
"Abang mau ngapain??!!!" tuding Yola lagi dan sekarang dia buru- buru duduk.
"Abang tak buat ape- ape!" bantah Ilham.
Sial! Apa yang kau nak bikin dengan Yola tadi, Ilham biadap! Makinya pada diri sendiri dalam hati.
Ilham sendiri tak menyangka kalau tubuhnya akan merespon seperti itu saat memperhatikan Yola betul- betul. Ilham tak menyangka kalau dia akan berani mencium gadis itu. Itu ciuman pertamanya yang harusnya diberikannya untuk Sonia. Tapi kini dia mencium gadis kecil itu. Gadis di bawah umur! Damn!
"Tak buat apa- apa gimana? Jangan kira Yola nggak tau kalau Abang, kalau Abang ...." Yola tak berani meneruskan kata-katanya.
"Kalau ape?" tanya Ilham dengan mata memicing.
Jangan bilang kalau gadis itu sadar kalau dia menciumnya tadi.
"Abang mau bikin aku hamil, kan? Abang jahat!!!!"
Jeng! Jeng! Jeng!!
Ilham merasa seperti sedang ditimpa batu besar mendengar tudingan Yola.
"A- ape? Ape kau kate Yola? Ha- hamil? Mana mungkin Abang ...."
Apa maksud bocah ini? Ilham memang tak sadar menciumnya tadi. Tapi itu tidak berarti dia ingin bersetubuh dengan bocah itu.Sumpah! Tubuhnya sama sekali tidak merespon seperti itu.
"Abang bohong!! Abang tadi cium Yola kan? Abang!!! Yola nggak mau hamil dan punya anak. Yola malu!!! Huuuuu ...." Gadis itu menangis sekarang, membuat Ilham tambah bingung.
Sebenarnya apa isi otak anak ini? Kenapa pikirannya bisa begitu?
"Mama bilang ciuman bisa bikin orang hamil Abang! Pelukan juga. Oh iya! Tadi Abang juga peluk Yola, kan? Ya Tuhaan.... Bagaimana ini?!!!" pekiknya histeris. "Aku nggak mau hamil!!!"
Ilham tak mengerti kenapa istri kecilnya itu tiba- tiba histeris seperti ini. Sementara Yola menjadi panik sendiri. Yola pernah menonton film kartun Disney putri tidur yang terbangun karena dicium oleh pangeran dan beberapa kali tak sengaja menonton adegan lelaki dan perempuan berciuman di salah satu stasiun tv luar dan Mamah Ratih selalu mewanti- wantinya untuk tidak pernah lagi menonton hal seperti itu apalagi mencoba melakukannya. Mamah bilang melakukan hal seperti itu bisa membuat seorang perempuan hamil.
"Eh, Yola! Yola! Tenang, tenang ...."
Ilham kini duduk di ranjang, di sebelah Yola. Dia berusaha menenangkan gadis itu.
"Yola tenang dulu!"
Ilham menyentuh bahu Yola.
"Ihhh, Abang!!! Jangan pegang- pegang!! Aku nggak mau punya anak. Aku harus kasih tau Mama sama papa soal ini. Papa sudah janji kalau Yola menikah dengan Abang Ilham, Yola nggak akan hamil dan punya anak! Sekarang gara- gara Abang sebentar lagi aku akan jadi ibu- ibu. Aku nggak mauuuu.... Huuuuu!!!" teriak Yola sambil menangis membuat Ilham makin panik.
"Yola!!! Siape bilang kamu akan punya anak? Abang tak de pun cium Yola!" bantah Ilham.
Untung rumah ini besar dan tidak terlalu berdekatan dengan rumah tetangga sehingga tak akan ada yang mendengar teriakan Yola. Kalau tidak Ilham pasti akan malu. Untung juga Mamah dan Hafiz tak ada di sini.
"Abang bohong!" tuding Yola lagi.
"Abang Ilham tak bohong!" dusta Ilham. "Abang tadi cume sentuh bibir Yola dengan jari abang. Macam ni!"
Ilham meletakkan jempolnya di bibir Yola dan juga mendekatkan wajahnya ke wajah gadis itu membuat Yola spontan menarik wajahnya menjauh.
"Tadi ada kotoran cicak di bibir Yola," kata Ilham. Yah, berbohong lagi.
Tapi bagaimana lagi? Daripada nanti ini anak mulutnya ember dan cerita pada semua orang kalau dia menciumnya, mau ditaruh kemana wajah Ilham?
"Kotoran cicak? Ya Tuhan, jorok sekali!"
Gadis itu langsung mengelap bibirnya dengan jarinya dan mengendus jari itu ke hidungnya. Meski dia tak mencium bau apa pun tapi Yola merasa mual membayangkannya dan segera berlari ke kamar mandi untuk mencuci bibir dan mulutnya. Tak lama dia pun kembali lagi dan masih melihat Ilham berada di kamarnya.
"Abang ngapain di sini? Keluar!" Kata Yola sambil mendorong tubuh Ilham ke luar dari kamarnya.
"Yah, terus Abang tidur di mane? Ini kan kamar kita berdua?" goda Ilham.
"Abaaang apaan sih? Selama Yola di sini. Ini kamar Yola. Abang tidur di kamar lain aja. Atau Abang yang di sini. Yola yang tidur di luar?"
"Oke, oke. Abang tidur di kamar sebelah je. Atau Yola mahu Abang tidur di rumah Atok je sekalian? Biar Yola sendirian je, di rumah ni?" kata Ilham menakut- nakuti.
Dia segera beranjak pergi tapi Yola kemudian menahannya. Gadis itu menarik bajunya.
"Abaaang!!!" panggilnya manja membuat Ilham menoleh. Dia menyukai saat gadis itu memanggilnya seperti itu.
"Ape?"
"Abang tidur di kamar sebelah aja. Abang jangan pergi. Yola takut sendirian di rumah," rengeknya manja.
Ilham berbalik badan dan berhadapan dengan Yola. Dipandangnya wajah imut itu lalu mencubit pipi gadis itu pelan.
"Oke. Abang di kamar sebelah je. Kalau ade ape- ape, panggil Abang," katanya lembut.
Yola mengangguk. Sepeninggal Ilham ia pun segera menutup pintu dan segera mengganti bajunya dengan baju tidur lalu berbaring. Yola berusaha memejamkan matanya lagi namun dia tak bisa tidur. Perlahan ia menyentuh bibirnya dengan jempol. Apa iya Ilham cuma menyentuh bibirnya dengan jempol karena ingin membersihkan kotoran cicak? Kenapa Yola tidak percaya? Jelas- jelas tadi wajah Bang Ilham sangat dekat dengan wajahnya.
Tidak, tidak, tidak! Tidak mungkin. Pasti Bang Ilham tidak berbohong.
***
Keesokan harinya Yola dan Ilham pun berkunjung ke rumah Atok. Keduanya ke sana dengan mengorder taksi online. Kedatangan keduanya disambut dengan senyum- senyum oleh Mama Zubaedah.
"Kesayangan Mamah datang juga. Ilham, apa kau bikin pada Yola sampai jalannya timpang macam ni?" tanya Mamah Zubaedah penuh selidik.
__ADS_1
Pertanyaan itu membuat Ilham kesal.
"Mamah jangan pikir macam- macam, ye? Kalau bukan kerana Mamah tinggalkan Ilham dan Yola di mall, tak mungkin barang- barang Yola sampai dirampas oleh pencuri dan Yola terjatuh kerana kejarkan pencuri tu! Mama kira Ilham nak buat ape?" tuding Ilham kesal.
"Mamah kira sesuatu yang manis terjadi tadi malam," goda Mama Zubaedah lagi dengan senyum jahil di bibirnya.
"Manis ape? Mamah ni ...."
Ilham geleng- geleng kepala melihat kelakuan Mamahnya dan memilih masuk ke kamarnya.
"Yola, betul ke kate Abang kau tu? Yola kejar pencuri? Coba Mamah lihat ade luka ke?"
Yola mengangguk dan menunjukkan luka di lutut, dagu dan juga lengannya.
"Ya Tuhan, macam mana ini boleh terjadi? Ilham! Kenapa Yola bisa kejar pencuri tu? Kau kemane? Kenapa bukan kau yang kejar?" tanya Mamah Zubaedah panik sambil menarik Yola ke kamar Ilham.
"Ehm,, waktu tu Ilham berjumpe dengan kawan Ilham. Lalu Yola pergi pusing- pusing sekejab nak cari- cari barang. Eh, pas Ilham cari Yola dah pun tunggu di parkiran. Mamah bawa kereta kite, tinggalkan kite disana. Sungguh Mama nih tega sangat!" kata Ilham sebal.
"Ilham, kamu ceroboh sangat. Macam mana kamu boleh lepas Yola sendiri sahaja di mall? Macam mana kalau Yola sesat? Macam mana kalau Yola hilang? Macam mana kita bagi tau Mama papanya?"
Mama Zubaedah terlihat gusar dengan jawaban anaknya.
"Dan lagi ,siapa kawan kau tu sampai kau tega biarkan isteri kau sendiri sahaja di tempat asing? Siape? Bagi tau Mamah. Sepenting ape kawan kau tu daripada Yola?"
Ilham terdiam mendengar omelan mamahnya. Dia memandang Yola berharap Yola tidak akan memberi tahu mamahnya kalau dia bertemu Sonia kemarin malam. Sonia memang penting baginya.
Apa? Apa? Kenapa Abang menatapku begitu? Takut aku memberi tahu mamah ya? Hehehe, batin Yola tertawa. Rasanya semakin dia ingin memberi Ilham pelajaran.
"Mamah, jangan marahin Abang, ya! Abang tadi malam cuma bertemu temannya. Temannya itu cantik deh, Mah! Namanya kakak Sonia. Yola takut ganggu mereka, makanya Yola pergi jalan- jalan keliling," kata Yola mengadukan.
"Ape?? Jadi kawan kau wanita? Ilhaaaamm!!! Kau tak boleh dekat- dekat dengan gadis mana pun selain Yola. Kau dah punya pun isteri!!!" omel Mamah sambil menjewer telinga Ilham.
"Iye, iye! Ampun, Mah!" jerit Ilham.
Yola tertawa melihat suaminya itu dijewer oleh mertuanya.
"Ape? Ape? Yola senang ke lihat abang dimarahi Mamah?"
Yola semakin tertawa sampai air matanya keluar. Pemandangan itu terlihat lucu baginya dan dalam hati Ilham pun sebenarnya dia senang melihat Yola tertawa seperti itu. Setidaknya anak itu tidak lagi canggung berekspresi di depan mereka.
Selang beberapa lama, Yola dan Mama Zubaedah telah berada dalam satu ruangan. Di dalam ruangan itu terdapat lemari- lemari besar. Mama Zubaedah mengeluarkan satu persatu album foto lama dan meletakkannya di lantai.
Setelah terkumpul beberapa album, Mama Zubaedah membuka lembar demi lembar album dan akhirnya menemukan foto yang dia cari, Mama Zubaedah menunjukkannya pada Yola.
"Ini coba Yola tengok. Ini gambar siape?"
"Ini ....? Abang?" tebak Yola.
Mama Zubaedah tersenyum puas.
"Betul sangat! Itu gambar Abang Ilham dan Yola. Comel sangat Yola mase tu kan?"
Yola memperhatikan lagi. Ya, sepertinya anak perempuan di foto itu memang dirinya.
"Dah Mamah kate semenjak dahulu. Yola dan Bang Ilham memang serasi. Kalian memang akan berjodoh, Sayang ...."
Yola tersenyum. Jelas saja berjodoh. Gimana nggak berjodoh dia masih kecil aja sudah dikawinkan dengan lelaki itu. Bagaimana dia akan bertemu dengan lelaki lain?
Tak ingin membahasnya lebih panjang, Yola membalik lagi lembar demi lembar album foto lain. Banyak foto- foto keluarga Nirwan di sana. Khususnya foto- foto Ilham dan Hafiz berdua. Hingga dia pun akhirnya menemukan lagi salah satu foto yang menarik perhatiannya. Itu adalah foto kedua keluarga kecil suaminya itu. Ada kedua mertuanya selagi masih muda, foto Ilham seusia 7 tahunan dan foto seorang bayi perempuan yang dipangku oleh Mama Zubaedah. Tak ada Hafiz di sana.
"Ini foto Mamah,papah, dan Bang Ilham ya, Mah? Hafiz mana? Yang bayi ini siapa?" tanya Yola penasaran
Yola melihat raut wajah Mama Zubaedah langsung berubah. Dia menarik album foto itu dari tangan Yolanda dan menutupnya.
"Itu gambaran keluarga kecil Mamah, sebelum .... Ah, sudahlah Yola! Yang penting kau sekarang ada kat Mamah dan Bang Ilham. Itu dah semestinya," kata Mama Zubaedah.
"Maksudnya Mamah?" tanya Yola penasaran.
Mertuanya itu mengelus pundaknya dan mengajaknya menyusun kembali album foto itu.
"Kalau Yola nak simpan dan bawa pulang gambar Yola dan Bang Ilham, bawalah!"
"Eh, nggak usah, Ma. Biar aja di sini," tolak Yola.
"Tak ape. Yola sekarang isterinya Bang Ilham. Itu gambar kenangan kalian berdua. Kalian boleh pajang di rumah yang dibagi oleh Atok. Daripada di sini pun hanya diam dalam album, baik lagi di bingkai dan dipajang di dinding rumah sana."
"Oh, ya sudah. Terserah Mamah saja."
*Flashback on*
13 tahun yang lalu Atok Tengku Yahya Nirwan dan putrinya Zubaedah memiliki perjalanan bisnis ke Jakarta. Waktu itu Ilham masih berusia 7 tahun. Ilham tidak ikut, tapi adiknya yang masih berusia 6 bulan itu tentu saja dibawa ikut ke Jakarta.
Selama di sana, Zubaedah dan ayahnya menginap di rumah keluarga Gunawan yang mana Salim Gunawan adalah sahabat dari Tengku Yahya Gunawan. Persahabatan mereka itu pun akan diturunkan pada anak- anak cucu mereka.
Tetapi suatu hal terjadi di sana. Entah siapa yang melakukan, bayi perempuan dari Zubaedah hilang di kediaman keluarga Gunawan. Entah siapa yang melakukan. Tak ada jejak. Bahkan telah lapor polisi pun berulang kali tetap tak bisa menemukan siapa yang menculik bayi itu. Terpukul! Rasa kehilangan separuh nyawanya, Zubaedah menuntut keluarga Gunawan untuk bertanggungjawab atas hilangnya putrinya. Dan pertanggungjawaban yang dia minta adalah ketika Ratih yang sedang hamil waktu melahirkan kelak, jika itu perempuan dia akan membawanya pergi. Menjadikannya pengganti putrinya.
Ratih tentu tidak bisa menerima hal itu meski saat itu suami dan mertuanya sempat mengiyakan keinginan dari Zubaedah Nirwan. Hingga akhirnya hari dia melahirkan itu tiba. Zubaedah langsung terbang dari Malaysia ke Jakarta.
"Berikan dia pada saye," kata Zubaedah.
__ADS_1
"Tidak!!!" tolak Ratih tegas sambil memeluk bayinya.
"Bayi saya hilang di kediaman kalian. Dan sampai sekarang, kalian tak boleh menemukan dia. Saye pun seorang Ibu. Hati saye sakit, ingin anak saye kembali. Berikan dia pada saye. Kalian masih boleh punya anak lagi. Saya akan rawat dia seperti merawat anak saya sendiri!" pinta Zubaedah.
"Saya minta maaf soal itu. Kami sudah berusaha mencari keberadaan Andini. Tapi, tapi memang tak ada info apa pun mengenai penculiknya. Papa juga telah mengerahkan detektif swasta juga masih nihil. Tolong beri kami waktu lagi. Andini pasti masih akan ditemukan," bujuk Ratih.
"Tidaaak!!! Usah memberi harapan palsu pada saye. Saya nak anak saye kembali atau, berikan saye anak pengganti. Saya dah tak boleh punya anak lagi. Tapi kau masih punye banyak kesempatan memiliki anak lagi. Kau masih muda! Berikan dia pada saya!"
Zubaedah pun berniat mengambil paksa Yolanda pada saat itu. Suasana sudah semakin runyam dan rumit andai kedua tetua di keluarga mereka masing-masing tidak ikut menengahi. Tengku Yahya Nirwan atau Atoknya Ilham pun membujuk putrinya untuk tidak melanjutkan keinginannya itu, yaitu mengambil paksa Yola dari ibunya mengingat Yolanda masih bayi dan hubungan antara dua keluarga mereka yang selama ini baik. Belum lagi Yola adalah anak pertama dari Abimanyu dan Ratih.
Setelah berunding yang sangat lama akhirnya pun Zubaedah luluh dengan bujukan ayahandanya sendiri. Dia tidak akan mengambil Yolanda dan hubungan keluarga mereka akan baik- baik saja dengan beberapa syarat yaitu, jika Ratih memiliki anak lagi, maka dia berhak mengambil salah satunya untuk mengganti anaknya yang hilang dan syarat kedua jika kelak Yolanda sudah masuk usia aqil baligh, Yolanda akan dipersunting keluarga Nirwan untuk menjadi menantu di keluarga mereka. Dengan begitu, Yola pun akan jadi putri mereka. Persyaratan itu pun akhirnya disepakati bersama.
Namun mendengar syarat semacam itu, Ratih tak ingin lagi memiliki anak yang lain selain Yola. Dia tak mau anaknya diambil oleh orang lain. Dia tak akan sanggup. Dan pada akhirnya dia memutuskan hanya akan memiliki Yolanda saja.
*Flashback off*
Karena itu sekarang Yola ada di sampingnya. Menantunya yang telah dianggapnya putri sendiri. Dan sampai kapan pun Zubaedah tak akan melepaskan Yolanda. Dia akan menjadi putri menantunya dan isteri Ilham selamanya.
***
3 hari berlalu begitu cepat. Yolanda kini tengah berada di bandara bersama Hafiz dan Mamah Zubaedah menuju pulang ke Indonesia. Ilham ikut mengantarkan. Dia sendiri juga akan berangkat ke Berlin beberapa hari lagi.
"Yola, bakal rindu ke dengan Abang Ilham nanti?" tanya Ilham pada Yola yang sedari tadi hanya diam.
Gadis itu sebenarnya memiliki perasaan yang aneh sekarang. Dia seakan berat meninggalkan Malaysia. Berat juga meninggalkan seseorang yang ada di sampingnya sekarang ini.
"Yola ...." Ilham meraih tangan Yola dan menggenggamnya.
Yola merasa panas dingin.
"Abaaang ...."
Ah, Ilham sangat menyukai dipanggil seperti itu oleh Yola. Manja dan terasa menggemaskan. Tiba- tiba saja dia ingin memeluknya dan ....
"Abang aaa .... Jauh- jauh .... Yola nggak mau ham ...."
"Yola, diam sekejab! Abang nak peluk Yola sekejab je. Kite bakal lama tak jumpa." kata Ilham semakin mempererat pelukannya.
Yola merasa aneh. Dia takut hamil seperti yang dikatakan oleh Mama Ratih. Tapi saat ini tubuhnya tidak menolak dipeluk Ilham. Dan lihatlah, tangan Yola sekarang malah balas memeluk Ilham.
"Abaaang ...."
"Hmmm ....." Sahut Ilham.
"Abang akan lupakan Yola ke?"
"Tak nak .... Cakap kau dah mirip orang Malay pun ...." kekeh Ilham.
Yola tersenyum. Selama beberapa hari ini dia terbiasa dengan logat Melayu.
"Yola ...."
"Hmmm?"
"Abang akan sering telepon dan kirim chat pada Yola. Yola akan tunggu abang, kan?"
Tunggu? Tunggu buat apa maksudnya? Bukannya dia yang pergi, kenapa jadi dia yang menunggu? Bukankah harusnya Dia yang ditunggu untuk datang kembali ke Malaysia? Yola tidak jelas dengan hal itu, namun kemudian Yola mengangguk.
"Yola akan tunggu Abang."
Mamah Zubaedah yang sengaja membiarkan keduanya dari jauh hanya tersenyum. Yah, misinya berhasil.Yola dan Ilham sudah terikat perasaan sekarang. Selanjutnya hanya waktu yang akan menyempurkan pernikahan mereka.
Tak lama begitu pesawat mereka landing di Jakarta, mereka telah ditunggu oleh Mama Ratih yang tak sabar menunggu kepulangan anak semata wayangnya. Begitu melihat anaknya, wanita separuh baya itu langsung memeluk putrinya dan menariknya agak menjauh dari Zubaedah dan Hafiz.
"Yola, gimana? Abang Ilham nggak ngapa-ngapain Yola, kan?" tanyanya khawatir.
Yola menggeleng.
"Yang bener? Yola bohong ke mama ni .... Benar Yola nggak diapa- apain sama Abang Ilham? Nggak dipeluk? Nggak dicium? Atau ...."
Yola tersipu mendengar pertanyaan Mamanya.
"Nggg ...."
"Yola!" Desak mama dengan nada curiga.
"Mama apaan sih? Yola nggak diapa- apain. Yola cuma dipeluk Abang tadi di bandara," jawab Yola.
"Cuma di bandara?" tanya Mama.
"Iya."
"Bohong?"
"Nggak, Ma!"
Mama Ratih merasa lega mendengarnya. Syukurlah kalau menantunya itu tidak melakukan apa- apa pada Yola. Dia tidak mau putrinya mengalami hal itu saat ini.
Sementara itu Yola mulai merasa hatinya memiliki ruang hampa yang tak bisa dijelaskannya.
__ADS_1