Jodoh Dari Malaysia

Jodoh Dari Malaysia
Akuisisi Perusahaan


__ADS_3

"Ammar, kasih tahu kakek bagaimana caramu membaca grafiknya," desak Abimanyu.


Ammar menatap kakeknya dengan kelopak mata berkedip- kedip, bingung, begitu pun Ratih.


"Hmmm? Bagaimana caranya?" tanya Abimanyu pada Ammar yang sedang duduk di sebelahnya.


"Caranya apa sih? Jangan bikin Ammar bingung deh, Mama aja nggak ngerti, apalagi Ammar," kata Ratih manyun.


Abimanyu memperlihatkan layar laptopnya pada Ratih.


"Ini mah, waktu Papa ada di KL, Papa kan bawa Ammar tuh ke hotel tempat Papa nginap. Eh, cucumu ini ngerti- ngertinya aja baca grafik saham. Tadinya Papa cuma mikir kebetulan kan, atau memang dasarnya ni anak memang cerdas atau punya bakat, eh pas Yola dan Ilham datang, Ammar tiba- tiba nangis kejer merengek- rengek minta dibelikan saham dari perusahaan PT. Surya Bersinar. Lah Papa cek itu perusahaan sedikit lagi bakal mati alias bangkrut. Papa nggak mau donk, tapi Ammar nangis makin kejer, jadi Mommy-nya Yola malah nurutin pengen beli beberapa lot saham. Murah sih cuma Rp. 750 per lembar saham, tapi Ammar nggak mau beli 1 lot atau 10 lot. Ya Tuhan, Ma. Cucumu minta dibelikan semua yaitu 500 lot. Eh, Papa nggak mau beli sebenarnya tapi Yola bersikeras ingin menyenangkan Ammar. Jadilah Papa keluar uang Rp.37.500.000. Katanya Yola mau gantiin. Tapi Papa akhirnya tolak daripada entar akhirnya Yola nuding Papa nggak sayang cucu dan Ilham nggak kasih ijin Papa bawa Ammar ke sini? Ya, kan?"


Sampai disitu Abimanyu masih menatap tak percaya pada laptopnya.


"Terus?"


Kini Ratih yang memandang cucu di hadapannya ini dengan pandangan menyelidik. Apa iya cucunya punya bakat seperti itu?


"Terus, ini saham melonjak naik harganya, Mah. Coba lihat! Bisa gitu naiknya drastis sampai. Tadinya 1 lot harganya cuma Rp. 75000. Kok sekarang harganya 1 lot sampai Rp.825.000. Ya Tuhaaaan, dapat untung berapa Papa ni?"


Abimanyu sibuk berhitung- hitung dengan jarinya. Sementara Ratih kini berpaling lagi pada cucunya.

__ADS_1


"Ammar, benar Ammar bisa baca grafik saham?" tanya sang nenek Uti.


Ammar tak terlalu tertarik pada pembahasan itu. Dia masih sibuk menghabiskan segelas susunya.


"Tak begitu pandai pun. Ammar hanye suke tengok Daddy kalau sedang bekerja kat rumah. Ammar perhatikan Daddy. Sikit- sikit Ammar paham pun. Sebab Ammar sering tanya Daddy. Daddy kate, Mommy Yola belajar di luar negeri belajar saham macam ni. Jadi kelak kalau Ammar dah dewase, Ammar mesti nak belajar ini juge baru Mommy Yola mahu kembali pade kite. Macam tu lah Daddy kalau bercakap dengan Ammar, Nek. Jadi Ammar pun boleh bantu Mommy dan Daddy nanti uruskan N- one nanti. Lepas itu Ammar pikir- pikir tak de salahnya pula Ammar belajar sendiri sahaja. Kalau boleh nak kerjakan sekarang untuk ape menunggu hingga nanti? Betul tak, Nenek?" jawab bocah itu dengan mimik dewasa.


Ratih jadi terharu pada cerita Ammar yang merindukan ibu kandungnya meski mereka telah berpisah semenjak Ammar masih bayi. Dan hatinya tiba- tiba sedikit melunak mengetahui kalau Ilham dan keluarganya selalu menjaga nama Yola di depan Ammar, agar bocah itu tidak membenci ibunya.


"Hmm betul, Sayang. Kamu betul sekali. Tak baik menunda- nunda pekerjaan. Nenek juga selalu ajarkan itu pada Mommy- mu," kata Ratih dengan nada penuh kebanggaan terhadap putri semata wayangnya, khususnya cucunya ini.


Abimanyu membiarkan istri dan cucunya itu larut dalam pembicaraan yang mengharukan. Segera dia meraih ponselnya untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada perusahaan PT. Surya Bersinar. Dia masih penasaran kenapa harga saham yang dibelinya pada perusahaan yang hampir bangkrut itu bisa mengalami kenaikan harga hingga ratusan kali lipat.


"Feb! Kamu dimana?" tanya Abimanyu saat panggilan telepin itu tersambung.


"Coba kamu cari tahu, apa yang terjadi dengan perusahaan PT. Surya Bersinar! Kenapa harga saham mereka melonjak naik harganya? Nanti kalau kamu sudah dapat informasi, kamu beri tahu saya apa yang terjadi!" perintah Abimanyu.


"Baik, nanti saya cari tahu, Pak!" jawab asisten itu.


Setelah mematikan panggilan teleponnya, Abimanyu pun kini berpaling lagi pada cucu kecilnya itu.


"Jadi, budak kecil! Kasih tahu kakek bagaimana caramu bisa memprediksi kalau saham di PT itu akan naik?" desak Abimanyu tak sabar.

__ADS_1


Ammar turun dari kursinya dan bergerak mendekati kursi kakeknya, Abimanyu. Tanpa canggung bocah kecil itu langsung naik ke pangkuan Abimanyu.


"Jadi macam ni, Kek!" kata Ammar mulai menggerak- gerakkan kursor laptop sang kakek.


Abimanyu mulai mendengarkan Ammar dengan seksama.


"Ammar pakai Simple Moving Average sebagai grafik untuk mengira rata-rata harga saham pada saat penutupan dalam sekian hari terakhir. Jadi Ammar tengok dan bandingkan rata- rata harga saham yang Atok kumpulkan selama 100 hari terakhir. Ammar tengok datanya ade di bagian my document di laptop Atok. Lalu Ammar cuba cari tahu pula rata- rata harga saham mereka tahun lalu, tahun sebelumnya, 3 tahun sebelumnya. Rata- rata harga sahamnya selalu berada di atas Simple Moving Average, Kek. Merek selalu uptrend di tahun- tahun itu dan hanye dua tahub belakangan sahaja syarikat mengalami downtren di bursa saham. Tak hanye itu, lagi Kakek tidur siang kat hotel, Ammar sebetulnya tak nonton Ejen Ali pun. Ammar cari tahu tentang persyarikatan PT. Surya Bersinar tu dengan aplikasi pencari tahu. Dan Ammar mendapat informasi kalau syarikat (perusahaan ) tu itu sedang dalam proses akuisisi oleh perusahaan besar dari Cambodia. Jadi Ammar minta kakek nak belikan Ammar semua saham yang tersisa di syarikat tu!" jawab Ammar dengan senyum cengengesan seakan yang dikatakannya itu adalah perkara kecil seperti membeli mainan anak- anak.


Ratih dan Abimanyu sampai menganga mendengar penjelasan bocah ajaib itu. Bagaimana tidak ajaib, umur Ammar bahkan masih jalan 7 tahun. Bagaimana bocah ini tahu semua hal tentang perusahaan bahkan saham sebanyak ini sedang hampir semua anak seusianya mungkin baru saja belajar mengeja huruf A-B-C dan D?


Abimanyu memandang laptopnya ke arah informasi yang ditampilkan Ammar dengan aplikasi pencari. Abimanyu sampai mengedipkan matanya sampai berulang- ulang kali masih tak percaya. Tulisan yang ditampilkan di layar laptop bahkan tidak menggunakan bahasa Inggris, Indonesia ataupun melayu. Hasil pencarian yang ditunjukkan Ammar mengeluarkan artikel berbahasa Kamboja yang Abimanyu tidak mengerti kalau saja Ammar tidak segera mengubahnya dalam translate berbahasa Indonesia.


"Jadi .... dengan kata lain, kamu telah membuat kakek mengakuisisi PT. Surya Bersinar dengan membeli 50% lebih dari keseluruhan saham mereka?" tanya Abimanyu masih tak yakin dengan apa yang dialaminya karena bocah ini.


Ammar tersenyum sumringah pada sang kakek dan membentuk ibu jari dan telunjuknya membentuk pistol dan menggerakkannya seakan menembak ke arah Abimanyu.


"BINGO!!!"


****


Wahhh, si Ammar ini memang ya gengs anak super jenius.

__ADS_1


Boleh donk author minta like dan koment yang lebih banyak lagi? Biar author rajin updatenya ....


__ADS_2