
"Jadi, kau sudah tidak punya apa-apa lagi?" tanya Lucas terkesan girang.
Ilham tak menjawab. Dia yang sedari tadi sejak datang berdiri, kini memilih untuk duduk di kursi kosong dengan peserta rapat lainnya. Bukan di kursi pimpinan. Kursi yang harusnya ditempati olehnya itu, kini Lucaslah yang mendudukinya dengan gayanya yang parlente.
Lucas menunggu jawabnya, namun Ilham agaknya santai-santai saja tak peduli banyak orang menunggu jawabannya. Ilham kini malas asyik mengotak-atik ponselnya.
"Tuan Ilham, betul ke ape yang dikate Tuan Lucas tu?" tanya salah seorang peserta rapat yang memberi dukungan padanya.
"Ilham, ape maksud semua ni?" bisik Leon di telinganya.
"Kau tak payah banyak cakap. Kau pun masih berhutang penjelasan padaku. Sebenarnya kau dapat Melisa tu darimana?" bisik Ilham pula.
Ilham masih ingin menjawab pertanyaan dari Leon.
"Tuan Ilham? Kami sedang bertanya kat sini! Tolong beri kami penjelasan!" kata salah seorang peserta rapat.
Nampaknya mereka sangat ingin mencari-cari kelemahan Ilham yang bisa mereka pakai untuk menggulingkan Ilham sebagai pewaris N-one yang notabene akan menjadi calon pemimpin N-one itu.
"Sabar sekejap! Saye akan bagi tahu korang semua bilamana orang yang kita tunggu telah hadir kat sini!" kata Ilham. "Lanjutkan sahaja meeting ni. Jadi saye kat N-one baru memiliki dukungan 8% je?" tanya Ilham ingin memastikan.
"Ya, tanpa saham pribadi, jumlah dukungan untuk Anda dalam meeting ni masih mencapai 8% sahaja," kata Hendra.
Ilham mengangguk-angguk.
"Okey, lanjutkan sahaja pemungutan suara dari platform N-one," kata Ilham.
Lucas lagi-lagi tersenyum mengejek. Ilham ternyata hanya memiliki 8% saja hahaha. Sebaiknya kau menyerah saja, tawanya dalam hati.
Hendra menatap Lucas dengan pandangan meminta perintah. Sungguh seorang kacung yang sangat setia, batin Ilham.
Lucas mengangguk.
"Ya, lakukan saja sesuai yang dia minta," kata Lucas.
"Baiklah, kita mulai pemungutan suara yang diambil melalui platform online. Untuk pemegang saham atas nama Tuan Rahim Al-Ghibran memberikan suara mewakili 1% untuk tuan Ilham," kata Hendra membaca hasil pemungutan suara yang diadakan di platform online milik N-one.
__ADS_1
Notulen rapat mencatat hasil pemungutan suara di papan tulis dengan spidol sama halnya dengan yang dilakukannya saat pemungutan suara di ruang rapat ini berlangsung.
"Puan Agatha Ernest dengan kepemilikan saham sebanyak 0,5% memilih Tuan Lucas sebagai calon Presiden Directur N-one," kata Hendra lagi membacakan hasil pemungutan suara dari platform online.
Semakin lebar senyum Lucas saat mendengar hal itu. Berarti kini suara yang dia dapatkan telah mencapai 47,3%.
"Lanjut!" perintah Lucas bersemangat.
"Suara dan saham pendukung berikutnya berasal dari ..." Hendra menggantung kata-katanya sambil melirik pada Ilham dan kemudian pada Lucas bergantian.
Dia sudah melihat suara dan perolehan suara dari sisa pemegang saham. Kali ini sepertinya semuanya mendukung pada Ilham. Kecuali saham 27% yang katanya sudah dibalik nama pada orang lain namun masih tertera atas nama Tengku Ilham Nirwan. Tetapi orang itu sama sekali tidak memberikan suaranya untuk siapa pun di platform.
Lucas mengangkat alisnya seakan bertanya apa yang terjadi.
"Pemegang saham berikutnya yang mendukung Tuan Tengku Ilham Nirwan adalah Yolanda Gunawan dengan saham sebesar 11%, lalu dengan akun berbeda bernama Yolanda Gunawan juga sebanyak 5%. Jadi total saham diakumulasikan 11%, ditambah 5%, ditambah 8% dari suara disini jadi total yang mendukung Tuan Tengku Ilham Nirwan adalah 24%," kata Hendra melaporkan.
Semua mata langsung tertuju pada Ilham. Banyak yang tidak tahu menahu tentang hal ini. Perasaan mereka saat rapat pemegang saham berlangsung bulan lalu, memang ada yang membeli saham N-one sebesar 5%, tetapi waktu itu Yola sama sekali tidak mengakuinya. Dan sekarang apa yang terjadi? Akun anonim itu nyatanya memang berasal dari pendukung Ilham. Kalau bukan Yolanda yang telah menjadi istri sah sang Ketua Pengarah itu terus siapa pemilik saham 5% itu?
Ilham tersenyum melihat banyaknya mata yang memandang heran padanya.
Lucas memandang tajam pada Ilham.
"Apa maksudmu? Baru 24% kan? Kenapa harus terburu-buru mengklaim kemenangan, Tuan Ilham?" kata Lucas dengan senyum remeh merendahkan membalas kata-kata Ilham itu.
Ilham balas tersenyum.
"Sila lihat sisa suara pemegang saham yang belum disebut Tuan Hendra ni!" tantang Ilham.
Lucas menanti Hendra melanjutkan kembali menghitung suara pemegang saham di platform online. Kali ini semua peserta rapat fokus melihat pada sorotan infokus.
"Pendukung saham 27% saat ini di platform online N-one Grocery masih atas nama Tuan Tengku Ilham Nirwan, dan tidak memberikan suaranya melalui platform. Jadi bagaimana memutuskannya?" tanya Hendra." Sementara sisa saham terakhir 1,7% dengan akun anonim memilih Tuan Ilham untuk jadi presiden directur," kata Hendra lagi.
Lucas terkekeh.
"Pemilik saham 27% abstein rupanya. Kita tidak perlu memaksa jika orang itu tidak berkenan memberi suaranya," kata Lucas semakin percaya diri kalau dia akan menang hari ini.
__ADS_1
Ilham dan Lucas saling bersitatap.
"Kenapa harus terburu-buru. Tunggulah sekejap lagi. Pemilik saham 27% itu tak lama pasti akan memberikan suaranya juga," kata Ilham tak kalah percaya diri.
"Baik, kita tunggu sebentar. 10 menit saya rasa cukup," kata Lucas. "Tetapi setelah lewat 10 menit silahkan kamu berbesar hati menerima kalau saya adalah president directur di N-one ini," kata Lucas.
Ilham hanya manggut-manggut sambil tersenyum. Sambil mengangkat bahunya dia mengangguk.
"Okay. No problem!"
Dan jadilah mereka semua menunggu di ruangan rapat itu. Menit demi menit berlalu, waktu semakin menipis. Pendukung dari kubu Lucas mulai mengembangkan senyumnya, sementara dari kubu Ilham mulai gelisah. Mereka mulai kasak kusuk.
"Ilham macam mana ni? Sebenarnya siape yang kite tunggu? Kau jual saham kau pade siape?" bisik Leon.
"Aku tak de cakap juallah," jawab Ilham cuek
"Habis tu macam mana?" tanya Leon.
Bisik-bisik mereka terhenti saat Lucas menyela.
"Bagaimana, Hendra? Apa pemilik saham 27% itu sudah memberikan suaranya lewat platform?" tanya Lucas remeh. Dia sangat yakin kalau pemilik saham 27% itu tidak akan memberikan suaranya.
Dari luar meeting room terdengar klotak-klotak suara sepatu heels wanita semakin mendekat dan mendekat lagi ke arah ruang rapat. Lalu munculah sosok wanita itu diambang pintu.
Tok!Tok!Tok!
"Maaf, saya terlambat!"
Yola tiba-tiba telah berada di ambang pintu dengan memegang map besar berwarna coklat. Lucas menatapnya dan mengernyitkan keningnya.
"Apa yang Nyonya Nirwan lakukan di sini?" tanya Lucas tak senang.
"Saya pemilik 44,7% saham di N-one Grocery ini, kenapa saya tidak boleh datang? Kita akan memilih presiden direktur N-one yang baru, kan?" tanya Yola tenang.
****
__ADS_1
Nah lo, like dan koment jangan lupa ya reader ...