Jodoh Dari Malaysia

Jodoh Dari Malaysia
"Aku Rindu"


__ADS_3

Yuri


Gadis itu tengah menerima panggilan telepon dari Lucas di Phnom Penh.


"Keadaan di sini sangat kacau. Bagaimana kondisi di KL?" tanya pria tua itu. Lucas.


"Kacau bagaimana, Pak?" tanya Yuri seolah tidak tahu.


Padahal gadis itu sangat tahu situasi yang tengah dihadapi Lucas saat ini. Bagaimana mungkin tidak tahu. Otak dari semua kekacauan itu adalah dirinya sendiri yang hendak ingin melepaskan diri dari Lucas.


"DDF menyidak pabrik kita. Mereka menemukan formalhided dan bahan lain yang kita pakai untuk produk kosmetik dan baby care. Dan sepertinya mereka mulai mencium tentang keberadaan black pearl," kata Lucas menjelaskan. Terdengar galau dari nada suaranya, seolah-olah saat ini dia sedang menghadapi eksekusi mati.


"DDF?" gumam Yuri menanggapi.


"Hum. Departemen Of Drug and Food Cambodia," jawab pria kepala enam itu memperjelas maksud pertanyaan Putri.


"Kenapa bisa? Bukankah pabrik dijaga dengan ketat dan penggunaan formalhided, bukankah selalu mengikuti standar yang dianjurkan?" Yuri pura-pura tidak tahu tentang apa yang sebenarnya terjadi.


Sebenarnya dia juga tidak akan tahu hal ini andai, dia dan Hafiz tidak menyogok orang pabrik untuk memberikan sample mentah produk Indopenh dan membawanya ke laboratorium untuk diperiksa kandungannya. Dia hanya tahu tentang black pearl sebelumnya, bisnis kotor Lucas yang bermain di bidang obat-obatan terlarang dan illegal. Tetapi Yuri tidak tahu kalau pria itu juga menggunakan barang-barang berbahaya itu untuk usaha legal yang dia gunakan sebagai tameng untuk menutupi bisnis hitamnya.


Terdengar Lucas menarik napas berat di seberang sana. Dia merasa tak perlu mengakui apa yang dipertanyakan oleh Yuri. Bukankah sekarang sudah jelas semuanya?


"Bapak? Apa produk Indopenh Group memang memakai formalin dosis tinggi?" tanya Yuri lagi. Bukan ingin memastikan. Hanya sekedar bersandiwara agar dimata Lucas ekspresi terkejutnya lebih keluar.


Yuri tidak mau bertaruh lelaki itu mengetahui kalau dia adalah dalangnya. Siapa tahu Lucas bisa lolos dari kasus ini setidaknya lelaki itu tidak akan menganggapnya musuh. Sebab akan sangat berbahaya andai Lucas sampai berpikir seperti itu. Lelaki itu pendendam. Yiri tahu itu. Contoh paling nyata saja adalah dendam puluhan tahun pria itu pada Tengku Yahya Nirwan dan Salim Gunawan. Padahal kalau dipikir-pikir, sekarang pun harta yang didapat Lucas dari bisnis kotornya pastilah sudah berkali lipat dari harga patung emas Montha Somnang itu. Tapi rupanya itu tidak membuat puas pria itu sebelum melampiaskan dendamnya. Dan Yuri tidak mau ambil resiko dimusuhi Lucas sebelum Yuri dapat memastikan kalau riwayat lelaki itu sudah tamat dan tak bisa melakukan hal-hal yang mungkin berbahaya untuknya. Dia tetap harus bermain cantik.


"Astaga ..." Yuri seperti telah menyimpulkan jawaban Lucas dari diamnya pria itu.


"Aku tidak butuh komentarmu akan hal ini. Aku akan urus masalah ini nanti. Ck!" decak Lucas dengan umpatan. "Ini pasti ulah bocah itu!"


Lucas sendiri tidak yakin bisa lolos dari kasus ini mengingat aktivis anti kanker 4C (Cambodia Care Cancer Community) melibatkan diri dalam kasus ini untuk menentangnya. Komunitas itu mengecam Indopenh Group dan memaksa pihak pemerintah untuk menutup sementara pabrik itu sampai hasil penyelidikan menyeluruh dari pihak berwenang keluar. Yang artinya resiko yang mengancam kelangsungan Indopenh Group memang sangat mengkhawatirkan kali ini. Pabrik sebesar itu terancam ditutup paksa. Dan hal itu tentu mempengaruhi stabilitas perusahaan juga khususnya bagi para pemegang saham. Sejak terdengar kabar penggerebekan pabrik Indopenh group pergerakan harga saham di perusahaan itu langsung anjlok seketika.

__ADS_1


"Apa ketika kalian ada di sini, bocah itu tidak melakukan hal yang mencurigakan?" tanya Lucas. "Seingatku kalian selalu bersama-sama. Bahkan pernah menginap bersama di hotel lain?"


Sial! Dia mulai curiga, gerutu Yuri dalam hati.


"Dia tak melakukan hal yang mencurigakan saat bersamaku. Aku bisa menjamin itu," sangkal Yuri.


"Oh ya?" Sepertinya Lucas benar-benar merasa curiga sekarang.


"He em. Bapak bisa mempercayai saya. Hafiz tidak melakukan aktivitas yang mencurigakan selama kami di Phnom Penh. Mungkin ini kerjaan abangnya?" Yuri mulai berkilah dan bermaksud melempar kecurigaaannya pada Ilham.


Toh meski tidak melakukan hal seperti ini pun, keduanya tetap bermusuhan. Setidaknya dia tidak mau Lucas memfokuskan kecurigaanya pada Hafiz. Bisa-bisa Hafiz dalam bahaya nanti. Yuri tidak bisa membayangkan apa yang mungkin dilakukan Lucas pada Hafiz, jika dia terus mencurigai Hafiz sebagai pelaku pelaporan pabriknya pada DDF.


"Ilham?" gumam Lucas.


"Hm. Bukannya saat rapat waktu itu, dia sendiri yang bilang kalau dia memiliki teman di Kamboja? Pastilah dia meminta bantuan temannya untuk melaporkan Indopenh Group. Aku yakin itu!" kata Yuri mencoba memprovokasi. Apa pun yang terjadi dia tidak akan membiarkan Hafiznya dalam bahaya.


Lucas manggut-manggut sejenak, berpikir atas perkataan Yuri. Sepertinya masuk akal. Walaupun Hafiz mungkin dilibatkan dalam hal ini tetapi tetap saja Ilham yang paling berperan penting dalam hal ini. Pasti dialah yang menjadi otak dalam semua permasalahan ini. Tunggu saja sampai dia menyelesaikan masalah ini, dia akan membuat perhitungan pada cucu musuh bebuyutannya ini! Pasti!


"Kau awasi terus N-one!" perintahnya pada Yuri. "Mereka belum melakukan sesuatu, kan?" tanyanya.


Di saat yang bersamaan, ada panggilan masuk lain dari kontak lain. Hati Yuri rasanya bergejolak melihat kontak itu meneleponnya. Orang yang baru dua hari ini tidak ditemuinya namun berhasil membuatnya sangat rindu. Ya Tuhan, rasanya dia ingin mengangkat telepon ini sekarang!


"Yuri?"


"Hah?" Konsentrasi Yuri berbicara dengan Lucas benar-benar buyar saat melihat nomor kontak yang berusaha menghubunginya ini.


"Aku bertanya. Apa mereka melakukan sesuatu yang mencurigakan di N-one? Apa mereka telah memutuskan untuk memberikan posisi Ketua Pengarah pada bocah itu? Hafiz maksudku ..." tanya Lucas memperjelas maksudnya.


"Emm, anu .... Saya nggak pergi ke N-one sejak hari itu. Tetapi sepertinya pemilihan ketua pengarah itu dipending sementara waktu. Yang memegang posisi sementara adalah Leon, wakil ketua pengarah yang lama. Hal itu diputuskan oleh Ilham," tutur Yuri sedikit gugup.


Rasanya ingin sekali saat ini dia mematikan sambungan telepon dengan orang tua ini dan mengalihkannya dengan sambungan telepon lain yaitu Hafiz. Tetapi dia tidak berani. Dia tidak mau mengambil resiko.

__ADS_1


"Baiklah, kalau begitu situasi di KL masih terkendali berarti ya?"


"Ya kurang lebih begitulah, Pak!"


"Ya sudah kalau begitu, aku matikan dulu teleponnya. Kalau ada kabar apa pun yang berkaitan dengan N-one dan keluarga Nirwan itu, kabari aku secepatnya!"


Yes! Akhirnya! Hati Yuri bersorak girang.


"Baik, Pak!"


Dan begitu panggilan telepon itu mati, hal pertama yang dilakukan Yuri adalah menghubungi Hafiz kembali. Setelah mendial beberapa kali, akhirnya teleponnya diangkat juga.


"Hafiz, kamu meneleponku tadi? Maaf, orang tua itu sedang meneleponku tadi," kata Yuri beralasan.


"Yuri, alamat lengkapmu dimana? Aku ingin berjumpe..."


"Ha?" Yuri bengong selama beberapa detik.


"Kamu kate, kat sini kamu duduk (tinggal) di Setiawangsa, kan? Aku tengah berada kat sini! Share loc!" Suara Hafiz terdengar datar.


"Eh, tapi tumben? Memang mau ngapain?" Yuri seketika menjadi gugup.


"Aku rindu."


Hati Yuri seakan ingin meledak. Tetapi kenapa suara Hafiz terdengar datar?


Ah, bodo ah! Mungkin saking rindunya, makanya terdengar seperti itu. Pokoknya ketemu aja dulu! Yessss! Putri bersorak dalam hati.


***


Hayuuuuk, Yuri! Tumben-tumbenannya tuh Hafiz mau ketemu kamu.

__ADS_1


__ADS_2