Jodoh Dari Malaysia

Jodoh Dari Malaysia
Berdamai Dengan Masa Lalu


__ADS_3

"Apa maksudmu Atok, Sonia?" tanya Ilham.


Nalarnya langsung tertuju pada Yuri. Apakah mungkin Sonia mengetahui sesuatu tentang Atok yang kebetulan ada hubungannya dengan Yuri?


"A-a-a ... tok, a-a-tok ...."


"Iya, iya, saye tahu kau cakap Atok. Atok sini kan? Atok Yahya?" Ilham kembali bertanya untuk menegaskan kalau Atok yang dimaksud oleh Sonia memang Atok Yahya.


Sonia mengangguk. Dia ingin mengucapkan banyak hal. Tapi kerongkongannya seakan kering, tercekat, sulit mengucapkan apa yang ingin dia katakan. Bahkan lidahnya pun terasa kaku seperti bertulang namun tak memiliki otot yang luwes untuk digerakkan. Betapa Sonia ingin memperingatkan Ilham, kalau wanita tadi yang bernama Yuri itu adalah wanita berbahaya. Dia mungkin saja adalah orang yang membuat atok Yahya meninggal.


Sonia tahu dari percakapan para asisten rumah tangga, kalau yang menjadi tersangka dalam pembunuhan Atok Yahya Nirwan adalah Melisa. Tapi dengan usaha yang keras dalam mengingat potongan-potongan memori yang ia simpan pada hari itu, dimana Melisa mendapat sebuah telepon yang dia tau itu dari Mr.Y, Sonia berpikir kalau Yuri waktu itu bisa saja terlibat. Namun ini hanya dugaannya saja. Dan bagaimana cara dia menjelaskan tentang dugaannya itu pada Ilham dengan bahasa yang singkat dan mudah dimengerti?


"Ape yang ingin kau sampaikan, Sonia?" tanya Ilham sambil menatap Sonia yang mulutnya tampak seperti ingin mengucapkan sesuatu.


"A- a-atok," Sonia berucap dengan lirih.


"Hmm ... Atok ...? Habis tu?" Ilham dengan sabar berusaha memancing Sonia untuk tetap berbicara.


"Aaa-a-a-tok ..."


Telah beberapa menit Ilham menunggu namun hanya kata "atok" saja yang bisa keluar dari mulut Sonia. Ilham hampir saja kehilangan kesabarannya.


"Please, Sonia! Kau cakap yang lain! Aku tak faham ape yang kau nak cakap tu. Macam ni, aku tahu kau nak bagi tahu sesuatu, tetapi ... arggghhh!!" Ilham menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. "Macam mana orang nak tahu ape yang kau cakap. Sedari tadi kau hanya cakap atok-atok sahaja!"


Ilham mulai kesal karenanya sehingga Yola yang sedari tadi tidak jadi beranjak pergi merasa perlu untuk mencoba menenangkan Ilham untuk lebih bersabar.


"Baiklah! Sekarang kau cuba cakap yang lain! Kau dapat katakan ape sahaja? Kau dapat panggil namaku, kan?" tanya Ilham. "Il-ham!"


Ilham berusaha mengajari Sonia untuk dapat mengucapkan namanya.


"Cuba sebut, Il-ham! Tadi saat kat dapur kau dapat ucapkan agaknya!"


Sonia menatap Ilham dengan pandangan sayu. Tadi Ilham begitu lembut padanya. Tetapi hanya karena dia tak mampu berbicara banyak, pria itu kembali lagi ke sifat aslinya jika berhadapan dengannya. Ilham mulai kasar kembali.

__ADS_1


"Jom sebut, Il-ham!" Ilham mulai jengkel karena Sonia tak kunjung mengucapkan kata yang dia suruhkan padanya.


"Abang, sudah!" Yola melerai suaminya itu sebelum Ilham menyuruh Sonia mengatakan sesuatu yang membuat wanita itu semakin tertekan nanti.


Ilham menarik napasnya dalam-dalam dan membuangnya kasar. Dia sudah tidak sabar untuk mengorek informasi tentang Atok dari Sonia. Pasti ada yang ingin Sonia sampaikan, Ilham yakin itu! Kalau tidak Sonia tidak mungkin sampai mengucapkan nama atok di saat seperti ini. Selama ini, dia dan Atok tak pernah saling menggubris. Dia tidak mungkin menyebut nama Atok karena iseng, kan?


Yola lega, Ilham sudah tidak lagi mendesak Sonia. Kini lelaki itu menarik kursi meja rias dan duduk di sisi yang agak jauh dari Sonia. Dia tidak mau tekanan darahnya meninggi hanya karena menghadapi Sonia.


Kini Yola kembali duduk di ranjang, di samping Sonia. Dengan memberanikan diri, Yola menyentuh lengan Sonia, mengusapnya pelan. Sonia membuat gerakan menjauhi sentuhan Yola. Dia enggan disentuh oleh istri tua sekaligus istri muda suaminya itu. Hubungan yang rumit di antara mereka tidak akan semudah itu untuk berubah membaik, bukankah begitu?


Meski ada gerakan yang terindikasi penolakan dari Sonia untuknya, namun Yola tetap tak menghentikan tangannya mengelus lembut lengan wanita itu. Kini tangannya malah merapikan anak rambut Sonia yang nampak kusut dan lengket berantakan. Entah sudah berapa lama Sonia tidak keramas, nampaknya meski di keluarga Nirwan, wanita itu tetap kurang terawat. Tak ada perawat khusus yang merawatnya. Sejak insiden Atok Yahya meninggal ditambah Melisa di penjara, Mamah Zubaedah jadi was-was memasukkan orang lain untuk bekerja di keluarga Nirwan. Hingga yang mengurus Sonia hanya asisten rumah tangga yang sengaja ditambahkan gaji atau upah kerjanya. Namun hal itu rupanya mengakibatkan Sonia menjadi kurang terurus. Mungkin mereka memandikannya tiap hari, sekedar untuk membersihkan badannya saja dari keringat. Tetapi mereka mungkin tidak peduli perawatan lainnya, seperti keramas atau hal-hal lain yang dibutuhkan Sonia.


Tangan Yola kini beralih meraih telapak tangan Sonia. Benar, kukunya pun terlihat panjang, lama tak dipotong. Ya Tuhan, sepertinya Yola harus menggunakan kuasanya sebagai menantu keluarga Nirwan kali ini untuk menyuruh para ART itu agar lebih memperhatikan dan merawat Sonia.


"Kakak Sonia, bisa kita lupakan saja apa yang pernah terjadi antara kita?" Yola mengajak Sonia berbicara.


Trik? Bukan. Bukan. Apa yang Yola ingin katakan memang tulus dari hatinya yang paling dalam.


"Aku tau, kakak Sonia dan abang sudah lama saling mengenal jauh sebelum aku menikah dengan abang. Tetapi kakak Sonia belum tau, kan kalau aku dan abang bertemu jauh sebelum kakak Sonia mengenal abang? Aku dan abang sudah pernah bertemu sejak aku masih bayi, lalu saat aku sudah lebih besar. Kedua kakek kami maksudnya atok kami sudah menjodohkan kami sejak kecil. Dan saat aku masih umur 12 tahun mamahnya abang mendesak papa sama mamaku untuk menikahkan kami. Aku tahu apa yang terjadi pada kami di masa kecil, mungkin aku sudah tidak ingat lagi. Tetapi abang masih ingat dengan jelas, bagaimana dia punya kenangan tentang cinta masa kecil kami. Mungkin sebelum kami dipertemukan kembali, kakak Sonia dan Abang pernah dekat sebagai seorang sahabat, mungkin lebih. Kakak Sonia mungkin merasa aku telah merebut abang dari kakak, maafkan aku ya? Aku dan abang saling mencintai. Jika itu suatu kesalahan, tolong maafkan kami. Jika abang pernah memberikan harapan di masa lalu padamu entah itu berupa perkataan, atau sikap tolong maafkan dia yang tidak peka pada perasaan perempuan."


Entah Yola kesambet malaikat darimana hingga dia mengatakan hal seperti itu pada Sonia. Membuat Ilham bahkan heran melihatnya. Cara membujuk yang bagus, cibir Ilham dalam hati.


"Tetapi kakak ..." Yola meraih tangan Sonia semakin erat. "Harusnya hidupmu bisa lebih baik dari ini. Kamu seorang wanita yang tegar, kuat! Kamu nggak ingin menunjukkan pada lelaki buaya darat yang di pojok sanakah kalau kamu bisa hidup lebih layak dan mampu mendapat pria yang lebih baik?"


Tunggu sekejap, tunggu sekejap! Lelaki buaya darat? Ilham menunjuk pada hidungnya sendiri. Apa yang dimaksud Yola itu dirinya? Heyyy, bumil! Sepertinya kau terlalu dimanja akhir-akhir ini. Tunggu hukumanmu nanti!


Sonia melirik pada Yola Ilham dan kembali menatap Yola bingung.


"Maksudku, aku ingin kamu sehat kembali, Kakak Sonia. Kamu mau nggak kalau kami membawamu berobat secara intensif ke Penang? Bukan hanya sekedar mau, tetapi juga kamu harus punya keinginan untuk sembuh, sehat kembali seperti sedia kala. Mau ya?" bujuk Yola.


Sonia menatap Yola tanpa berkedip. Mimpi apa dia semalam, wanita ini datang padanya, meminta maaf dengan tulus dan juga memginginkan kesembuhan untuknya. Are you sure?


"Percayalah padaku, aku benar-benar ingin kamu sehat kembali, sungguh! Kalau kamu sakit begini, aku tak sampai hati membencimu. Aku kasihan padamu. Kamu pasti nggak mau dikasihani oleh saingan cintamu, kan?" kata Yola dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


Sonia mengedipkan matanya. Dia tahu Yola tulus. Dia gadis yang baik. Bahkan saat dulu dia mengatakan hal-hal buruk pada Yola dan menyakiti hatinya, tak sekali pun gadis kecil itu membalasnya dengan kata-kata yang menyakitkan hati. Dia selalu tahu batasan untuk tidak melukai hati orang lain. Dan Sonia tahu, Ilham adalah pria beruntung mendapatkan istri sebaik Yolanda.


Sonia mengangguk. Dan itu membuat senyum merekah di bibir tipis Yola. Sambil menyeka air mata yang menggantung di pelupuk matanya, Yola menggenggam tangan Sonia.


"Baiklah, aku dan abang akan persiapkan keberangkatan kakak Sonia ke Penang. Nanti kalau kami libur, kami akan antar kakak Sonia ke sana!" katanya.


Dan ... Ilham melongo dibuatnya. Sungguh istri yang membingungkan!


Sesaat ketiganya diam. Ilham merasa sudah waktunya mereka membiarkan Sonia untuk beristirahat dulu karena wanita itu nampaknya sudah mulai tenang kembali.


"Tetapi Kakak ... bisa tolong bantu jawab pertanyaanku? Apa Kakak Sonia dan Yuri temanku yang tadi pernah bertemu sebelumnya?" tanya Yola tiba-tiba.


Sonia tak langsung menjawab. Dan Ilham mulai khawatir Sonia akan histeris lagi. Sungguh Yola benar-benar ....


Namun sepertinya Ilham salah menduga, karena nyatanya perasaan Sonia kini tak selabil tadi. Sonia mengangguk menjawab pertanyaan Yola.


"Oke, Kakak Sonia mengenal dia dari Mr. Y?" Yola bertanya lagi.


Kali ini Sonia menggeleng. Ah, pertanyaan yang bodoh. Jelas-jelas sebelum dia memperkenalkan Yuri dan Sonia tadi, Sonia masih bisa mengendalikan dirinya. Dia baru histeris saat tau kalau Yuri anak angkat Mr. Y. Itu artinya dia pernah bertemu dengan Yuri tapi tidak sebagai seseorang yang bekerja untuk Mr. Y.


"Kaka bertemu dia dimana?" Yola bertanya.


Sonia tak menjawab. Tetapi raut wajahnya kembali gelisah.


"Di rumah ini?" tebak Yola asal.


Dan tak diduga setelah beberapa menit menanti jawaban, akhirnya Sonia dengan mantap mengangguk.


Ilham sampai membelalakkan matanya. Dia terkejut.


***


Hai, hai, hai... Like dan koment jangan lupa beib ...

__ADS_1


__ADS_2