
Tring .... Tring ...
Ponsel Ilham berbunyi saat pesan chat dari Yola masuk ke dalam ponselnya.
Ilham yang tengah berunding dengan Leon tentang pembangunan proyek N-one di Penang, menyempatkan diri untuk membaca chat itu. Sedikit senyum tersungging di bibirnya ketika mengetahui kalau istri tercintanyalah yang telah membuat ponselnya itu berdèring.
[Abang, aku lapar. Aku mau makan pasembur]
"Dari siape?" tanya Leon meskipun dia sudah bisa menebak kalau Ketua Pengarah ini pastilah mendapatkan pesan dari Yola.
Siapa lagi orang yang bisa membuatnya tersenyum- senyum seperti orang gila seperti itu kalau bukan direktur marketing N-one itu.
"Tunggu sekejap," pamitnya pada Leon untuk membalas chatnya itu terlebih dahulu.
Leon mempersilahkan. Maka Ilham pun segera membalasnya.
[Budak comel Daddy nak pasembur? Nanti sepulang Daddy dan Mommy bekerja, Daddy carikan pasembur, Oke?]
Yola yang membaca chat itu di ruanganya jadi cemberut.
[Isss Abaaaang, aku laparnya sekarang, tau? Masa disuruh makannya nanti sepulang kerja? Keburu pingsan donk aku nanti? Aku mau sekarang, Abang! Yola mau sekarang!]
[Ya, sudah. Tunggu sekejap abang minta office boy untuk belikan pasembur untuk Yola, tak mesti Abang yang belikan langsung, kan? Abang mesti ade yang dirundingkan dengan Leon]
Ilham merengek dalam chatnya berharap Yola mengerti. Andai dia tak sedang banyak pekerjaan, dia pastilah tak keberatan mencari makanan apa pun untuk bumilnya itu.
[Hmmm ya sudah. Yola tungguin ya, Abang. Ini bukan Yola yang minta. Salahkan anak Abang kalau dia ngerepotin Daddy-nya]
[Iya, sayang. Tak mengape. Nanti kalau pasembur dah datang, Abang sendiri yang suap Yola makan, Ok?]
[Diiih.... Nggak gitu juga kali .... Memangnya aku budak kecil]
Ilham tertawa kecil mendengar balasan Yola sehingga Leon geleng- geleng kepala dengan ekspresi jijik melihat Ilham yang tingkahnya seperti anak ABG yang baru pernah kasmaran.
Masih dengan senyum sumringah, Ilham menelepon sekretarisnya untuk memanggilkan office boy.
"Mansyur, kau tahu tak dimane ade penjual pasembur dekat- dekat sini?" tanyanya pada office boy bernama Mansyur itu.
"Ade Tuan. Tak jauh dari sini. Hanye dengan 3 minit dah sampai pun kalau menggunakan basikal," kata OB itu.
"Kau belikan dua, Leon kau mahu tak?" tanya Ilham pada Leon.
"Tak. Aku akan makan siang dengan Nadira nanti," kata Leon sembari menunjukkan jam yang berarti waktu makan siang memang tidak akan lama lagi.
"Beli dua sahaja. Dan belikan juga rojak kalau ade," pinta Ilham pada Mansyur.
"Siap, Tuan Pengarah!" jawab pria itu.
Setelah Office Boy itu pergi Ilham pun segera melanjutkan perundingannya dengan Leon.
"Sampai mana tadi?" tanya Ilham. "Kenape kau tengok aku macam tu?"
Ilham mendelik pada Leon yang masih geleng- geleng tak percaya melihat sahabatnya itu.
"Aku tak percaye akhirnya tiba juga di mase aku harus melihat King Devil ini di mabuk cinte. Macam orang gile sahaja, senyum- senyum sendiri. Ini pula, pasembur tu buat isteri tercinta kau tu, kan?" katanya dengan tatapan sinis namun menggoda.
__ADS_1
"Hu uh, ape yang salah kalau aku dimabuk cinta dengan isteri aku sendiri?" tanya Ilham balik.
Di saat Ilham mengatakan itu, kedua lelaki itu tidak menyadari kedatangan Sonia yang tiba- tiba datang dan terlanjur mendengar perkataan Ilham. Hatinya langsung berbunga- bunga mengira kalau mabuk cinta dengan istri sendiri yang dimaksud oleh Ilham itu adalah pada dirinya. Siapa lagi kalau bukan dia, begitu pikirnya. Yola juga sudah akan menikah dengan Hafiz. Dan berarti kini Ilham telah membuka hatinya untuk Sonia. YaTuhan, ini anugrah yang luar biasa, jeritnya dalam hati.
"Tak de salah ape- ape. Hanya saje ini di luar kebiasaan Ketua Pengarah. Jadi betul ke kabar tu?" tanya Leon penasaran.
"Kabar ape?" tanya Ilham.
Leon mencondongkan dirinya ke arah Ilham dan berbisik.
"Berita tentang Yolanda pregnant tu, ape itu betul?" tanya pria itu dengan berbisik.
Meski mereka berdua sesama pria, tak urung membuat Ilham tersipu juga. Namun dia tetal mengangguk mengiyakan.
"Hmmm ...." jawabnya dengan deheman.
"Woaaaa .... Ketua Pengarah ni memang hebat sangat. Pejantan tangguh! Hahahayyy ..." goda Leon. "Jadi bila hal tu terjadi. Macam mana kau boleh menaklukkannya di ranjang. Bagi tahu aku, bagi tahu aku ...." desak Leon tak sabar.
Namun rupanya pembicaraan Leon dan Ilham itu semakin membuat Sonia menjadi salah paham. Wajahnya memerah mendengar pertanyaan Leon pada Ilham. Dan bagaimana pun ranjang bukanlah hal yang patut untuk diceritakan dengan orang lain.
"Ilham .... " Sonia langsung menyerobot masuk ke dalam ruang kerja Ilham untuk menyabotase pembicaraan itu.
Ilham dan Leon sendiri sangat terkejut dengan kedatangan Sonia.
Astaga, ape tadi dia mendengarnya? batin Ilham.
Di waktu yang bersamaan mereka saling bersitatap dengan Leon.
"Sonia, kau bikin ape di sini?" tanya Ilham tertegun.
"Tak de ape- ape. Aku nak kunjungi aku punya husband sendiri kat sini, ape ade yang salah dengan pasal tu?" jawabnya.
Ya Tuhan, di mendengarnya, batin Ilham.
"Tentu sahaja tak de yang salah, Mrs. Nirwan nih," balas Leon dengan kelakar. "Tapi kite masih ade yang perlu diperbincangkan pasal job."
"Tak ape, aku boleh menunggu kat situ!" kata Sonia menunjuk sofa.
Ilham mendengus kesal. Betapa sulitnya mengusir wanita ini, begitu pikirnya.
Dan akhirnya mau tak mau Ilham dan Leon pun kembali melanjutkan perbincangan mereka tentang proyek pembangunan di N-one Grocery Penang. Namun sesekali menyempatkan diri melirik Sonia yang tak menunjukkan niat untuk pergi dari sana sama sekali.
Tok!Tok!Tok!
Suara pintu diketuk, Ilham, Sonia dan Leon serentak menoleh. Mansyur, office boy yang tadi datang membawa dua bungkus pasembur serta perlengkapan makan piring, sendok dalam nampan dan dua botol air mineral.
"Ini pasemburnya, Tuan Pengarah," katanya setelah dipersilahkan masuk oleh Ilham. "Rojak tak ade. Habis pula."
Ilham mengangguk. "Tak ape. Sila ambil kembaliannya."
"Waaah, pasembur! Dah lama aku tak makan ni. Aku boleh minta satu? Aku lapar sangatlah, Ilham," rengek Sonia.
Kini dia mendekat kembali ke meja kerja Ilham.
"Tak boleh. Itu bukan buat kau. Itu ... buatku dan Leon," dusta Ilham.
__ADS_1
"Kau kikir sangatlah, Ilham. Leon, ambil ini buat kau," kata Sonia sambil menyerahkan piring yang diatasnya ada sebungkus pasembur.
"Aku .... hmmm. Baiklah, aku ambil. Tapi macam mana untuk Ilham?" tanya Leon sembari menerima pasembur itu setelah dapat pelototan mata oleh Ilham.
"Kami boleh bagi dua sahaja. Tak ape, kan Ilham?" jawab Sonia sekaligus bertanya pada Ilham.
"Tak payahlah macam tu. Kalian makan berdua sahaja. Aku tak lapar pun,"jawab Ilham mengalah. Toh nanti dia bisa belikan lagi untuk Yola.
"Eh, tak boleh macam tu. Kau pun mesti makan juga. Aku akan suapi kau," kata Sonia riang.
Sonia segera membuka bungkus pasembur itu. Sementara Leon dilema antara harus memakannya atau tidak. Dia tahu pasembur ini adalah milik Yolanda, bumil milik Ilham.
"Woow .... Nampak sedap sangat.," pekik Sonia setelah membuka pasembur itu. "Ilhaam .... aaaa ...."
Sonia menyodorkan sendok berisi pasembur itu ke mulut Ilham. Namun Ilham menolaknya.
"Ilham, cuba buka mulut. Ini sedap sangat! Aaa ...."
Lagi- lagi Ilham menggeleng.
"Tak Sonia, kau makan sahaja sendiri," tolak Ilham.
Sonia hampir putus asa membujuk Ilham agar ikut makan.
"Kalau kau makan beberapa suap, aku akan beritahu kau informasi penting tentang Mr. Y," katanya. "Aku baru sahaja melihatnya."
Ilham terperanjat.
"Dimana? Dimana kau melihatnya?"
"Kau makan dahulu. Biarkan aku menyuapimu," pinta Sonia.
"Sonia ...." protes Ilham.
"Beberapa suap sahaja. Lepas tu akan aku bagi tahu," kata Sonia. "Aaa ...."
Dengan terpaksa Ilham membuka mulutnya.
"Lagi ...."
"Lagi ...."
Sonia sangat bahagia bisa melakukan ini.
"Cukup Sonia," kata Ilham dengan mulut masih mengunyah.
"Satu lagi, sayang ...." bujuk Sonia.
"Wah, Ketua Pengarah dengan Mrs. Nirwan romantis sekali ... Apa aku mengganggu?"
Tiba- tiba Yola telah berdiri di depan pintu.
***
Kalau like dan komentnya dikit author malas update jadinya... ayo donk budayakan lime dan koment...
__ADS_1