Jodoh Dari Malaysia

Jodoh Dari Malaysia
Yang kita lakukan semalam


__ADS_3

#Cinta_Dua_Negara/ Jodoh dari Malaysia


Part 18


+18


Ilham membawa Yola kembali ke apartemen setelah melarikannya dari hotel Victoria. Pelan- pelan dia meletakkan tubuh Yola di atas ranjang. Sambil sesekali menghembuskan napas, dia menatap wanita yang telah melahirkan seorang putra untuknya itu. Kekhawatirannya Yola telah disentuh oleh Victor telah membuatnya tak bisa tenang. Namun akhirnya daripada gelisah tak menentu, Ilham memutuskan untuk mengganti pakaian Yoka dengan pakaian tidur yang lebih nyaman.


Perlahan Ilham melepas kembali pakaian Yola untuk menggantinya dengan gaun tidur tipis yang dia temukan di dalam lemari wanita itu. Saat melepas pakaian Yola, lelaki itu hampir tak kuasa menahan dirinya. Wangi dari tubuh Yola membuat tangannya tak bisa untuk tidak menyentuh kulit halus istrinya itu. Ya, Ilham sangat yakin Yola masih istrinya hingga saat ini meskipun Yola tak mau mengakuinya. Sejauh pengamatannya yang selama ini diam- diam menyuruh orang mengikuti Yola bahkan hingga ke Pensylvania, tempat Yola kuliah hingga kembali ke Indonesia, wanita itu tidak pernah dia ketahui menjalin hubungan dengan pria manapun, selain dengan Hafiz tentunya.


Sebuah kecupan lembut Ilham labuhkan di bibir gadis itu hingga kemudian kecupan itu turun ke leher dan meninggalkan beberapa tanda kepemilikan kiss mark di sana. Tindakan Ilham yang tak terkontrol itu membuat tidur Yola sedikit terganggu dan membuat wanita itu melenguh. Hal itu membuat Ilham jadi terkejut dan sadar apa yang telah dilakukannya.


Ya Tuhan Ilham, ape yang kau lakukan ni? gerutunya dalam hati. Dia memang menginginkan Yola tak cuma hatinya bahkan hubungan intim yang seperti dulu, tapi tentu tidak begini. Harus ada kehendak dari Yola juga untuk bisa melakukan hal- hal semacam ini. Ilham tak mau melakukannya sendirian.


Dengan kesal Ilham masuk ke kamar mandi untuk mencoba meredam hasratnya. 7 tahun, dirinya tak pernah lagi melakukan itu. Bahkan seumur hidupnya dia hanya pernah melakukannya dengan Yola. Dan kini wanitanya ini ada sangat dekat dengannya. Tapi kenapa dia tak bisa sedikit egois memanfaatkan situasi ini untuk membuat Yola kembali padanya?


Kembali dari kamar mandi, Ilham memperhatikan ada panggilan tak terjawab di ponselnya. Itu dari Nadira. Itu membuat Ilham tiba- tiba geram dan buru- buru keluar kamar dan mengangkat ponselnya.


"Nadira!!! Ape yang terjadi?!! Ape yang kau bikin ni? Kenape bisa terjadi hal macam tu dengan Yola? Ape yang telah dilakukan Victor pada die?!! Aku dah kasih kau kepercayaan buat jagakan dia? Tapi mana??!! Bagaimana Yola bisa menghadapi semua ini nanti?!!" teriak Ilham gusar.


"Ilham, tenanglah! Ada ape dengan kau? Kenape kau datang dengan marah sangat ke Victoria dan bawa Yola? Dan hal ape yang kau maksudkan terjadi pada Yola? Yola tak terjadi apa pun dengannya. Die hanya minum segelas kecil wine atas kemauannya sendiri, habis tu dia mabuk, dan Victor menawarkan untuk kami rehat sekejap di kamar hotel dan memberikan kami pelayanan message je. Kenapa kau gusar sangat?!" balas Nadira.


"Ape? Message?" gumam Ilham saat menyadari sesuatu.


"Iye. Message, pijat, urut. Ape pun bahasa yang boleh kau paham."


Oh, jadi itu yang terjadi? Astaga! Ada ape dengan Ilham? Kenape kau membabi buta macam ni?gerutunya dalam hati.


"Ehmm, maaf, Nadhira. Aku kire Victor membuat siasat untuk coba melakukan hal buruk pada Yola ...." aku Ilham dengan setengah malu.


"Helleh, kau kire aku bolehkan hal tu dapat terjadi ke? Ilham, kau jangan terlalu banyak menonton drama, macam betul je. Dan lagi Victor takkan pula berani berbuat macam tu pada Yola di hotelnya sendiri? Aku hanya tinggalkan Yola sekejab je buat membasuh badan aku usai scrubbing tadi. Eh, siape mengire kau dah bawa dia kabur dari kamar hotel. Sekaranh tinggallah aku sendiri kat sini ...." keluh Nadhira.


"Sorry, aku tak sengaja pun. Kau sendiri tahu Victor tu macam mana. Kau lupa ke ape yang dia lakukan dengan Sonia di belakangku mase tu? Kalau bukan kerana kurang akhlak manalah mungkin dia boleh membuat Sonia mengandung anak dia? Walaupun aku tak punya perasaan lagi dengan Sonia, tetap sahaja Sonia itu isteri orang. Aku hanya takut, dia mendekati Yola karena itu pula," kata Ilham.


"Kau tak perlu cemaskan tu. Kelihatannya Victor taklah sebejat itu. Dia nampak menghargai Yola. Jadi macam mana keadaan Yola? Keadaannya baik sahaja atau macam mana?" tanya Nadira.


"Dia tertidur. Baiklah, jadi macam mana denganmu? Kau mau aku jemput kembali kat sana?" tanya Ilham menawarkan.


"Tak perlu. Aku bawa kereta pun. Tapi rasanya aku akan bermalam disini je malam ni. Aku pun mengantuk sangat. Aku akan kabari Leon dulu," kata Nadira.


"Baiklah, sampai jumpa esok di N-one," kata Ilham mengakhiri telepon.


"Hu uh." Nadira mengiyakan.


Usai menelepon, Ilham kembali masuk ke kamar Yola dan naik ke ranjang lagi. Sambil duduk dia menatap Yola dan mengelus rambut wanita yang teramat disayanginya itu.


"Syukurlah tak terjadi ape- ape denganmu," gumamnya. "Yola, kau masih milik Abang kan? Di hati Yola masih ada Abang Ilham, kan? Sampai bila kite begini? Sampai bile Yola nak maafkan abang?"


Ilham menggumam dengan lirih. Sebelum Ilham membaringkan dirinya di sebelah Yola, dia mengecup kening wanita itu.


 


\\\


 


Yola seperti biasa terbangun di kala subuh. Perlahan kelopak matanya membuka dan tersadar ada yang aneh dengan dirinya. Ada sesuatu yang berat membebani perutnya dan sadar kalau tangan seseorang tengah memeluk tubuhnya dari belakang Yola membalikkan badannya. Antara terkejut dan terpesona akan sosok orang yang tidur di sebelahnya itu.


Ilham? Apa yang terjadi? Kenapa dia bisa tidur di tempat tidurku? Batin Yola bertanya- tanya.


Masih merasa pusing di kepalanya, Yola berusaha bangun dan terkejut lagi dengan kondisi tubuhnya yang sama sekali tidak menggunakan busana apa pun. Gila! Ini gila! Apa yang terjadi? Sepertinya Ilham juga tak mengenakan pakaian di bawah selimut yang menutup tubuhnya dari perut hingga kaki sementara dadanya yang bidang dengan perut sixpac-nya terekspos dengan sempurna.


"Kau dah bangun?" tanya pria itu membuyarkan pikiran- pikiran dan perkiraan dalam hatinya.


"Ketua Pengarah! Bisa tolong jelaskan apa yang sedang terjadi di sini?" tanya Yola setengah emosi. "Bagaimana bisa kamu tidur di ranjangku?"


"Kenape? Kite ni suami isteri, wajar sangatlah tidur di atas ranjang yang sama," jawab Ilham tak merasa bersalah.


"Aku sedang serius dan tak ingin bercanda. Apa yang terjadi di sini? Seingatku tadi malam aku ke Victoria Hotel bersama Nadira dan aku ...aku .... " Yola mencoba mengingat- ingat.


"Dan kau mabuk dan menelepon dan meminta abang untuk jemput kau pulang. Lalu sebagai seorang pria dan suami yang baik, abang pun jemput kau ke sana, antar kau baik- baik sampai ke unitmu dan ...."


"Dan apa?" sela Yola cepat.


"Dan kita memadu kasihlah hingga macam ni," jawab Ilham masih merasa tak bersalah.


"Memadu kasih apa? Memanfaatkan orang mabuk pun kau bilang memadu kasih? Kau tak bisa lebih punya malu sedikit, heh?" tuding Yola kesal.


"Memanfaatkan ape?" tanya Ilham sambil melipat tangan di dadanya. "Kau tak inget ke, kau sendiri yang goda abang semalam. Padahal abang dah pun bersikap gentle bawa kau hingga ke sini, mencoba menahan hasrat abang untuk tak sentuh kau kerana abang tahu kau masih marah dengan abang. Abang dah selimuti Yola, tapi Yola tarik tangan abang dan berkate 'abang, jangan tinggalin Yola. Yola rindu dengan abang', lau kau pun peluk abang, tak cume itu, kau pun cium abang dan meraba- raba seluruh tubuh abang, dan ...."


"Stop! Stop it! Jangan dilanjutkan!" larang Yola sambil membekap mulut Ilham dengan telapak tangannya.

__ADS_1


Apa ini? Benarkah aku melakukan semua itu? Batin Yola resah. Dia pun akhirnya melepaskan bekapan tangannya pada mulut Ilham.


"Kau tak boleh salahkan abang sepihak je. Abang pun hanya lelaki normal. Diperlakukan begitu ditambah abang juga rindukan Yola abang tak sangguplah menahan diri, lalu kita ...."


"Udah, jangan diperjelas lagi!" Yola kembali membekap mulut Ilham, melarang lelaki itu melanjutkan kata- katanya.


Bagaimana ini bisa terjadi? Jangan- jangan benar aku berbuat seperti itu? Ya Tuhan kenapa aku tidak ingat apa pun? Apakah sekarang aku telah berubah jadi wanita hidung belang yang meniduri mantan suaminya sendiri? Sial!


Hehehe, planning cadangan berhasil! Nampaknya Yola percaya, batin Ilham. Sebenarnya dia hanya berdusta tentang mereka berhubungan intim bersama. Tak ada terjadi apa pun semalam walaupun Ilham sebenarnya menginginkannya. Ilham memang sengaja mempreteli busana mereka, agar Yola percaya mereka telah berhubungan.


"Yola usah khawatir, Abang pasti akan tanggung jawab, hmm?" Ilham meraih tubuh Yola dan membawanya ke pelukannya.


Namun tak di duga, Yola langsung bangkit dan berdiri di pinggir ranjang.


"Itu tak perlu. Mari anggap tak terjadi apa- apa semalam. Aku bisa memaklumi hal ini terjadi. Aku mabuk dan lepas kendali, dan kau pun tak bisa menahan diri. Setiap manusia pasti punya kebutuhan biologis. Dan lagi kita pernah sama- sama tinggal di luar negeri yang menjunjung budaya barat, hal ini biasa terjadi. Tak perlu dibuat rumit. Ini hanya kesalahan alkohol," kata Yola.


Ilham mengernyitkan keningnya.


"Ape? Kau bilang hal seperti ini biasa dan boleh terjadi? Sejak bile hubungan macam ni boleh dimaklumi? Budaya barat tetaplah budaya barat. Kite masih menjunjung tinggi adab ketimuran. Indonesia dan Malaysia masih tabu hal macam tu. Abang bilang akan tanggung jawab, abang pasti akan tanggung jawab!" bentak Ilham murka.


Yola tertawa miris.


"Tanggung jawab seperti apa? Dengan menjalin ikatan pernikahan lagi denganku? Jangan munafik Tuan Ilham, kau dan Sonia dulu sebelum menikah pun pasti pernah melakukan itu di belakangku kan?" tuduh Yolanda. "Aku bisa memaklumi itu. Kalian kuliah bersama di Berlin, selingkuh di belakangku. Mustahil kalian tak pernah melakukan hubungan semacam itu, karena itulah kau harus menikahi dia kan?"


"Yola, tidak seperti itu ...."


"Ayolah, aku ini wanita yang berpikiran terbuka atas segala macam budaya, termasuk budaya barat. Dan ada kalanya aku sendiri pun terpaksa harus minum dengan teman- temanku dan terbangun dalam kondisi seperti kita ini. Yang penting aku bisa menjaga diriku agar tidak sampai meninggalkan bekas. Karena itulah aku selalu memakai alat kontrasepsi jangka panjang. Jadi jangan khawatir tentang ini. Sudahlah jangan bahas ini lagi, bikin pusing aja," kata Yola.


Yola mengatakan kebohongan itu dengan sengaja agar Ilham tahu, kalau dirinya bukanlah Yola yang gampang diperdaya seperti dulu lagi. Dia bukan Yola yang lugu dan polos serta dapat ditindas sesuka hati.


Tapi tak disangka Ilham malah gusar dan bangun dari tidurnya dan mencengkram tangan Yola kasar.


"Ape kau cakap? Kau dah pernah tidur dengan pria lain?"


Yola mengangguk percaya diri.


"Ya tidak sering. Hanya beberapa kali dengan beberapa orang teman berbeda. Tak cuma kamu, aku pun wanita normal, punya kebutuhan biologisku sendiri. Jadi karena ini sudah sangat jelas, sebaiknya kamu pulang sekarang!" kata Yola.


Oh, kau pun sampai berdusta macam ni ya agar aku tak boleh menjalin hubungan lagi dengan kau? Baiklah akan kulayani permainan kau ....kata hati Ilham.


Sesungguhnya selama ini Ilham selalu memiliki orang untuk membuntuti Yola semenjak mereka berpisah. Wanita itu tak pernah punya teman dekat pria lebih dari Hafiz. Dan Ilham pun tahu Hafiz tak akan berbuat seperti itu pada Yola.


"Kalau macam tu bolehlah kite ulang lagi kemesraan semalam? Kebutuhan biologis Abang belum tersalurkan sepenuhnya lagi ...." kata Ilham sambil mendorong tubuh Yola hingga kembali berbaring di ranjang.


Tubuhnya tak kuasa melawan tenaga Ilham yang mengunci tubuhnya di bawah kungkungan pria di atasnya itu. Dan Yola semakin kewalahan menghadapi Ilham yang kini mulai dikuasai oleh gairah. Bibir dan tangan lelaki itu mulai menjamah semua yang ada ditubuhnya.


"Lepas! Brengsek! Jangaaan ....!"


"Kau kate tubuh ni telah disentuh oleh beberapa pria selain aku? Lalu kenape keberatan kalau aku nak sentuh kau sekarang? Kita dah pernah pun lakukan ni beberapa kali, sekali lagi pun tak lah jadi masalah, betul tak?"


Dalam hati Ilham sebenarnya dia tak ingin melakukan ini. Dia hanya ingin memberikan pelajaran pada Yola. Namun tak disangka Yola malah menggigit bahunya dengan sekeras-kerasnya hingga di pundaknya menancap bekas gigi dan kulitnya terkelupas dan berdarah kareba gigitan Yola. Sakit, tapi Ilham tetap tak mau berhenti menjamah dan mencumbu apa yang dia mau. Hingga akhirnya ....


"A- abang, u-udah ...." wanita itu menangis memohon agar Ilham berhenti.


Ilham tak sampai hati melihatnya. Segera dia beranjak dari atas tubuh Yola. Yola yang ada dihadapannya ini benar- benar Yola yang dulu. Baru kali ini dia mendengar wanita ini memanggilnya 'abang' seperti dulu.


Ilham membiarkan Yola sementara waktu untuk menenangkan diri di tengah isak tangis yang terdengar di kamar ini.


"Abang dan Sonia tak seperti yang ada di pikiranmu. Ya, kesalahan abang dulu adalah menjalin hubungan dengannya di belakangmu, maaf untuk itu. Abang benar- benar menyesal," ucap Ilham. "Tapi abang tak pernah mengkhianati Yola sejak 3 hari kebersamaan kita di green house waktu itu."


Cih!!! Siapa yang akan percaya? Pikir Yola yang kini tangisnya telah berhenti.


"Yola, tolong beri abang kesempatan lagi," pinta Ilham. "Abang akan jelaskan pasal Sonia nanti, semuanya abang akan jelaskan. Bahkan kalau perlu abang akan ceraikan die."


Yola tak bergeming dengan bujukan Ilham. Bagaimana pun dia tidak ingin lagi memberi kesempatan pada pria itu. Dan Ilham pun nampaknya tahu seberapa berat perjuangannya kali ini untuk mendapatkan kembali hati Yola.


"Yola ...." panggilnya frustasi.


Ting! Tong!


Bel apartemen Yola tiba- tiba berbunyi. Membuat Yola buru- buru memakai pakaian dalamnya dan terakhir memakai kimono tidurnya. Dari monitor intercom Yola bisa melihat kalau yang datang sepagi itu adalah Ammar yang sedang digendong oleh perempuan setengah baya. Sepertinya itu pengasuhnya. Yola segera membuka pintunya.


"Morning, Mom!" sapa Ammar.


Sepertinya Ammar juga baru bangun. Terbukti dari beberapa kali dia menguap.


"Maaf, Puan. Ammar begitu bangun, langsung suruh saya hantarkan die ke sini," kata pengasuh itu.


"Morning, sayang. Kemari kamu! Kamu sangat berat, ibunya nggak kuat gendong kamu nanti," kata Yola seraya meraih tubuh Ammar berpindah ke pelukannya.


"Mommy, semalam kite tak jumpe seharian, dan Daddy tak pulang pula. Ammar kesepian kat rumah. Ammar hungry, Mom. Ammar wanna breakfast kat sini," rengek bocah itu.

__ADS_1


"Oke. Kalau begitu tunggu sebentar. Mommy akan siapkan roti untuk kamu," kata Yola. "But, before that, wanna some choco milk?"


"Yes, I love choco milk, Mommy. Do you have?"


"Iya, donk. Mommy tawarin Ammar, karena Mommy punya."


"Daddy juga mahu choco milk. Jika tak ade, kopi pun tak ape," kata Ilham yang tiba- tiba keluar dari kamar Yola.


Ilham terlihat sibuk memasang beberapa kancing kemejanya. Ya Tuhan, Yola sampai malu pada pengasuhnya Ammar. Apa yang akan dipikirkan oleh wanita itu nanti terhadap dirinya saat dia tahu majikannya menginap di rumah tetangganya sendiri.


"Daddy!!!" pekik Ammar kaget. "Daddy ada kat sini? Daddy tidur bersama Mommy semalam? Daddy's cheating! Kenape tak ajak Ammar tidur kat sini??!!!!"


"Maaf, Son. Daddy pun tak mahu tidur kat sini. Tapi semalam Mommy kau sakit, jadi Daddy mustilah kawani Mommy di sini. Kasihan Mommy sendiri je ...." kata Ilham memasang wajah mengasihani pada Yola.


Brengsek ini! Siapa yang sakit? Maki Yola dalam hati.


"Mommy sakit?" tanya Ammar prihatin.


Ammar lalu mengecek tubuh Yola, menempelkan punggung telapak tangannya pada wanita itu dan memeriksa seluruh tubuhnya.


"Dad! Ini sepertinya parah. Look! Di leher Mommy ada apa?"


Ahh, Yola langsung memegang lehernya. Apa maksud Ammar? Ada apa di lehernya? Yola segera mencari cermin untuk mencari tahu apa yang ada di lehernya. Dan begitu melihatnya, Yola langsung melotot tajam pada Ilham.


"Mom! Ini pasti kena gigitan dracula. Dad! Kite harus bawa Mommy ke hospital, now!"


"Ahh, nggak perlu sayang. Ini cuma alergi sedikit," kata Yola sedikit malu.


"Alergi juga harus ke dokter, Mom!" Kata Ammar tegas.


"Tapi ini benar nggak apa-apa. Mommy, akan sembuh dalam beberapa hari. Don't worry, ok?"


"Tapi ...."


"Ammar, percaya Mommy. Mommy siapin breakfast dulu, setelah itu antar Ammar ke tadika. Barulah Mommy ke N-one."


"Oh, oke kalau begitu." jawab Ammar meragu.


Tak lama waktu Yola menyiapkan sarapan. Karena yang dia punya kali ini hanya roti dan selai maka yang perlu dia siapkan hanya 3 gelas choco milk untuk Ammar, dirinya dan pengasuhnya Ammar dan segelas kopi untuk Ilham.


"Thank you, Love," bisik Ilham saat menerima segelas kopi dari Yola.


Dan ucapan terima kasih itu hanya dibalas senyum manyun oleh wanita itu.


Hingga sarapan usai, Yola membereskan gelas- gelas kotor di atas meja makan dan membawanya ke westafel cucian piring. Pengasuhnya Ammar menawarkan untuk membantunya tapi Yola menolak.


"Makcik, tak usah. Sebaiknya tolongbantu Ammar mandi dan berpakaian saja," kata Yola.


"Tak ape, Puan. Biar saya bantu." kata pengasuh itu.


Namun saat melihat Ilham masuk ke dapur dan memberi kode untuknya agar keluar, Pengasuh bernama Saidah itu segera meninggalkan Yola yang sibuk mencuci gelas-gelas kotor itu.


"Impressive, kamu memang adalah isteri dan Mommy yang baik untuk aku dan Ammar," kata Ilham.


Yola terkejut mendapat pelukan Ilham tiba- tiba dari belakang.


"Apa yang kamu lakukan di sini? Lepasin nggak? Kalau Ammar lihat bagaimana?" tanya Yola cemas.


"Kalau Ammar tak lihat boleh ke?" goda Ilham.


"Ketua Pengarah! Jangan keterlaluan!" kecam Yola sembari mematikan keran air.


Selepas itu ia melepaskan tangan Ilham dari pinggangnya.


Di saat yang sama Saidah, pengasuhnya Ammar mendapat panggilan vidio dari Zubaedah, mamanya Ilham.


"Saidah, Atoknya Ilham kate, kalian pindah dari rumah besar. Ape yang terjadi? Kenapa boleh pindah? Mana Ilham? Dah saye telepon dari tadi. Teleponnya tak juga di angkat. Ape Ammar baik- baik je?"


"Ammar baik, Puan. Tuan Ilham ada kat dapur bersama ...."


"Bersama siape? Beri dia teleponnya," perintah Zubaidah.


"Tunggu sekejab," kata Saidah sembari berlari ke dapur. "Ahh, puan tapi saya tak berani mengganggu." bisik Saidah.


"Memangnya dia dengan siape?" tanya Zubaedah penasaran.


"Sebentar saya ganti kamera belakang. Puan lihatlah sendiri," jawab pengasuh itu sembari diam- diam mengarahkan kamera ponselnya ke arah Yola dan Ilham.


"Sarapannya sedap, but .... You know, what's better breakfast in the world?" tanya Ilham pada Yola


Yola mengernyitkan keningnya tak mengerti apa maksud pertanyaan Ilham itu. Lebih tak mengerti lagi saat Ilham mengelus lembut pipinya dan tak menunggu lama bibir itu pun menyentuh bibir miliknya. Mata Yola membelalak kaget. Tak kalah terkejut dengan Mama Zubaedah yang mendapat pemandangan amazing itu pagi- pagi. Ia bahkan sampai menyemburkan teh yang baru saja diteguknya.

__ADS_1


Yola? Dia kembali pada Ilham? Astaga! Ini berita yang spektakuler tapi tak ada satu pun yang memberitahunya. Dia harus kembali secepatnya ke Kuala Lumpur!


__ADS_2