Jodoh Dari Malaysia

Jodoh Dari Malaysia
Dua Garis Merah Muda


__ADS_3

Yola masih saja merasa lemas meski pun mereka telah turun dari lantai 68 gedung itu.


Yola dipapah oleh Ilham yang masih merasa sedikit bersalah karena mengajak Yola berada di ketinggian seperti itu. Sesampai di mobil, Ilham tak langsung menghidupkan mesin mobil. Dia menatap Yola yang terlihat masih sedikit shock.


Ilham memberikan buket bunga itu lagi dan diterima oleh Yola dengan sedikit kasar.


"Maafkan Abang, ya ... " ucap Ilham sambil mengelus kepala Yola.


"Abang! Abang tau nggak, itu sama sekali nggak romantis!"


Ilham menghembuskan napasnya dalam- dalam.


"Iya, Abang minta maaf," ucapnya sekali lagi.


Ilham menggeleng- gelengkan kepalanya merenungi kebodohannya.


"Kalau ke Penang Hill, kamu mahu tak?" tanya Ilham lagi. "Kita melancong ke sana sahaja kalau Yola mahu."


Yola mengangguk.


"Kemana saja asal nggak kayak yang tadi," kata Yola.


"Taaak ... " sangkal Ilham.


Lalu, jadilah Ilham membawa Yola ke Penang Hill atau yang sering disebut Bukit Bendera itu.


"Kalau naik train, Yola sanggup tak?" tanya Ilham.


Yola mengangguk.


"Iya nggak apa- apa," jawab Yola.


Setelah membayar tiket keduanya pun ikut dengan pengunjung lain naik train menuju puncak bukit bendera.


"Macam mana, Yola suka, tak?" tanya Ilham begitu mereka tiba di atas.


Yola mengangguk senang.

__ADS_1


Dari atas Bukit Bendera Yola dapat melihat ke seluruh penjuru Kota Penang. Nun jauh di sana Yola dapat melihat hamparan laut yang airnya terlihat berkilauan ditimpa sinar matahari.


"Abang .... Di sini bagus sekali," katanya penuh kekaguman.


Ilham tersenyum senang. Sebenarnya tak ada hal romantis yang mungkin bisa dilakukan di sini. Bukit bendera ini adalah tempat umum untuk para pelancong dan keluarga untuk berwisata.


"Kamu mahu makan, tak?" tanyanya.


Persis dugaannya. Gadis itu mengangguk mengiyakan. Akhir- akhir ini, sejak mereka berada di Penang, nafsu makan Yola sepertinya lumayan meningkat. Selain menyukai cemilan, Yola juga kini banyak makan makanan berat. Dan lihatlah betapa lahapnya Yola memakan nasi ayam yang telah dipesan Ilham untuk mereka.


Usai menghabiskan makanan, Ilham membawanya memasang gembok cinta di sana.


"Ish, ish, ish ... Aku nggak percaya loh ternyata abang percaya ginian," ledek Yola.


Konon katanya jika memasang gembok cinta di pagar yang berada di sana, cinta kedua pasangan disana akan langgeng selamanya karena telah terkunci satu sama lain. Hal seperti ini juga ada di beberapa negara.


"Abang tak percaya takhayul macam tu. Ini hanya simbol kalau kite pernah kat sini. Di lain mase, apabila kits ke sini lagi, bolehlah kita tengok, apa ini masih ada di sini atau tak ade lagi," bantah Ilham.


"Ahhh, yang benerrrr?" goda Yola usil. "Tapi kelihatannya abang ngajak Yola pasang gembok di sini, karena abang berharap kita bersama selamanya, iya kan???"


Ilham tertawa. Dan merangkul tubuh Yola.


Usai keduanya berkeliling- keliling di sekitar Penang Hill, Yola terlihat mulai lelah.


"Abang, kita pulang sekarang, yuk ..."


"Sekarang? Oh, baiklah. Kite balik!" kata Ilham.


Untuk turun ke bawah, keduanya kembali bergabung dengan rombongan pengunjung lain menggunakan train. Yola dan Ilham berada di bagian depan train.


Perjalanan menuju bawah menggunakan train lebih mengerikan daripada saat mendaki tadi. Laju train yang kencang menuju ke bawah, menukin tajam membuat perut Yola bergejolak. Dia merasa mual yang teramat sangat dan berusaha menahannya sekuat dia mampu. Tak akan lucu kalau dia sampai muntah atau malah memuntahi orang lain di dalam train ini.


Maka begitu train itu berhenti dan pintunya di buka Yola segera berlari ke luar dan mencari tempat untuk muntah. Ilham mengejarnya.


"Hueghhhhh!!! Hoeeeghhh!!!"


"Sayang, Yola kau tak ape?"

__ADS_1


Yola tak sanggup menjawab. Isi perutnya terkuras habis semua, bahkan makanan yang baru saja dia makan, keluar bersama makanan lain yang mengisi lambungnya.


Adegan muntah itu berlangsung cukup lama dan menguras tenaga Yola. Keringat dingin bercucuran di tubuhnya. Tubuhnya seketika lemas dan itu jauh dari kata fit. Ini tidak seperti muntah karena mabuk kenderaan biasa.


Tak ingin istrinya merasakan sakit yang lebih parah dari itu, Ilham langsung berinisiatif membawanya pulang ke hotel. Namun sebelumnya dia membawa Yola mampir ke sebuah klinik dokter terlebih dahulu. Ilham merasa perlu membawa Yola berobat.


Di klinik, dokter wanita yang berusia lebih tua dari Ilham itu memeriksa Yolanda dengan seksama. Dia memeriksa detak jantung Yola dengan stetoskop, bahkan denyut nadi dipergelangan tangannya. Sebuah senyum tersungging di bibirnya. Lalu untuk memastikan diagnosisnya, dokter itu pun menyuruh Yola untuk menampung urinenya dalam suatu wadah plastik kecil.


"Sila adik ke tandas dahulu! Adik dapat menaruh air urine adik dalam wadah ni," katanya sambil menyerahkan wadah berbentuk mangkuk plastik kecil ke hadapan Yola.


Yola menatap Ilham. Perasaannya mulai tak enak manakala dia disuruh melakukan test urine oleh dokter itu. Firasatnya mulai menangkap hasil diagnosa dokter itu terhadapnya. Mungkinkan kalau dia ....?


Tidak, tidak, tidak! Jangan sampai itu terjadi. Jangan sampai, Tuhan! Aku belum siap! jerit Yola dalam hati.


Dan ketakutannya mulai terbukti saat dokter itu mengambil testpack dari dalam laci meja kerjanya. Dengan menggunakan spet, dokter itu mengambil beberapa milli air urin Yola dan menaruhnya pada lobang wadah pada testpack tersebut. Ilham juga serasa tak percaya kalau diagnosa dokter itu akan mengarah ke sana.


Semenit menunggu, dan apa yang ditakutkan Yola terjadi saat melihat senyum di bibir dokter itu ketika menunjukkan dua garis berwarna merah mudah berada pada testpack.


"Tahniah, Dik. Korang berdua akan menjadi orang tua," kata dokter yang mengira keduanya adalah calon orang tua baru.


"Maksudnya, Doc?" tanya Ilham yang sebenarnya sudah tahu tapi masih ingin memperjelas apa yang dia dengar.


"Isteri kau ni tak sakit. Saat ni dia tengah mengandung. Nanti untuk mengetahui usia kandungannya, saya boleh mengira dengan haid pertama menstruasi terakhirnya, atau kite juge boleh melakukan tindakan USG padanya. Tapi yang pasti dia mesti banyak- banyak rehat dan tak boleh merasa penat, dan kau mesti perhatikan ape- ape yang dia makan," kata dokter itu.


Yola merasa dunianya runtuh seketika. Dia hamil lagi, ya Tuhan .... Disaat semua masih kacau seperti ini.


Dan akhirnya tanpa menunggu dokter itu seleai bicara, Yola segera bangkit dari duduknya dan pergi dari sana. Dia tak sanggup lagi mendengar segala penjelasan dokter itu. Saat ini yang dipikirkannya hanya Mama dan Papanya.


Papa Abimanyu akan sangat marah besar kalau tahu dia hamil sekarang, terlebih- lebih saat tau kalau Yola telah rujuk dengan Ilham dan kini mengandung anak pria itu. Dan bagaimana dengan Mama Ratih? Akankah jantungnya akan kuat mendengar berita ini?


Yola merasa frustasi sekarang.


***


Gengs, kalian yang baca Jodoh dari Malaysia nggak dari awal, tolong donk baca dari episode awal, minimal scroll aja dari bab 1 sampai akhir tanpa putus.


Dan tolong juga buat kalian reader setia Jodoh dari Malaysia kasih bintang 5 donk di rating sebelah kanan bawah foto cover novel ini. Kemarin ratenya masih 4,8 tapi sekarang turun jadi 4,4. Kalau nggak mau ngasih bintang 5 minimal jangan menurunkan rating author donk ...

__ADS_1


Jangan lupa like dan komentarnya juga guys ....


__ADS_2