
"Dimana dia?" tanya Ilham di sebuah panggilan vidio callnya dengan Hafiz di suatu siang yang cerah.
"Siape yang Abang maksud?" tanya Hafiz pura- pura tidak tau pertanyaan abangnya.
Tentu saja Hafiz tau yang ditanyakan Ilham adalah Yola. Dua tahun telah Ilham kuliah di Jerman, tak banyak yang berubah selain Yola dan Hafiz yang kini telah menginjak bangku kelas 1 SMA. Mereka masih saja satu sekolah dan berada di kelas yang sama.
"Aih, kau ini macam ape je. Abang tanyakan Yolalah. Yolanda Gunawan. Mana dia? Bukannya seharusnya kalian masih di sekolah sekarang ni?"
"Iyalah, iyalah. Ade tuh....! Dia sedang bermain volly ball. Abang nak tengok ke?"
Hafiz mengarahkan kamera belakang ponselnya untuk menangkap penampakan Yolanda yang tengah asyik bermain Volly.
"Yola!!! Yolla .... Suit....Suit...."
"Yola lihat ke sini!!!"
"Waaaa!!! Calon istri masa depanku!!!"
Suara riuh rendah dari penonton di pinggir lapangan terdengar berisik saat Yola bersiap memukul bola.
"Ape tu, Hafiz? Kenapa nak bising sangat?" tanya Ilham pada Hafiz.
"Abang tengok ke? Isteri Abang tu ada banyak sangat fans di sekolah ini. Ck, ck, ck..." Hafiz berdecak. "Semua siswa laki- laki nak kejar- kejar Yola. Sungguh sangat merepotkan punya ipar macam tu."
"Ape???!! Hafiz, kau mesti jagakan Yola untuk Abang. Jangan beri kesempatan para lelaki itu dekati Yola!" kata Ilham berang.
"Ape pula urusan dengan aku. Kalau abang nak macam tu, jaga sendirilah! Bang Ilham pun punya isteri. Lain aku," jawab Hafiz acuh.
"Hadeeh, abang nak minta tolong pada kau."
"Gendut!!!" seru Yola memanggil Hafiz.
Rupanya giliran Yola bermain Volly telah selesai dan digantikan oleh temannya. Segera Yola menghampiri Hafiz dan meraih botol air minum di samping Hafiz.
"Yola, kau nak bicara dengan Bang Ilham ke?" tanya Hafiz sembari memberikan ponselnya ke tangan Yola.
"Eh, siapa yang mau ...?" bantah Yola malu- malu.
"Oh, jadi Yola tak nak bicara dengan Abang? Padahal Abang rindu sangatlah pada Yola," kata Ilham dari seberang sana.
Yola tersipu-sipu mendengarnya. Usianya 16 tahun kini. Telah 4 tahun ia dan Ilham menikah. Perkembangan hubungan mereka boleh terbilang lambat. Tapi akhir- akhir ini suaminya itu sangat senang merayu dan menggodanya. Dan Yola juga bukan gadis yang polos- polos amat. Sedikit banyak selama 4 tahun ini, telah banyak yang ia ketahui tentang hubungan antara lelaki dan perempuan juga hubungan antara suami dan istri walaupun ia hanya mengetahuinya hanya sebatas teori.
"Yola, abang nak tengok wajah Yola ..." bujuk Ilham tatkala isterinya itu tak kunjung memperlihatkan wajahnya ke kamera vidio.
"Helleh, macem obat nyamuk je kite di sini. Ya sudah, Hafiz nak ke kantin dulu. Kalian saling melepas rindulah dulu," ledek Hafiz pada Yola dan abangnya itu.
"Ehsan, aku ikut!"
"Tak usahlah Yola, temani abang je! Abang nak tengok wajah Yola. Yola jangan pelit dengan abang ...."
Yola dengan malu- malu akhirnya memperlihatkan wajahnya.
"Cantiknya isteri abang," puji Ilham tatkala melihat wajah isterinya itu pada kamera ponselnya.
Yola hanya tersipu malu.
Yola dengan wajah cantiknya terlihat dewasa walaupun rambut dan wajahnya basah karena keringat. Hal itu membuat sisi kelelakian pria itu menjadi bangkit. Akhir- akhir ini entah kenapa dia memang menjadi lebih sering memikirkan Yola. Mungkin itu dikarenakan Sonia yang semakin gencar dan lebih sering menggodanya. Gadis itu sepertinya sangat menginginkan hubungan mereka berlanjut ke tingkat yang lebih serius dengan Ilham sebagaimana pergaulan teman- teman mereka di Berlin. Yaitu tahap berhubungan di ranjang. Dan Ilham tidak sanggup melakukan hubungan sejauh itu dikarenakan jauh di lubuk hatinya dia sadar kalau dirinya telah menikah.
Ya, di belakang Yola dan kedua keluarga mereka Ilham diam- diam menjalin hubungan dengan Sonia di Berlin. Sonia pun tak pernah tau kalau Ilham telah menikah. Ilham tau yang dilakukannya salah. Tapi dia tak bisa mengendalikan perasaannya. Selama di Berlin orang terdekat dengannya hanya Sonia. Dan lagi pula Sonia adalah cinta pertamanya. Ilham tak bisa menepis begitu saja rasa itu hanya karena dia telah menikah dengan seorang yang bahkan belum cukup dewasa untuk mengerti soal hubungan.
"Yola!" panggil Ilham.
"Hmmm?" Sahut gadis itu.
Sedari tadi Yola hanya banyak diam. Dia membiarkan Ilham yang mendominasi percakapan vidio di antara mereka.
"Yola nak sesuatu ke?" tanya Ilham.
"Yola nggak pengen apa- apa, Abang. Kenapa memangnya?" tanya Yola bingung.
"Tak de ape- ape. Abang nak beri Yola sesuatu andai ada yang Yola inginkan," kata Ilham.
"Yola kan lagi nggak ulang tahun, abang?"
"Memangnya memberi harus ulang tahun ke? Sebutkan je Yola punya permintaan, andai bisa abang pasti nak turutkan," kata Ilham sedikit memaksa.
"Harus ya?" tanya Yola bingung.
"Mestilah, kalau abang bilang mesti ya mesti!"
Beberapa saat berpikir akhirnya Yola mengutarakan keinginannya.
"Kalau Yola pengen abang datang ke Jakarta memangnya bisa?" tanya Yola.
"Itu je?" tanya Ilham remeh. "Senang je pasal tu."
"Senang sih senang. Tapi belum tentu bisa kan? Abang kan mesti kuliah?" balas Yola meremehkan.
"Senang yang abang maksud tuh artinya mudah. Yola tunggu je. Tapi by the way. Kenapa Yola ingin abang nak datang? Yola rindu juga, ke?" tanya Ilham dengan nada menggoda.
Lagi- lagi gadis itu hanya tersipu.
"Abang .... Sudah dulu, ya! Yola matikan dulu handphonenya. Sebentar lagi jam pelajaran berikutnya. Yola belum ganti baju olahraga lagi. Nanti gurunya keburu datang," kata Yola mengalihkan pembicaraan.
Yola tak bisa membiarkan Ilham tau apa yang dirasakannya, sementara dia pun tak benar- benar tau apa yang dirasakan Ilham sesungguhnya padanya. Yola, gadis itu mencintai Ilham. Meski pun Ilham adalah suaminya sendiri tapi soal perasaan, rasanya tetap akan memalukan kalau Ilham sampai tahu. Setahu Yola Ilham hanya menganggapnya adik.
"Yol ... Yola ....!"
Ilham merengut menerima kenyataan kalau panggilan vidio itu telah dimatikan Yola.
"Ilham! Kau baru telepon siape?" tanya Sonia yang tiba- tiba ada di belakangnya.
Ilham terkejut setengah mati.
"So- sonia kapan kamu tiba kat sini?"
tanya Ilham.
"Baru saje," jawab gadis itu sembari mengalungkan tangannya di leher Ilham.
__ADS_1
Ilham gelisah sekarang. Apa Sonia sempat mendengar percakapannya dengan Yolanda tadi? Kenapa tiba- tiba Sonia datang? Sonia harusnya berada di asrama saat seperti ini? Buat apa dia mendatangi apartemen Ilham? Ilham memang disediakan fasilitas apartemen oleh Atok, sementara Sonia sebagai penerima beasiswa tentunya hanya bisa tinggal di asrama mengingat Sonia berasal dari keluarga yang biasa- biasa saja.
"Ilham, kite tak boleh ke ....?"
Ilham merasakan sesuatu yang basah dan lembut menyentuh lehernya. Sonia mencium lehernya. Tak cuma itu kini tangan gadis itu pun berani menyelinap ke dalam bajunya.
Ilham segera bangkit dari duduknya.
"Sonia, kau baliklah ke asramamu dahulu. Aku nak kerjakan sesuatu pula," kata Ilham mencoba mengelak dari perbuatan Sonia yang mungkin bisa membuatnya gelap mata.
"Ilham, kenape kau perlakukan aku macam ni. Kite telah lama menjalin kasih. Dah hampir 4 tahun semenjak kite ada kat sini. Tapi kenape kite tak boleh menjalin hubungan yang lebih serius dan dewasa?!" teriak Sonia.
Ilham mendesah. Sejak dia menjalin hubungan dengan Sonia, gadis itu seperti kehilangan kelembutannya seperti yang dulu Ilham kenal. Sonia berubah menjadi gadis yang keras kepala dan otoriter.
"Apakah keseriusan dan kedewasaan hubungan hanya boleh kamu lihat dari hubungan badan je? Sonia!! Semenjak kapan kamu terpengaruh pergaulan macem tu. Kamu tu seorang gadis. Gadis tu mestilah pandai menjaga diri. Macam mana kamu boleh berpikir nak tawarkan dirimu sendiri macem ni pada seorang pria??!!" teriak Ilham tak kalah gusar.
"Oh, macam ni pemikiran kau Ilham pada aku? Aku tak tawarkan diri aku pada sembarang pria. Hanya kau Ilham. Kau tu kekasih aku!!!" teriak Sonia lagi.
"Semakin lama kau semakin tak masuk akal," kata Ilham sembari meninggalkan Sonia yang terisak karena meraa tersakiti akan kata- kata Ilham.
***
Beberapa hari kemudian,
"Eh, gendut! Kamu ngapain menghalangi jalanku? Minggir nggak!!"
Tina, siswi kelas sebelah marah- marah saat Hafiz dengan tubuh gendutnya menghalangi jalannya di kantin.
"Aku tak halangi jalan kau pun! Kau lewatlah saja, dari sana! Dari sana, kan bisa je?"
"Hey, hey, hey!! Ada apa ini? Kamu kenapa? Si gendut ini mengganggumu?" tanya Idris melihat kekasihnya di ganggu.
"Aku tak de ganggu pun! Kau jangan sembarangan tuduh- tuduh orang macam tu!" bantah Hafiz mencoba membela diri.
"Hey gendut! Kalau kamu salah ya ngaku salah aja. Jelas- jelas kamu sedang mengganggu pacarku. Kamu bosan hidupkah? Kamu pasti sedang cari- cari kesempatan biar bisa nyentuh Tina kan?!!" bentak Idris.
"Ape? Si-siapa nak ganggu pacar kau?! Aku nak lewat je!"
"Alaah, banyak bacot!!!"
Idris sudah menarik kerah baju Hafiz saat Yola datang.
"Eh! Apa- apaan nih?! Stop! Stop!!!" jerit Yola.
"Yola, kamu sebaiknya jangan ikut campur masalah ini. Suasana hatiku sedang tidak baik sekarang. Tolong jangan bela si gendut ini! Bagaimana pun dia mau ganggu pacarku. Aku tidak suka!!" kata Idris.
Yola manggut-manggut dan memandang Hafiz. Hafiz mulai berkeringat diancam oleh Idris.
"Aku tak de pun ganggu pacar die. Aku nak lewat je nak balik kelas," kata Hafiz lirih.
"Kamu dengar? Pacarku bilang dia nggak ganggu pacar kamu. Jadi bisa kamu kasih tau ke pacar kamu inikah? Lain kali kalau berpapasan dengan pacarku tolong menjauh aja deh. Ribet urusan dengan kalian," kata Yola.
"Haaah pacar? Si gendut ini pacarmu? Hahaha .... Tidak mungkin!"
Semua siswa yang ada di tempat itu menganga mendengar pengakuan Yola. Bahkan Hafiz pun sampai terperangah mendengarnya. Seorang bunga sekolah pacaran dengan si Gendut???
"Kenapa memangnya kalau aku pacarnya? Apanya yang tidak mungkin? Kalau aku bilang dia pacarku, ya pacarku! Ayo, Yank!" ajak Yola sambil menarik tangan Hafiz pergi.
"Apa lagi? Ya, biar kamu dan aku nggak digangguin sama orang- orang rese itu. Kalau mereka tau aku punya pacar mereka nggak akan gangguin aku lagi dan kamu juga nggak akan diremehin sama mereka," jawab Yola.
"Ta- tapi ...."
"Tapi kamu jangan malu- maluin aku Hafiz. Kamu diet kek biar kurusan. Masa iya pacar Yolanda gendut begini? Gimana orang mau percaya coba?" keluh Yolanda.
"Kamu sendiri yang mau jadi pacarku," kata Hafiz.
"Tapi pacar bohongan, hehehe ...." kekeh Yola. " Ya sudah, aku masuk kelas duluan."
Hafiz terpaku menatap Yolanda yang semakin berlari menjauh menuju kelas mereka.
***
Seusai pulang sekolah, Yola segera menunggu jemputan di tempat ia biasa menunggu Pak Darman. Saat mobil jemputan itu berhenti di depannya, Yola sangat terkejut melihat siapa yang keluar dari mobil.
"Abang?" gumam Yolanda.
Ilham keluar dari dalam mobil. Dengan hanya memakai kaos oblong dan celana pendek. Dia benar- benar lelaki dewasa yang gagah.
"Kenape? Kamu tak kira ke kalau abang betul- betul datang?" tanyanya.
Yolanda terpana. Bagaimana mungkin? Bagaimana Bang Ilham bisa datang kemari?
"Abang kapan sampai?" tanya Yola berbasa basi. "Abang ke sini mau jemput Hafiz?"
Pria itu menggeleng.
"Abang baru sampai beberapa jam lalu. Abang ke sini mau jemput Yolalah. Memang mau jemput siape lagi? Hafiz dah dijemput Mamah pun sedari tadi," jawab Ilham menjawab pertanyaan Yola.
Jantung Yola berdetak teramat kencang. Sudah setahun lebih sejak terakhir dia bertemu lelaki itu. Ilham memang tak bisa sering- sering pulang. Dia bahkan pernah tidak pulang selama dua tahun.
"Pak Darman mana? Kok abang yang jemput?"
"Kan abang dah kate tadi. Abang datang nak jemput Yola. Ayo, masuk tuan puteri! Kite harus cepat agar tak ketinggalan plane," kata Ilham.
"Memangnya kita mau kemana?" tanya Yola bingung.
"Balik kat rumahlah," jawab Ilham penuh misteri.
Yolanda tak menyangka kalau balik ke rumah yang Ilham maksud adalah rumah yang diberikan Atok pada mereka sebagai hadiah. Siang itu setelah membawa Yola ke rumah untuk mengambil beberapa baju dan paspor, Ilham segera memboyong Yola untuk menginap beberapa hari di Malaysia.
Sebelumnya Ilham telah meminta ijin pada Papa Abimanyu untuk mengijinkan ia membawa Yola. Meski Mama Ratih agak sedikit keberatan, namun akhirnya ia juga tak bisa berbuat banyak menolak keinginan menantunya itu.
"Abang, kenapa kita ke sini? Di sini nggak ada siapa- siapa. Kenapa kita nggak ke rumah Atok aja?" tanya Yola polos begitu mereka tiba di rumah di atas bukit itu.
"Ini rumah kite. Kenapa kite harus ke rumah Atok?" tanya Ilham balik.
Yola terdiam. Dalam hatinya bertanya- tanya apa maksud Ilham membawanya pulang ke rumah ini. Hanya berdua saja.
"Yola mandilah dulu, nanti selepas maghrib. Kite keluar cari makan," kata Ilham.
__ADS_1
Yola bingung. Rumah itu sepertinya telah dipersiapkan untuk kedatangan mereka. Bersih dan rapi tanpa debu seperti layaknya rumah yang telah ditinggali lama. Sebuah mobil pun telah disiapkan di garasi untuk alat transportasi mereka selama mereka ada di Malaysia.
Bingung sekaligus cemas meliputi hati Yolanda. Dia cemas, kenapa mereka harus berlibur berdua dengan Ilham di rumah ini. Apa jangan-jangan ....
Saat makan malam di luar pun Yolanda tetap gelisah. Hal itu bisa dilihat dengan sangat jelas oleh Ilham. Ia tersenyum melihat kekhawatiran di wajah istrinya itu.
"Kenape? Apa makanannya tak sedap?"
Yola menggeleng.
"Abang .... Sebenarnya kenapa kita harus ke sini?" tanya Yola pada akhirnya.
Yola yakin ini bukan cuma sekedar berlibur biasa.
"Habiskanlah makan Yola dulu. Nanti abang bagi tau kalau kita dah sampai kat rumah," jawab Ilham.
Seusai makan, keduanya pun pulang namun lagi- lagi Ilham belum juga memberi tahu tujuannya membawa Yola ke Malaysia. Ilham dengan santainya malah mengajak Yola menonton televisi di ruang keluarga. Sebelah tangannya dirangkulkan ke bahu Yola, membuat gadis itu deg-degan setengah mati.
"Abang, Yola tidur duluan, ya? Yola agak mengantuk," pamitnya.
Lalu tanpa menunggu jawaban Ilham, Yola pun segera berdiri dan beranjak menuju kamar. Namun saat Yola hendak menutup pintu kamar, Ilham tiba- tiba saja telah berdiri di situ dan menahan pintu agar tidak menutup.
"A- abang ...."
Ilham mendorong pintu itu sampai ia bisa meloloskan tubuhnya masuk ke dalam, lalu pintu itu pun dikuncinya sendiri.
"Abang ngapain?" protes Yola.
Yola ingin kembali membuka pintu itu tapi ditahan oleh Ilham. Ilham lalu menarik tangan Yola ke tempat tidur dan mendudukkannya di ranjang.
Yola menggigit bibirnya cemas. Sepertinya dia tau akan seperti apa nasibnya malam ini.
"Yola tanya apa alasan abang bawa Yola datang kemari, iya ke?" tanya Ilham.
Yola mengangguk gugup.
"Abang akan bagi tahu Yola sekarang."
Ilham menarik napas sebelum akhirnya kembali berbicara. Ia menggenggam tangan gadis itu.
"Abang mahu mulai sekarang, Yola dan Abang menjalani hubungan perkahwinan yang semestinya. Yola tahu ke, hari ini genap 4 tahun perkahwinan kite?"
Ya Tuhan! Yola sampai tak bisa berkata apa- apa lagi mendengar tujuan Ilham membawanya pulang ke Malaysia.
Yola perlahan- lahan melepaskan genggaman tangan Ilham. Tapi Ilham menggenggamnya kembali.
"Kamu tahu persis ape yang Abang maksudkan. Kamu dah bukan budak kecil seperti mase dulu."
Yola menelan ludah. Bagaimana ini? Bagaimana? Dia masih 16 tahun. Bukannya perjanjian itu bilang saat dia berusia 18 tahun. Yola belum siap. Bagaimana cara menolaknya?
"Yola, abang mahu kamu jadi isteri abang seutuhnya. Abang mahu miliki kamu sepenuhnya, hmmm?"
Tanpa meminta persetujuan Yola, Ilham mencium bibir itu, awalnya lembut, namun lama kelamaan ciuman itu pun semakin menuntut ke tingkat yang lebih serius. Ilham pun mulai menautkan jari jemari mereka berdua seakan tak akan memberi celah bagi Yola untuk melarikan diri.
"A- abang ...." Yola hampir gelagapan kekurangan oksigen karena ciuman itu.
"Ape?" bisik Ilham mesra begitu ciuman itu terlepas.
Namun tak serta merta membuat Yola lega karena tangan Ilham kini mulai bergerilya kemana- mana.
"Ja- jangan, Abang! Yo- Yola belum 18 tahun. Begitu kan kesepakatannya?"
"Kesepakatan ape? Yola kire cintanya abang hanya sebatas kesepakatan semate, ke?"
"Ci- cinta?"
Yola tak percaya pada apa yang di dengarnya.
"Iye. Cinta. Kenape? Yola tak percaya ke? Apa mesti Abang bilang kalau Abang cinta pada kau, Yolanda Gunawan?"
"Hmmm ...."
"Tak payahlah pikir soal usia, Sayang. 16 tahun tu bile di luar negeri bahkan di Malaysia sini dah dianggap cukup dewase. Lagi pula apa yang Yola khawatirkan? Abang Ilham adalah suami Yola. Takut abang tak tanggungjawab ke?"
"Ta- tapi ...."
"Bukan itu yang abang ingin dengar. Abang nak tanya. Yola sayang dengan abang ke? Yola cinta ke?"
Wajah Yola terasa memerah mendengar pertanyaan itu. Ditambah lagi rasa malu karena kini entah sejak kapan bajunya telah lolos dari tubuhnya.
"Abang, aku takuuut ...."
Ilham tersenyum sebelum akhirnya menghentikan sejenak aktivitasnya.
"Yola belum jawab pertanyaan abang. Yola cinta pada abang ke? Kalau Yola jawab iya abang akan lanjutkan ini. Tapi kalaunya tidak abang tak akan pula paksakan Yola. Jawab Yola!" desak Ilham.
Sesaat Yola sempat bingung. Namun hatinya tak bisa berbohong lebih lama, Yola pun mengangguk.
"Jawab dengan jelas, Yola! Abang tak paham kalau Yola cuma mengangguk saje," desaknya lagi.
"I- iya. Yola sayang Abang Ilham."
"Cinta?"
Gadis itu mengangguk malu.
"Iya."
Ilham tersenyum senang. Perasaannya terbalas kini. Soal Sonia dia bisa pikirkan itu di lain waktu.
"Kalau begitu, abang juga nak bagi tahu Yola sesuatu," kata Ilham. "Yola mahu tahu?"
Yola mengangguk.
Ilham berbisik di telinga Yola.
"Ini juga pertama kalinya untuk Abang. Kerana itu abang akan bersikap lembut pada Yola. Usah takut, ok?"
Yola memejamkan matanya lalu menguatkan diri untuk mengangguk. Bagaimana pun Ilham adalah cinta pertamanya, suaminya. Kenapa dia harus takut?
__ADS_1
Malam itu Yola tak menyangka kalau Ilham begitu pandai merayunya hingga sampai pada tahap ini. Tahap yang membuat dia berubah dari gadis menjadi wanita dewasa.