Jodoh Dari Malaysia

Jodoh Dari Malaysia
Amarah Lucas


__ADS_3

"Makcik, biar aku bantu cuci piringnya," kata Putri sambil merebut sponge cuci piring dari salah seorang makcik asisten rumah tangga.


Putri baru saja selesai makan malam dengan Zubaedah, mertua dari sepupunya itu


"Ahhh, Putri tak payah. Putri balik sahaja ke bilik depan. Kawani sahaja Puan Zubaedah menonton televisyen (televisi). Pinggan ni sikit je, tak perlu pertolongan," tolak makcik itu sambil tetap melanjutkan pekerjaannya.


"Justru karena sedikit, Makcik. Biarkan aku yang mencucinya, hmm?"


Putri terus memaksa ingin mencuci piring itu sehingga mau tak mau makcik ART itu terpaksa mengabulkan permintaannya.


"Saye akan ditegur Puan Zubaedah kalau tahu Putri cuci piring macam ni," keluhnya.


"Ahhh masa sih? Kelihatannya makcik Zubaedah nggak gitu deh. Makcik Zubaedah kan baik orangnya. Masa cuma gara-gara Putri bantuin cuci piring, makcik jadi ditegur? Nggak percaya aku," bantah Putri ngeyel.


"Tetapi Putri kat sini adalah tamu. Tak baik tamu di perbolehkan bekerja kasar macam ni kat dapur," keluh makcik ART itu lagi.


"Idiiih, siapa bilang Putri di sini cuma tamu. Orang makcik Zubaedah yang bilang anggap rumah sendiri, kok. Di rumah Putri di Palembang, Putri juga ngerjain tugas rumah kok, termasuk nyapu, cuci baju dan cuci piring juga. Karena disini Putri sudah dianggap keluarga dan disuruh anggap rumah sendiri, nggak apa-apa donk makcik kalau Putri cuci piring, iya kan?" Lagi-lagi Putri masih ngeyel.


"Kalau macam tu makcik menjadi bingung nak buat ape ni kalau semua pekerjaan direbut oleh Putri," keluh sang ART.


Putri terkekeh, "Makcik aja yang kembali ke depan lebih dulu. Nanti Putri habis ni nyusul," janjinya.


"Betul ke?"


"Betul makcik. Jangan khawatir," jawab Putri dengan senyum tulus.


Lalu sang makcik ART pun akhirnya menuruti kata-kata Putri.


"Kalau macam tu makcik ke depan lebih dulu. Makcik nak kawani Puan Zubaedah dan Ammar menonton sahaja. Puan pasti kesepian kerana Ilham dan Yola mase ni tak ade kat sini," kata sang Makcik ART.


Salah satu kemurahan hati yang keluarga Nirwan miliki salah satunya adalah ini. Mereka pada asisten rumah tangga memperlakukannya bagai keluarga sendiri. Tak jarang mereka dan para ART itu makan di meja makan yang sama, atau menonton televisi di ruang keluarga bersama-sama, meski pun kadang mereka para ART sering merasa sungkan dan memilih untuk tetap menjaga batasan mereka antara ART dan majikan. Bahkan pada Ilham, Hafiz dan Yola, mereka hanya memanggil nama seperti anak-anak cucu keluarga Nirwan, adalah anak keponakan mereka sendiri. Tak ada istilah Tuan Ilham, Tuan Hafiz, atau Tuan Muda. Hanya nama. Dan memang Ilham, Hafiz, Yola lebih senang dipanggil dan diperlakukan seperti itu.


"Hmm, oke Makcik. Kalau ini sudah selesai, nanti aku menyusul," kata Putri.


Makcik ART itu pun pergi dan Putri melanjutkan kembali cucian piringnya.


Putri adalah anak bungsu di keluarganya dan perempuan satu-satunya. Sama dengan Yola, dia manja pada orang tuanya. Tetapi bukan berarti dia tak mengerti urusan pekerjaan rumah tangga. Sang Mama selalu mendidik putrinya untuk menjadi perempuan yang telaten mengurus urusan rumah tangga. Termasuk dengan urusan dapur seperti ini. Mamanya selalu bilang dia hanya memiliki satu putri yang kelak akan disunting keluarga lain untuk dijadikan menantu.


Dia tak ingin putrinya diremehkan oleh keluarga suaminya kelak karena tak mengerti masalah pekerjaan rumah. Oleh karena itu mendidik Putri menjadi ibu rumah tangga sejati selalu menjadi prioritas bagi sang Mama. Apalagi saat Putri akan berangkat ke Kuala Lumpur menemani Yola hingga melahirkan, wanita itu tak henti-hentinya mengingatkan Putri untuk tidak bermalas-malasan di rumah orang lain. Apalagi itu di rumah mertuanya Yola yang notabene sang Mama juga tahu bukan tidak mungkin putrinya juga bakal jadi menantu di keluarga itu, keluarga Nirwan. Bukankah katanya Hafiz ingin menikahi Putri?


Permintaan Ratih yang katanya dimintai oleh menantunya Ilham, agar Putri dibolehkan menemani Yola hingga melahirkan, Mamanya Putri bukannya tidak mengerti, kalau itu hanya alasan mereka untuk mendekatkan Putri dan Hafiz. Dia sangat paham. Oleh karena itu sebelum berangkat Putri diwanti-wanti untuk tidak berpangku tangan di rumah mertuanya Yola. Selain agar Yola tidak malu, juga untuk tidak meninggalkan kesan jelek bagi keluarga Nirwan.


Hanya tersisa berapa piring kotor lagi, saat Putri merasa sebuah tangan besar menyentuh rambutnya dan mengumpulkannya dalam genggaman. Putri terkejuut setengah mati.


"Hey, tenang sikitlah. Ini abang. Abang nak ikat rambut Putri supaya terlihat elok," bisik Hafiz di belakangnya, membuat bulu-bulu halus di tengkuk Putri meremang.


Hafiz ini memang paling ahli membuat Putri menjadi sport jantung.


"Tapi aku lagi ...."


"Diam sekejap ...."


Hafiz mengumpulkan rambut Putri dalam satu genggaman dan menggulungnya tinggi hingga membentuk cepol, kemudian dia mengikat rambut itu dalam beberapa kali lilitan. Putri sampai mematung dengan tangan dipenuhi busa sabun.


Mereka tak tahu saat itu ada Mama Zubaedah yang memperhatikan keduanya. Zubaedah tak mengganggu. Niatnya ingin membuatkan susu untuk Ammar diurungkannya untuk sementara waktu. Biarlah, toh keduanya tidak melakukan hal-hal melewati batas di situ. Dan Zubaedah bersyukur putranya Hafiz bisa move on dari Yola. Dengan siapa pun itu asal wanita itu wanita baik-baik, dia akan mendukung pilihan Hafiz. Apalagi dia tahu Putri adalah sepupu Yola, tentu hubungan Hafiz dan Putri pun pasti akan dia suport.


"Dah selesai. Cantik!" puji Hafiz.


Putri hanya tersipu malu, lalu melanjutkann tugasnya mencuci piring.


"Pakai ikat rambut siapa?" tanya Putri baggai tak punya bahan lain lagi untuk ditanyakan.


"Beli," jawab Hafiz singkat. Kini dia bersandar di sebelah kompor sambil tetap memperhatikan Putri yang sedang mencuci piring.


"Dimana?"


"Kat mall."


"Ohh seharian kamu jalan ke mall ... sama siapa?"


Aduh, pleaase deh Putri buat apa kamu nanya-nanya nggak penting gitu? Entar Hafiz mikir kamu posesif gimana? rutuk Putri dalam hati.

__ADS_1


"Yuri."


"Ohh ..."


Putri tertegun dibuatnya. Air wajahnya langsung berubah. Sementara Hafiz memang sengaja ingin melihat Putri cemburu.


"Kenape? Kau cemburu?"


"Nggak."


Putri selesai mencuci piring dan menelungkupkan sendok dan gelas terakhir pada tempat penirisan air di dekat bak cuci piring. Setelah mengelap tangannya dengan handuk kecil yang tergantung di salah satu sisi dinding, Putri berniat meninggalkan Hafiz.


Hafiz sudah menceritakan tentang hubungannya sebelumnya dengan Yuri pada Putri, tetapi mengetahui pria itu hari ini jalan-jalan di mall dengan gadis yang merupakan temannya Yola itu tak urung membuatnya tetap sakit hati juga.2


"Putri ..." panggil Hafiz.


Hafiz segera mengejar gadis yang sekarang telah menjadi tambatan hatinya itu. Putri kelihatannya merajuk, membuat Hafiz menjadi geli sekaligus senang melihatnya.


"Dengarkan abang dahulu," Hafiz meraih pundak Putri yang sedang berjalan menuju kamarnya.


"Apa sih?" gerutu Putri dengan judes.


"Kau nak kemana?" tanya Hafiz.


"Tidur. Ngantuk!" Tak kalah jutek kini Putri lanjut berjalan lagi.


"Masih jam lapan (delapan) ni," kata Hafiz sambil menunjukkan jam tangannya.


"Terus? Memang jam delapan nggak boleh tidur?" balas Putri sebal.


"Ikut abang. Kite bercakap-cakap di depan sahaja," kata Hafiz sambil menarik Putri menuju ke teras.


Mereka sempat melewati ruang keluarga tempat Zubaedah menonton.


"Hafiz, itu betul Yuri ke?" tanya Zubaedah yang sedang menonton acara berita dan tak sengaja melihat berita tentang penangkapan Yuri dan penggeledahan rumah tempat tinggalnya.


Hafiz berhenti sejenak dan ikut tertarik melihat berita yang juga melibatkan dirinya itu.


"Hmm, betul. Itu memang dia," jawab Hafiz.


"Hmm ..." gumam Hafiz mengiyakan.


Dia dan Ilham memang sepakat untuk tidak memberitahukan kemungkinan-kemungkinan tentang terbunuhnya Atok pada Mamah Zubaedah sebelum jelas segala bukti-bukti siapa pelaku sebenarnya. Hal ini karena mereka tidak mau orang tua mereka terlalu banyak pikir.


"Lalu, kenapa kau tak katakan hal ini pada Mamah? Ilham pun dah tahu akan hal ni?" tanya Zubaedah masih tak percaya.


Hafiz mengangguk.


"Ya. Hafiz dan abang tak nak membuat Mamah dan Papah terlalu banyak berpikir, jadi biar kami sahaja yang urus semua ni. Mamah dan papah tenangkan pikiran sahaja," kata Hafiz memberi pengertian.


"Macam mana mamah boleh tenang melihat korang berdua berlaku menghadapi ni sendiri? Korang malah membawa wanita tu kemari. Macam mana Mamah dapat tenang? Macam mana kalau waktu tu dia celakakan family kite lagi?"


Mamah Zubaedah mengingat saat mereka mengajak Yuri ke rumah keluarga Nirwan untuk membakar-bakar ayam. Kalau mereka saat itu sudah tahu Yuri berkemungkinan selaku pembunuh Tengku Yahya, betapa beraninya membawa pembunuh masuk ke dalam rumah. Bagaimana kalau waktu itu Yuri


berniat mencelakai anggota keluarga yang lain? Bagaimana kalau dia mencelakai Yola bahkan Ammar? Sungguh Ilham, Hafiz, bahkan Yola sangat ceroboh!


"Maaf, Mamah. Waktu itu Hafiz kan dah kate kalau Hafiz hanya berlakon untuk buat dia percaya kalau Hafiz cinta dia. Mase kita bakar-bakar ayam tu, keesokan harinya Hafiz dah cerita pasal dia adalah anak angkat Lucas, orang yang dah ambil saham Atok kat N-one. Hafiz dekati dia untuk dapat menjerat Lucas agar tak kuasai N-one. Tadi pun Hafiz bawa dia pusing-pusing ke mall hanya nak jerat dia," papar Hafiz menjelaskan.


Kini matanya melirik Putri yang tangannya masih digenggamnya.


"Oh, macam mana boleh?" tanya Zubaedah. "Ceriterakan pada Mamah!"


Lalu Hafiz pun menceritakan dengan detail semuanya dari awal dia dan Yola berteman dengan Yuri sejak masih SD di Indonesia sampai bertemu lagi di malaysia. Hingga dia diperkenalkan Lucas sebagai anak angkatnya dan entah bagaimana cara mereka menguasai aset saham milik Atok Yahya. Hafiz menceritakan semua tentang wanita itu yang sudah mulai jenuh dengan Lucas dan memutuskan berkhianat padanya dan berakhir jatuh dalam jerat Hafiz yang memanfaatkannya untuk menjatuhkan Lucas. Semua tak luput dari cerita Hafiz. Putri pun mendengarkan dengan seksama. Cerita Hafiz tak sedikit pun luput dari perhatiannya.


"Jadi, Lucas itu orang yang sama dengan Mr. Y?" tanya Zubaedah. Dari sekian banyak cerita Hafiz, cerita tentang Mr. Y adalah yang lebih menarik perhatiannya.


Hafiz mengangguk ragu. Dalam hatinya agak menyesal, kenapa dia harus menceritakan soal yang satu itu. Mama Zubaedah sangat gampang terpengaruh jika menyangkut tentang Andini dan Mr. Harusnya dia jangan menyebutkan tentang yang satu itu. Ah, sial!


"Jadi dimana dia mase ni?" tanya Mamah Zubaedah.


"Siapa?" tanya Hafiz datar.

__ADS_1


"Itu yang kau sebut tadi. Mr. Y. Siapa nama dia tadi kau cakap? Lucas?"


Hafiz mengangguk pelan.


"Dia sekarang ada di Cambodia, Phnom Penh. Kenape?" tanya Hafiz curiga.


Zubaedah langsung menggeleng saat dia menangkap kecurigaan Hafiz padanya.


"Tak mengapa. Mamah hanya bertanya sahaja," jawab Zubaedah gugup.


"Ohh ..." gumam Hafiz.


****


Phnom Penh, Cambodia


Lucas sedang berada di sebuah restauran hotel, menunggu seseorang yang sangat penting untuk ditemuinya. Dia sedang menunggu salah seorang pejabat DDF (Departemen of Drug and Food). Pejabat yang selalu menerima uang suap darinya selama beberapa tahun belakangan untuk memuluskan Lucas mendapat ijin DDF (semacam BPOM) untuk setiap produk keluaran pabriknya tanpa pemeriksaan yang lebih detail dan menyeluruh.


Dan disinilah dia berada. Setelah menunggu hampir 1 jam lebih, orang itu tetap tak kunjung datang. Beberapa kali Lucas berusaha menghubunginya, tetapi hasilnya tetap nihil. Sepertinya orang itu menghindarinya. Itu membuat Lucas geram dan memaki dalam hati.


Tunggu saja sampai aku tidak lolos dari masalah ini, kau pasti kupastikan harus ikut ke penjara. Kasus suap juga memiliki hukuman yang lumayan. Aku tidak akan membiarkanmu merdeka sendirian. Kalau aku ke penjara maka kau juga harus ikut, umpat Lucas dalam hati.


Lucas sudah berniat pergi, saat sebuah panggilan telepon dari anakk buahnya di Kuala Lumpur berdering. Lucas mendengus. Dia bisa merasakan kalau kabar itu adalah kabar yang mungkin tak akan enak untuk didengarnya.


"Ya? Katakan!" katanya setengah membentak.


"Pak, ada kabar buruk di sini!" kata orang itu melaporkan. Yuri ... Yuri ...dia tertangkap polisi sini, polisi Malaysia," lapornya.


"Tertangkap bagaimana? Kamu tidak mengawasinya?" tanya Lucas semakin murka.


"Kami mengawasinya, Pak. Selama beberapa hari ini sejak bapak pergi, semua baik-baik saja di N-one dan di rumahnya bapak. Jadi kami pikir semua baik-baik saja sehingga ... kami .... kami ..."


"Kalian apa?!" bentak Lucas di telepon.


"Kami semua pergi ke .... Batu Caves," jawab orang itu dengan takut-takut.


"Haaa? A-apa? Batu Caves?" Emosi Lucas rasanya sudah sampai di ubun-ubun.


Anak buahnya yang sedang menelepon itu sudah ketakutan seakan dari seberang telepon sana, Lucas bisa memakannya hidup-hidup. Memang salah mereka berlibur tanpa ijin dari bosnya. Tetapi mereka juga manusia, butuh refreshing. Tadinya mereka berpikir akaan curi-curi waktu mumpung Lucas tidak ada. Sehari saja dibebaskan dari tugas menguntit Yuri yang sudah mulai tak bisa dipercaya Lucas. Tapi siapa sangka kesalahan kecil ini berdampak fatal bagi semuanya.


"Ampuni kami, Pak! Kami ... kami khilaf. Kami tidak akan mengulannginya," kata lelaki itu memohon.


"Apa kalian anak kecil? Kalian menyempatkan diri untuk rekreasi, otak kalian dimana? Dasar g*blok!!" maki Lucas.


Kepalanya sungguh pusing sekarang. Semua hal berbalik menyerangnya dalam waktu bersamaan.


"Selain Yuri, apa mereka mendapatkan barang-barang di rumah?" tanya Lucas sambil memijat pelipisnya yang terasa sakit berdenyut.


"Hmm, semuanya ... termasuk obat-obatan, tembakau juga. Penangkapan Yuri juga diberitakan di setiap stasiun TV di sini. Bapak mungkin bisa melihatnya lewat internet atau sosmed," lapor anak buahnya itu lagi.


"Sekarang kalian dimana?"


"Di rumah. Polisi sudah tidak ada di sini. Mereka mengobrak-abrik semuanya."


"Periksa kamar depan, cari di lemariku sebuah map berisi surat atau sijil jual beli saham. Periksa apa masih ada di situ atau tidak!" titah Lucas dengan tak sabar.


Anak buah yang merasa bersalah tadi segera melakukan perintah dari Lucas, sebelum Lucas semakin memarahi mereka membabi buta. Tetapi hampir setengah jam pun mereka mencari, surat itu tak juga mereka temukan.


"Maaf, Pak! Suratnya tidak ada."


Lucas menghembuskan napasnya berkali-kali. Sial! Mereka akhirnya mendapatkannya lagi.


"Kamu yakin? Benar tidak ada? Di kamar Yuri?"


"Nggak ada, Pak! Kami sudah periksa semua."


Lucas menggemeretakkan giginya geram.


Ilham dan Hafiz, bren*sek! Saya tidak akan semudah itu kalian kalahkan. Saya masih punya satu senjata lagi yang tak bisa membuat kalian berkutik kali ini.


Sebuah senyum jahat tersungging di bibirnya.

__ADS_1


****


Haiii .... terimakasih buat kalian yang masih setia baca JDM. Jangan lupa suport buat author yak..m


__ADS_2