
"Monta Somnang? Ape tu?" tanya Ilham tak mengerti.
Yola juga ikut-ikutan mengernyitkan keningnya tak paham.
Melisa terkekeh. "Itu artinya kau belum baca semua surat tu?"
Ilham terdiam beberapa saat. Dia tahu surat-surat apa yang dimaksud oleh Melisa. Dia memang belum sempat membaca semuanya. Dia baru sempat membaca beberapa saja. Dan kesibukan Ilham mengurusi masalah N-one khususnya urusan masalah perebutan jabatan N-one dengan Lucas telah menyita sangat banyak pikirannya sehingga akhirnya Ilham pun lupa untuk membacalagi surat itu.
"Surat apa, Abang?" tanya Yola.
Ilham lagi-lagi terdiam. Dia enggan bercerita tentang asal muasal harta keluarga Nirwan dan Gunawan pada wanita itu. Dia takut Yola menjadi terbebani. Masalah yang ada pun saat ini sudah begitu banyak dan semua entah bagaimana terasa menarik bagi Yola untuk mencari tahu dan menyelidiki kebenarannya. Dan kalau dia tau soal ini bukankah nanti dia akan menuntut mencari tahu sendiri? Masih lebih baik kalau kemungkinan yang terjadi hanya itu. Bagaimana kalau Yola bersikeras, dan itu malah mengundang bahaya? Ya ampun, Ilham berjanji tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi.
"Abang ..." desak Yola.
Ilham mengabaikan pertanyaan Yola dan mengalihkan kembali perhatiannya pada Melisa.
"Tak payah banyak cakap. Saye kesini nak tanya, ubat ape yang ada di dalam kau punya bag?" tanya Ilham lagi masih dengan nada arogan.
Bagaimana pun, Melisa benar atau tidak yang membunuh atok Yahya, tetap saja wanita itu telah punya niat terselubung yang tidak baik saat berada di rumah keluarga Nirwan.
Melisa kembali tertawa terkekeh mendengar pertanyaan Ilham. Sikap Ilham yang arogan terhadapnya malah membuat dia muak dan tak ingin memberi tahu apa yang ingin diketahui pria itu.
"Bagi tahu aku, kau ni hendak bertanya ke atau nak mengancam? Hey, Tuan Ilham Nirwan yang angkuh!!! Kalau saye tak tak nak bagi tahu kau tentang ubat tu macam mana? Kau tak payah mengancam saye. Ancaman macam tak kan mempan bagi saye. Pada akhirnya saye pun akan berakhir di balik jeruji besi. Ape yang saye takutkan dengan ancamanmu itu, hmmm?" balasnya jengkel.
"Kau!!!" Ilham menahan geram dengan menggemeretakkan giginya.
"Baiklah, kalau tak de lagi yang boleh kau sampaikan, saye pamit dahulu. Kau tak dengar ke kate sipir tadi? Jangan lama-lama," katanya dengan tawa kekehnya sambil bangkit dari duduknya.
Yola yang tidak ingin kehilangan kesempatan itu segera buru- buru angkat suara.
__ADS_1
"Tunggu, tunggu! Melisa, tolong jangan begitu! Jangan dengarkan abang! Kami kesini ingin meminta tolong padamu. Tak ada niat mengancam, percayalah! Abang hanya terlalu kalut dan putus asa terhadap persoalan yang menimpa keluarga kami. Tolong, jangan marah ya... Duduklah lagi sebentar lagi. Please ..." pinta Yola sembari memohon.
Melisa lagi-lagi menatap Yola. Entah apa yang dipikirkannya, tapi kemudian dia tersenyum tipis.
"Jadi kamu mase ni sedang memohon pada saye? Saye tak salah lihat tak salah dengar ke? Puan Nirwan yang terhormat memohon pade seorang yang kastanya lebih rendah dari pada dia?" tanyanya dengan nada tak percaya sekaligis terdengar mengejek.
Yola mengangguk. "Iya. Saya sedang memohon padamu. Terserah apa yang kamu pikirkan. Soal kata-katamu baru saja. Tak ada perbedaan kasta dalam kamus hidup saya. Di mata Tuhan kita ini sama saja, Melisa."
Yola tak peduli terhadap apa yang dipikirkan Melisa. Meski saat ini gadis ini menganggapnya mengemis sekali pun Yola tak akan peduli lagi.
"Kamu mau kan membantu kami? Tolong ... Saya berjanji akan mencarikan kamu lawyer (pengacara) yang bagus. Itu mungkin tidak akan membuat kamu lolos dari hukuman karena yang kudengar kamu terlibat dalam sindikat mafia yang berbahaya. Tetapi mungkin saja hukumanmu bisa menjadi lebih ringan. Tolong bantu kami, kamu kasih tau apa obat itu yang membuat Sonia menjadi sakit secara terus menerus tanpa diketahui nama penyakitnya?" tanya Yola penuh harap kalau Melisa akan mengabulkan permohonannya.
Melisa lagi-lagi tak menjawab. Masih di posisinya yang sudah berdiri dari tempat duduknya, Melisa lagi-lagi hanya menatap Yola dan Ilham bergantian.
"Korang berdua tahu siapa musuh korang yang sebenarnya?" tanya Melisa malah balik bertanya.
Ilham mendengus kesal karena nampaknya Melisa seperti tak punya niat memberi tahu pada mereka apa yang sebenarnya mereka ingin tahu. Bertele-tele, begitulah pikiran Ilham.
Yola menggeleng.
"Kami tidak tahu," jawab Yola. "Seingatku tidak ada yang punya dendam khusus terhadap keluarga kami."
Melisa tersenyum menyeringai. "Yakin?" tanyanya sambil melihat Ilham sekarang.
Ilham mengernyitkan kening tak mengerti. Yola apalagi.
"Cuba tanya pade Tuan Ilham ni, bertahun-tahun berurusan dengan Mr.Y masih tak merase kalau dia adalah musuh yang sesungguhnya?" tanya Melisa dengan senyumnya yang menyebalkan.
Perkataan Melisa sontak membuat bola mata Ilham menjadi membulat sempurna. Spontan dia langsung berdiri dari duduknya.
__ADS_1
"Ape maksudmu ni? Kau ... kenal dengan Mr. Y? Mengape kau tau tentang dia?" tanya Ilham dengan perasaan tak menentu.
Dalam hatinya ada sedikit perasaan lega atau senang karena setidaknya dia punya titik terang tentang Mr. Y dari Melisa ini.
Lagi-lagi Melisa tertawa. Kali ini terbahak-bahak melihat ekspresi Ilham yang terlihat sangat bernafsu ingin mengetahui informasi tentang Mr. Y.
"Kau cakap padaku, ape maksudmu?" desak Ilham tak sabar.
"Maksudku, Tuan Ilham, lawan kau tu bukanlah orang biasa. Kau tak akan semudah itu dapat mengalahkan dia," kata Melisa.
"Dimana aku dapat berjumpa dengannya?" tanya Ilham tak bisa menahan rasa ingin tahunya.
"Itu permohonan atau ancaman?" tanya Melisa dengan penuh kemenangan.
Ilham menggemeretakkan giginya geram. Sungguh dia merasa dipermainkan oleh gadis sial*n ini. Tetapi dia tak punya pilihan lain selain merendah.
"Permohonan," jawab Ilham akhirnya.
"Hahahaa ... Tuan Ilham yang arogan akhirnya tunduk juge. Tetapi macam mana, aku pun tak dapat bagi tahu macam mana cara berjumpe dengan dia. Tetapi aku boleh bagi tahu satu sahaja pada korang berdua, ubat yang korang maksud memang itulah yang membuat Sonia menjadi lumpuh kerananya. Rusak syaraf di seluruh bahgian dia punya badan. Itu tak dapat sihat kembali. Sonia hanya menunggu mati sahaja. Hahaha ... dan itu semua kau punya peranan, Tuan Ilham!" tuding Melisa.
"Apa? Apa maksudmu karena abang?" Yola bertanya.
Dari tadi dia mencoba menyimak dan menelaah apa yang terjadi. Karena dia kurang paham tentang Mr. Y. Tetapi mendengar Ilham disalah-salahkan oleh Melisa, tentu saja Yola tak terima.
"Kerana Mr. Y mengincar keluarga Nirwan dan Keluarga Gunawan, khususnya keluarga Nirwan. Sonia hanya tumbal sahaja. Korang berdua paham?"
"Mase berkunjung dah usai!!!" tiba-tiba petugas datang untuk menjemput Melisa kembali ke selnya.
Yola dan Ilham masih tidak puas akan jawaban Melisa, tetapi bagaimana pun mereka memohon pada petugas untuk dibiarkan berbicara lebih lama dengan Melisa, permohonan mereka tidak diijinkan. Akhirnya keduanya pulang membawa banyak pertanyaan yang masih menjadi teka-teki dalam pikiran mereka.
__ADS_1
***
Hai reader, jangan lupa like dan komentarnya ya...