
Pearl Hospital, Kuala Lumpur.
Seorang pria berusia 60 tahunan, nampak memasuki area rumah sakit dengan dikawal oleh beberapa orang anak buahnya. Selain itu bersamanya juga ada seseorang berjalan sejajar dengannya. Dialah Martin.
Lelaki itu meski sudah berusia 60 tahun nampak masih segar bugar dengan tubuhnya yang masih terlihatt atletis. Rambutnya yang panjang beruban kombinasi warna hitam keperakan nampak rapi dan diikat dari belakang. Kesan manly tak luput dari penilaian orang- orang yang bahkan baru pertama melihatnya.
"Di sini ruangannya?" tanya pria itu pada dokter yang mengantarnya.
"Betul, Tuan," jawab dokter itu membenarkan.
Pria itu pun langsung memberikan kode pada Martin untuk menjalankan pekerjaannya. Martin yang cepat tanggap akan hal itu pun langsung mengajak sang dokter untuk berbicara berdua. Sebelumnya mereka telah berbicara mengenai hal ini sebelum Lukas, ayahnya Martin datang dari Kamboja.
Tak butuh negosiasi yang rumit untuk mendapatkan pengkhianatan dokter itu terhadap profesinya sendiri. Dengan menawarkan sejumlah besar uang sang dokter pun dengan menghilangkan hati nuraninya mempersilahkan Martin dan Lukas masuk ke ruang ICU, dimana Sonia sedang melakukan perawatan intensif.
Sementara pengawalnya yang lain menunggu di luar ruang ICU, Martin dan Lukas pun masuk ke dalam ruangan itu. Nampak Sonia sedang terbaring lemah si ranjang.
"Kau yakin ini orangnya?" tanya Lukas.
"Betul, Ayah. Dia adalah Sonia yang selama ini mengira saya adalah Mr. Y," jawab Martin membenarkan.
Lukas manggut- manggut dan menarik kursi yang berada di sana untuk tempat dia duduk di sisi ranjang tempat Sonia berbaring.
"Jadi cinta yang telah membuatmu berbaring di sini, hmm?" Lukas mengajak berbicara pasien yang terbaring lemah itu. "Hahahaha .... bodoh sekali!!!"
Martin tak berani menimpali kata- kata ayahnya. Dia hanya bisa menunggu sang ayah mengajak dirinya lebih dulu berdialog, barulah dia bisa berbicara atau sekedar berbincang berbagai hal dengan pria itu.
"Jadi Ilham tak pernah menjenguknya selama dia koma di rumah sakit ini?" tanya lelaki itu ingin tahu.
__ADS_1
Martin menggeleng.
"Setahu saya tidak pernah," jawabnya.
"Malang sekali, benar- benar gadis yang menyedihkan," gumam Lukas dengan wajah prihatin pada Sonia yang terbujur bak mayat hidup.
Lalu dengan jari telunjuknya dia mengitari melingkar wajah Sonia.
"Tapi kau tidak usah khawatir. Aku bisa membantumu. Tentu saja aku harus membantumu. Orang yang telah berdedikasi padaku selama bertahun- tahun ini, bagaimana mungkin aku bisa mengabaikanmu? Tetapi resiko dan dampak dari ini semua, kita tanggung masing- masing, oke?" kata Lukas lagi seolah Sonia dapat mendengar setiap perkataannya.
Kemudian dengan kode Lukas meminta Martin mengeluarkan apa yang sedari tadi mereka persiapkan sebelum mereka berangkat ke sini.
Martin pun langsung tanggap pada apa yang diminta oleh sang ayah. Kemudian dari dalam tas pinggangnya, dia mengeluarkan sebuah botol kecil berbentuk tabung yang berisikan cairan berwarna kekuningan. Dari dalam tas itu pula dia mengeluarkan jarum suntik yang akan digunakannya untuk menyuntikkan cairan obat itu pada Sonia.
Bak seorang tenaga medis yang berpengalaman, Lukas menggosok- gosok kulit Sonia di bagian lengan dekat siku untuk mencari posisi dimana urat nadi wanita itu berada. Lalu setelah mengoleskan kapan yang sebelumnya dibasahi alhohol, dengan mantap pria itu memasukkan jarum suntik menembus kulit lengan Sonia.
Usai melakukan iti, Lukas pun menyuruh Martin untuk menyimpan bekas jarum suntik itu di dalam tasnya.
Plankton. Begitu mereka menyebutnya. Yang baru saja mereka suntikkan pada Sonia adalah zat sintetik gabungan dari 3 jenis senyawa obat- obatan kimia yang bila dicampur dapat mengakibatkan kerusakan syaraf berat yang tak terdeteksi dengan pasti apa penyebabnya. Zat ini tidak akan bisa mengurai di dalam tubuh pemakainya, kecuali dikeluarkan secara paksa melaui jalan operasi. Itu pun jika keberadaan zat itu terdeteksi di bagian tubuh yang mana.
Mereka menamainya plankton, karena dengan dosis paling kecil saja, obat itu sudah menunjukkan hasil reaktif pada pemakainya. Selain itu, zat terkutuk yang bisa melumpuhkan syaraf manusia itu apabila sudah disuntikkan ke w tubuh seseorang akan terombang ambing bak minyak dalam air terikut aliran darah yang mengalir di sepanjang tubuh si pemakainya. Oleh karena itu kerusakan syaraf yang akan dialami pemakainya bisa jadi akan menyeluruh ke seluruh tubuhnya.
Dan itulah yang diharapkan oleh Lukas. Untuk terakhir kalinya, sebelum Sonia mati, dia harus memanfaatkannya wanita ini. Dendam untuk keluarga Nirwan dan Gunawan, tidak akan pernah bisa dia lupakan.
****
Siang ini Yola memutuskan untuk ikut menjemput Ammar dengan supir pribadi keluarga Nirwan. Meski pun Mama Zubaedah melarang dengan sangat keras tapi mommy-nya Ammar itu tidak mengindahkannya. Dia bosan di rumah.
__ADS_1
Aktivitasnya yang biasanya adalah seorang wanita karir dengan tingkat mobilitas tinggi dan harus banting setir menjadi ibu rumah tangga yang bahkan tak boleh sekedar keluar untuk ke warung membuatnya lelah. Maka hari ini dia ingin ikut menjemput Ammar sekaligus mampir ke N- one Grocery, membawakan Ilham makan siang yang telah dimasaknya sendiri.
Pasangan ibu dan anak itu sampai di gedung N- one saat jam istirahat makan siang. Seluruh karyawan- karyawati N- one menatapnya. Sebagian menunduk dan menyapanya untuk menunjukkan rasa hormat mereka pada dirinyam Semenntara sebagian lagi seperti sibuk mencari muka padanya.
Tentu saja, dengan perut yang kini sudah kelihatan jelas membuncit itu, semua orang sudah tahu kalau bayi yang akan dilahirkannya nanti adalah darah daging keluarga Nirwan, calon pewaris N- one Grocery, sama halnya dengan Ammar. Maka bukan hal yang buruk kalau mereka mencoba mencari muka pada Queen Devil yang namanya telah tersebar di undangan majlis perkahwinan yang telah tersebar di kota Kuala Lumpur ini.
"Is ... is.... is... ade angin apelah bakal mempelai ni datang kat sini? Mrs. Nirwan or Puan Nirwan?" sambut Leon begitu melihat istri atasannya itu datang bersama Ammar.
"Yola aja, terimakasih," jawab Yola merasa tidak nyaman. "Abang, eh Ketua Pengarah ada?"
Leon tertawa mendengar Yola yang keceplosan memanggil Ilham dengan panggilan Abang di dalam kantor.
"Abang ade tak ya?" cuba sekejap saye tengok!" katanya sembari berjalan menuju ruangan kerja Ilham.
Yola dan Ammar mengikuti Leon dari belakang.
"Abang! Euy, Abang! Abang sibuk ke?" ledek Leon pada Ilham begitu dia sampai di ambang pintu ruang kerja itu.
Ilham yang sedang menelepon memberi isyarat untuk Leon agar diam dulu.
Tak berapa lama berselang, Yola yang juga ikut berdiri di pintu menunggu Ilham selesai menelepon, melihat raut wajah tak menyenangkan dari suaminya itu.
"Kenapa? Apa ada masalah?" tanya Yola.
Ilham menghela napas berat.
"Sonia .... dia sadarkan diri, tapi ...."
__ADS_1
****
Aduuuh othor ni gantung banget nih ceritanya. Wkwkwkw... Kalau like komentnya lumayan lanjut entar malam. Kalau dikit besok aja ya ....j