
"Aku akan menikah seperti kemauan mama dan papa," kata Yola di suatu sore.
Abimanyu tersenyum walaupun kesan sinis tetap tak bisa dihilangkannya dari raut wajahnya.
"Baguslah kalau kamu mengerti. Kalau dari awal kamu penurut, kamu tak perlu mempertaruhkan kesehatan Mama. Mama nggak perlu masuk rumah sakit karena pusing memikirkan kamu," kata Abimanyu masih dengan nada yang terkesan menyalahkan.
Yola menarik napas mendengar kata- kata papanya yang masih terkesan memojokkannya.
"Aku akan menikah tapi bukan dengan Rafly. Yang penting bagi Mama dan Papa, asal bukan dengan abang kan?" jawab Yola.
Abimanyu langsung mengernyitkan keningnya tak suka.
"Lalu dengan siapa?" tanya Abimanyu dengan pandangan menyelidik. Detik berikutnya laki- laki paruh baya itu membelalak mendengar jawaban Yola yang terlihat tanpa beban itu.
"Aku akan menikah dengan Hafiz," jawab Yola.
"Kamu bercanda?"
Yola menggeleng.
"Yola serius, Pa. Berpikir seribu kali pun kalau bukan abang, hanya Hafiz yang mungkin cocok mendampingi Yola. Dia sahabatku, dia paling mengerti aku, dia juga mapan dan tak akan membuat papa malu. Dan terlebih lagi dia baik," jawab Yola.
"Nggak bisa. Dia adalah salah satu dari keluarga Nirwan. Selama ini Papa membiarkan kalian bersahabat bukan berarti Papa mengijinkan kalian menikah," tolak Abimanyu.
"Dia sudah bukan anggota keluarga Nirwan lagi sejak lama. Kalian tak perlu khawatir tentang itu," jawab Yola.
"Apa kamu mencintai dia?" tanya Mama tiba- tiba.
Yola tersenyum miris.
"Ayolah, Ma... Sejak kapan kalian memperdulikan perasaanku? Kalian sangat tau siapa yang kucintai. Kalau itu memang sangat penting untuk kalian pertimbangkan, saat ini pun pasti kalian tidak akan mendesakku menikah dengan orang lain selain abang, kan?" jawabnya agak ketus.
"Tapi Yola, kamu juga harus memikirkan perasaan Hafiz juga donk. Mana bisa kamu menikahi orang yang nggak kamu cinta. Kamu akan membuat Hafiz menderita nantinya," jawab Ratih berusaha untuk membatalkan ide Yola yang gila itu. "Terlebih lagi meski tidak sedarah, bagaimana pun Hafiz adalah adiknya Ilham. Ini tidak benar, Yola!"
"Terus yang benar itu gimana, Ma? Yola harus menikah dengan Rafly? Yola juga nggak cinta sama dia. Dengan Hafiz kami bisa saling mengerti sebagai sahabat. Dia tidak akan menderita karenaku," kata Yola bersikeras.
"Tapi, Yola ....!
"Cukup, Ma!" sela Abimanyu dan berpaling pada Yola. "Baik. Kamu suruh Hafiz ke sini dan bicara dengan Papa."
"Oke, Hafiz juga akan ke sini hari ini. Papa tunggu saja," jawab Yola.
__ADS_1
*****
Seperti yang sudah dijanjikan, Hafiz datang menepati janjinya pada Yola. Dan entah kenapa Yola menjadi canggung karenanya. Mungkin karena dia merasa telah melakukan sesuatu yang memalukan kemarin. Yola mengutuki dirinya sendiri yang telah memikirkan ide konyol itu. Belum lagi reaksi yang akan ditunjukkan Ilham bila nanti dia menikah dengan Hafiz. Dan bagaimana dengan Ammar? Uhhh semua yang terjadi seperti benang kusut dihidupnya.
"Jadi, kamu ingin menikahi Yolanda, ya? Kamu sadar dengan semua ini? Pernikahan bukan hal main- main," kata Abimanyu memperingatkan Hafiz.
"Saye tahu, Pak Cik. Saye tak nak bermain- main. Saye serius nak berkahwin dengan Yola," jawab Hafiz sembari melirik Yola.
Yola terlihat menunduk dan membuang napas. Dalam hatinya dia menyesal akan keputusan cerobohnya ini. Andai ada pilihan lain. Tapi kalau dia tak memutuskan hal nekad seperti ini, maka dia pasti akan dinikahkan dengan Rafly, ya Tuhan .... Bagaimana ini?
"Kamu sudah memikirkan ini matang- matang? Bagaimana pun kamu tahu bahwa Ilham adalah mantan suami Yolanda. Dan meski tak ada hubungan darah di antara kalian. Kalian tetaplah kakak beradik. Akan ada banyak kecanggungan dan hal yang tidak menyenangkan di masa depan. Kamu siap dengan itu?"
Lagi- lagi Hafiz melirik Yola.
"Ya, saya dah pikirkan hal ini baik- baik, Pak Cik. Usah khawatirkan pasal Abang Ilham. Saye dah tak punya hubungan apa pun dengan keluarga Nirwan. Yang pasti saye akan jagakan Yola seumur hidup saye," ucap pria itu bersungguh-sungguh.
Abimanyu mengangguk sembari melirik putrinya yang menunduk dengan raut gelisah yang tak bisa dia sembunyikan dari wajahnya.
"Baik. Kamu boleh panggil perwakilan keluargamu ke sini untuk membicarakan rencana pernikahanmu dengan Yola," kata Abimanyu.
Hubungan Yola dengan Ilham harus diputuskan secepatnya, pikir Abimanyu. Siapa pun yang menjadi suami Yola tak apa asal itu bukan Ilham. Dan lagi pula Abimanyu berpikir dia juga telah lama mengenal Hafiz. Dan yang terpenting saat ini lelaki itu bukan lagi bagian dari keluarga Nirwan.
Selama beberapa tahun bertahan dan pura- pura tidak tahu mengenai identitas aslinya, dia pun akhirnya mencari informasi dan menemukan keberadaan ayah kandungnya dan memutuskan untuk meninggalkan keluarga Nirwan. Meski Zubaedah awalnya tidak setuju, tetapi mengetahui alasan Ilham meninggalkan Yola adalah demi anak mereka yang hilang, Hafiz menjadi lebih sakit hati. Dia adalah anak pengganti anak yang hilang itu, dan demi anak itu pula Yola wanita yang dia cintai juga menderita.
Ayahnya tidak sekaya keluarga Nirwan, tapi lelaki itu masih sanggup menyekolahkannya hingga lulus dari perguruan tinggi. Kesukaannya pada gym dan fitness membuatnya berhasil merintis karir dari nol hingga bisa membuka beberapa cabang sanggar olahraga di beberapa kota di Malaysia.
Dan kini Yola membutuhkannya untuk mendampingi hidupnya meski hanya pura- pura. Hafiz tak akan menolak. Meski dia tahu cinta Yola bukan untuknya, tapi dia akan berusaha menanggungnya. Yola cinta atau tidak padanya dia tetap akan melindungi wanita itu.
"Jadi, macam mana? Aktingku bagus tak?" tanya Hafiz begitu mereka berada di luar. Tepat di samping mobil yang dibawa Hafiz untuk menemui Yolanda.
Yola menatapnya sendu.
"Tapi aku sedang tidak bercanda, Ndut. Aku mau kita menikah beneran," jawab Yola.
Hafiz menatapnya penuh arti.
"Beneran ...." kata Yola lirih mencoba meyakinkan Hafiz meski ia sendiri tidak yakin.
"Macam mana aku boleh percaya padamu?" Tanya Hafiz meragukan. "Jangan- jangan kau salah mengira ini april mop ...."
Kata- kata Hafiz terhenti saat sebuah tindakan dari Yolanda membuat jantungnya seakan berhenti berdetak. Gadis itu tiba-tiba berjinjit dan menarik kepalanya agar menunduk. Sebuah ciuman tak terduga seakan menembak jantungnya agar berhenti berdetak. Tindakan Yolanda seakan mengajarinya yang tidak pernah mengalami ini sebelumnya. Ya, dia belum pernah berciuman sama sekali dengan seorang gadis pun. Yolanda adalah cinta pertamanya. Dan detik ini pun Hafiz tiba- tiba merasa bodoh, kenapa Yola yang mengajarinya. Gadis itu sangat mahir melakukannya. Seolah, Yola sangat menginginkannya. Gadis itu terus bermain- main dengan lingual dan salivanya.
__ADS_1
Hafiz mungkin akan merasa ini indah andai ia tidak sengaja melihat kaca spion mobil yang berada di belakang Yola. Seseorang berdiri di sana di luar pagar menatap mereka dengan hati hancur. Seseorang yang menjadi alasan Yolanda berbuat senekad ini.
Lalu dengan inisiatif meski dengan hati yang sama hancur, Hafiz pun menarik pinggang Yola agar lebih merapat pada dirinya. Dan mengikuti nalurinya Hafiz pun membalas ciuman itu seolah dia juga ahli melakukannya. Mengeksplorasi semua yang ada di mulut gadis itu bahkan hingga keduanya bertukar saliva.
Yola tersentak menerima respon Hafiz. Dia ingin melepaskan ciuman itu karena dia sudah melihat Ilham meninggalkan tempat itu. Yola ingin Ilham menyerah padanya. Hanya itu tujuannya. Tetapi perkiraannya salah, Hafiz membuat ciuman itu semakin dalam. Yola bisa merasakan emosi di sana. Yola berusaha mendorong dada Hafiz dengan tangannya, tapi Hafiz menahannya dan menggenggam pergelangan tangan itu agar tak bisa mendorongnya lagi.
Hingga beberapa saat Yola hampir tak bisa bernapas lagi, barulah Hafiz melepaskannya. Yola sampai terengah-engah. Hafiz menyeka saliva di bibir Yola dengan jempolnya.
"You're lips taste so sweet," ucap Hafiz membuat pipi Yola memerah karenanya.
"Ehsan! Kau sudah gila??!!" pekik Yola sembari mengelap bibirnya lagi. Hafiz melakukan hal serupa.
"Ya. Aku dah gila kerana kau. Tetapi kerana kau dah tunjukkan ketulusanmu itu, aku dah tak boleh menolak lamaranmu itu. Ape salahku Tuhan kau beri aku calon isteri macam ni," kata Hafiz pura- pura mengeluh.
"Hafiz ...."
"Aku balik ke hotel dulu. Besok pagi aku mesti bertolak ke Serawak untuk bagi tahu family aku tentang planning perkahwinan kita," kata Hafiz.
"Hafiz ...." Rasanya Yola ingin sekali mengucapkan sesuatu agar segala rasa tak enaknya bisa menghilang detik itu juga. Tapi lidahnya kelu.
"Kenape? Kau nak aku bermalam kat sini? Aduhai dah tak sabar rupanya calon mempelai wanita ni," goda Hafiz.
Entah bagaimana Hafiz bisa menghilangkan kecanggungan hubungan mereka dengan begitu mudah. Yola tak mengerti.
"Aku balik dulu, sayang," Hafiz mengecup lembut pucuk kepalanya tanpa permisi.
******
"Yola, kite bercerai sahaja."
Hati Yola menangis dalam diam, tapi dia menanggungnya saja. Dalam panggilan telepon itu, Ilham mengucapkan talak terhadapnya.
"Kita memang sudah bercerai."
Ilham menahan air matanya agar tak keluar.
"Tak. Selama ini kau masih jadi isteri abang, tapi malam ini ape yang abang tengok tak dapat abang menyangka, kalau Yola tega berbuat macam tu dengan Hafiz. Hafiz adalah adik abang sendiri. Macam mana kau sampai hati melakukan itu Yola?? Kita bahkan telah ...."
"Tolong jangan ungkit itu lagi abang, itu cuma kesalahan alkohol. Tapi soal hati tidak bisa dipaksa. Aku baru saja menyadari kalau aku mencintai Hafiz. Dia pun sama. Kebersamaan kami bertahun-tahun tentu lebih berharga daripada kebersamaanku dengan abang yang kalau boleh dihitung hanya berkisar hitungan jari saja. Aku akan menikah dengan Hafiz secepatnya," kata Yola.
"Baik. Aku doakan kalian bahgia satu dengan lainnya," ucap Ilham perih.
__ADS_1