurang tahu lebih tepatnya. Hanya saja saya pernah mendengar kalau ini dikarenakan Yahya Nirwan dan Salim Gunawan mengambil apa yang harusnya menjadi harta berharga Mr. Y dan membuat Mr. Y hampir mati di samudra lepas. Sepertinya itu memicu dendamnya pada abangnya paman dan Salim Gunawan," papar pria itu.


"A-apa yang diambilnya?" tanya Abidin terkejut.


Oh, jadi inilah jawaban dari semua pertanyaaan dalam hati Abidin selama ini. Jadi abangnya mencuri harta orang lain?


"Sepertinya emas dalam jumlah banyak kurasa. Dia Yahya Nirwan dan Salim Gunawan bersama-sama melakukannya. Dan itu memicu dendam Mr. Y pada kedua orang itu," imbuh Zuhri.


Abidin mengusap wajahnya kasar, tak menyangka kalau abangnya yang selalu punya budi pekerti yang baik itu, sanggup memgambil harta orang lain.


"Kalau emas itu dikembalikan pada Mr. Y apakah dia mahu melepaskan abang saye dan keluarga kami? Saye akan merayu abang saye untuk balikkan ape yang dia ambil dari Mr. Y itu!" kata Abidin.


Zuhri tersenyum.


"Tak semudah itu sepertinya. Dendam adalah dendam. Bahkan paman juga sudah pernah berjumpa dengan dia kan? Tubuhnya sehat, uangnya juga banyak saat ini. Tetapi ingatan saat tubuhnya terombang-ambing di laut lepas hingga dia nyaris mati, tak semudah itu dia melupakannya. Dendam itu akan terus dia balaskan sampai dia puas," tukas Zuhri.


Dan Abidin menjadi merinding dibuatnya.


"Jadi bagaimana dengan usulan saya? Mau dipakai atau tidak? Kalau Paman tidak setuju, kita kembali ke rencana awal dari Mr. Y, yaitu menculik Andini. Tidak akan ada orang lain atau bayi lain yang akan terlibat dalam hal ini. Fokus, kita culik Andini. Bayi itu akan kita keluarkan dari rumah keluarga Gunawan. Kedatangan Paman adalah pemancingnya. Saat mereka disibukkan dengan Paman, tunggu saat yang tepat aku akan menyelinap ke dalam rumah diam-diam dan mengambil bayi itu. Setelah misi berhasil, bayinya akan langsung ikut denganku untuk kuserahkan pada Lucas, bagaimana?"


Abidin semakin bimbang.


"Cepatlah berpikir, Paman. Kita sudah sampai di bandara. Tak akan butuh waktu lama untuk sampai di Jakarta. Jika Paman setuju dengan usulku, kita bisa langsung ke rumah temanku dan menanyakan apakah dia mau memberikan bayinya. Jika dia bersedia, misinya bisa kita jalankan segera. Hanya saja, kalau Paman setuju menukar bayi itu. Andini yang asli, akan kita berikan pada siapa? Sementara bisa kutitip di rumah temanku itu sebelum kita benar-benar mendapatkan orang yang bisa mengasuhnya. Paman tahu sendiri Ini bukan cuma persoalan menitipkan sehari, dua hari. Mungkin butuh waktu berbulan-bulan, atau mungkin bertahun-tahun. Jadi Andini itu harus berada dengan orang yang tepat. Itu kalau Paman peduli padanya. Dan kalau bisa orang itu, tinggal di Indonesia juga untuk meminimalkan kecurigaan Mr. Y kalau Andini telah kita tukar di sini. Jika kita membawa bayi pulang ke Malaysia. Mungkin itu akan sedikit beresiko ketahuan oleh Mr. Y," tandas Zuhri.


Abidin masih tak bergeming. Dia belum berani memutuskan. Hingga mereka berada di pesawat, dan akan landing barulah Abidin angkat suara.


"Baiklah, saye sepakat dengan usulan awak. Tetapi sebelumnya dapatkah awak ni mencari seseorang untuk saye? Awak pasti dapat membantu, kan? Seperti korang berhasil mendapatkan keberadaan saya sebagai adik dari Yahya, mestinya mencari orang lain juge pastilah awak boleh lakukan. Betul, kan?" pinta Abidin.


Zuhri mengernyitkan keningnya dan kemudian bertanya. "Siapa?"


"Awak dapat carikan saye dokter Malaysia yang bekerja di Jakarta ke? Namanya Yusuf. Emm .... nama panjang dia kalau tak salah ..." Abidin mencoba mengingat-ingat bet name anak koas Healthy World Hospital itu.


"Ibrahim .... Abraham Yusuf. Macam tulah, satu di antara keduanya. Doktor Ibrahim Yusuf atau Abraham Yusuf."


"Siapa dia Paman?"

__ADS_1


*****


Holla ... Like dan komentarnya dunk beib ..


__ADS_2