Jodoh Dari Malaysia

Jodoh Dari Malaysia
Strategi


__ADS_3

Acacia Elementary School,


"Yolaaa!!!!" jerit seorang anak perempuan saat melihat Yola yang diantar sang Mama ke sekolahnya pagi itu.


Dengan senangnya anak perempuan itu langsung menyambut Yola, memeluknya kencang-kencang.


"Isss, Friska apaan sih? Pelan-pelan ..." keluh Yola.


"Yol, Lama banget tau nggak sih kamu masuk sekolahnya. Biasanya kalau kamu lagi liburan ke LN nggak selama ini. Aku kan jadi kangen..." rengek Yuri.


"Haiss, bilang aja karena kamu nggak ada tempat buat nyontek PR, ya kan? Kamu mah kangen sama aku paling cuma gara-gara itu, ya kan?" cibir Yola.


"Ya nggak donk! Beneran kangen tau ..." kata Friska sambil memeluk lagi tubuh Yola. "Memang kamu liburan kemana sih?" tanya Friska lagi dengan penasaran.


"Sssstt ... jangan keras-keras ngomongnya," larang Yola sambil membekap mulut Friska.


"Ihhh, memangnya kenapa? Takut dimintai oleh-oleh, ya?" tanya Friska tak mengerti.


Yola menarik tangan Friska menjauh dari kerumunan.


"Kakek bilang nggak ada yang boleh tau aku dan kakek pergi ke Kamboja," bisik Yola.


"Ke Kamboja? Itu dimana? Kok kayak nama bunga kuburan?" tanya Friska masih tak mengerti.


Pelajaran mereka tentang nama-nama IPS mereka tentang nama-nama negara belum sampai di situ. Friska hanya tau nama negara-negara populer yang biasa dikunjungi untuk berlibur seperti Hongkong, Singapore, dan sedikit negara-negara di Eropa.


Yola menepuk jidat mendengar konyolnya Yuri.


"Bunga kuburan apaan, dodol? Aku sama kakek pergi ke negara Kamboja! Tau nggak Kamboja?" tanya Yola.


Friska menggeleng lugu dan polos.


"Kalau nggak tau ya sudah ah. Aku juga susah ngejelasinnya. Yang pasti aku seminggu ini ada di sana sama Kakek. Tapi kamu jangan bilang sama siapa-siapa, ya? Mama sama Papa aja taunya aku sama Kakek cuma ke Malaysia," bisik Yola.


"Loh, kok gitu? Kenapa nggak boleh ada yang tahu?" tanya Friska.


"Ya mana ku tahu, Fris! Mungkin karena ..."

__ADS_1


Yola belum selesai berbicara saat seseorang menyeru memanggil Friska.


"Friska!!!" seru seseorang yang juga baru turun dari mobil mewah.


"Yuri!!!" balas Friska sambil melambai memanggil orang yang baru saja memanggil namanya.


"Siapa?" tanya Yola dengan kening yang mengerut.


Dia tidak pernah melihat anak itu sebelumnya.


"Murid baru," bisik Friska sambil menyongsong Yuri.


"Friska, kamu sudah ngerjain PR belum? Aku sudah ngerjain PR. Kalau belum kamu boleh kok nyontek punyaku. Mumpung belum bel," bisik anak bernama Yuri itu.


"Duhhhh, kamu memang temanku yang terbaik, Yur. Nggak kayak si Yola tuh, ngasih contekan aku harus ngemis-ngemis dulu baru deh dikasih, huuu ...." cibir Friska.


"Namanya PR ya dikerjain di rumah. Bukan di sekolah!" kata Yola membalas cibiran Friska.


"Tuh, kan? Nyebelin dia!" jawab Friska.


"Tadi kamu bilang kangen sama aku, gimana sih?" kata Yola sebal.


Yuri menatap Yola seakan memastikan sesuatu.


"Hai, aku Yuri Pramestika. Kamu pasti Yolanda Gunawan kan?" tanyanya sebelum mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Yola.


Yola tanpa ragu menyambut uluran tangan itu.


"Iya, aku Yolanda Gunawan. Kok kamu ta sih? Kan aku jadi merasa famous jadinya hahaha" jawab Yola dengan tawanya yang ramah. "Tapi panggil aja aku Yola. Semua orang-orang memanggil aku kayak gitu."


"Oh, gitu. Oke deh kalau gitu. Mulai sekarang kita berteman, ya! Kamu mau, kan? Aku baru pindah soalnya. Belum banyak teman," kata Yuri.


Yola mengangguk.


"Kalau udah kenalannya, kita ke kelas aja, yuk? Aku mau ngerjain PR dulu nih. Keburu Pak Rendra datang, kelar riwayatku entar," celutuk Friska. "Yol, kamu nggak ikutan nyontek punya Yuri nih? Kamu juga belum ngerjain PR, kan?"


"Nggak ah. Pak Rendra juga tahu aku baru masuk sekolah hari ini. Dan aku juga paling ogah mencontek tugasnya orang lain. Memangnya kamu .... Huuuu," cibir Yola lagi.

__ADS_1


"Iya deh, iya iya. Murid kesayangan para guru-guru," ledek Friska.


"Ya udah buruan masuk kelas, yuk!" ajak Yola seraya menggandeng pundak Friska sahabatnya.


Keduanya berjalan sambil sesekali Yola memberat-berati pundak Friska dengan rangkulannya.


Yuri yang berjalan di belakang menatap lekat-lekat punggung Yola. Jadi inilah Yola yang harus dia dekati dan dia jadikan teman? Benar-benar anak yang berbeda. Semua yang bersekolah di sekolah Acacia Intenational School pastinya adalah anak-anak dari orang kaya. Tetapi Yolanda ini memang berbeda. Hanya melihatnya sekilas saja pun orang pasti sudah tahu kalau dia bukan anak yang terlahir biasa-biasa saja. Dia terlihat berbeda!


Tadinya Yuri pikir akan sulit mengajak anak ini berteman. Tetapi ternyata segampang ini. Yola ternyata tidak pilih-pilih teman.


"Yuri, Ayo!!!" seru Yola yang baru saja sadar kalau teman barunya tertinggal jauh di belakang.


"I-iya," sahut Yuri seraya mempercepat jalannya untuk menyusul Yola dan Friska ke kelas.


*Flashback Off*


****


"Amazing!!!! Macam mana Puan Pengarah Marketing boleh kalahkan mereka di meeting room tadi. Terlambat sikit sahaja, aku dah tak tahu lagi macam mana nasib N-one nih di tangan lelaki tu," kata Leon masih merasa takjub.


Kini mereka berempat, dua pasangan suami istri itu sedang berkumpul di ruang kerja Ilham.


Ilham melirik Yola yang masih sedikit syok akibat pertengkarannya dengan Yuri.Wanita itu masih sulit menerima kalau sahabatnya itu ternyata pengkhianat.


"Nadira, kau dah tahu dari meeting tadi macam mana situasi kat N-one ni mase ni. Aku rase selain orang-orang yang ade kat meeting room tadi, masih ade banyak lagi pegawai-pegawai kat N-one yang bekerja dengannya. Boleh kau tolong aku untuk mencari tahu siape-siape orang-orang tu? Tolong kau tengok ulang dan periksa curriculum vitae pegawai-pegawai sini dan bagi tahu aku jika ade yang mencurigakan. Kite harus melakukan pembersihan N-one dari pegawai-pegawai penyusup dan pengkhianat dimulai dari bahagian personalia. Itu dari divisimu. Tolong diperhatikan, Nadira dan lakukan secara rahsia!" pinta Ilham.


Nadira mengangguk.


"Baiklah. Aku akan menyelidik kembali pegawai-pegawai mana yang perlu kita waspadai," kata Nadira menerima perintah itu.


"Dan selidik juge pegawai kat bilik monitor CCTV. Aku rase semua pegawai yang bekerja kat situ perlu kite ganti. Dan cari orang-orang yang dapat dipercaye untuk jage bilik CCTV," lanjut Ilham.


Nadira kembali mengangguk.


"Dan aku mesti pikirkan cara macam mana membuktikan kalau kepemilikan saham 42% punya Atok telah diambil dengan cara yang tak betul oleh Lucas. Aku tak percaye Atok menjual sahamnya pade orang tu!" kata Ilham geram.


***

__ADS_1


Hai beib jangan lupa like dan komentanya ya..


__ADS_2