
"Sayang, kamu yakin masih kuat bawa mobil?" tanya seorang wanita pada kekasihnya. Saat ini mereka sedang berada di sebuah klub malam.
Lelaki itu kelihatannya sedang mabuk, terlihat dari jalannya yang mulai sempoyongan.
"Kita ke hotel aja atau ke rumah kamu aja nih?" tanya wanita itu.
"Jess, kita ke rumahku aja, Sayang!" sahut lelaki itu di tengah-tengah mabuknya.
Sementara si wanita tetap memapah prianya dengan jalan yang sama sempoyongan menahan berat badan pria itu agar tidak jatuh.
"Memangnya nggak apa-apa? Maksudku gimana kalau dia nanti lihat?" tanya p
wanita yang dipanggil Jess itu.
"Siapa maksudmu? Eva?" tunjuk pria itu pada pacarnya. Kemudian dia tertawa terkekeh, padahal tak ada yang lucu sama sekali.
Jessica nama wanita itu mengangguk.
"Kenapa kamu harus mikirin perempuan nggak penting itu? Kamu tahu sendiri kan kalau bukan karena ingin menuruti kemauan ayah, aku tidak akan sudi menjalin hubungan dengan perempuan itu. Dan kamu tahu sekarang, gara-gara keluarganya itu, ayah sampai menjadi buronan polisi tiga negara, Kamboja, Malaysia, dan Indonesia. Sial banget nggak tuh perempuan. Udah gitu nggak berguna sama sekali, hahahaa. Sampah! Bahkan di dalam keluarganya sendiri pun dia itu tak berguna. Bayangkan aja, nama dia aja, bisa direbut anak bapaknya dari istri yang sah! Namanya juga anak haram ... jadah!!" umpatnya. "Betul-betul tak berguna! Sam- pah!!!! Hahahaha!"
Di balik sebuah mobil Eva terlihat mengepalkan tangannya dengan geram. Tadinya dia tidak begitu yakin tentang foto-foto yang ditunjukkan Yola padanya. Karena itu dia sengaja pulang ke Indonesia, ingin mendatangi kekasihnya Martin, berharap mendapat penjelasan tentang semua ini. Tak menemukan Martin di rumahnya, dia segera pergi ke klub malam tempat Martin biasa pergi hang out dengan dirinya. Tapi dia tak menyangka pemandangan seperti ini yang akan dilihatnya. Martin sejak dari dalam klub memang terlihat menggandeng mesra perempuan itu. Perempuan yang sama dengan yang di foto itu. Tak hanya itu, hatinya juga sakit dengan segala kata-kata hinaan Martin terhadapnya.
"Ssstttt .... pelan-pelan ngomongnya. Kalau semisal dia dengar gimana?" tanya Jessica lagi.
"Nggak mungkin! Dia sekarang ada di Malaysia! Di ungsikan oleh lelaki, suami wanita itu ke ... mana? Aduuuh lupa aku namanya. Alor ... Kelor???" Martin dengan mabuknya mencoba mengingat-ingat nama kota tempat Eva ditempatkan N-one untuk bekerja. "Alor Setar ... iya, Alor Setar! Bodoh sekali! Dia bahkan terjebak permainan suami dari adik perempuannya yang beda bapak itu. Si- siapa namanya ya? Il-ham? Iya, iya. Ilham namanya. Eva itu gadis bodoh! Kenapa tak rayu saja pria itu, perempuan idi-ot!!"
Martin terus saja mengoceh.
"E- va i-diot!"
Eva memejamkan matanya menahan geram. Ingin rasanya saat ini dia menghunjam lelaki itu dengan pisau paling tajam di muka bumi. Sedih?? Bahkan kesedihannya bisa tertutup oleh amarahnya. Dengan Yola yang tak tahu pasal muasal hubungan rumit orang tuanya saja, dia bisa sangat benci pada adiknya itu, apalagi pada seorang Martin yang dengan mata kepalanya sendiri dia mendengar langsung pria itu menghina, menghujat dirinya di depan wanita lain. Lelaki itu! Sumpah, dia benci sekali.
Lalu hingga ke rumahnya Martin, Eva tetap mengikuti mereka. Benar-benar tak ada keraguan sekarang! Martin benar-benar telah mengkhianatinya dan juga mempermainkannya. Martin brengsek!!
Masih di dalam mobil, Eva pun menelepon Yola.
"Oke deh, aku bantu kalian untuk memanfaatkan Martin untuk menjebak bapaknya!" kata Eva mantap.
Butuh beberapa menit bagi Yola untuk dapat mencerna kata-kata Yola, hingga kemudian Yola bersuara lagi.
"Serius Kak?" tanya Yola di telepon.
"Nggak usah panggil gua kakak. Malas banget dipanggil kakak sama Lo!" jawab Eva jutek.
"Kamu pasti baru dari club malam ni," tuduh Yola.
"Kok Lo tau?" tanya Eva heran.
"Karena kamu manggil Lo, Lo, Gue, Gue ... Terus, terus gimana?" tanya Yola.
"Aku akan bantu kalian entar, tapi kami harus pastikan si Martin itu pun ikut menanggung akibatnya. Aku nggak mau tau pokoknya. Aku benci dia!!" jerit Eva di dalam mobil.
"Iya, iya, oke, oke. Nanti kita pikirin dulu gimana caranya. Tapi ngomong-ngomong kamu datang dulu deh ke sini. Tiga hari lagi aku ada acara 7 bulanan, kamu datang ya ..." undang Yola.
"Ogah gue ikut acara emak-emak. Paling juga pengajian. Ihh, nggak gaul banget acara begituan," ledek Eva.
"Kamu tuh sadar umur! Udah usia 28 tahunan masih aja betah ngebocah. Aku aja udah mau punya anak dua. Seumur kamu itu harusnya udah punya anak tiga atau empat. Tau nggak Lo!" Yola balas mengejek.
"Berisik!!!" sahut Eva.
"Pokoknya kamu datang pokoknya. Ditunggu ya, Aunty Eva!" panggil Yola pada Eva.
"Aunty apa ...."
"Tante, maksudnya norak! Itu pun tak tahu. Kalau Ammar tahu aunty-nya begini pasti diledekin tuh," kata Yola.
"Ammar siapa?"
"Anakku. Udah! Pokoknya datang deh kamu, ya? Awas kalau nggak datang!" Yola pun menutup panggilan telepon itu.
****
__ADS_1
Dua hari kemudian,
"Nenek Utiiiii!!!"
Ammar begitu senang melihat siapa yang datang kali ini. Ada nenek Ratih dan Kakek Abinya yang datang dari Jakarta istimewa untuk menghadiri acara tujuh bulanan sang Mommy.
"Ohhh, cucu nenek!" Ratih menyambut pelukan hangat Ammar yang telah tidak ditemuinya selama lebih dari dua bulanan ini.
"Nenek datang sini tak bagi tahu Ammarlah," protes bocah itu.
"Surpriseeeee!!!" jawab Ratih atas protesan cucunya itu. "Kenapa? Ammar nggak senang ketemu nenek ya?" Ratih memasang wajah pura-pura kecewa.s
"Tak macam tu lah, Nek. Kalau Ammar tahu nenek datang hari ini, Ammar mesti jemput kat airport bersama datuk driver, tak payah nenek dan kakek bersusah-susah datang naik taxi," kata Ammar.
"Nggak apa-apa, Sayang. Nenek tak mau menyusahkan," kata Ratih sambil mencium gemas pipi cucu sulungnya itu.
"No kissing, Nek. I'm not kid anymore," protesnya sambil cemberut.
"Hey, baru dua bulan aja nggak bertemu nenek, udah nggak mau dicium. Nggak rindu sama nenek ni." Ratih balas protes.
Yola tertawa melihat perdebatan kecil nenek dan cucu itu.
"Dia memang nggak mau lagi dicium, Ma. Udah jadi Abang katanya," kata Yola.
"Hahaha, iyakah. Baiklah, nenek nggak cium Ammar lagi deh. Nenek peluk sayang mommy aja," kata Ratih sambil berdiri dan memeluk Yola. "Bumilnya Mamaaaaaa, uhhhhh!"
"Ihh, Mama apaan sih?" Yola terkekeh melihat tingkah Ratih yang terlihat sedang memanas-manasi Ammar yang dibalas cengiran khas bocah cucunya itu. Ratih bahkan menciumi pipi dan kening Yola. "Apa kabar, Sayang? Kamu sehat? Cucu Mama sehat?"
Ratih mengelus-elus perut buncit Yola.
"Alhamdulillah sehat aja, Ma," jawab Yola.
"Dedek utunnya rewel nggak? Masih suka muntah?" tanya Ratih lagi.
"Nggak sih, cuma ya ini kaki Yola suka bengkak," adu Yola sambil menunjukkan kakinya yang bengkak pada sang Mama.
"Kebanyakan makan yang asin-asin palingan kamunya. Kurangi garam donk, entar kayak mamah, gimana? Hipertensi terus larinya ke jantung. Mamah aja sekarang kurangi garam di rumah tuh, sampai papah sering protes, hahaha," gelak sang Mama.
"Apa kabar Papa?" tanya Yola dengab wajah cemberut pada Abimanyu. Dia masih terbawa kesal pada ayahnya itu.
"Sehat, kamu gimana, Sayang? Ilham mana?" Abimanyu tampak mencari-cari menantunya yang sedari tadi terlihat batang hidungnya itu.
"Yola sehat. Abang masih di kantor, entar malam baru pulang kayaknya. Mamah sama papah, masuk yuk, ada Mamah, Putri dan Andini di dalam," kata Yola melaporkan.
"Serius yang kamu bilang di chat, kalau Andini udah ditemukan?" Ratih masih tak percaya pada informasi yang diberikan Yola padanya.
"Hu um, ada di dalam dia, Ma. Masuk makanya. Papa juga, yuk!" ajak Yola sembari bergelayut manja di antara sang Mama dan Papanya. Ammar pun tak lupa ditarik oleh Ratih ke dalam rangkulan tangannya.
Ratih sangat penasaran pada Andini yang hilang puluhan tahun yang lalu di rumahnya. Andini yang membuat putrinya Yola menjadi tawanan selamanya di keluarga Nirwan ini. Tetapi untungnya Yola sekarang bisa hidup dengan bahagia, kalau tidak sudah pasti dia akan mencak-mencak pada gadis itu, memaksanya untuk memberi tahu dimana orang tua angkat gadis itu yang membuat putrinya Yola harus menikah di usia yang sangat dini.
"Mamah!" panggil Yola pada Zubaedah sang mertua yang sedang sibuk membantu persiapan acara walimatul haml yang akan diadakan besok untuk Yolanda.
Zubaedah menoleh.
"Eh, Dik Ratih? Kenape baru datang sini sekarang? Kakak sangke Korang tak akan datang lagi," sambut Zubaedah.
Kedua orang besan itu saling berjabat tangan, berpelukan, hingga mencium pipi kanan dan kiri masing-masing. Hingga Zubaedah dan Abimanyu saling berjabat tangan.
"Ah, kakak ini.Nggak mungkinlah kami nggak datang, bisa ngambek entar anak semata wayang," cibirnya menyindir Yola.
"Mama!" protes Yola.
"Memang tukang ngambek, kan?" balas Ratih tak peduli.
"Iss, Mama nggak asyik, ngatain aku tukang ngambek, padahal yang salah Mama dan papa tuh," tuding Yola.
"Mana Putri?" tanya Ratih.
"Ade, tadi dia ade bersama Dini, lah. Putriii!!! Diniiii!!!" panggil Zubaedah.
Tak kunjung ada jawaban dari keduanya, Zubaedah pun menyuruh asisten rumah tangga untuk memanggilkan.
__ADS_1
"Mana Dini sama Putri tadi? Panggil kat sini, ada mama dan papanya Yola datang," kata Zubaedah.
"Oh, tadi saye tengok kedua gadis-gadis tu ade di bilik belakang tolongkan Makcik Saripah, siapkan pinggan-pinggang yang diperlukan untuk esok," kata salah seorang ART yang usianya masih lumayan muda itu.
"Kau panggilkan dua orang tuh, suruh kat sini berjumpa Mamanya Yola," kata Zubaedah.
"Baik, Puan," jawab wanita itu.
"Tunggu sekejap, hmm?" katanya pada Ratih dan Abimanyu yang disahuti oleh Ratih segera.
"Sila Dik Ratih, dan Dik Abi duduk dahulu, pasti penat ye, baru turun dari plane," tebaknya sambil mempersilahkan duduk.
"Ah, iya. Atau nak rehat dahulu ke kat bilik?" tanyanya lagi.
"Ahh, nggak kok. Nanti aja. Kami djsini aja dulu," kata Ratih. "Papa mau istirahat di kamar?" tanya Ratih pada Abimanyu.
"Di sini aja dulu," kata Abimanyu.
Kedatangan kedua besannya tak lantas membuat Zubaedah meninggalkan aktivitasnya. Dia permisi untuk mengawasi orang-orang yang bekerja untuk mempersiapkan acara tujuh bulanan untuk menantunya besok.
"Yola, kau kawani mamah dan papah kau sekejap kat sini. Mamah teruskan pekerjaan Mamah dahulu sekaligus Mamah cari Andini dan Putri tuh dahulu. Kemanalah dua budak-budak tu pergi, hmm? Nampak serasi dan seronok berdua tu berkawan tampaknya Mamah tengok," gerutu Zubaedah.
Yola hanya tertawa kecil.
Hingga beberapa saat berlalu, Andini dan Putri belum terlihat datang menemui Mama dan Papanya. Asisten rumah tangga yang disuruh memanggil itu pun tak kelihatan batang hidungnya. Yola pun bangkit dan ingin mencari sendiri keduanya, namun urung saat asisten rumah tangga yang tadi datang dari arah pintu depan.
"Nur, mana Putri sama Dini? Ditungguin loh dari tadi? Bukannya tadi kamu ke belakang ya? Kok sekarang datang dari depan?" tanya Yola.
"Hehehe, Kak. Saye berpusing dari belakang, menuju samping ke depan pula, tak berjumpa dengan Kak Putri dan Kak Andini," kata gadis itu.
Usianya memang masih muda, namun dia telah jadi asisten rumah tangga di rumah keluarga Nirwan, untuk membantu perekonomian keluarganya bersama sang ibu yang juga bekerja di rumah ini.
"Oh, begitu. Terus mereka kemana, donk?" tanya Yola.
"Entah," jawab gadis itu. "Saye tak berjumpa dengan kedua orang kakak tu. Saye malah berjumpa dengan kakak yang lain lagi," katanya melaporkan.
Yola mengernyitkan keningnya. Kakak yang mana lagi maksudnya?
"Kakak yang mana lagi, Nur?" tanya Yola tak paham.
"Entah, dia kate dia kakaknya kakak Yola, saye disuruh panggilkan kakak. Dia dah tunggu di depan," imbuh gadis itu lagi.
Siapa ya? Ahhh ... Yola membekap mulutnya sendiri saat sadar yang dimaksud oleh ART itu adalah Eva. Bukannya dia sendiri yang mengundang Eva datang ke acara tujuh bulanannya? Ah, bisa berabe ini mah! Mana disini ada Mama Ratih, bisa-bisa Mama Ratih langsung menerkam Eva kalau begini caranya.
"Siapa?" tanya Mama Ratih cepat tanggap.
Nah kan benar? Ruwet ini urusannya. Yola tahu Mama benci Eva dengan mamanya. Dan sialnya saat dia menyuruh Eva datang ke acara tujuh bulanannya, dia lupa memperhitungkan Mama.
"Entar deh, aku datangin. Dia ada di depan, kan?" tanya Yola memastikan.
"Hu um," jawab Nur mengiyakan.
Yola segera bangkit dari duduknya dengan sedikit kesulitan, hingga Ratih merasa perlu untuk membantu putrinya itu berdiri.
"Bisa nggak? Perlu bantuan Mamah ke depan nggak nih?" tanya Ratih menawarkan.
"Nggak, Ma, nggak perlu. Mama tunggu aja di sini," kata Yola.
Lalu setelah Yola berhasil bangkit dengan terburu-buru dia pun ke depan ingin menemui Eva. Benar saja, wanita itu ada di sana.
"Kakak, kamu datang? Kita ngobrol di samping aja, yuk!" ajak Yola buru-buru sebelum Mama Ratih keburu memergoki Eva ada di sini.
"Nggak nyuruh aku masuk nih?" sinis Eva.
"Anu, pengen sih ... tapi di dalam ada ...."
Belum sempat Yola mengucapkan kata-katanya, tak di sangka kalau Ratih tiba-tiba telah berada di ambang pintu.
"Kamu!!! Apa yang kamu lakukan di sini!!!" bentaknya pada Eva.
****
__ADS_1
Yaaah... Jangan lupa like dan komentarnya ya Beib ...