Jodoh Dari Malaysia

Jodoh Dari Malaysia
Too?


__ADS_3

"Ape yang kau nak lakukan kat sana?" tanya Hafiz dengan kening mengerut.


Zubaedah ikut memperhatikan dengan seksama. Yola sendiri menatap keduanya bergantian. Dia ingin memastikan gadis yang kemarin dulu sempat ditemuinya beberapa kali apakah itu Andininya keluarga Nirwan atau bukan. Kemungkinannya kecil, tetapi sekecil apa pun tetap harus dicoba kan?


Yola sudah pernah meminta Ilham untuk menyelidikinya, tetapi sepertinya pria itu tidaj terlalu menanggapinya serius. Entah karena dia terlalu fokus pada keluarganya yang ada di depan mata maupun pekerjaannya, atau bisa jadi karena dia mulai lelah mengurusi masalah Andini selama bertahun-tahun yang tak kunjung ada titik terangnya. Tetapi feeling Yola mengatakan kalau gadis yang sempat beberapa kali ditemuinya itu mungkin ada hubungannya dengan Andini. Atau mungkinkah dia memang Andini? Beberapa kali berusaha mencopetnya, mungkinkah gadis itu sengaja mengikutinya atau mencari tahu tentang dirinya?


"Yola ..." panggil Hafiz lembut sembari menyentuh lembut pergelangan tangannya membuat lamunan Yola buyar seketika.


"Hmmm?"


"Kau nak buat ape kat sana?"


Yola menggeleng sambil tersenyum.


"Aku dan abang sempat honeymoon kesana waktu itu. Dan pertama kali aku mengetahui kalau aku hamil adalah saat kami di Penang," cerita Yola sambil sesekali melirik Hafiz takut pria itu akan bereaksi seperti tak diinginkannya nanti.


Hati Hafiz mencelos mendengarnya. Oh tentu saja! Bukankah waktu itu Yola masih bertunangan dengannya? Jujur saja mendengar itu Hafiz merasa sedikit merasa terkhianati.


"Oh macam tu? Habis tu kau nak pastikan ape kat sana?" tanyanya setenang mungkin, berusaha menunjukkan kalau dia tak terpengaruh mendengar perkataan Yola.


"Aku ingin diperiksa oleh dokter yang memeriksaku sewaktu disana. Kalau perlu aku mau dia yang menanganiku saat lahiran nanti," dusta Yola.


Dia sebenarnya tak ingin mengatakan niat dan tujuannya untuk mencari gadis yang dia perkirakan adalah Andini itu. Hal itu dikeranakan ia khawatir kalau Mamah Zubaedah akan berharap terlalu banyak nanti sementara itu baru perkiraannya saja. Di lain sisi dia takut Hafiz akan kembali merasa insecure jika topik tentang Andini dibahas lagi, padahal dia baru saja berdamai dengan hatinya dan kembali ke keluarga Nirwan.


"Kat sini ade banyak doktor kandungan, buat ape kat Penang segala?" tanya Mamah Zubaedah heran. Menantunya mulai menginginkan hal-hal tak masuk akal baginya. Apakah ini bawaan janin?


"Dokter kandungannya baik," jawab Yola. "Aku suka dia yang menanganiku."


"Kat sini pun ade banyak yang baik dan ramah." Mamah Zubaedah masih ingin mengubah pemikiran Yola yang dia kira berlebihan.


"Yola mau dokter yang menangani dia Mamah. Kalau udah waktunya dekat lahiran, Yola nggak bisa ke sana, minimal dia yang datang ke sini. Ya? Boleh ya? Please ..." rengeknya.


Zubaedah geleng-geleng kepala. Hendak ditolak dia tahu kalau menantunya ini sangat gampang merajuk. Dengan mama dan papa kandungnya saja dia belum berbaikan, apalagi dengannya nanti?


"Boleh ya?" rayu Yolanda lagi.


Zubaedah menghela napas.


"Bila kau dan Ilham akan bertolak ke Penang?" tanya kemudian.


"Dua hari lagi. Ada libur nasional. Aku dan abang dan salah seorang makcik pembantu rumah akan berangkat dengan plane," jawab Yola.


"Baiklah. Tetapi sebelum tu kau mesti berjanji untuk berjumpa dengan doktor kandungan kat sini untuk diperiksa. Kalau dia kate kau boleh terbang dengan plane akan Mamah ijinkan. Tetapi kalau dia kate kau tak dapat kat sana, kau mesti berjanji tak payah pergi," kata Zubaedah memberi ultimatum.


Kemudian Yola pun mengangguk. Sementara Hafiz sendiri memilih untuk masuk ke dalam rumah. Mendengar Yola dan Ilham sempat ke Penang untuk berbulan madu saat Yola masih menjadi tunangannya, itu membuat suasana hatinya tiba-tiba memburuk. Ditambah lagi dengan tubuhnya yang kurang fit berkat tidak tidur semalaman. Ahh, sepertinya dia perlu beristirahat dulu.


Segera Hafiz beranjak menuju ke area kamar di rumah ini yang berjejer satu-satu dan saling berhadapan. Saat melewati kamar tamu yang ditpempati oleh Putri, Hafiz tersenyum. Dan bak seorang anak-anak, dia sengaja batuk-batuk kecil untuk memberitahukan keberadaannya pada Putri bahwa dia sedang melewati area itu. Tentu saja Putri mendengarnya, namun dia tetap bertahan tidak keluar dari kamar.


Selang beberapa saat, suara batuk-batuk kecil Hafiz itu akhirnya terdengar semakin menjauh. Putri yang tadi sedang berbaring mengubah posisinya menjadi duduk. Layaknya seorang ABG yang penasaran pada lawan jenisnya, entah kenapa hatinya tergelitik untuk mengetahui apakah Hafiz sudah pergi dari sana atau tidak. Dia menajamkan pendengarannya dan suara batuk-batuk kecil dari Hafiz itu kini benar-benar tak terdengar lagi. Ahhh, kenapa sekarang dia jadi penasaran pada pria itu. Ya Tuhan, alangkah labilnya dirinya!


Putri perlahan-lahan bangkit dari ranjang dan pelan-pelan berjalan menuju pintu. Seperti seorang maling dia membuka pintu itu.


Ceklek!


Putri mengeluarkan kepalanya saja, dengan maksud mengintip apakah masih ada orang di koridor kamar itu.


"Uhuuuk! Uhuuuuk!"


Putri terkejut setengah mati mendengar suara batuk-batuk yang dibuat-buat dengan volume tinggi itu.


"Jadi macam tu cara seorang Putri memperhatikan kekasih dia? Wah, abang baru tahu ..." goda Hafiz yang ternyata kini sedang bersandar di dinding sebelah pintu.


"Hafiiiz!!!" pekik Putri sambil memegangi dadanya. Jantungnya serasa mau copot. Memalukan! Tertangkap basah sedang berusaha memperhatikan Hafiz diam-diam.

__ADS_1


"Kalau nak tengok abang kenape mesti sembunyi-sembunyi?" godanya lagi.


"Iss, siapa yang mau tengok-tengok kamu. Pedenyaaaa," cibir Putri. "Orang mau ke kamar mandi kok."


"Abang sangke Putri dah tidur siang lah. Tidur siang di pagi hari. Hahahaha," olok Hafiz.


Wajah Putri merona dengan alasannya tadi yang memang agak kurang masuk akal.


"Ini memang sudah siang. Udah hampir setengah sebelas. Kalau di Indonesia, jam segini udah masuk siang kok!" Putri ngeles dengan berbagai alasan yang bisa dia berikan.


Hafiz mencibir sembari mengangguk-angguk.


"Betul. Pagi menjelang siang. Tetapi tak juge untuk tidur siang. Mana ade tidur siang jam seperti ini," ledek Hafiz lagi.


"Ada. Aku! Udah ah, aku mau tidur siang dulu," jawab Putri ketus.


Putri buru-buru hendak menutup pintu kembali, tetapi Hafiz menahan pintu agar tak menutup dengan kakinya.


"Ihh, Hafiz apaan?" protes Putri keberatan


"Kau cakap tadi nak ke bilik air kan?"


"Kamar mandi!" ralat Putri.


"Ho oh," Hafiz membenarkan. "Kenape tak jadi. Putri salah tingkah kerana ada abang ya?"


"Ya Tuhan, over confidence banget nih orang! Aku memang mau ke kamar mandi. Cuma lupa! Kalau gitu awas donk kakinya, minggir! Aku mau lewat!" gerutu Putri.


Dia tak punya pilihan lain selain terpaksa pergi ke kamar mandi walaupun dia tak punya kepentingan apa pun di sana. Sialan, Hafiz benar-benar memepetnya habis-habisan. Apa begini cara pria itu menunjukkan cinta? Diperlakukan manis dan romantis, kemudian digoda terus menerus oleh doi. Ya Tuhan, sampai kapan dia harus bertahan?


Hafiz terkekeh melihat Putri yang nampaknya terpaksa pergi ke kamar mandi demi menyangkal tuduhan Hafiz padanya.


Sepanjang Putri pergi ke kamar mandi, Hafiz tiba-tiba punya ide lain untuk lebih mengetahui bagaimana perasaan Putri yang sebenarnya padanya. Segera dia menuju ke samping rumah dan buru-buru menuju jendela putri dari luar kamar. Dia ingin tahu lebih banyak ekspresi Putri saat ini. Dia ingin mengintip Putri dari luar jendela kamar. Oh, sungguh kekanakan! Feelingnya mengatakan kalau Putri pun sebenarnya jatuh cinta padanya. Gadis itu sepertinya benar-benar polos dan tak bisa menyembunyikan perasaannya.


Jelas-jelas dia bertatap muka langsung dengan pria itu pun merasa malu dan grogi. Rasanya ingin kabur ke lobang semut paling kecil di dunia, agar Hafiz tak bisa melihat rona merah di wajahnya. Agar tak tahu perasaannya yang sebenarnya. Tetapi di lain sisi kenapa hatinya malah ingin melihat lelaki itu terus menerus? Argghhh, sebenarnya apa sih yang diinginkan oleh hati sialan ini?


Putri akhirnya masuk ke dalam kamarnya. Dia masih saja gelisah. Gelisah karena bingung dengan yang hatinya rasakan saat ini. Dia bahkan belum menjawab ungkapan cinta pria itu semalam. Dan tadi Hafiz pun tidak menanyakan hal itu padanya, sedikit pun tidak mengungkitnya lagi. Lalu sebenarnya bagaimana status hubungan mereka saat ini. Membingungkan! Sungguh membingungkan.


Dari luar jendela, Putri tidak menyadari Hafiz yang diam-diam sedang memperhatikannya. Memperhatikan dia yang sebentar duduk, sebentar berbaring sambil memegang ponselnya namun tak lama kemudian telah berjalan mondar-mandir seperti memikirkan suatu hal yang berat. Beberapa kali juga gadis itu membuka pintu kamarnya, menjengukkan kepalanya keluar sekedar berharap tiba-tiba Hafiz lewat lagi dari koridor depan pintu.


Hafiz terkikik sendiri melihat tingkah Putri yang menggemaskan itu. Sungguh tak bisa dibantah lagi, Putri memang menyukainya. Hafiz hampir dapat memastikan itu.


Hafiz hampir ketahuan saat Putri tiba-tiba membalikkan badan dan berjalan menuju jendela. Hafiz dengan gesit segera menyingkir menjauhi jendela beberapa langkah, agar dia terlindung dari pandangan Putri. Meski pun lucu melihat gerak-gerik dan tingkah Putri yang sedang kasmaran padanya, dia tidak mau terlihat konyol pula ketahuan sedang mengintip gadis itu.


Dan .... saat itulah Hafiz menyadari sesuatu. Ya, kenapa tidak terpikir sebelumnya olehnya?


Mendapat ide tiba-tiba, Hafiz menuju ke arah jendela kamar Atok yang berada di sisi lain rumah besar ini. Sesampainya di sana Hafiz mendekat ke jendela itu, berdiri di sana, lalu berjongkok di bawah jendela, membayangkan ia sedang berada di sana sebagai orang lain, saat hari dimana Atok Yahya meninggal dan mengatakan semua wasiatnya padanya.


"Jangan ganggu keluargaku," kata Atok Yahya waktu itu, bak orang kesurupan tak tahu bicara dengan siapa.


Hafiz terkenang saat-saat itu. Saat Atok Yahya meracau seperti sedang mengusir seseorang. Mungkin waktu itu memang Atok melihat seseorang di jendela. Seseorang yang Atok kenal, atau minimal dia tahu orang itu siapa dan memiliki kepentingan apa datang ke sana. Ya sangat mungkin, jika hari itu memang ada orang lain di sana. Tetapi kenapa Atok Yahya tidak langsung saja menyuruhnya untuk menangkap orang itu waktu itu? Malah yang ada Atok malah menyuruhnya keluar waktu itu. Apakah Atok memang merasa kalau orang itu sangat mengancam? Apakah Atok berusaha melindunginya?


Seketika Hafiz merasa sesak di dadanya. Ya, waktu itu Atok mengusirnya pastilah untuk melindunginya, setidaknya dia tidak mau Hafiz terlibat. Dia yakin itu. Atok sudah tahu orang itu mengincar keselamatannya.


"Atok ..." gumamnya lirih. Tak terasa air mata bening menggenang di pelupuk matanya.


Dia harus menemukan orang itu, harus! Dia tidak rela Atok mengakhir hidupnya dengan cara keji seperti itu.


Yuri adalah satu-satunya orang yang dicurigainya saat ini. Tetapi mungkinkah kalau itu memang dia? Bagaimana kalau bukan dia? Bagaimana cara membuktikannya? Di sini bahkan tak ada jejak tertinggal apa pun.


Memikirkan hal itu membuat Hafiz terduduk bersandar di bawah jendela kamar sang Atok. Dia menangis, menyesal karena selama hidup sang Atok, belum sekali pun dia membahagiakan orang tua yang telah memberinya nama itu.


Kamar Atok Yahya memang berada di sisi lain rumah, di tempat yang agak jarang dilewati orang rumah lainnya, karena sang Atok memang suka ketenangan. Tak ada yang mengetahui kalau Intanpayong Hafiz itu sedang menangis di sana untuk beberapa waktu yang cukup lama. Hingga kemudian, seseorang yang sedari tadi mencarinya muncul dan menemukan lelaki itu ada di sana. Dia Putri.

__ADS_1


"Hafiz ..." panggil gadis itu.


Hafiz mengangkat wajahnya dan melihat sepasang kaki kini telah berada di depannya. Hafiz mendongak dan melihat wajah iba gadis itu. Segera dia menyeka air matanya. Ini memalukan! Gadis gebetannya menangkap basah pria gentle sepertinya sedang menangis di sini.


Putri tak paham dengan pasti apa yang membuat calon prianya itu sampai menangis di pojokan rumah yang sepi seperti ini, tetapi Putri tahu pasti itu adalah sesuatu yang berat bagi Hafiz sehingga lelaki tak kuasa lagi menahannya.


"Kamu nggak apa-apa?" Kini Putri ikut berjongkok di hadapan Hafiz.


Hafiz menghela napas panjang dan membuangnya kasar, kemudian dia mengangguk.


"Hahaha ... memalukan! Kau jadi tengok aku menangis macam ni," gerutunya untuk mencairkan suasana.


"Kamu menangis kenapa? Ada yang buat kamu sedih, ya?" tanya Putri prihatin sambil menunjukkan kepeduliannya dengan mengelus-elus pundak Hafiz.


"He em. Aku menangis kerana seseorang tak nak jawab ungkapan cinta aku semalam. Sungguh malang nasib aku ni, dah pun beranikan diri katakan cinta eh, dia pura-pura seolah tak terjadi apa pun tadi malam," cibirnya dengan suara yang masih serak.


Putri memukul bahu Hafiz sebal. Dia tahu bukan itu alasan pria itu menangis sebenarnya, tetapi dia tidak mau mendesak Hafiz untuk mengatakan kesedihannya yang sebenarnya.


"Bukan aku yang nggak mau jawab. Tapi abangmu tuh ganggu!" katanya sebal.


Hafiz tersenyum tiba-tiba mendengarnya.


"Abang aku? Dia abang ipar kau jugalah. Dia suami Yola," kata Hafiz memperingatkan.


Putri mengerucutkan bibirnya. Dia tak bisa membantah hal itu.


"Jadi kau mau jawab sekarang?" Hafiz berdiri dan mengulurkan tangan pada Putri untuk membantunya berdiri.


Putri menyambut tangan Hafiz namun tidak menjawab. Dia berdiri dan buru-buru melepaskan pegangan tangan Hafiz.


"Baiklah kalau kau belum mahu jawab. Abang tak tergesa-gesa." Hafiz dengan senyum kalemnya menenangkan.


Lalu ia pun berjalan lebih dulu, menuju pintu samping, tempat dia lewat tadi.Tak ingin lewat depan karena Yola dan Mamah Zubaedah pasti masih ada di teras.Dia tak mau menjadi perhatian karena matanya pasti sembab saat ini. Ahh, lelaki kok cengeng!


"Me too ..."


Hafiz berhenti mendengar ucapan itu dari orang di belakangnya. Lalu dia menoleh.


"Kau cakap ape tadi?" tanyanya tak percaya pada yang didengarnya.


"Nggak dua kali ya aku ngucapinnya. Kalau nggak dengar ya salahin kuping sendirilah," kata Putri sembari terkikik dengan wajah malu-malu.


"Kau cakap ape tadi? Abang tak dengar pun Sekali sahaja ucapkan lagi," pinta Hafiz.


Putri menggeleng.


"Please ..."


"Nggak ada siaran ulang!"


"I love you ... too?" tebak Hafiz akan ucapan Putri yang kurang jelas didengarnya tadi.


Putri terdiam.


"Putri?"


Hafiz terus mendesaknya hingga kemudian Putri menyerah dan mengucapkan kata itu. Dia mengangguk.


"Too! I love you too ..."


****


Yesssss!!! Udahlah nggak usah pake lama ungkapin cintanya ye kaaan?

__ADS_1


Suportnya donk beib! Like dan komentarnya donk!


__ADS_2