
Mereka berempat, Ilham, Yola, Makcik Aminah dan datuk Abidin tiba di rumah sakit menjelang siang. Makcik Aminah menyempatkan diri untuk menjenguk Sonia, mumpung ini masih jam makan siang, dimana beberapa dokter rehat sementara dari aktivitas menangani pasien sementara.
Mereka segera pergi ke ruang perawatan Sonia. Ilham sendiri hanya mengecek sebentar lalu kemudian memutuskan untuk keluar dari ruangan perawatan Sonia itu. Dia memilih untuk menelepon Leon atau Hafiz. Ilham yakin kalau hanya masalah yang berkaitan dengan administrasi Sonia, Yola sendiri masih bisa mengatasinya.
Ilham baru memutuskan untuk menelepon Leon, saat Hafiz menghubunginya. Ilham pun menerima panggilan itu.
"Hallo, Hafiz? Ade kabar ape? Abang baru sahaja nak talipon Leon nak bertanya perkembangan perkara tentang Yuri," sapa Ilham.
Terdengar deru napas tak beraturan di seberang sana. Hafiz sedang menahan amarah dan kecewanya karena perdebatannya dengan mamah Zubaedah tadi.
"Kau kenape?" tanya Ilham heran.
Hafiz terdengar membuang napasnya.
"Abang, menurut pemikiran abang, ape mungkin Yuri tu Andini? Anak kandung Mamah yang hilang?" tanyanya dengan nada terdengar frustasi.
Ilham terkejut dibuatnya lalu tertawa geli.
"Mana mungkin ade hal macam tu. Yuri tak mungkin Andini, kau dapat berita pelik macam tu dari mana? Membuat abang nak tertawa sahaja," kata Ilham dengan tawa berderai.
"Tetapi itu yang dikatakan Mamah, Abang! Mamah kate, Yuri adalah anak kandung Mamah yang hilang. Mr. Y ... emhh maksudku Lucas, dia manalipon Mamah tadi malam dan cakap hal macam tu. Tadi pun ...."
Hafiz mulai menceritakan apa yang terjadi di rumah keluarga Nirwab hari ini, dari keanehan sikap Zubaedah saat sarapan, sampai cerita mata sang mama sembab hingga sikap temperamennya yang bahkan sampai mrngabaikan Putri dan menampar dirinya hingga akhirnya orang tua itu menceritakan semua yang ingin dia ketahui.
"Ape? Mamah menamparmu? Mamah Hafiz? Mamah?" tanya Ilham masih tak percaya.
Sepanjang pengetahuannya meski Mamah Zubaedah tergolong sebagai mamah cerewet dan terkadang sedikit tegas, tetapi Ilham belum pernah melihat Mamah Zubaedah sampai memukul orang, kecuali memukul dirinya tentu saja. Itu pun dulu saat Mamah Zubaedah mengetahui perselingkuhanya dengan Sonia saat dia masih di Berlin. Mamah Zubaedah tak hanya memukulnya, mungkin ingin mencekiknya juga.
Ahh, mengingat kata-kata selingkuh membuat Ilham merasa tak enak hati lagi pada Yola. Waktu itu antara dia dan Yola belum ada pembicaraan hati ke hati membahas masalah pernikahan, apalagi sampai berhubungan badan hingga Ilham berani menjalin hubungan terlarang dengan Sonia waktu itu. Meski dia dan Sonia pun tak sampai melakukan hubungan intim, bukankah tetap saja waktu itu dia telah menikah dengan Yola? Kalau tidak selingkuh apa namanya?
"Hmm, Mamah menamparku kerana aku cakap lebih baik Yuri itu dihukum mati. Mamah tak terima, Abang. Aku ditampar!" keluh Hafiz lagi.
Ilham terkekeh mendengarnya. Dia dapat membayangkan Hafiz saat ini pasti sedang mengelus-elus pipinya, merasakan panas yang menjalar di bekas tamparan sang Mamah.
"Kau usah khawatir, mamah lakukan tu bukan kerana dia tak sayang padamu. Itu hanya kerana Andini. Mamah mungkin terhasut oleh Lucas, dan menyangka Yuri betul-betul Andini," kata Ilham mencoba menenangkan Hafiz.
"Jadi abang pun tak percaya kan kalau Yuri adalah Andini?"
"Tak. Tak sikit pun. Macam mana wanita dengan perangai buruk macak tu boleh jadi keluarga Nirwan? Kau sendiri percaya ke?" tanya Ilham balik.
Hafiz menggeleng.
"Aku tak percaye, tapi macam mana kalau semisalnya itu betul, arghhh!" Entah kenapa di saat-saat seperti ini Hafiz merasa pikirannya tiba-tiba berubah kekanakan. Dia takut posisinya sebagai anak dari keluarga Nirwan tersisih kembali.
Ilham sepertinya mengerti apa yang dipikirkan oleh adiknya ini.
"Mase ni ade banyak sekali terobosan dan technology yang dapat membuktikan kecocokan genetik. Kau usah khawatir, kite tak akan senang (mudah) diperdaya macam tu. Jika pun betul Andini balik, abang tak percaya kalau itu Yuri. Dan jikamana Andini balik pun tak akan ade yang berubah. Kau tetap Tengku Hafiz Nirwan, budak kesayangan Nirwan family. Adik kesayangan abangya g degil, intanpayong. Kau dengar, Ndut?" tutur Ilham dengan lugas.
"Hmmm," gumam Hafiz mengiyakan. Tak ada keraguan di hatinya mendengar kata-kata Ilha
Lalu mereka abang dan adik itu pun kembali berbincang mendiskusikan rencana-rencana mereka selanjutnya untuk menghadapi tipu muslihat Lucas lainnya. Termasuk mempersiapkan rencana uji paternitas kecocokan gen Yuri dengan anggota keluarga Nirwan.
Sementara itu, di dalam ruang perawatan, Yola dan Makcik Aminah yang sibuk mengobrol membicarakan tentang orang yang akan mereka pekerjakan untuk merawat Sonia tiba-tiba teringat pada Datuk Abidin yang tidak terlihat berada di ruangan ini.
"Yo-Yola, datukmu mana?" pekik Aminah dengan panik saat menyadari ayahnya tak ada di sana.
Mereka pun sibuk mencari. Makcik Aminah segera keluar dan mencari datuk Abidin di ruang-ruang perawatan yang menjadi tetangga kamar perawatan Sonia. Tak ada dimana-mana. Yola juga menjadi ikut panik karena hilangnya datuk Abidin. Segera dia mencari Ilham untuk ikut membantu mencari orang tua itu. Hingga akhirya dia menemukan Ilham berada di bangku panjang di salah teras entah ruangan apa yang terlihat sepi.
__ADS_1
"Abang! Abang! Tolongin! Datuk Abidin hilang abang! Hilang!" seru bumil itu panik.
Ilham yang sedang bertelepon dengan Hafiz menjeda sejenak pebincangannya dengan Hafiz.
"Hafiz, tunggu sekejap, .. emm ape maksudmu hilang, sayang?" tanya Ilham pada Yola.
"Hilang! Datuk Abidin hilang, Abang!" seru Yola panik.
"Macam mana Datuk dapat hilang?" Ilham balas bertanya. "Oke, oke, sekejap abang tolong cari datuk. Hafiz! Abang akhiri dahulu talipon ini, hmm? Datuk Abidin hilang! Kau tahu macam mana keadaannya, kan? Abang matikan dahulu talipon ni! Assalamualaikum!"
"Hmm ... waalaikumsalam," jawab Hafiz sebelum panggilan telepon itu benar-benar terputus.
Usai memutuskan sambungan telepon, Ilham beserta Yola pun segera ikut mencari Datuk Abidin. Di rumah sakit sebesar ini mencari satu orang bukanlah hal yang mudah. Di setiap bangsal mereka cari. Dari departemen syaraf hingga geriatri yang paling jauh lokasinya dari ruang rawat Sonia mereka kunjungi, bahkan hingga ke poly obgyn yang notabene isinya sudah pasti pasien perempuan. Tetapi kondisi Datuk Abidin yang pikun sudah pasti menghilang bukan karena ia ingin berobat sendiri pastinya. Pastinya demensia sedang kumat saat ini. Dan kakinya bisa melangkah kemana saja di bawah alam sadarnya.
Hingga akhirnya setelah berpercar dengan Makcik Aminah, Ilham dan Yola pun akhirnya bertemu di poli jantung dan pembuluh darah.
"Makcik tak berjumpe dengan datuk ke?" tanya Ilham ngos-ngosan. Sedari tadi dia berlari-lari kecil mencari orang tua itu, takut kalau datuk Abidin pergi semakin jauh. Sementara itu Yola mengikuti dari belakang, tak sanggup mengimbangi langkah kaki Ilham dengan berlari mengingat perutnya yang membuncit itu.
"Tak de, tak ade kat mana pun," jawab Makcik Aminah dengan panik. Beliau sampai mengeluarkan keringat hingga sebagian anak-anak rambutnya yang basah keluar dari dalam jilbabnya.
"Ilham pun dah cari kemana-mana makcik, hanya tinggal poli jantung ni sahaja agaknya yang belum Ilham periksa biliknya satu persatu," kata Ilham menimpali jawaban makcik Aminah.
"Makcik pun agaknya hanya ini sahaja yang belum. Kalau tak de juge kat sini khawatirnya dah pergi ke luar hospital," risau Makcik Aminah.
"Usah risau, Makcik. Kite akan cari bersama-sama. Kalau tak ade kat sini, nanti kita akan meminta pertolongan pihak hospital supaya mereka dapat cari melalui CCTV," kata Ilham mulai menenangkan.
Makcik Aminah mengangguk.
"Jom, kite cari lagi datukmu! Makcik akan periksa ke ruang rawat, kau cuba tanya pada juru rawat dan pegawai yang ade kat situ siapa tahu mereka melihat datukmu," pinta Makcik Aminah sebelum dia kembali mencari ayahnya kembali.
Ilham pun mengiyakan. Sambil mencari, dia melakukan panggilan telepon pada supir keluarga Nirwan agar ikut mencari di area parkir yang dekat dengan gerbang rumah sakit, siapa tahu datuk Abidin luput dari pencarian mereka dan keluar lewat sana.
Ilham mengernyitkan keningnya, mencoba melihat ke ruangan pasien yang tertutup itu. Lalu dia pun berinisiatif bertanya pada juru rawat jaga.
"Dik, saye nak tanya, tadi kat sini ade orang tua ke? Enggg ... sekejap!" Ilham mengambil ponselnya dan mencari foto keluarga yang di dalamnya ada datuk Abidin.
Di saat yang bersamaan, Makcik Aminah pun datang bersama Yola terlihat kelelahan karena ikut mencar sang datuk. Mereka berdua menghampiri Ilham.
"Ini! Datuk ni, adik pernah berjumpa die ke hari ini?" tanya Ilham sambil menyodorkan ponselnya pada perawat itu.
Perawat itu melihat dengan seksama foto datuk Abidin yang ditunjuk Ilham pada ponselnya.
"Hum, ade, ade. Datuk ni mase ni sedang berade bilik doktor Abraham. Datuk ni keluarganya abang dan kakak ni ke?" tanyanya sambil menatap Ilham, Yola dan Makcik Aminah bergantian.
"Betul. Kami ni family datuk ni. Datang nak berubat ke spesialis syaraf kerana penyakit demensia datuk ni agaknya sedang kambuh, dia tak ingat apa pun," kata Ilham mencoba memberi penjelasan sekalian pengertian pada perawat itu.
Perawat itu mengangguk-angguk tanda paham kemudian berdiri.
"Jom, ikut saye. Tadi Datuk tu memaksa nak jumpe dengan doctor Abraham. Saye tak kuasa menahan datuk tu padahal datuk tu belum mendaftar kat pentadbiran (administrasi). Tetapi untung sahaja, doctor tak marah dan suruh saye tinggalkan mereka berdua kat bilik tu," kata perawat itu menjelaskan.
Ilham mengernyitkan kening tanda heran. Datuk Abidin ingin berjumpa dengan dokter spesialis jantung? Untuk apa? Apa dia diam-diam juga mengidap penyakit jantung tanpa sepengetahuan keluarganya? begitulah isi pikiran Ilham. Dan sepertinya Yola dan makcik Aminah juga cukup heran dengan hal ini.
Tanpa bertanya ketiganya mengikuti sang perawat mengantarkan mereka hingga depan pintu. Perawat itu akan mengetuk pintu tetapi Ilham sudah tak sabar ingin mengetahui apa yang dirahasiakan datuk Abidin dari mereka. Jika pintu diketuk lebih dulu, bukan tidak mungkin rahasia tentang penyakit datuk Abidin akan terbongkar. Ahh, orang tua itu! Sudah pintar main rahasia-rahasiaan rupanya.
Maka sebelum perawat itu mengetuk pintu, Ilham membuka pintu itu terlebih dahulu.
"Saye mengirim Andini kami pada awak 24 tahun silam. Awak lupa ke?"
__ADS_1
Perkataan yang meluncur dari orang tua yang membelakangi posisi mereka yang sedang berada di depan pintu, tak ayal membuat Ilham jadi syok. Andini? Ada apa ini? Andini yang mana yang datuk Abidin maksud?
Yola dan makcik Aminah pun saling pandang tak mengerti.
"An-dini? Apa maksud Datuk?" Ilham tanpa tahu adab dan sopan santun lagi segera melangkah masuk ke dalam ruangan dokter Abraham.
Dan lihatlah, hal yang semakin tidak bisa dimengerti oleh Ilham adalah dokter ini jauh lebih syok melihat kehadiran dirinya. Tak terkecuali dengan datuk Abidin. Suasana dalam ruang prakter itu tiba-tiba diliputi ketegangan.
"Maaf, maafkan saye sekali lagi, Doctor! Abang, kakak dan Makcik ni adalah family datuk ni. Saya baru sahaja nak ketuk pintu, tetapi abang ni ..."
Perawat itu kembali memohon maaf pada doktor Abraham. Sungguh dia tidak menyangka situasinya akan setegang ini.
Dr. Abraham mengangguk sambil mengibas-ngibaskan tangannya untuk menyuruh perawat itu pergi. Situasi ini nampaknya tidak terlalu menguntungkannya.
"Datuk! Tolong jelaskan ape hal ni? Andini siape yang datuk maksud? 24 tahun silam? Itu adalah mase Andini, adiknya Ilham menghilang, kan?" tuntut Ilham pada orang tua itu.
Datuk Abidib tak bergeming. Dia hanya memejamkan matanya sambil menghela napas yang dalam. Mungkin sudah saatnya semua tahu apa yang dia lakukan beberapa tahun silam.
"Datuk!" desak Ilham lagi.
Karena tak kunjung mendapat jawaban dari sang datuk, Ilham pun kini berpaling pada dokter itu.
"Doctor! Boleh doktor jelaskan ape yang terjadi kat sini? Kenape Datuk saye kate dia mengirim Andini pada doktor 24 tahun silam? Andini yang dimaksud mestilah adik saye. Tak mungkin tidak! Jawab saye, Doctor!" Dengan emosi Ilham menggebrak meja dr. Abraham hingga membuat semua yang ada di sana terkejut.
Dr. Abraham mendengus. Ini tidak mudah untuk dia jelaskan.
"Jawab, Doktor!!! Andini kami, dia ade bersama doktor, kan?" tebak Ilham.
Diamnya dr. Abraham sudah bisa menjelaskan jawaban dari pertanyaan Ilham yang sedari tadi mendominasi situasi di ruangan ini.
"Dia ade kat mane mase ni?Andini kami mestilah ade bersama doktor? Dimana dia? Ade kat mana dia mase ni?" tanyanya seperti orang kesetanan sambil mencengkram kerah baju dr. Abraham yang sedari tadi belum mau membuka mulutnya.
"Datuk, tolong jelaskan pade saye, ape yang sebetulnya terjadi? Jadi yang menculik Andini adalah datuk sendiri? Dan selama ini datuk diam sahaja tengok kami menderita! Mamah menangisi Andini setiap hari bahkan sampai sekarang, air mata dia tak pernah habis untuk Andini! Dan datuk pun tahu, perkahwinan saye dan Yola pun sampai hancur berantakan hingga 7 tahun lamanya, Datuk! Itu semua dikeranakan Andini tak dapat ditemukan. Sampai hati sekali, Datuk! Ilham tak menyangke, Datuk akan berbuat macam ni. Kenape Datuk lakukan semua ni? Ape salah Andini? Ape salah kami? Dan ape untungnya bagi datuk berbuat macam ni? Demi wang ke?!" jerit Ilham histeris.
"Abang! Sudah!" Yola menghampiri Ilham untuk menenangkan suaminya itu. "Bagaimana cara Atok dan dokter ini menjelaskannya kalau abang tidak memberikan mereka kesempatan untuk menjelaskan?" bujuk Yola sambil tangannya mengelus-elus punggung Ilham.
Ilham agak melunak mendapati perlakuan lembut sang istri.
"Abang duduk dulu, ya? Dokter, maaf mengganggu bisa kami duduk di sini? Kami butuh penjelasan dari dokter, eh maksud saya perlu," kata Yola menyempatkan diri meralat kata "butuh" menjadi "perlu".
Di Malaysia kata "butuh" adalah sesuatu kata yang tidak layak diucapkan karena memiliki arti kata yang tidak layak diucapkan di khalayak. Butuh sama halnya dengan kelamin perempuan.
Mendengar Yola yang meralat bahasanya dr. Abraham malah tersenyum.
"Kamu pasti Yolanda," tebaknya dengan logat yang sangat Indonesia.
Yola mengernyitkan keningnya heran. Dokter ini mengenalnya?
"Hm iya, kenapa dokter bisa tau?" tanyanya lugu.
"Andini, putriku, sering menceritakan tentangmu. Dia menyukaimu, iparnya."
"Hum?"
Yola tercengang.
****
__ADS_1
Hai, hai, hai ... Gimana, gimana? Dr. Abraham kira-kira mau nggak ya, anak yang sudah dianggapnya anak semata wayangnya kembali ke keluarga aslinya? JDM menuju ending. Selalu pantengin dan suport author ya ...