Jodoh Dari Malaysia

Jodoh Dari Malaysia
Percakapan Mama Ratih dan Andini


__ADS_3

"Tante Ratih datang!! Ih, bawa oleh-oleh apa dari Jakarta, Tan?" tanya Putri begitu ia melihat Ratih dan Abimanyu ada di ruang tamu yang telah dikosongkan dan hanya dibentangkan oleh ambal itu.


"Tante cuma bawa jajanan yang kira-kira nggak ada di sini aja sih buat oleh-oleh. Tadi tante ada titip ke Makcik ART sini. Nanti kamu periksa sendiri aja di dapur, ya!" kata Ratih pada Putri.


"He em. Tante!!! Kangeen ...." Putri dengan manja memeluk Ratih yang segera disambut juga oleh pelukan dari tantenya itu.


"Ihh, Putri! Tante juga kangen loh. Kamu gimana di sini? Betah nggak?" tanya Ratih.


"Betah donk! Kan ada babang Hafiz!" celutuk Yola sambil tertawa ngakak.


"Iss, Yola! Tante, lihat! Yola suka gangguin aku deh!" gerutu Putri sambil dia menyempatkan diri berganti menyalim tangan Abimanyu.


Hal itu malah membuat Ratih ikut tertawa.


"Bagus donk. Berarti nggak lama kita bakal rame-rame donk di Palembang?" sahut Ratih.


"Ihh, Tante ...." rengek Putri manja.


"Nggak apa-apa donk kalau Tante pengen tau. Biar Tante bisa siap-siap, kan? Nggak dadakan entar ke acara kamu," kata Ratih.


"Hmm ... acara apaan sih, Tan? Masih lama kali ... Tunggu Yola lahiran dulu, Tan," jawab Putri.


"Yola lahirannya kan masih dua bulanan lagi, Put? Nggak kelamaan? Toh habis lahiran juga Yola nggak akan bisa ikut ke Palembang sebelum baby-nya gedean dikit. Kasihan dibawa naik pesawat kalau umurnya masih mingguan, ya kan?"


"Emm, nggak apa-apa, Tan. Mama juga nggak keberatan kok. Hitung-hitung biar saling mengenal satu sama lain dulu," kata Putri.


Ratih mengangguk-angguk.


"Berarti mama kamu udah setuju donk? Udah pernah ngomong emang sama calon mertuamu?"


Putri mengangguk malu-malu.


"Ada, waktu itu vidio call-an ke Palembang pas Andini baru datang, Tan," jawabnya tersipu.


Mendengar nama Andini disebut membuat Ratih baru sadar akan kehadiran Andini yang juga ada disana.


"Eh, iya, Tante hampir lupa. Kamu ... Andini?" Ratih lalu berpaling pada Andini yang duduk di samping Putri.


Andini mengangguk.


"Wahh, udah besar kamu ya. Dulu waktu kamu dibawa Mama kamu ke Jakarta, kamu masih bayi. Waktu itu Tante masih hamil Yola, kamu masih umur enam bulan kalau nggak salah waktu itu, ya? Dan terjadi lah kehilangan kamu. Dan sekarang nggak disangka kamu sudah segede ini. Cantik lagi!" puji Ratih sambil mengusap lembut bahu Andini.

__ADS_1


Di moment itu Ratih mengajak Andini untuk mengobrol banyak hal tentang kehidupan adik iparnya Yola itu selama ini. Ratih menyayangkan keadaan selama ini betapa sulitnya mereka menemukan Andini, bahkan polisi juga tak juga mendapat titik terang, padahal Andini masih berada di Jakarta.


"Padahal loh, Ma, Dini tuh udah lama tahu tentang Yola. Dia tahu rumah kita, pokoknya tahu semua," celutuk Yola.


"Kok bisa?!" tanya Ratih heran.


"Ya, bisalah Ma. Sebenarnya tuh dia dah lama tahu kalau kita ini keluarga kandungnya, tapi dia nggak mau menampakkan diri. Lebih suka stalking iparnya kemana-mana.Tapi nggak mau ngaku," cibir Yola.


"Oh, ya?" Respon Ratih takjub. Sementara Andini hanya bisa mengumpat jengkel karena Yola terus mengoceh kan dirinya seenakk jidat.


"Dia juga tahu rumah kita, rumah Mamah Zubaedah di Jakarta, tahu Hafiz juga," imbuh Yola.


"Oh kenapa kok begitu, Sayang? Kenapa kami menyembunyikan dirimu? Kami semua sudah lama menantikan bisa berkumpul dengan kamu. Kami semua keluarga Nirwan dan keluarga Gunawan telah lama mencarimu. Kamu lihat? Yola bahkan sampai harus dinikahkan sama Ilham karena tuntutan Mama kamu. Dia menuntut tanggung jawab kami karena kamu hilangnya di rumah Gunawan," kata Ratih memberi tahu.


"Maaf, Tante ..." ucap Andini lirih. Ternyata berita itu memang benar adanya. Yola dinikahkan dini dengan Ilham karena kasus hilangnya dia.


Ratih menghela napas. Andai kondisinya masih rumit seperti sebelum Ilham dan Yola rujuk kembali, pasti lah saat ini Ratih akan menunjukkan kemarahannya pada gadis di depannya ini.Tapi kan Yola sekarang sudah kembali dengan Ilham? Dia terlihat bahagia disayang dan dicintai lelaki itu.


"Nggak apa-apa, Sayang. Itu hanya masa lalu dan jembatan penghubung keluarga kita. Berkat kamu juga Ilham dan Yola bersatu. Kamu nggak lihat perutnya besar begitu? Kalau bukan berkat kamu, mana mungkin kita saat ini sedang ngumpul di sini, ya kan?" ujar Ratih.


Andini mengangguk ragu.


"InsyaAllah, Tante," jawab Andini.


"Tapi ngomong-ngomong, kamu kan seumuran Yola sama Putri, Yola udah nikah, Putri pun bentar lagi kayaknya sama Hafiz, kamu kapan donk?" goda Ratih.


Andini tertawa kecil.


"Belum kepikiran, Tan, masih mau ngelanjutin S2-ku di sini. Dan lagi pula belum ada calonnya," jawabnya jujur.


"Ahhh, masa?" Ratih membelalakkan mata tak percaya. "Cantik gini belum punya pacar, Tante nggak percaya deh."


"Iya, benaran. Dini nggak bohong," jawabnya.


"Waah, bagus sih daripada pacaran-pacaran nggak jelas. Kalau memang nemu yang cocok, mending langsung nikah aja sekalian," kata Ratih.


Andini tersenyum.


"Kalau Tante jodohin aja gimana? Mau nggak?"


Hah? Andini mengedip-ngedipkan matanya.

__ADS_1


"Emm ... anu ..."


"Gimana? Tante punya calon yang pas kalau kamu mau. Anaknya baik, dari keluarga baik-baik," kata Ratih.


"Ihh, Mama apaan? Nggak enak sama besan. Andini baru ketemu udah dijodoh-jodohin aja," sela Abimanyu.


"Ihh, Papa apaan. Kan Mamah cuma nanya syukur-syukur kalau Andini mau. Nggak juga nggak apa-apa, namanya juga usaha, siapa tahu jodoh," kata Ratih.


"Memang mau dijodohin sama siapa sih, Ma? Mama nih juga aneh-aneh aja. Benar kata Papa, kalau didengar Mama Zubaedah nggak enak loh," sela Yola mendukung kata-kata Abimanyu.


"Rafly!" jawab Ratih.


"Rafly?"


"Hmm ..."


Yola terdiam. Dia tak ingin menanyakan apa-apa perihal lelaki itu. Dan lagi pula nggak enak kalau Andini sampai tahu kalau Rafly yang ingin dicomblangin sama Ratih adalah orang yang pernah ditolaknya waktu itu.


"Rafly anak yang baik, mapan, anak temannya Papa pula. Memang kenapa? Nggak salahkan Mama coba kenalin Andini sama Rafly? Kali aja cocok," tutur Ratih.


"Iya sih, tapi ...."


"Yol!" panggil Eva menyela obrolan Yola dan Ratih.


Yola menoleh dan mengernyitkan keningnya.


"Dia nelpon." Eva menunjukkan ponselnya pada Yola.


Yola memperhatikan layar ponsel Eva yang tertera nama "Bajingan" dan foto seseorang yang ternyata adalah Martin.


"Tunggu sebentar, Mah!" pamit Yola pada Ratih. Kemudian dia berpaling pada Eva dan menggaet Eva.


"Angkat aja teleponnya. Yuk ke kamarku aja, biar nggak berisik di sini!" ajak Yola.


Eva mengangguk ragu. Sambil berjalan mengikuti Yola ke kamarnya, dia segera menerima panggilan telepon itu.


"Yolanda, kamu dimana?" tanya suara itu di seberang sana.


***


Hai, Reader! Maaf tadi malam nggak jadi up. Othor sakit pinggang jadi nggak konsen nulis banyak... Maaf ya... Jangan lupa like dan komentnya dan mampir juga donk di I love You dr. Gagu. Oke Beib... Happy reading!

__ADS_1


__ADS_2