Jodoh Dari Malaysia

Jodoh Dari Malaysia
Tentang Hafiz


__ADS_3

"Putriii???!!" tegur Mama Ratih setelah sadar dari keterpakuannya.


"Ta- tante ..." gumam Putri gugup.


Mama Zubaedah tak kalah terpukau melihat pemandangan di depannya. Astaga apa ini? Di depannya Hafiz yang tadi sudah rapi dan siap berangkat menjadi basah kuyup. Dan baju-baju basah yang dilempar Putri pada Hafiz pun nampak jatuh berserakan di lantai halaman belakang yang juga telah dikeramik itu.


"Hafiz? Ape hal ni? Korang berdua nih dah macam budak kecil je,"kata Mama Zubaedah tak habis pikir.


"Maafkan Hafiz, Mamah! Mamah Ratih pun jangan salahkan Putri ya? Putri tak salah. Hafiz yang salah," kata Hafiz mencoba membela Putri yang entah sejak kapan telah mulai menjajah hatinya itu.


"Iya, tapi ... apa yang kalian lakukan ni?" Mama Ratih tak habis pikir akan kelakuan keponakannya dan mantan calon menantunya itu.


Hafiz menghela napas. Lalu kemudian pria itu maju dan mendekat pada Ratih.


"Mamah, Hafiz boleh bicara ke dengan Mama?" tanyanya pada Ratih.


"Tapi kalian sudah mau berangkat. Nanti ketinggalan pesawat loh," tolak Ratih halus.


"Sekejap sahaja," bujuk Hafiz


Ratih mengangguk pada akhirnya.


"Baiklah, tapi kamu ganti baju dulu. Nanti kamu kedinginan lagi," kata Mama Ratih.


Hafiz mengangguk lalu menatap Ratih yang masuk duluan ke dalam rumah. Mama Zubaedah pun mengikuti Ratih masuk.


"Cepatlah! kau dah ditunggu sedari tadi. Nanti kite dapat ketinggalan plane kalau kau berlama-lama," kata Zubaedah pada Hafiz.


Dan lagi Hafiz pun mengangguk.


Sementara itu Yola masih saja dalam mode terkejut tak menyangka kalau Hafiz yang dikenalnya dari sejak belasan tahun yang lalu bisa bersikap manis begitu terhadap seorang wanita. Kalau begitu, apakah ini berarti bahwa Hafiz telah move on dari dirinya? Bukankah itu bagus? pikir Yola.


Tapi bagaimana dengan Yuri?


"Aku juga ingin bicara denganmu, Ndut!" kata Yola.


Lalu tak sengaja mata Yola bertemu dengan mata Putri.


"Aku bercakap dengan kau nanti sahaja, setelah aku berbicara dengan Mama Ratih," kata Hafiz.


"Tapi Ndutt!! Ini soal ... "

__ADS_1


"Yola ..." Hafiz memberi kode keras pada Yola agar tak mengungkit masalah Yuri di depan Putri.


Yola akhirnya terdiam. Sungguh, andai bukan karena masalah Yuri tentu dia juga akan setuju dan sangat mendukung kalau Putri dan Hafiz menjalin hubungan. Putri adalah sepupu terbaiknya, sebaliknya Hafiz juga adalah sahabat terbaik yang dia punya sedari dulu. Mereka juga adalah dua orang polos dan lugu. Pasti sangat lucu kalau kedua orang itu dipasangkan.


Tapi bagaimana dengan Yuri? Bukankah dia sedang mengandung anaknya Hafiz?


"Kite akan bicarakan pasal ni nanti," kata Hafiz sambil beranjak pergi setelah menyempatkan diri menepuk-nepuk pundak Yola.


Dan kini di halaman belakang rumah ini hanya ada Yola dan Putri. Putri yang tadi sempat berdiri dan melempari Hafiz kini duduk di keramik pembatas tempat pencucian baju itu. Dia tak tahu apa yang akan dibicarakan Hafiz dengan tantenya, Ratih, nanti. Tetapi yang jelas Putri tahu, ini pasti berhubungan dengan hubungannya dan Hafiz. Tunggu, tunggu ... Hubungan? Sejak kapan dia punya hubungan dengan pria itu? Putri, sadarlah! Dia hanya kebetulan ada di sini untuk menghadiri acara pinangannya Yola dan sebentar lagi akan kembali ke KL, batin Putri.


Dia terlihat sedih sekarang! Ahh, tidak!Dia memang menyedihkan. Putri pun tak mengerti entah apa yang terjadi dengan hatinya selama dua hari ini. Kenapa tiba-tiba saja hatinya terasa tertambat pada lelaki itu. Padahal hanya karena insiden kecil di kamar mandi. Ohhh tidaaak!! Putri, bangunlah dari mimpimu! Dia hanya orang yang sekedar singgah!


Yola menghela napas melihat raut sedih sepupunya itu. Dengan menunduk pelan-pelan wanita itu memunguti baju basah berserakan yang dilempar oleh Putri tadi pada Hafiz. Lalu Yola pun mendekati Putri dan meletakkan baju-baju itu kembali dalam ember.


"Put ..." panggil Yola.


Yola ikut-ikutan berjongkok di hadapan Putri sekarang.


Putri tak menyahut. Pasti Yola juga saat ini sedang ingin membahas kebodohannya yang jatuh cinta pada pria itu. Pria yang pernah menjadi tunangannya Yola.


"Kamu benar-benar suka sama Hafiz, ya?" tanya Yola hati-hati.


Putri terdengar menghela napas kasar, sebelum akhirnya diaa menjawab pertanyaan Yola.


Yola tersenyum kemudian menggeleng.


"Nggak, kok!"


"Jangan bohong deh. Jelas-jelas aku bodoh suka sama mantan tunangan sepupuku sendiri," kata Putri lagi.


Yola tertawa kecil.


"Jangan bahas itu. Kalau aku ingat waktu itu, sebenarnya akulah yang bodoh. Aku yang merengek pada Hafiz untuk menikahiku. Dia mah nggak mau sebenarnya," kata Yola dengan nada menghibur.


Putri mengangkat kepalanya yang menunduk dan melihat pada Yola.


"Terus gimana? Aku kok nggak percaya?" tanyanya ragu.


"Beneran. Aku ajak dia nikah waktu itu karena hubunganku sama abang agak alot waktu itu. Mama sama Papa menentang kami untuk bersama lagi. Terus Papa mau ngejodohin aku sama Rafly, anak temannya. Dari pada aku nikah sama orang lain yang aku nggak kenal, mending sama Hafizlah. Dia sahabatku sendiri dari kita masih kecil. Dia baik dan bertanggung jawab. Tapi karena kemudian hati nggak bisa dibohongi ya aku kembali rujuk sama abang. Sampai perut melendung begini, mau nggak mau Papa sama Mama terpaksa setuju aku nikah lagi sama abang. Ya you knowlah, persis situasi saat ini," kata Yola mencoba menjelaskan.


"Terus Hafiz gimana? Kamu ini Yol, benar-benar nggak punya perasaan. Dia pasti cinta sama kamu kan, makanya dia mau-mau aja kamu ajak menikah?" omel Putri dengan nada marah.

__ADS_1


Yola menghela napas.


"Lebih kasihan lagi kalau kami jadi menikah dan hatiku masih tak bisa hilang dari abang, kan? Ini sudah yang terbaik pastinya. Hafiz pun udah bisa ikhlas menerima keputusanku kok," kata Yola.


"Dia nggak sakit hati gitu?" tanya Putri tak percaya.


"Aku rasa dia pasti sakit hati, tetapi persahabatan kami yang telah lama bisa mengalahkan semua itu. Lagi pula abang juga adalah abangnya sendiri. Pada akhirnya mau tidak mau ikhlas tidak ikhlas hidup harus tetap berjalan," kata Yola lagi.


Putri terdiam sejenak.


"Kalau begitu Hafiz benar-benar menyukaimu, ya Yol?" tanyanya sendu.


Yola mengangkat bahu.


"Aku nggak bisa mengomentari soal perasaan dia yang dulu , Put! Tapi agaknya kalau aku tidak salah sepertinya dia menyukaimu, Put!"


"Aku???!" pekik Putri lagi-lagi tak percaya.


Yola mengangguk.


"Iya, kamu. Aku kenal Hafiz sudah sangat lama. Dia tak pernah seperti ini sebelumnya. Kamu juga suka dia, kan?" tebak Yola.


Putri ditanya begitu menjadi tersipu-sipu.


"Aku sebenarnya senang kalau kamu sama dia. Tapi Hafiz masih ada something wrong dengan seseorang. Dan aku harus memastikan dulu masalah itu sebelum merestui kalian berdua. Bisa kamu bersabar dulu, sepupu?" goda Yola.


"Masalah apa?" tanya Putri penasaran.


Yola menggeleng.


"Aku tidak bisa menceritakannya untuk sementara waktu. Tetapi aku hanya bisa bilang, kalau memang kalian berjodoh, kau harus percaya kalau jodoh tidak akan kemana, sama seperti aku dan abang. Tetapi jika dia memang bukan jodohmu, Put. Bisa kamu janji padaku, kalau kamu tak akan sedih dengan semua ini?" tanya Yola.


Putri mengangguk.


"Aku paham soal takdir. Tetapi Yol, aku ingin mengenal dia lebih dekat. Bisa kamu bantu aku bicara pada Mama? Aku ingin ikut ke KL denganmu," rengeknya.


Beberapa saat berpikir, Yola akhirnya mengangguk.


"Aku akan usahakan, ya!"


****

__ADS_1


Like dan komentarnya donk reader beib...


__ADS_2