Jodoh Dari Malaysia

Jodoh Dari Malaysia
Dia Datang


__ADS_3

Telah 4 hari sejak kepulangan Mama Ratih ke Indonesia, Yola masih saja merajuk pada orang tua dan suaminya itu. Dia lebih sedikit berbicara pada siapa pun termasuk pada Ilham.


Dan siang ini ia sedang bertelepon dengan Abimanyu, setelah lebih dari seminggu dia mendiamkan lebih tepatnya mengacuhkan sang papa.


"Yola, papa harap kamu bisa mengerti situasinya. Papa nggak pernah mengkhianati kamu dan mama. Itu terjadi jauh sebelum papa menikah dengan mama." Abimanyu mencoba menjelaskan sekaligus memberi pengertian pada Yola di telepon.


"Terus? Kalau itu sudah lama terjadi, harus dirahasiakan gitu sama Yola, Pa? Ya ampun, Papa! Tau nggak Papa selama ini aku bermusuhan dengan Eva sampai segitunya? Dan bodohnya aku juga merasa hebat sendiri. Karena aku anaknya Abimanyu Gunawan yang terhormat! Mana ku tahu kalau Papa ternyata punya skandal sebesar ini? Ya Tuhan, aku nggak tau lagi harus gimana lagi, Pa! Sekarang aku mau tanya. Eva tau soal ini nggak?" tanya Yola dengan intonasi memojokkan.


Terdengar helaan napas Abimanyu di seberang sana, pertanda pertanyaan Yola itu benar adanya.


"Tuh kan benar?" tuding Yola. "Pantas saja selama dia selalu merasa kalau aku merebut sesuatu darinya. Dan ... soal nama itu, Yolanda Gunawan, bener harusnya itu adalah namanya juga?"


Yola menjadi tak sabar. Ilham ketika berusaha membujuknya juga sempat menjelaskan soal pembicaraan Eva di telepon dengan pacarnya. Juga Mama Ratih sempat menjelaskan riwayat nama Yolanda Gunawan yang sempat menjadi pertikaian antara Mira dan Ratih.


"Ehm, masalah itu yang salah bukan kamu atau Eva. Kakek memang ingin memberikan nama Yolanda Gunawan pada cucu perempuannya. Berkebetulan waktu itu anak Mira lahirnya perempuan ya papa punya inisiatif memberikan nama itu padanya, berharap kakek mau luluh. Tapi mau gimana lagi? Sampai akhir pun kakek nggak setuju sama Mira, dan kakek ngotot mau ngasih nama Yolanda Gunawan sama kamu, Nak. Solusi terakhir, hanya bisa merubah nama Eva dan Mira pun awalnya tidak setuju tetapi akhirnya dia nggak punya pilihan lain. Soalnya kakek bilang dia boleh memberi nama Yolanda ke anaknya karena itu nama yang umum, tetapi tidak dengan nama Gunawan. Jika dia tetap bersikeras, dia dan anaknya tidak akan diakui menjadi bagian dari keluarga Gunawan meski pun Mira sudah menikah dengan Om Septian. Terus papa harus gimana? Papa nggak bisa berbuat apa-apa, Sayang. Pada akhinya nama Yolanda Gunawan kamulah pemiliknya. Atau kamu punya ide lain? Mau ganti nama?"


Yola mendengus. Dia juga tidak mungkin melakukan opsi yang dipilihkan oleh papanya, abimanyu. Ganti nama? Itu tak pernah terbayang di benaknya sama sekali. Nama Yolanda Gunawan melekat padanya sejak dia lahir hingga kini. Tertera di kartu identitasnya, ktp, paspor, visa, SIM, bahkan di ijazah hingga ke buku nikah. Terus dia harus ganti namanya hanya karena Eva? Tidak semudah itu Marimar!"


"Papa minta maaf karena berita ini pastinya membuat kamu kaget dan terpukul ..."


"Jelas saja!" sela Yola cepat.


Dia bahkan tak lagi memikirkan rasa hormat pada orang tua.

__ADS_1


"Papa tau nggak? Papa itu egois! Saat abang melakukan kesalahan dulu, ingat nggak Papa gimana cara Papa mencerca Abang seolah yang abang lakuin itu hina? Saat Papa tahu Yola hamil, Papa segera mengambil tindakan memisahkan Yola dan abang. Mengatakan abang brengsek! Bahkan memanipulasi keadaan yang sebenarnya seolah Abang ninggalin Yola padahal yang sebenarnya Papa yang memisahkan Yola dan abang. Dan lihat sekarang! Ternyata perbuatan Papa yang lebih memalukan dari abang. Setidaknya dia bertanggungjawab sampai akhir pada Yola, meski pun Papa dengan keras menentang kami bersatu kembali. Coba lihat diri papa! Papa menghamili Tante Mira itu, gimana ceritanya Papa sampai nggak tanggung jawab? Malah nikahin Mama? Papa nggak mikir bagaimana nasib anaknya kah? Apa papa nggak pernah berpikir kalau suatu saat anaknya papa dari tante Mira bisa saja membenci Yola setengah mati? Syukur-syukur kalau dia nggak mencelakai Yola? Aduh Papa! Yola nggak tau lagi harus ngomong apa. Yang jelas ini sama sekali berbeda dengan apa yang selama ini Yola banggakan tentang Papa. Papa yang Yola kira bertanggung jawab ternyata sepengecut itu!"


"Yola, kita tahu Papa salah tapi nggak gitu juga donk cara kamu nyalah-nyalahin Papa," kali ini Mama Ratih yang ikut menyelutuk perang mulut antara Yolanda dan Abimanyu. Rupanya sedari tadi Ratih ada di sana, di sisi Papa, memberikan dukungan moral pada suaminya untuk membujuk putri semata wayang hasil perkawinan mereka itu.


"Terus Yola harus gimana? Diam aja? Ya udah kalau gitu! Untuk apa papa sama mama telepon Yola segala? Udah ah, Yola matikan dulu aja teleponnya! Percuma juga ngomong, entar Yola lagi yang disalah-salahin padahal jelas-jelas disini kita tahu yang salah memang Papa. Udahlah, Yola malas ngomong. Yola tutup teleponnya Ma, Pa! Assalamualaikum!"


Lalu tak menunggu jawaban dari Abimanyu dan Ratih Yola pun menutup panggilan internasional itu.


Sepertinya Ratih dan Abimanyu mengerti akan kemarahan Yola, sehingga tak memaksakan lagi bumil itu untuk mengangkat telepi dari mereka berdua. Yola sedang kesal, tentu saja. Selain karena rasa kecewa dan sakit hati pada sang Papa, mungkin pengaruh hormon juga membuat emosinya menjadi labil. Ratih dan Abimanyu mengerti itu.


Di lantai teratas gedung N-one yang telah disulap menjadi semi apartemen itu Yola melempar ponselnya ke kasur. Plus menghempaskan badannya sendiri di ranjang empuk itu. Kemarahannya tiba-tiba saja mereda saat Yola merasakan sesuatu dalam perutnya bergerak. Kandungannya kini memang sudah memasuki usia 6 bulan. Janinnya terasa aktif saat sang mommy merasa emosinya meluap-luap seperti ini.


"Aw!! Jangan tendang Mommy donk, Sayang! Daddy-mu tuh yang wajib ditendang! Udah tahu Mommy marah, bukan dibujukin sering-sering dibawain apa kek biar Mommy nggak marah, boro-boronya begitu, yang ada malah dia sering-sering pergi sekarang. Nggak berperasaan banget itu orang, kan?" gerutu Yola sambil mengelus-elus perutnya yang sudah mulai buncit dan tak bisa ditutupi lagi itu.


"Mommy!"


Sebuah suara membuyarkan lamunannya dan Yola pura-pura masih bersikap jual mahal pada Ilhan yang kini memunculkan kepalanya di balik pintu.


"Coba tebak abang bawa surprise ape!" kata Ilham dengan mimik lucu.


Yola membuang muka berusaha untuk tak terpengaruh pada bujuk rayu Ilham.


Mendapati sang istri masih bersikap dingin padanya, Ilham kini masuk dan duduk di samping Yola.

__ADS_1


"Jom tebak ape yang abang bawa!"


Ilham mencolek pipi Yola dengan telunjuknya.


"Ihh apaan sih ..."


"Tebak dahulu ..."


"Ah malas!"


"Jooom ..." bujuk Ilham tak mau menyerah.


"Iss, abang udah deh. Malas aku tuh bercanda kayak gini. Aku nggak butuh abang bawain apa-apa. Mau martabak kek, mau sate kek, pasembur kek! Itu nggak akan bisa bikin marahku hilang.Abang kayak gini malah bikin aku sebal!" katanya jengkel sambil melipat tangan di atas perut.


"Kalau yang datang aku masih sebal nggak?"


Sebuah suara lain muncul lagi dari balik pintu. Dibarengi wajah seseorang yang terlihat cengengesan padanya.


"Putrii?" pekik Yola tak percaya.


"Hai bumil! Jangan marah-marah terus, kenapa?"


***

__ADS_1


Jeng Jeng Jeng ... apakah yang akan terjadi selanjutnya? Putri datang guys ... Next nggak ya... wkwkw... Like dan komentnya dulu jangan lupa beib ..


__ADS_2