Jodoh Dari Malaysia

Jodoh Dari Malaysia
Rafly


__ADS_3

Dengan penerbangan siang, akhirnya Yola berangkat pulang juga ke Jakarta. Yola mengerti perintah Papanya tak akan bisa ditawar- tawar. Tetapi yang aneh sang papa malah menyuruh Yola untuk mendatanginya ke sebuah lapangan golf. Dan akhirnya dengan menggunakan taksi bandara sampailah Yola di  lapangan golf tersebut. Yola diantar oleh salah seorang caddy untuk bertemu dengan Abimanyu.


Abimanyu baru saja melakukan swing saat Yola datang. Dia ditemani oleh salah seorang lelaki yang sepertinya Yola tidak asing dengan wajah itu. Lelaki itu terlihat bertepuk tangan kagum saat bola golf itu berhasil dipukul dengan sangat elegan oleh Abimanyu.


"Wah, pukulan yang sangat indah, Om!" puji pria itu.


Abimanyu hanya tersenyum. Bola matanya menangkap kehadiran putri semata wayangnya.


"Papa ...." Yola segera mencium tangan Abimanyu.


Abimanyu menatap Yola seperti hendak berkata sesuatu, namun akhirnya dia mengurungkan niatnya itu.


"Rafly, ini anak saya Yolanda. Yola, ini Rafly anaknya sahabat Papa. Orang tuanya punya bisnis di bidang material bangunan sama dengan kita," kata Abimanyu memperkenalkan keduanya.


"Hai, Kak Rafly. Apa kabar? Lama tak jumpa," sapa Yolanda sambil mengulurkan tangannya.


"Kamu masih ingat denganku, Yola? Kabarku baik. Kamu gimana?"


"Alhamdulillah sehat. Tentu aku masih ingat. Kita berada di sekolah yang sama dari SD sampai SMA. Meski tidak akrab, ingatanku nggak mungkin sepayah itu, kan?" jawab Yola.


"Oh kalian sudah kenal?" Abimanyu terlihat terkejut namun kemudian dia tertawa terbahak-bahak saat Rafly mengiyakannya.


"Iya, Om. Saya satu sekolah dengan Yolanda dari SD," jawab Rafly.


"Wahahahaha .... Ternyata benar. Dunia ini memang sempit. Baguslah kalau begitu. Itu berarti ini pertanda baik. Di lain waktu kedua keluarga kita perlu bertemu untuk saling mengakrabkan satu sama lain," kata Abimanyu menyiratkan sesuatu dalam kata- katanya yang segera Yola paham maksud dari Papanya.


"Papa ...." gumam Yola sedikit keberatan.


"Giliranmu sekarang, Rafly!" kata Abimanyu pada Rafly tak menghiraukan protes Yolanda padanya.


Rafly memberikan stik golf yang dipegangnya pada Yola.


"Bagaimana kalau Yola dulu? Melihat permainan Om yang hebat saya jadi curiga, kemampuan putrinya pastilah tak kalah hebat," kata Rafly.


"Kak Rafly bisa aja. Aku nggak terlalu pandai bermain golf. Aku cuma sesekali diajak ke sini oleh Papa kalau lagi senggang," jawab Yola.


"Kamu terlalu merendah, cobalah! Kalau nggak bisa nanti aku ajarin," jawab Rafly. "Om nggak keberatan kan?"


"Tentu," jawab Abimanyu.


Yola tak mengerti apa maksud Papanya. Selama ini Papa tak pernah punya niat ingin mencarikannya jodoh tetapi hari ini Yola merasa sepertinya papanya sedang bermaksud mendorongnya untuk dekat dengan Rafly.


Karena didesak terus menerus, akhirnya Yola meraih juga stik golf itu dan melakukan swing setelah beberapa kali latihan dengan gerakan back and down 90°.


"Waahhhh! Keren sekali. Begini pun kamu masih merendah dan bilang tidak pandai bermain golf. Aku jadi sedikit malu karena meremehkanmu, Yola," puji Rafly lagi.


"Ahhh, itu hanya kebetulan saja," jawab Yola menolak pujian Rafly. "Ngomong- ngomong, Pa. Yola balik duluan, ya! Yola masih mau ketemu sama Mama. Yola juga agak sedikit capek. Tadi dari kantor, langsung berangkat ke bandara, begitu sampai bandara langsung ke sini," kata Yola meminta persetujuan papanya.


"Kalau begitu, bagaimana kalau aku antar pulang sekalian? Aku juga kebetulan ada janji sore ini," kata Rafly menawarkan. "Om nggak apa- apa kan kalau saya duluan?" 


Lagi- lagi Rafly bertanya persetujuan Abimanyu.


"Eh, tapi .... Bukannya Kak Rafly dan Papa barengan ke sini?" tanya Yola. "Atau Papa mau pulang aja sekalian sama Yola? Biar Yola ikut mobilnya Papa?"


Yola merasa risih kalau harus diantar pulang Rafly. Meski mereka sudah kenal lama tapi kan mereka nggak akrab, jadi kenapa Rafly harus nganterin dia pulang?


"Nggak kok. Papa janjian ketemu di sini sama rekan bisnis papa. Papa kecepatan datangnya dan bertemu dengan Rafly di sini. Kamu pulang aja duluan. Dan kalau Rafly tak keberatan mengantarkan Yola sampai rumah Om, ya nggak apa- apa. Om terima kasih duluan," kata Abimanyu yang dengan kata lain menyerahkan putrinya itu untuk diantarkan pulang oleh Rafly.


"Nggak perlu terima kasih Om. Yola teman saya, sudah sepatutnya hal seperti ini saya lakukan untuk membantu sesama teman," kata Rafly merendah.


"Ya sudah, kalian berangkatlah sekarang. Yola, tunggu Papa di rumah. Papa masih ada yang hendak dibicarakan dengan kamu," kata Abimanyu.


"Iya, Pa!" jawab Yola sedikit khawatir.


"Kami duluan, Om!" pamit Rafly sembari mencium tangan Abimanyu.


Pemandangan itu membuat Yola merasa tidak nyaman. Yola bisa merasa hubungan Papanya dan Rafly tidak hanya seperti yang mereka jelaskan. Ini seperti hubungan mertua dan menantunya. Astaga! Semoga itu hanya perasaan Yola.


"Kita sudah sampai," kata Rafly setelah mobil yang mereka tumpangi sampai persis di depan rumah mewah keluarga Yola.


"Terima kasih, Kak!" Ucap Yola sambil melepas seat bealt-nya.


Sepanjang perjalanan dia hanya banyak diam. Yola hanya akan bicara jika Rafly mengajaknya bicara atau menanyakan sesuatu padanya.


"Aku nggak diajak mampir, nih?" celutuk Rafly.


"Katanya tadi masih ada urusan," sahut Yola. "Tetapi kalau memang Kakak mau, yuk mampir dulu," kata Yola terpaksa.


"Ah, nggak usah deh. Nggak seru! Masa aku harus minta diajak mampir, baru kamu mau ngajak mampir," katanya pura- pura merajuk.


"Maaf, tapi aku serius nih. Kalau kakak memang nggak buru- buru. Yuk mampir, sekedar ngeteh dulu di dalam," ajak Yola lagi.


"Nggak deh. Aku cuma becanda. Aku memang lagi ada urusan, Yol. Lain kali aja aku mampirnya, ya," katanya lembut sembari sedikit mengacak- acak rambut Yola.


Eh? Yola mengernyitkan keningnya bingung. Tindakan Rafly ini seperti sedang memperlakukannya dengan sayang. Tapi kan, dia nggak pernah dekat dengan Rafly? Dari SD dia dan Rafly selalu satu sekolah meskipun Rafly satu tingkat di atasnya.


Masih bingung tapi Yola akhirnya memutuskan tak mau memikirkannya terlalu jauh. Yola segera membuka pintu mobil dan keluar.


"Kalau begitu terimakasih sekali lagi ya kak atas tumpangannya," ucap Yola.


Rafly dengan gaya cool- nya mengangguk dan tersenyum ringan padanya.


"Nggak usah sungkan. Ke depannya mungkin kita akan lebih sering bertemu," katanya penuh arti.


                             *****


"Yola, kamu dimana? Abang sedari tadi di depan apartemenmu, tapi tak ade yang bukakan pintu," kata Ilham cemas. "Nadira kate kau pulang lebih awal tadi siang. Ape yang terjadi?"


Yola terdengar menghembuskan napasnya mendengar nada posesif dari suara Ilham di telepon. Ilham pastinya telah berharap banyak hubungan mereka bisa pulih seperti dulu sejak kejadian tadi malam. Tapi Yola tahu ini tidak akan mudah, meskipun seandainya dia sendiri menginginkannya juga.

__ADS_1


"Aku ada di Jakarta saat ini," jawabnya kelu.


Ilham tertegun. Di Jakarta? Apa maksudnya? 


"Papa suruh aku pulang tadi siang. Dan .... Aku tidak bisa menolak. Abang sendiri kan tau, Papa gimana. Kalau Papa bilang aku harus pulang, ya aku pasti harus bilang. Aku nggak mau Papa datang jemput aku ke KL dan membuat keributan dengan Atok dan Abang," kata Yola menjelaskan.


Ilham terdiam sejenak. Selama 7 tahun ini, Ilham selalu datang ke Jakarta ingin menemui Yola, tapi mertuanya itu dengan keras menentang keinginannya itu. Bahkan di Amerika pun, Ilham tetap tak bisa menemui Yola karena ketatnya pengawasan Abimanyu terhadap putri semata wayangnya itu. Orang- orang dari Abimanyu ada di mana-mana untuk mengawasi keberadaan Yola dan tak mengijinkan ia untuk mendekat. Bahkan wanita itu pun mungkin tidak tahu, kalau orang tuanya menempatkan orang- orang untuk menjaganya sampai sedemikan rupa. Yola sangat sulit dijangkau. Dan beberapa minggu ini, Yola sendiri yang datang ke Kuala Lumpur untuk menemui Ammar. Dan Ilham mendapatkan kesempatan itu untuk membuat Yola kembali padanya, tetapi sekarang istrinya itu telah berada kembali di Jakarta, mungkinkah Yola akan semudah itu kembali padanya? Ya Tuhan, bagaimana kalau Abimanyu tak memperbolehkan lagi Yola ke KL.


"Yola, apa papa dah tahu kalau kita akan rujuk kembali?" 


Rujuk kembali? Yola bahkan belum memantapkan hatinya bagaimana Ilham begitu yakin mereka akan rujuk kembali.


"Aku nggak tau," jawab Yola singkat.


"Yola, Yola harus janji pada Abang, Yola harus kembali ke KL ya? Kamu harus ingat ada abang dan Ammar yang memerlukan kehadiran Yola. Apalagi Ammar, dia baru je berjumpe dengan Mommy-nya.  Macam mana abang akan jawab dia bile bertanya tentang Yola?" 


"Hmmm ...." gumam Yola bimbang.


"Yola, kamu masih sayang dengan Abang, kan? Abang tak dapat hidup tanpa Yola," rengek Ilham.


Is, is, is .... Tak dapat hidup katanya? Buktinya dia bisa aja hidup tanpa aku 7 tahun lamanya, batin Yola. Hiperbola sekali sih.


"Yola ...." Panggil Ilham pada Yola yang memilih untuk diam saja mendengarkan pria itu.


"Hmmm?" gumam Yola.


"Ape abang jemput Yola saja ke Jakarta?"


Yola belum sempat menjawab saat suara ketukan terdengar di pintu kamarnya.


"Yola! Papa mau bicara!" 


Deg! Jantung Yola hampir copot mendengar suara papanya.


"Abang, sudah dulu teleponnya. Ada Papa di depan pintu, bye ...." katanya setengah berbisik.


"Tapi Yola, Yol, abang belum ...."


Tuut! 


Panggilan telepon itu terputus menyisakan rasa nelangsa di hati Ilham.


Sementara itu, Yola buru-buru membukakan pintu untuk Papanya.


"Ikut Papa, ke ruang tengah," ajak Abimanyu begitu melihat Yola nongol di balik pintu.


Dengan patuh Yola menurut dan mengikuti Papa ke ruang tengah. Di sana ada Mamanya juga.


"Mama ...." sapa Yola sembari menghambur ke sofa dan memeluk Ratih. Meski tadi mereka telah melepas rindu, tetap saja bagi ibu dan anak itu tak ada puasnya saling memeluk satu sama lain.


"Kamu belum tidur?" tanya sang Mama.


"Belum. Mama masih nonton," jawab Ratih sambil menunjuk televisi.


"Oh, Mama suka sama sinetron ini ya, Ma?" tanya Yola.


Sesungguhnya Yola hanya ingin mengulur waktu agar Papanya lupa berbicara dengannya. Pembicaraan itu Yola sudah bisa menebaknya. Antara membahas tentang yang terjadi di Malaysia atau perjodohan dengan Rafly. Ini sangat gampang untuk ditebak tetapi tidak untuk diatasi. 


Yola pura- pura serius menonton sinetron yang ditonton Mamanya selama beberapa saat. Tetapi kemudian mau tak mau perhatiannya jadi teralih saat volume televisi itu tiba- tiba mengecil sampai hampir tak kedengaran sama sekali. Begitu pun Ratih, melihat keberatan pada Abimanyu yang mengecilkan suara televisi dengan remot.


"Yola, papa mau bicara dengan kamu," kata Abimanyu.


Yola menelan ludah.


"Ya, Papa bicara aja, Yola akan mendengarkan," jawab Yola patuh.


Sesaat Abimanyu memandang putrinya itu serius sehingga membuat Yola jadi gugup.


"Bagaimana menurutmu Rafly?" tanya Abimanyu.


Nah, kan .... Benar dugaannya. Yola tak ingin menjawab tapi rasanya pertanyaan itu sangat wajib untuk dia jawab.


"Kak Rafly baik sepanjang ingatan Yola. Tapi karena Yola nggak terlalu akrab dengannya waktu sekolah, Yola nggak terlalu tahu secara mendalam sih, Pa," jawab Yola seperlunya. 


"Menurut Papa dia baik," kata Abimanyu. "Baik dalam arti kata, dia cocok mendampingi kamu. Ke depannya, kalian boleh saling mengenal dulu. Papa tidak melarang kamu menjalin hubungan dengan Rafly."


Gelegarrrr!!!!


Bak mendengar suara petir hanya di dalam gendang telinganya seorang, Yola terkejut mendengar kata- kata Abimanyu. Yola bukan wanita bodoh. Dia tahu kalau papanya bermaksud menjodohkan dia dengan Rafly. Tetapi Yola tidak menyangka kalau Papa akan seterus terang dan segamblang itu mengatakannya padanya. Dan sepertinya Mama bahkan telah tahu rencana papa ini. Mama sama sekali tidak terkejut.


"Yola nggak mau, Pa. Rafly dan Yola berteman aja nggak. Cuma kenal begitu aja di sekolahan, Yola nggak bisa menikah dengan dia," tolak Yola.


"Papa sudah bilang, kalian bisa saling mengenal lebih dulu. Rafly anak yang baik. Juga dari keluarga baik- baik. Kalian juga sebaya, kita punya latar belakang keluarga yang hampir sama dengan mereka. Tak akan sulit beradaptasi satu sama lain," kata Abimanyu tegas.


Yola merasa hatinya terpukul lagi.


"Pa, bolehkah Yola menolak?" tanyanya meski dia sudah tahu apa jawabannya.


"Tidak bisa. Kamu menurutlah dengan Papa, Papa selalu menginginkan yang terbaik untuk kamu," kata Abimanyu.


"Kalau begitu buat apa Papa tanya pendapat Yola? Apakah pendapat Yola penting buat Papa?" 


Yola mulai tak dapat membendung perasaannya lagi. Dia sedih dengan sikap Papanya yang selalu diktatir terhadapnya.


"Papa bahkan belum membahas tentang kebohongan kamu yang bilang akan bekerja di Singapore tapi ternyata kamu ke Kuala Lumpur menemui lelaki ******** itu? Sekarang Kamu menolak perjodohan dengan Rafly karena dia? Karena Ilham, hmm?!!" cerca Abimanyu tajam.


Lagi- lagi Yola menelan ludah. Benar dugaannya, Papa sudah tahu tentang itu.


"Yola ke Malaysia hanya untuk Ammar. Mama rindu dengan Ammar. Tetapi Atok memberi persyaratan kalau ingin membawa Ammar Yola harus bekerja di N-one dan menaikkan omset N-one. Yola ke sana sama sekali bukan karena abang," bantah Yola.

__ADS_1


"Lalu kamu mau begitu saja, heh? Sejak kapan kau begitu bodoh, Yola? Kamu tidak sadar itu semua hanyalah akal- akalan Tengku Yahya Nirwan agar kamu kembali pada cucunya, Ilham? Atau kamu memang menginginkannya juga, haa?" 


"Nggak, Pa! Nggak seperti itu!" sangkal Yola sembari menggeleng.


Dia tak sanggup jujur, kalau dia memang telah  berdamai dengan Ilham. Dan bahkan telah tidur bersama dengan lelaki itu. Mama dan papanya pasti akan sangat kecewa kalau mengetahui hal itu.


"Oh, jadi kamu masih mau membohongi Papa. Kamu bisa jelasin ini nggak?"


Abimanyu mengeluarkan ponselnya dan mencari vidio di salah satu platform pencarian informasi pada ponsel itu.


"Kamu menolak dijodohkan dengan Rafly tapi setuju jadi istri kedua orang itu? Kamu itu mau membuat Papa dan Mama semalu apa, Yolaaaa?!!!" bentak Abimanyu


Bentakannya membuat Ratih sampai mengurut dadanya. Hatinya sakit mendengar berita itu dari suaminya.


"Yola, kamu beneran mau ngecewain Mama?" tanyanya pada putri tunggalnya itu.


"Nggak, Ma. Itu semua cuma demi Ammar. Mama yang bilang, Mama ingin ketemu Ammar kan, Ma? Mama, Yola akan lakukan apa saja agar bisa mendapatkan Ammar kembali. Mama tolong percaya sama Yola," bujuk Yola.


"Termasuk jadi istri kedua lelaki itu?" tanya Papanya sinis.


"Papa, Mama, abang dulu menikah lagi karena ada alasannya. Dia juga terpaksa menikahi Sonia demi adiknya yang hilang. Sonia tahu dimana adiknya itu tetapi syaratnya abang harus menikahi dia agar mereka bisa dipertemukan dengan adiknya abang yang hilang itu," kata Yola mencoba menjelaskan. "Dan dia juga sudah mengucapkan talak pada Sonia."


Yola menggigit bibirnya seusai mengucapkan itu.


"Oh, ya? Terus kamu percaya? Mereka mengorbankan kamu demi menemukan anak mereka yang hilang. Lalu untuk apa kamu dinikahkan dengan Ilham waktu itu kalau mereka masih belum ikhlas soal kejadian itu?!! Terus sekarang bagaimana? Andini sudah ditemukan? Nggak kan? Lalu setelah apa yang telah mereka lakukan pada keluarga kita, rasa malu, sakit hati, mereka masih tidak mau melepaskan kamu? Sebenarnya apa yang mereka mau? Keluarga Nirwan ini .... Benar- benar mau cari masalah!"


"Apa maksud Papa menikahkan aku dengan abang dengan hilangnya Andini?" tanya Yola heran.


"Andini hilang di rumah keluarga Gunawan. Waktu itu keluarga Nirwan sedang berkunjung ke Jakarta karena ada acara pelelangan tanah yang diincar oleh banyak kalangan pengusaha saat itu. Mereka, Ismail dan Zubaedah serta anak mereka Ilham dan Andini kala itu menginap di rumah kita karena Tengku Yahya Nirwan dan kakekmu sedari dulu memang bersahabat. Tetapi sebelum mereka menghadiri pelelangan itu, tiba- tiba Andini menghilang. Tak ada jejak apa pun, bahkan telah dilaporkan ke polisi, tak ada perkembangan. Hingga akhirnya Zubaedah marah dan meminta kami bertanggungjawab serta menuntut Mama yang sedang hamil kamu waktu itu untuk menyerahkan bayinya kalau Mama telah melahirkan. Kami mengira permintaan itu tidak serius sehingga mengiyakannya demi menenangkan hatinya. Tapi yang terjadi saat kamu lahir, mereka datang kembali dan benar- benar meminta kamu sebagai pengganti Andini," kata Abimanyu sembari menari napas.


"Lalu?" tanya Yola. Dia tak pernah tahu ada cerita pahit yang melatar belakangi pernikahannya dengan Ilham.


"Lalu, karena Mama tentu saja tidak rela memberikan kamu, maka dibuat perjanjian baru, kamu akan dinikahkan dengan Ilham begitu kamu aqil baligh," jawab Abimanyu.


Yola menunduk. Oh, itulah ternyata alasan kedua orang tuanya menikahkan dirinya di usia yang begitu dini.


"Kami sangat berat sungguh, melepaskanmu menikah dengan Ilham di usia semuda itu. Tetapi begitu pun tetap kami menepati janji. Dan beginilah balasan dari Keluarga Nirwan. Mereka bahkan meminta cucu sulung kami, itu pun kami berikan. Dan sekarang mereka masih tetap tidak mau melepaskan kamu? Sungguh egois sekali," kali ini Mama yang buka mulut 


Yola terdiam. Dia bisa merasakan kesedihan dan sakit hati orang tuanya.


"Jangan menemui Ilham lagi. Kalau memang yang kamu inginkan adalah Ammar, papa akan minta bantuan pengacara papa untuk dapatkan hak asuh Ammar meski pun itu nggak akan mudah. Tapi satu yang perlu kamu ingat! Papa nggak akan pernah setuju kamu kembali dengan Ilham!" kata Papa memberi ultimatum.


                               ******


"Kamu ingin bertemu hari ini ada apa?" tanya Rafly pada Yola yang kini ada di hadapannya.


Keduanya kini sedang berada di sebuah restoran menikmati makan siang bersama.


"Aku bingung bagaimana cara menjelaskannya," kata Yola.


"Jelaskan saja dengan caramu sendiri. Aku udah bilang, jangan sungkan padaku Yola," kata Rafly.


Yola meraih air putih di depannya dan meminumnya beberapa teguk sebelum akhirnya mengelap mulutnya dengan tissu.


"Apa Kakak tau, kalau Papaku ada niat menjodohkan kita?" tanyanya pada akhirnya.


Rafly menaikkan sebelah alisnya dan menebak- nebak kemana arah pembicaraan Yola ini.


"Ya, aku tau." jawabnya singkat.


"Lalu menurut Kakak gimana?" tanya Yola yang bingung akan jawaban Rafly yang terkesan enteng itu.


Rafly tidak langsung menjawab melainkan hanya tersenyum dan melanjutkan makannya.


Namun Yola dengan sabar menanti lelaki itu memberikan jawabannya. Hingga akhirnya karena Yola tetap menunggu, Rafly memutuskan untuk menjawabnya saja.


"Menurutku kita cocok, serasi, dan aku juga menginginkan perjodohan ini. Apa jawaban itu cukup?" tanyanya.


Yola tak habis pikir dengan apa yang ada di otak mantan ketua osisnya saat SMA itu.


"Kakak tau kan aku sudah pernah menikah dan aku juga sudah punya anak?" tanyanya sedikit kesal atas sikap enteng pria itu.


"Ya, tentu aku tau. Kamu hamil dan mengandung saat kamu masih kelas 1 SMA. Siapa yang nggak tau masalah itu?" tanyanya balik.


"Lalu?" Yola semakin emosi.


"Lalu? Aku nggak keberatan." jawabnya masih dengan nada yang enteng.


"Lalu orang tua kakak? Keluarga Kakak? Memangnya nggak keberatan?" tanya Yola tambah kesal. Tujuannya untuk meminta Rafly untuk tidak menuruti keinginan Papanya menjodohkan mereka nampaknya akan sirna.


"Kenapa mereka harus keberatan? Yang akan menjalaninya adalah kita, kan?" tanyanya balik.


"Lalu alasanmu menikahi aku apa? Itu jelas bukan karena cinta, kan?" Yola balas tanya.


"Kalau aku bilang karena aku cinta, kamu percaya?"


Yola mulai merasa lelaki ini menyebalkan dan tak ada lagi yang harus diperbincangkan. Cinta katanya? Selama satu sekolah dengannya dari SD hingga SMA, mereka bahkan hampir tak pernah bertegur sapa. Dan kini lelaki itu bilang kalau dia mencintai Yola. Hello .... Siapa yang akan percaya itu? Kalau menikah karena bisnis, ya bilang aja karena bisnis. Nggak usah juga pake embel-embel cinta segala. Dasar munafik! Batin Yola.


"Aku sudah selesai makan. Aku pulang duluan nggak apa- apa ya, Kak?" kata Yola pamit.


Yola segera bangkit dari duduknya.


"Kamu menikah dengan Ilham dulu juga bukan karena cinta. Tetapi akhirnya kamu cinta juga, kan?" tanya Rafly masih dengan posisi duduk yang tenang.


Yola mengernyitkan keningnya, heran. Tau dari mana dia?


"Kak ...."


"Tolong berikan aku kesempatan yang sama dengan Ilham, aku janji akan memperlakukan kamu jauh lebih baik dari dia," ucap lelaki itu.

__ADS_1


__ADS_2