Jodoh Dari Malaysia

Jodoh Dari Malaysia
Desakan Yuri


__ADS_3

"Atok ..." Hafiz masih merasa tercekat di kerongkongannya saat menyebut nama itu.


"Kau balik kat rumah. Tak baik hidup di luar sana tanpa keluarga. Atok tak minta kau untuk tinggalkan keluarga kandung kau, Hafiz. Atok hanya meminta kau untuk balik ke Keluarga Nirwan. Kau anak keturunan Nirwan, tak de yang berbeza antara kau dan Ilham. Kau pula bukan anak pengganti bagi kami seperti yang kau tuduhkan selama ini. Tak de macam tu. Hafiz adalah Hafiz, Andini pun adelah Andini. Bagi kami korang berdua sama-sama anak cucu kami," kata sang Atok.


"Hmmm betul kata Atok tu, pulanglah, Dik. Kalau Abang tak boleh kau percaya, macam mana kalau kau percaya dengan Atok sahaja? Kau juga masih adikku, intan payong," bujuk Ilham menimpali.


"Tak payah panggil aku macam tu. Aku tu bukan budak kecillah," tukasnya ketus.


"Kau memang Intan Payong, yang suke merajuk. Hahahaha," olok Ilham.


Kekhawatirannya hilang kini. Berganti dengan rasa lega karena nampaknya membawa Hafiz bertemu Atok membawa hikmah bisa mengumpulkan kembali keluarganya dengan utuh.


****


Di apartemen Gold Century,


"Kamu nggak pulang, Yur?" tanya Yola sesaat setelah ketiganya sampai di unit Ilham. "Maksudku, aku nggak ngusir loh, ya. Aku hanya nanya. Siapa tahu kamu mau pulang, bisa kupanggilin taksi biar ngantar kamu sampai depan rumah tempat kakakmu tinggal. Ngomong-ngomong di sini kamu tinggal di mana sih? Sama siapa?"


Yuri sedikit tergagap.


"A- aku tinggal sama kakakku di sini," jawab Yola. "Yola, aku bisa nginap nggak sih mal ini di sini?"


Yuri bertanya pada Yola penuh harap, membuat Yola agak sedikit merasa heran.


"Bisa, bisa kok. Kamu kalau mau menginap di sini boleh aja, kok," jawab Yola.


Yuri terlihat sangat senang mendengarnya.


"Bener?"


Yola mengangguk. Dia heran, hanya dijinkan menginap saja kenapa Yuri harus merasa sesenang itu seperti mendapat lotere?


"Argggghhh!!! Makasih ya Yola, makasih udah ngijinin aku nginap!" ucap Yuri antusias.


"Hmmm iya," jawab Yola dengan senyum. Yur, kita tidur satu kamar aja. Abang kayaknya nggak bakal pulang juga malam ini. Aku mau tidurin Ammar sebentar. Kamu mau nonton dulu atau gimana?"


Yuri mengangguk.

__ADS_1


"Aku di sini aja dulu," kata Yuri.


"Sayang, Ammar. Mommy temani tidur, yuk?"


Ammar yang sedari tadi menguap mengangguk.


"Okey Mom, Ammar pun mengantuk sangat," kata bocah itu.


Yola menarik Ammar merapat ke pinggangnya dan mengajaknya berjalan ke kamar.


"Ammar, pee first and then go to sleep, okay?" kata Yola mengingatkan Ammar untuk buang air kecil dahulu sebelum tidur.


Bocah kecil itu mengangguk. Lalu masuk ke toilet dan kemudian kembali lagi ke tempat tidur. Di sana Yola, sang Mommy telah menunggunya.


Yola menepuk ranjang empuk di sebelahnya untuk menyuruh Ammar tidur di sebelahnya.


Ammar pun lalu menurut dan kemudian berbaring dalam dekapan Yola.


"Ammar, do you want Mommy to tell the stories for you?" tanya Yola menawarkan apakah Ammar ingin dia menceritakan sebuah dongeng untuknya.


Itu membuat Yola terkekeh lalu mengusap-usap kepala buah hatinya dan Ilham itu.


"Hmmm, kalau macam tu tidurlah," kata Yola semakin mengeratkan pelukannya pada Ammar.


Terkadang Yola sering berpikir apa yang membuat Ammar berbeda dengan anak yang lainnya. Dia begitu mandiri dan jarang tergantung pada orang lain. Sedikit terbit penyesalan di hatinya. Mungkinkah sikap Ammar yang seperti itu karena bocah itu karena kekurangan kasih sayang dirinya selama ini?


Ammar semakin menyusupkan kepalanya ke pelukan Ammar.


"Mom, don't ever go again, okay?" kata bocah itu dengan mata terpejam.


Yola mengusap punggung Ammar dengan sayang.


"Tak. Mommy tak kemana-mana. Mommy di sini aja," jawab Yola.


Ammar membuka kembali matanya yang terasa berat itu dan mendongak ke arah Yola.


"Maksud Ammar, Mommy usah pergi lagi belajar ke luar negeri, Mom. Kasihan Lil Bro, kalau Mommy pergi. Nanti dia diganggu dengan kawan-kawannya macam Ammar dahulu," kata Ammar sambil menguap.

__ADS_1


Yola terkesiap mendengarnya. Seketika hatinya menjadi pilu mendengarnya.


"Ammar diganggu? Siapa yang ganggu Ammar, Sayang? Apa yang mereka katakan pada Ammar?" tanya Yola ingin tahu.


Ammar mengingat-ingat sambil menguap.


"Kawan-kawan Ammar selalu cakap Ammar tak de Ibu kerana tak ade yang hantar dan jemput Ammar kat tadika. Bila ade acara di tadika pun Ammar tak de Mommy. Hanya ade grandma, tetapi kalau grandma sedang balik kat Johor, yang kawani Ammar hanya Mak cik Saidah. Ammar diganggu, Mom. Kawan-kawan Ammar cakap Ammar ni mestilah anak dipungut Daddy kat hospital. Ammar tak de Mommy," katanya sedih. "Kalau Mommy pergi lagi, Lil Bro juga akan diganggu, Mom. Kasihan lil bro nanti, Mom!"


Ammar mengusap-usap perut Yola.


Mendengar cerita Ammar membuat Yola semakin tercekat. Ya Tuhan, bahkan Ammar kecilnya yang masih sebelia itu sudah mengalami pembullyan? Betapa berdosanya dia dulu tak ada di sisi bocah kecil itu. Rela berpisah dengan darah dagingnya sendiri hanya karena merasa sakit hati dengan keadaan.


"Maafin Mommy, Ammar. Mommy very- very sorry, Oke? Mommy janji, Mommy tak akan pernah tinggalkan Ammar lagi. Mommy akan jaga Ammar dan lil bronya Ammar mulai sekarang," kata Yola tak kuasa menahan air matanya.


Ammar menguap lagi dan mengangguk merespon perkataan dan janji Yola. Kembali dia menyusupkan kepalanya ke pelukan Yola.


Hingga anak itu terlelap Yola masih menemaninya, menepuk- nepuk punggung Ammar yang telah berlayar ke pulau mimpi. Dia banyak merenung malam ini. Pengalaman pahitnya di masa lalu tanpa ia sadari telah ia tularkan pada anaknya yang tak berdosa itu. Betapa bodohnya dirinya waktu itu. Ammar banyak menderita juga olehnya. Dan sepertinya bocah itu lebih dewasa dalam menyikapi setiap problem yang menimpanya dibandingkan dia yang adalah seorang ibu.


Yola menghela napas dan meletakkan kepala Ammar dengan hati-hati di atas bantal. Setelah menarik selimut menutupi tubuh Ammar, Yola pun kembali ke ruang tamu, menemui Yuri yang sedang menonton televisi.


"Yola, kapan ya Hafiz akan menikahi aku?" tanyanya tiba-tiba.


Yola mengernyitkan keningnya.


"Maksudku, kau jangan salah paham padaku. Tapi aku takut perutku membesar sepertimu. Kamu dan abangnya Hafiz kan memang sudah menikah sejak lama, jadi orang-orang akan mengerti walaupun nanti di pesta pernikahanmu semua orang tahu kamu sedang hamil. Tapi aku kan beda, Yol. Aku belum pernah menikah. Gimana kalau orang semua orang tahu kalau aku hamil duluan?" desaknya.


Yola berpikir sejenak.


"Tunggulah beberapa hari sampai masalah kebakaran ini selesai. Aku akan membicarakan ini lagi dengan Mamah," kata Yola.


"Mertuamu? Mamanya Hafiz?"


Yola mengangguk.


***


Like dan komentarnya jangan lupa beib ....

__ADS_1


__ADS_2