
Rapat itu berakhir tak seperti yang diharapkan Lucas. Setelah berbicara sebentar dengan Yuri, menyuruh gadis itu untuk memantau situasi di N-one selama dia pergi. Tak ada sedikit pun kecurigaannya pada Yuri, bahwa gadis itulah yang mengkhianatinya, mengatur sedemikian rupa hampir 90% rencana untuk menjatuhkan Lucas dengan Indopenh Group sekaligus. Yuri hanya ingin lepas dari bayang-bayang masa lalu kelamnya termasuk menjadi pembunuh Tengku Yahya Nirwan dan ancaman Lucas yang selalu mengungkit-ungkit hal itu jika dia ingin mendesak Yuri melakukan seauatu.
Lucas mungkin tak pernah menyangka kalau ular yang dipeliharanya dari kecil hingga sebesar begini akan berbalik memangsanya. Tetapi setiap makhluk hidup pasti memiliki mekanisme pertahanan diri untuk melindungi diri sendiri dari hal yang mengancam jiwa dan raganya kan? Begitu pun Yuri, dia sadar cepat atau lambat segala kebobrokan Lucas pasti akan terbongkar juga. Dia tidak mau lagi terjebak dalam masalah seperti ini. Umurnya masih muda, masa depannya masih panjang. Yuri masih ingin melanjutkan dan menikmati hidupnya layaknya orang normal lainnya. Seperti Yola mungkin? Menikah dan memiliki keluarga kecilnya sendiri, suami dan tentu saja beberapa orang anak kecil yang lucu-lucu.
Membayangkan hal itu, pandangan Yuri beralih pada sosok Hafiz yang keluar dari ruang rapat bersama Ilham dan Yola. Tadi dia dan Lucas memang lebih dulu keluar dari meeting room. Mungkinkah sekelebat angan-angannya tentang pernikahan tadi bisa bersama Hafiz? Tetapi soal Tengku Yahya Nirwan, bagaimana kalau sampai mereka tahu kalau dia yang ...
"Hafiz!" panggil Yuri seraya menyongsong Hafiz.
Dengan senang ia lalu menghampiri Hafiz dan menggandeng lengan pria itu. Sungguh bahagia yang sederhana. Meski Hafiz belum mengikrarkan cinta secara spesial padanya, tetapi perlakuan lembut Hafiz akhir-akhir ini dan pengakuannya pada Ilham kalau dia mencintai Yuri, bukankah sudah menjadi bukti kalau pria itu memiliki rasa cinta padanya?
Yola dan Ilham saling pandang, kemudian ganti memandang Hafiz.
"Kau jadi ikut balik kat rumah tak?" tanya Ilham pada Hafiz.
Hafiz bersyukur Ilham mencoba menyelamatkannya dari si licik Yuri. Dari tadi dia berusaha menghindari gadis itu. Toh rencana mereka pun sudah berjalan dengan lancar. Jadi Hafiz sudah mulai malas harus berakting terus menerus berlagak peduli dan sayang pada gadis itu. Aslinya mah, Hafiz sudah eneg padanya. Tetapi dia sadar untuk beberapa planning lagi, mungkin dia masih membutuhkan bantuan gadis itu. Dan yang paling penting lagi, dia harus memperjelas kecurigaannya tentang Yuri yang mungkin saja punya keterlibatan dalam kematian Atok Yahya.
"Hafiz, setelah ini kamu mau kemana? Jalan, yuk? Aku udah lama ada di KL, tapi aku jarang-jarang bisa jalan-jalan. Nggak ada teman soalnya," rayu Yuri dengan nada dibuat-buat sok manja.
Itu membuat Yola yang sedang dirangkul oleh Ilham memutar bola dengan malas. Sejak kapan dia ngomong sok imut dan kecentilan begitu? Biasanya juga ngomong asal nyablak, cibir Yola dalam hati.
__ADS_1
Sama halnya dengan Hafiz. Sebenarnya dia juga tidak percaya pada Yuri. Tidak pernah jalan-jalan katanya? Astaga, terus saat dia mabuk kemarin, Yuri menemukan dia di club malam dalam keadaan mabuk karena patah hati karena Yola, apa itu namanya kalau bukan Yuri pergi jalan-jalan ke night club dan tidak sengaja bertemu dengan dirinya? Atau sebenarnya itu bukan kebetulan? Apakah dia memang sengaja mengikuti Hafiz dengan niat tertentu dan menjebaknya agar Hafiz mau menikahinya.
Nah kan? Hafiz menjadi punya kecurigaan lain. Begitulah kalau sekali kepercayaan seseorang dipermainkan, seumur hidup pun orang tidak akan mau percaya lagi. Begitu pun dengan dirinya.
"Yuri, maafkan aku, tak dapat bawa kau pusing-pusing dahulu hari ni. Aku nak balik kat rumah Atok dahulu, nak jumpa Mamah dan Ammar juge. Dah lebih sepekan tak ke jumpa mereka," tolak Hafiz. "Kau balik seorang (sendiri) tak ape, kan?"
Tentu saja selain ingin berjumpa Mamah Zubaedah dan Ammar, orang yang sangat ingin dijumpai Hafiz adalah Putri. Orang yang sengaja dia ingin melakukan pendekatan pada sepupunya Yola itu, sehingga meminta Ilham untuk membujuk Mama Ratih untuk merayu Mamanya Putri agar mengijinkan Putri datang ke Kuala Lumpur. Sungguh suatu proses pendekatan yang tak mudah.
"Ohh, begitu?" Yuri agak kecewa mendengarnya, namun tak lama senyumnya kembali mengembang saat dia memiliki ide sendiri. "Kalau begitu aku ikut aja gimana? Aku belum pernah datang secara resmi berkunjung ke sana. Yang pertama dan terakhir kali ya pas kebakaran itu. Boleh ya, Ndut? Yola? Bang Ilham?"
Yola dan Ilham saling pandang sejenak. Ilham pun menyadari kalau gadis perampok apartemennya ini masih berguna sebagai alat untuk menjatuhkan Lucas. Dan Hafiz pun telah menceritakan kecurigaannya pada Ilham tentang Yuri yang tidak sengaja keceplosan menyebutkan informasi Atok Yahya yang menyebut tentang Montha Somnang yang masih berada di dalam kapal.
"Ehmm, boleh sahaja," jawab Ilham.
"Abang!" protes Yola.
Yola keberatan. Dia tak lagi menyukai Yuri apa pun alasannya, meski gadis itu adalah mantan sahabatnya sedari kecil.
"Kite akan masak-masak dan makan-makan bersama kat rumah untuk rayakan keberhasilan kite hari ni. Semua ni berkat jerih payah Yuri juge, dan dia patut diberi reward dan apresiasi," jawab Ilham sembari mengerling pada Yola, memberi kode pada istrinya itu, berharap Yola tak lagi menunjukan penolakan pada Yuri.
__ADS_1
"Terserah kalian aja deh!" jawab Yola yang tak bisa dipungkiri dia kurang setuju dan dia sebal pada Yuri.
Hafiz pun nampaknya punya pemikiran sama dengan Yola. Selain dia memang sedang tidak ingin berakting menjadi kekasih Yuri, kehadiran Yuri bersamanya nanti pasti akan membuat Putri semakin salah paham padanya. Padahal Hafiz bahkan belum berkesempatan datang pada Putri dan menjelaskan kalau tak ada apa-apa antara ia dan Yuri. Ahhh, gadis itu pasti sudah mencap dirinya pria brengsek saat ini.
Tetapi lagi-lagi demi menjamin sandiwara mereka tetap total dan tidak menimbulkan kecurigaan Yuri, pada akhirnya Yuri tetap ikut mereka ke rumah keluarga Gunawan. Kedatangan mereka disambut dengan kurang bersahabat oleh Mamah Zubaedah yang tahu masalah perampokan apartemen yang dilakukan oleh gadus di hadapannya ini yang tak lain dan tak bukan adalah sahabat dari menantu kesayangannya, Yolanda.
Tetapi Ilham segera menarik sang Mama menjauh dari Yuri dan mencoba menjelaskan secara singkat kenapa Yuri bisa ikut dengan mereka dan Mama Zubaedah tak perlu melakukan apa-apa selain untuk tetap diam dan tidak perlu melakukan penolakan terhadap Yuri.
Putri yang tahu Yola dan Ilham datang bersama Hafiz dan Yuri, memilih untuk tidak ikut bergabung dan bermain ponsel di kamarnya. Dia agak sedikit menyesal datang ke sini. Dia merasa ingin pulang tetapi dia merasa tidak enak pada Yola dan Ilham. Dan juga bukankah dia ke sini berencana sampai Yola lahiran? Apa jadinya kalau dia pulang duluan? Mama papanya dan Tante Ratih akan curiga ada yang tidak beres selama dia berada di Kuala Lumpur. Padahal ini murni hanya karena masalah hati.
Di malam hari saat Ilham, Yola, Yuri dan Hafiz dan ada Ammar juga sedang bakar-bakar ayam di samping rumah, dari balik, Sonia yang sudah lama sakit dan saat ini sedang berada di kursi roda menunggu salah seorang asisten rumah tangganya memberinya makan, entah punya kekuatan dari mana bisa menggerakkan kursi roda itu pelan menuju ke jendela. Suara berisik dan canda tawa mereka membuat Sonia tertarik melihat suasana di luar, di samping rumah itu.
Dia melihat seseorang yang lain namun tampak familiar berada di antara Ilham dan Yola. Tak cuma tubuh, ingatannya pun melemah sekarang. Tapi tunggu ... bukankah wanita itu yang dia lihat hari itu? Wanita yang hampir masuk melewati jendelanya, namun nampaknya salah kamar? Dan ... bukankah itu tak berselang lama dengan kejadian di hari Tengku Yahya Nirwan meninggal? Atau, apakah itu hari yang sama?
Sonia berusaha mengingat-ingat lagi. Ingatannya sungguh payah!
*****
Like dan koment ya teman-teman reader!
__ADS_1