Jodoh Dari Malaysia

Jodoh Dari Malaysia
Dia Yang Berharga


__ADS_3

Atok Yahya manggut-manggut setelah mendengar penuturan dan pendapat dari Ilham. Kalau memang ada orang yang seperti diceritakan Ilham sedang mengincar Yola pastilah ada sesuatu yang diniatkan orang itu. Dan siapa orang itu? Kenapa dia mengincar Yola? Apakah orang itu tahu sesuatu tentang cucu menantunya itu?


"Ya, cari tahu siape gadis itu! Nanti kalau kau dah balik ke apartemen, kau perjelaslah lagi pade Yola, di cabang N-one mana wanita tu bekerja? Lalu kau boleh suruh sesiape untuk mencari tahu informasi tentang wanita tu," titah Atok Yahya.


"Baiklah, Tok!"


Selang berapa lama hening di ruangan itu. Membuat Melisa yang penasaran mencoba mengintip dari celah pintu yang sedikit terbuka di sana. Ilham nampak sibuk mengotak-atik ponselnya membalas pesan dari Yola yang menanyakan dirinya sedang berada di mana.


[Abang, abang sekarang ada dimana?] tanya wanita itu.


Belum sempat Ilham membalasnya, dia masing mengetik, chat Yola datang kembali.


[Ada nggak sate padangnya? Aku maunya sate padang ya, Abang. Nggak mau sate yang lain. Pokoknya yang sambalnya paling nampol pedesssss!!!!!]


Ilham menghapus pesan yang sudah diketiknya sebagian itu.


[Nampol itu ape?]


[Isss, abang nanya apaan sih? Nggak penting tau nampol itu apaan. Yang penting itu sambalnya harus pedaaasss. Hot!Hot! Spacy! Abang tau, nggak??!!!]


Ilham menarik napas panjang. Terbayang olehnya sang istri yang dengan bibir mungil nan cerewetnya sedang mengucapkan kalimat chatnya itu langsung ditelinganya. Pasti kecerewetannya bisa mencapai 120km/jam.


[Abang sedang di rumah Atok. Yola sabar sikit, habis dari sini, abang akan carikan sate untuk Yola, Ok?]


[Abaaaaang!!!! Abang sekarang ada di rumah Atok? Abang sengaja kesana buat nemuin Sonia dan ninggalin aku di sini. Iya???!!! Teganya abang!!!]


Ilham membuka chat Yola lalu tak dapat lagi menahan senyumnya. Yola pasti cemburu lagi. Hahaha, Ilham tertawa dalam hatinya.


Sang Atok yang memperhatikan Ilham sedang tersenyum-senyum memainkan ponselnya, lantas tak dapat menyembunyikan senyumnya pula. Pastilah Yola yang membuat Ilham sedang membuat tersenyum-senyum cucunya itu saat ini.


"Ape ade sesuatu yang lucu?" tanya sang Atok.


"Tak de, Atok. Ini Yola. Dia sangke aku datang kat sini nak temui Sonia," jawab Ilham seraya kembali fokus pada ponselnya.


Sementara sang Atok hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah para anak muda. Mereka terlihat seperti anak ABG yang baru merasakan kasmaran. Padahal dulu saat mereka ingin dinikahkan Ilham dan Yola terlihat saling tidak ingin satu sama lain.


Dan, chat Yola datang kembali.


[Abang!!!!! Abang balas chatku lama, abang ngapain sama dia!!!]


[Abang!!!]

__ADS_1


Lalu Ilham pun mengetik untuk membalas chat Yola.


[Abang tak de pun jumpe dia, Honey. Abang cuma ....]


Tiba-tiba saja ide jahil terbit di otak Ilham. Dia menghapus kembali chatnya yang sudah terlanjut diketik namun belum di kirim itu, lalu dia mengetik ulang.


[Abang, saat ni sedang berpandangan dengan die. Entah kenapa saat ni abang semakin sayang dengan die. Rasa abang nak jaga die, tak ingin kehilangan dia selamanya. Macam mana abang nak ungkapkan ye? Abang pikir meski abang suruh pujangga nak tulis kata-kata yang terangkai indah untuk mengungkapkan perasaan abang, takkan cukup rasanye]


Di apartemen Gold Century, Yola yang sedang membaca balasan chat dari Ilham menjadi merah padam. Dia tahu, Ilham mengatakan semua, bukan berarti Sonia yang dimaksudnya. Tapi tetap saja dia merasa ternomor-duakan.


[Yang abang maksud Mama ya? Mama ada disitu?] tanya Yola tak dapat mengontrol rasa ingin tahunya.


Dia berharap Ilham menjawab "iya" agar dia tak perlu merasa cemburu.


[Mamah, tak de. Mamah sedang pergi pusing-pusing dengan kawannya] jawab Ilham sengaja membuat Yola semakin penasaran.


[Yang abang maksud Ammar? Ammar ada di situ? Abang aku mau ngomong sama Ammar]


[Ammar juge tak de lah, Ammar ikut Mamah pergi]


[Abang bohong!!!]


[Tak. Tak payah abang berdusta. Kalau kau tak percaya, kau talipon sahaja Mamah!]


Apa mungkin orang yang dimaksud oleh Ilham itu benar-benar Sonia.


Ilham masih menunggu balasan chat dari Yola. Meski tidak bisa melihat langsung dia tahu dengan jelas kalau wanita itu pasti tengah uring-uringan sekarang.


Ilham sempat melihat di bar aplikasinya bagian atas Yola sedang mengetik, kemudian berhenti, mengetik lagi dan .... pada akhirnya gadis itu kini tak tahan dan langsung melakukan panggilan vidio padanya.


Yola tak bisa menahan penasarannya. Dia harus bisa melihat sendiri, siapa orang yang dimaksud oleh Ilham sekalipun itu benar adalah Sonia.


Ilham menerima panggilan vidio itu.


"Ape???" sapa Ilham dengan wajah ngeselin.


"Abang! Jujur sama aku. Abang ada sama siapa? Siapa yang abang maksud? Apa dia Sonia?!" tanya Yola bertubi-tubi.


Ilham berusaha menahan tawanya hingga akhirnya dia pun tak bisa menahannya. Ilham tertawa terbahak-bahak.


"Hmmphh ... hmmmph ... hahaha ...!!!"

__ADS_1


"Kenapa ketawa? Ada yang lucu gitu?" balas Yola marah.


"Hahahaha ... Kau nampak lucu kalau cemburu macam tu, Sayang! Hahahha!!!" Ilham masih tertawa tergelak.


"Aku nggak cemburu, ya!" bantah Yola.


"Kau cemburu!!!" tuding Ilham tak mau kalah.


"Issss!!! Abang!!! Jujur aja ya. Abang lagi sama siapa? Lagi sama dia? Haaa???" Yola semakin sebal.


"Ya, abang lagi dengan die. Kenape?Kau cemburu ke?! Hahahah ..." balas Ilham lagi masih dengan tawa.


Yola benar-benar merengut sekarang. Kali ini dia benar-benar marah merasa dipermainkan oleh Ilham. Tak lama dia pun diam saja meski tak mematikan panggilan vidionya. Hingga mau tak mau, Ilham pun menyadari kalau bidadarinya itu sedang marah sungguhan padanya.


"Yola, kau benar-benar tak tahu ke siapa orang berharga bagi abang tu?" tanya Ilham setelah tawanya mereda.


"Nggak pengen tahu tuh, udah deh. Yola matikan aja teleponnya. Malas nelpon abang. Kalau begitu abang nggak usah pulang aja sekalian. Sana aja abang temani Sonia!!!" kata Yola ketus.


"Is, is, is ...isteri abang ni sangat suke merajuk. Baiklah abang akan bagi tahu, siapa dia yang abang maksud tadi," kata Ilham.


"Nggak usah! Nggak penting juga aku tahu!"


Ilham tak memperdulikan jawaban Yola yang ketus itu. Kini dia berdiri dan berjalan memutar meja dan mendekat ke kursi kerja tempat Atok Yahya duduk. Lalu Ilham mendekat dan merangkul sang Atok. Hal yang jarang dia lakukan.


"Inilah dia yang abang maksud tadi. Atok adalah orang berharga yang abang maksud. Jika Atok tak de, tak tahu lagi macam mana hidup Ilham ni," tiba-tiba saja sesuatu yang bening mengalir dari sudut mata Ilham.


Entah mengapa ada sebuah perasaan takut kehilangan yang menyelinap di dalam hatinya saat menyadari sang Atok yang sudah semakin tua sekarang. Lelaki itu tak segagah dulu lagi.


"Atok, terima kasih kerana dah persatukan Ilham dan Yola. Kalau bukan kerana Atok, tak tahu macam mana hidup Ilham lagi," katanya sambil memeluk erat sang Atok.


Atok Yahya menepuk-nepuk pundak Ilham.


"Mestilah. Kalau bukan Atok yang akan persatukan kalian, siape lagi? Atok takkan mati dengan tenang kalau kalian tak dapat bersatu kembali. Macam mana Atok nak berjumpe Salim kalau Atok tak persatukan kalian? Mesti dia juge sedih melihat saling tercerai berai satu sama lain," kata orang tua itu.


Dari kelopak matanya yang keriput juga mengalir air mata itu membasahi bulu mata yang sudah memutih.


Yola yang melihat pemandangan itu dilayar kaca tak sadar juga ikut menangis.


***


Bab ini sepertinya mengandung bawang juga reader beib ...

__ADS_1


Jangan lupa like dan komentarnya yah....


__ADS_2