Jodoh Dari Malaysia

Jodoh Dari Malaysia
Wasiat


__ADS_3

Rumah keluarga Nirwan sepi. Hari ini adalah hari resepsi pernikahan cucu dan cucu menantu Tengku Yahya Nirwan, owner syarikat N-one Grocery. Resepsi itu diadakan di hotel bintang lima, Royale International Hotel. Semua anggota keluarga bahkan para pelayan datang ke hotel itu untuk menyaksikan resepsi pernikahan majikan mereka tersebut.


Yang tinggal di rumah keluarga Nirwan hanyalah dua orang ART yang dengan besar hati mau ditinggal untuk menjaga rumah majikan mereka ini.


Melisa lagi-lagi menganggap ini sebagai suatu kesempatan yang harus dia ambil untuk mencari kembali jejak dari patung emas itu. Patung Montha Somnang. Mumpung tidak banyak orang di rumah itu. Ditambah lagi dia baru saja mendapat perintah dari Mr. Y.


"Kamu tunggu di sini!" hardiknya pada Sonia.


Sonia hanya pasrah dan memandang Melisa dengan wajah datar. Entah apalagi yang akan dilakukan Melisa setelah ini. Sonia yakin akan ada hal yang akan terjadi lagi hari ini.


Usai menghardik Sonia, Melisa pun keluar dari kamar dengan sangat perlahan. Di rumah ini masih ada orang selain mereka, jadi dia harus hati-hati.


Setelah memastikan tak ada orang, Sonia pun perlahan berjalan menuju lorong kamar dan sampai di depan kamar Atok Yahya. Diputarnya kenop pintu. Sial!!! Pintu itu sama sekali tidak bisa terbuka. Mereka menguncinya. Ya, sejak kejadian malam berinai saat dirinya tertangkap basah berada di kamar Atok Tengku Yahya Nirwan, Zubaedah memang tidak percaya lagi pada siapa pun. Karena itu saat mereka ingin pergi ke gedung, pintu kamar Atok Yahya dikunci untuk mengantisipasi hal yang sama terjadi lagi.


Dengan kesal Melisa menendang pintu kamar Atok yahya. Di saat perasaannya sedang kesal seperti itu, melisa mendengar bunyi klakson mobil di depan. Ada seseorang yang datang. Apakah mereka sudah pulang?


Tak punya banyak waktu untuk berpikir Melisa pun segera bersembunyi untuk mencari tahu apa yang terjadi. Sesaat bell rumah dibunyikan dan tak lama Asisten rumah tangga Nirwan yang tinggal pun membukakan pintu depan. Dan nampaklah tengku Yahya Nirwan yang sedang dipapah masuk dalam keadaan sedikit sesak bernapas. Kedua orang yang mengantarnya adalah sopir pribadi dan Hafiz. Atok Yahya pun langsung dibawa ke kamar. Hafiz pun segera menghubungi dokter pribadi Atok. Semuanya tak luput dari perhatian Melisa.


"Atok, ape yang terjadi? Macam mana Atok boleh macam ni disaat semua family sedang berbahagia," tanya Hafiz.


Dokter yang memeriksa Atok telah pergi sedari tadi. Sesak napas yang Atok alami hanya karena syok. Usia Atok yang sudah memasuki usia lanjut mengakibatkan jantung dan organ tubuhnya tidak lagi prima seperti dulu. Sebelum dokter itu pergi, dokter itu mewanti-wanti, agar keluarga dapat lebih memperhatikan kesehatan Atok Yahya dan menghindarinya dari hal-hal yang mungkin terlalu mengejutkan dirinya.


Atok Yahya menghembuskan napasnya pelan-pelan dan terasa panjang. Keadaannya sudah lebih membaik dari sebelumnya.


"Hafiz ...." panggilnya.


"Iya, Atok?" sahut Hafiz.


"Kau mesti berjanji pade Atok, apa pun yang terjadi kau takkan boleh lagi meninggalkan keluarga Nirwan," kata pria tu.


"Hais, ape maksud Atok ni? Hafiz tanye ape yang terjadi, Atok jawab lain pula," omelnya.


"Kau tak boleh tinggalkan Ilham ape pun terjadi. Sampai bila pun dia adalah abang kau sendiri. Bila dimasa susah sekali pun tetaplah berada di sisi dia. Hmmm?"


"Atok ..." Hafiz tak mengerti apa maksud Atok Yahya berkata begitu

__ADS_1


"Dan bile Atok dah tiade, kau dan Ilham mestilah jadi satu kesatuan yang kuat mempertahankan N-one. Kau dengar tak?" kata Atok Yahya.


"Haiis, Atok ni cakap apelah? Hafiz tak paham pun. Dahla tu Atok. Atok mesti banyak rehat. Kalau tak Hafiz yang nanti akan dimarahkan oleh doctor tu. Hafiz nak talipon Mamah dan Papah dahulu. Mereka mesti khawatir Atok pulang dengan keadaan macam tadi," kata Hafiz sembari merogoh kantong celananya.


Hafiz sedang mencari nomor kontak telepon Mamah Zubaedah, saat Atok Yahya menarik tangannya lagi. Hafiz jadi urung menelepon kembali.


"Hafiz .... " panggil Atok Yahya.


"Ape lagi, Atok. Bertuah punya Atok," kata Hafiz sambil geleng-geleng kepala. "Rehatlah, Atok. Hafiz nak talipon Mamah dan Papah kat luar sahaja," kata pria itu.


"Bila disuatu mase ade yang bertanya dimane Montha Somnang. Kau cakaplah sahaja. Dia masih ade di dalam kapal," kata Atok Yahya.


Hafiz mengerutkan keningnya.


"Kapal? Mon ...? Mon ape tadi, Atok?" tanya Hafiz lagi.


"Montha Somnang. Dia masih ade di dalam kapal," kata Atok Yahya mengulangi kata-katanya.


"Monta Som-nang? Apa itu? Kapal ape maksud, Atok?"


"Atok ..." tegur Hafiz.


Hafiz bingung apa yang sebenarnya terjadi pada sang Atok. Namun selang beberapa saat orang tua itu kembali tenang.


"Atok nak rehat. Keluarlah, Hafiz!" perintahnya.


Atok benar-benar membingungkan. Tadi banyak bicara bagaikan orang tua yang sedang meninggalkan wasiat. Tapi sekarang malah main usir-usir saja nih Atok.


"Baiklah, Atok. Hafiz talipon Mamah dan Papah dahulu," kata Hafiz seraya bangkit, berdiri dan keluar dari dalam kamar Atok.


"Tutup pintu juge," suruh Atok Yahya dengan suara lirih.


"Ya, Hafiz tutup," jawab singkat pria itu.


Sepeninggalan Hafiz, pria tua itu dengan susah payah mencoba bangun dan duduk di ranjangnya.

__ADS_1


"Masuklah!" perintahnya geram.


Seorang wanita yang berada di luar kamar dan mendengarkan pembicaraan antara Atok dan Hafiz, masuk setelah mencongkel jendela kamar Atok Yahya dengan mudah. Setelah masuk, lalu tanpa menunggu lama wanita itu pun langsung menodongkan pisau kecilnya pada Atok Yahya.


"Katakan padaku, dimana kalian menyimpan Montha somnang!!??"


***


"Hafiz sudah panggilkan doktor untuk Atok. Dia cakap Atok hanye shock dan terkejut sahaja. Papah usah khawatir, hmm? Atok hanya perlu rehat je."


Ditelepon hafiz melaporkan pada Ismail, sang Papah kondisi Atok Yahya.


"He um. Hafiz akan jage Atok, kat sini. Hafiz tak pula balik kat sana lagi. Papah jelaskan saja pade Abang dan Yola kalau Atom baik-baik sahaja," kata Hafiz lagi.


Sembari menelepon Hafiz pun berjalan hendak mengambil minum di dapur. Sepanjang resepsi pernikahan Yola dan Ilham tadi, pria itu hanya duduk di kursi undangan sambil berbalas chat dengan seseorang yang dia suruh menyelidiki keberadaan Yuri yang telah merampok abang dan kakak iparnya itu. Dia bahkan belum sempat makan dan minum apa pun, saat Atok Yahya tiba-tiba merasa sesak napas di pesta dan pihak keluarga menyuruh Hafiz untuk membawa pulang Atok Yahya, karena hanya dia yang agak luang dan tak lerlu berinteraksi dengan banyak orang di pesta itu. Dan kini dia merasa haus dan sedikit lapar. Dia merasa perlu mencari makanan di dapur.


Saat melewati kamar Sonia, Hafiz iseng ingin melihat perawat yang dia tangkap basah beberapa malam lalu ingin mencuri di kamar Atok Yahya. Tergerak hatinya ingin tahu apa gadis itu patuh dan menunggu di kamar seharian ini. Bukankah sedari tadi rumah ini kosong? Apakah dia tidak berusaha mencuri lagi?


Ckkkiiiiiit ....


Pintu kamar itu terbuka. Hanya ada Sonia di dalam, sedang terbaring sambil menatapnya yang berada di ambang pintu. Hafiz segera mencari gadis itu. Jangan-jangan gadis itu telah mencuri sesuatu yang lebih besar lagi.


Hafiz mencari ke seluruh penjuru rumah. Melisa tak ada dimana-mana. Hanya satu yang belum dia periksa kembali. Kamar Atok Yahya.


Hafiz kembali ke kamar Atok dan betapa shock dan terkejutnya dia saat melihat jendela kamar yang terbuka dan Atok Yahya yang terbaring di ranjang dengan wajah ditutupi bantal.


"Atookk!!!!"


***


Apa yang sebenarnya terjadi? Like dan koment dulu beib...


Jangan lupa mampir ke karya Author di sebelah ya ....


__ADS_1


__ADS_2