Jodoh Dari Malaysia

Jodoh Dari Malaysia
Flashback Ilham (7)


__ADS_3

"Minta tolong apa?" tanya Ana


Ilham celingak-celinguk menatap sekitarnya untuk memastikan tak ada yang melihat dia berbicara dengan Ana.


"Boleh masuk sekejap kat sini?" tanya Ilham lagi penuh harap.


Dia ingin berbicara dengan sedikit tenang dengan sedikit rasa khawatir. Ilham takut Abimanyu tiba-tiba datang. Karena itu dia meminta Ana untuk berbicara di dalam mobil.


"Di sini aja ya?" tolak Ana takut-takut. "Saya takut ketahuan Ibu sama Bapak."


Ana mengedarkan pandangan ke sekelilingnya, takut kalau-kalau dia dan Ilham tertangkap kamera CCTV dan Abimanyu kebetulan memeriksanya. Dan untungnya Pak Darman masih harus pergi ke kantor Abimanyu dan tak memasukkan mobilnya ke dalam. Kalau tidak bisa berabe. Dan lagi-lagi untung, posisi parkir mobil ini agak masuk ke dalam yang tidak terjangkau oleh kamera CCTV.


"Sekejap saja, please ... tolong kak Ana!"


Atas desakan Ilham, Ana akhirnya ikut masuk ke dalam mobil meski dengan hati yang terasa was-was.


"Jadi macam ni, kakak tahu kan ape yang terjadi antara aku dan Yola?" Ilham membuka percakapan.


Ilham tahu sebelum menjadi asisten rumah tangga, Ana adalah pengasuhnya Yola. Hingga akhirnya dia menikah dan diperjakan lagi menjadi asisten rumah tangga di rumah ini. Namun bukan itu poin pentingnya. Ana pastinya juga memiliki ikatan emosional dengan istrinya itu. Dan hanya Ana kesempatan yang dia punya untuk tetap dapat mendengar kabar Yola.


Ana mengangguk ragu, sesekali pandangan matanya berubah menjadi pandangan menuduh yang dilempar secara terang-terangan pada Ilham, lalu mengernyit kemudian merengut namun menanti kapan Ilham mulai berbicara.


"Saye tahu, saye dah buat kesalahan, percayalah Kak. Saye terpaksa berkahwin lagi tetapi sumpah ini bukan perkahwinan yang semua orang fikirkan. Aku tak cinta perempuan itu. Tak ade niat menyakiti hati Yola dan mengkhianati dia. Tetapi ..."


"Lalu?" sela Ana cepat. Dia tak bisa mendengarkan keluh kesah Ilham berlama-lama. "Saya harus cepat masuk ke dalam, atau ibu atau non Yola akan mencari saya ke sini."

__ADS_1


"Maaf, maaf ... Saye akan jelaskan dengan cepat. Intinya Papa dan Yola ingin agar kami bercerai. Bahkan tengok! Tak cuma saye dan Yola, tetapi Ammar pun dipisah dengan Mamanya. Saye tak nak bercerai, Kak Ana ... Mungkin untuk kakak tak penting, tetapi saye betul-betul perlu pertolongan dari Kakak," ujar Ilham lagi.


"Kalau untuk mempertemukan kamu dan non Yola, saya tak bisa. Ibu sama Bapak akan marah kalau tahu," tolaknya.


"Tak. Bukan itu. Saye memang ingin sekali berjumpa dia, sebelum saye membawa Ammar ke Berlin. Tetapi saye tahu dia tak akan mahu berjumpa dengan saye, Kak. Saye hanya nak minta tolong ..."


Ilham mengambil dompetnya dan mengeluarkan kira-kira belasan lembar uang rupiah yang selalu dia siapkan jika ingin berkunjung ke Indonesia.


"Tolong belikan ape yang menjadi keperluan dia. Jangan bagi tahu ini dari saye, belikan dia makanan yang dia suke, dan jangan cakap pada orang lain juge. Saye ingin dia tetap mendapat nafkah dari saye. Dan ... kalau Kak Ana berkenan, boleh saye meminta nomor talipon ... handphone maksud saye. Saye nak tahu kabar dia. Tolong ... please ... " bujuk Ilham.


Ana sebenarnya ragu untuk membantu Ilham, tetapi mendengar Ilham yang terus memohon-mohon padanya dengan wajah yang memelas akhirnya tak urung membuat Ana luluh juga.


"Saye akan bagi Kak Ana wang juga, sebesar salary yang diberi keluarga Gunawan. Tolong, saye tak minta Kak Ana untuk berkhianat pada papa dan mama atau pun Yola. Hanya memberi kabar pada saya, oke? Saye hanya nak tahu kabar tentang Yola. Hanya ingin tahu dia dah makan ke? Sekolah dengan baik ke? Tolong Kak Ana ..."


Lagi-lagi Ilham memohon. Dan sungguh itu terlihat tulus dan tak dibuat-buat. Membuat hati Ana terenyuh melihatnya.


Dan jawaban Ilham sudah pasti jelas.


"Sangat."


Dan tak ada lagi yang bisa Ana katakan, selain bersedia membantu Ilham dan memberi nomor ponselnya.


"Baik, saya akan bantu. Tetapi jangan menghubungi saya duluan, kecuali saya yang memberi kabar duluan kalau saya sedang aman untuk di telepon. Saya nggak mau ketahuan Bapak. Bisa dipecat saya," katanya.


Ilham mengangguk.

__ADS_1


"Oke. Terima kasih, Kak Ana. Tolong jaga Yola, saye titip dia. Perhatikan dia punya makanan, hibur dia kalau dia sedang sedih. Saye hanya bisa meminta tolong pada Kak Ana," kata Ilham sedih. "Tolong jaga isteri saye, Kak Ana ..."


Ana mengangguk dan berjanji akan menjaga Yola sebelum dia keluar dari mobil. Dia bisa melihat kesedihan di mata pria itu. Mungkin hanya karena dia seorang pria yang harus menjaga harga dirinya makanya air mata itu ditahannya agar tidak jatuh.


Ana pun tahu kalau Yola juga punya perasaan yang sama pada suaminya itu meski dia tidak pernah mengatakannya. Wajah gadis itu selalu berseri setiap kali mendengar nama Ilham disebut. Oleh karena itu Ana sering menggodanya. Terlebih-lebih ketika dia baru kembali dari Malaysia 10 bulan yang lalu. Bahagia, hanya itu yang bisa dia simpulkan dari semua sikap Yola. Namun sejak berita tentang Ilham menikah lagi itu dan dia ketahuan sedang hamil, semua berubah drastis. Yola menjadi pemurung dan seperti apatis pada dunia. Ya Tuhan, entah cobaan apa yang anak majikan dan suaminya itu lalui, Ana hanya berharap semoga Yola bisa bahagia kembali seperti dulu, ceria dan manja bahkan pada semua orang.


Ilham menelan salivanya yang terasa pahit. Air mata itu rasanya jatuh ke dalam hatinya. Entah kapan lagi dia bisa melihat Yola. Dari dalam mobil dia hanya bisa melihat jendela kamar Yola. Dia bahkan tak pernah masuk ke sana. Gadis itu mungkin sedang menangis, karena Ammar akan dibawa pergi darinya.


Pikiran-pikiran Ilham langsung buyar saat tiba-tiba pintu mobil dibuka oleh Zubaedah. Ada Atok juga yang memilih duduk di depan. Mamah Zubaedah nampak menggendong seorang bayi.


"Kamu yang pegang Ammar, atau kamu yang bawa kereta?" tanya Mamah Zubaedah sambil memperlihatkan Ammar pada Ilham.


"Mamah sahaja yang bawa kereta," kata Ilham sembari meraih putranya itu ke dekapannya.


Zubaedah mengangguk. Dia bisa merasakan kesedihan mengharu biru yang dirasakan Ilham. Jangankan Ilham, Ratih pun di dalam tak kuasa menahan tangisannya. Dia bahkan tak sanggup mengantar cucunya ke luar rumah keluarga Gunawan. Begitu pun Yola. Dia bahkan tidak mau keluar kamar sekedar memberi pelukan terakhir untuk Ammar.


Ilham memeluk Ammar dengan sayang. Bayi itu merengek saat dia berada di dekapan Ilham, merasa asing dengan orang-orang yang menggendongnya selama ini. Hingga kemudian tangis bayi itu pun pecah, membuat Ilham ingin ikut juga menangis.


"Sayang, ini Papa. Ammar jangan menangis, ade papa kat sini. Kelak kite akan jemput Mama kesini, ya. Ammar ..."


Zubaedah mengusap air matanya yang jatuh begitu saja di pipinya, lalu tak menunggu lamaa dia segera menjalankan mobil.


Yola, sampai berjumpa lagi. Abang akan tunggu Yola. Kite akan bersama-sama kembali suatu saat nanti.


***

__ADS_1


Hai, hai, hai... selamat pagi reader beib... Koment dan likenya jangan lupa donk...


__ADS_2