Jodoh Dari Malaysia

Jodoh Dari Malaysia
Masih Malam "Berinai Curi"


__ADS_3

Nadira mengernyitkan keningnya bingung melihat ke arah kamar Atok Yahya. Apa maksud Sonia menunjuk ke arah kamar itu? Atau maksudnya dia perawat itu ada di dalam rumah? Ya, ya, ya pasti begitu maksudnya, pikir Nadira.


"Aku akan menghantarmu ke dalam," kata Nadira sambil meraih pegangan kursi roda Sonia, memutarnya dan membawanya lewat depan.


"Tu-ttu ..." Ocehan Sonia yang tak jelas entah apa artinya itu tak digubris oleh Nadira.


Sungguh dia jengkel pada Sonia. Tetapi mengingat Sonia adalah temannya di masa dulu dan mempertimbangkan kondisi Sonia yang seperti sekarang, Nadira tak sampai hati untuk meninggalkan wanita itu di samping rumah sendirian di malam hari seperti ini. Mana dingin, mana banyak nyamuk. Entah dimana perawat itu. Sungguh tidak bertanggung jawab. Begitulah kira-kira yang ada di pikiran Nadira saat ini.


Sementara itu di dalam kamar, Melisa menghembuskan napas lega. Syukurlah wanita yang sedang bersama Sonia itu tidak mengecek jendela kamar, begitu pikirnya. Lalu kemudian Melisa lanjut mencari lagi.


Semua mata orang-orang yang berada di luar rumah hingga ruang tamu keluarga Nirwan tertuju pada Sonia yang didorong masuk oleh Nadira dengan menggunakan kursi rodanya.


"Sonia? Nadira? Ape hal ni? Korang berdua dari mane?" tanya Zubaedah. "Kenapa boleh bersama?"


Suasana seketika langsung menjadi berubah tak nyaman, mana kala Sonia dibantu masuk oleh Nadira ke ruang tamu.


"Tak tahu, Makcik. Saye tengok Sonia ade kat samping rumah sendiri. Tak tahu dia buat ape di sana. Jadi saye bawa masuklah kat sini," jawab Nadira.


Zubaedah mengerutkan keningnya.


"Maksudnya sendiri macam mana? Macam mana dia boleh ade di sebelah rumah sendiri sahaja. Melisa ade dimana?" Zubaedah balas bertanya.


"Entah. Saye pun tak tahu, Makcik. Saye nak cari Lily tadi. Astaghfirullah, saye jadi lupa pula pasal Lily. Saye cari dahulu budak tu, Makcik!"


"Tak payah khawatirkan Lily. Dia ade kat rumah jiran di depan. Dia seronok bermain bersama Rahma dan Ghibran, anak kerabat kite juge dari Penang. Makcik baru sahaja dari depan tadi," kata Zubaedah mencoba menenangkan Nadira.


"Saye tak khawatir, Makcik. Saye hanya nak tanya sahaja, ape dia mahu dipakaikan inai juge," jawab Nadira.


Zubaedah mengangguk-angguk.


"Ohh .. kalau macam tu, kau tengoklah ke rumah jiran di seberang sana!" kata Zubaedah lagi.

__ADS_1


"He em. Sebentar saye tengok ke sana, Makcik." Nadira mengangguk. "Sonia, kau tak mahu juge ke dipakaikan inai? Dari pada kau berdiam diri di bilik, masih lebih baik kau bergabung kat sini dengan kami. Tak baik menyendiri. Tak ape kan, Yola?"


"Hmmm?"


Yola tercengang mendengar ide gila dari Nadira. Apa maksudnya membiarkan Sonia bergabung meramaikan malam berinai ini? Dan agaknya yang terkejut bukan cuma Yola. Semua yang ada di sana juga tercengang mendengar Nadira. Mereka menatap Yola dan Sonia bergantian. Tentu saja hampir semua yang ada di sana tahu, kalau Yola dan Sonia adalah musuh bebuyutan. Yang satu adalah mantan istri Ilham yang dulu terpaksa dinikahi, sementara yang satu adalah istri yang statusnya akan diresmikan kembali karena dulu pernah terpisah oleh sang mantan istri. Sungguh hubungan cinta segitiga yang rumit.


"Ahhh, ape maksudmu, Nadira? Sonia tak payah ikut bergabung. Dia mesti banyak-banyak rehat agar cepat sihat kembali. Betul kan, Sonia?" tanya Zubaedah pada mantan menantunya itu.


Sonia yang penampilannya kuyu mengangguk pelan. Sungguh dia juga tidak berminat untuk bergabung. Untuk apa dia bergabung di acara malam berinai mantan suaminya dan wanita yan selalu dia benci ini? Meski dia sudah gila pun dia tak akan pernah punya ide seperti itu. Entah apa maksud Nadira mengusulkan hal semacam ini saat ini. Apa Nadira sengaja ingin membuatnya sakit hati?


"Makcik, kasihan Sonia sendiri di kamar sahaja. Juru rawat dia pun sungguh tak de tanggung jawab nak jagakan Sonia. Tak apelah dia bergabung dengan kite. Sebentar saye carikan Lily. Nanti biar saye sahaja yang uruskan Sonia dan memasang inai di tangannya. Tak mengapa kan, Yola?" tanya Nadira lagi sambil mengedipkan matanya pada Yola seakan mengisyaratkan Yola agar mengiyakannya.


Dengan senyum kecut Yola akhirnya mengagguk. Dia sendiri tidak paham apa maksud Nadira menginginkan Sonia bergabung di acaranya.


"Terserah dia saja."


Nadira memang sengaja ingin menunjukkan pada Sonia posisinya saat ini. Dia ingin menunjukkan pada wanita itu bahwa inilah karma atas perbuatannya yang pernah menganggu hubungan rumah tangga orang lain. Pada akhirnya seberapa gigih pun Sonia ingin memisahkan Ilham dan Yola serta ingin memiliki lelaki itu sepenuhnya dengan cara yang licik, toh pada akhirnya takdir akan mempertemukan kembali seseorang pada jodoh yang benar melalui kekuatan cinta mereka satu sama lain. Dan dengan hal itu pula Nadira secara tidak langsung ingin memperingatkan Sonia secara tidak langsung untuk tidak berani mengganggu hubungannya dengan Leon.


Nadira tersenyum puas akan persetujuan Yola.


"Tapi ..." Zubaedah masih keberatan akan ide itu. Sungguh dia tidak ingin ada keributan nanti yang menggangu jalan acara malam berinai yang sudah dipersiapkannya sedemikian rupa untuk menantunya ini.


"Sudahlah, Ma. Nggak apa-apa. Biarkan Sonia ikut!" jawab Yola akan keberatan sang mertua.


Dan akhirnya mau tak mau Zubaedah akhirnya membiarkan saja Sonia ada di situ.


"Salmah! Kau cari dimana Melisa berada mase ni. Kenape dia selalu tinggal-tinggalkan Sonia macam ni," perintah Zubaedah pada salah satu asisten rumah tangganya.


"Iya, Puan!" jawab ART itu seraya berlalu dari sana.


****

__ADS_1


Di halaman samping rumah, Hafiz dan beberapa orang perwakilan dari pihak Ilham tengah mengendap-endap ingin mencuri peralatan yang akan mereka pakai untuk berinai di rumah green house.


"Kau yakin tak mereka menaruh tepak sirih dan semua inainya di dalam bilik Atok Yahya?" tanya seseorang kerabat Atok pada Omar, Sopir pribadi sang Atok Yahya.


"Sangat yakin pun. Saye dah dibagi tahu pembantu rumah dimana mereka menaruh semua inai dan perlengkapannya tu," jawab Omar.


"Kalau macam tu siape nak masuk ke bilik ni dahulu? Hafiz! Kau dahulu ke?" tanya kerabat Atok itu. "Kite mestilah cepat. Kalau tak mahu kemalaman nanti."


"Hahahha, biar sahaja kemalaman. Pengantin tu pun yang nak berinai. Lain aku lah. Hahaha ..." gelak seseorang.


"Kecilkan tawa kau sikit! Kite ni kat sini hendak mencurilah. Kalau ketahuan macam mana?"


"Cepat sikitlah! Banyak berbual je kalian ni," kata Hafiz dongkol.


"Kau sahaja yang masuk kat dalam Hafiz. Aku takut masuklah ke bilik Atok. Takut ade yang hilang nanti," kata kerabatnya Atok itu.


"Haisss, tak payah takut. Bile mereka dah taruh disini, itu berarti tak de barang berharga lagi kat sini. Tepi, tepi sikit. Biar aku sahaja yang masuk agar cepat," kata Hafiz. "Jendelanya dah terbuka, kan?"


"Mestinya sudah. Mereka tak mungkin suruh kita rosakkan jendela, kan?"


Hafiz mendekat pada jendela dan termangu melihat bekas congkelan di salah satu sisi jendela.


"Kenape?"


"Coba periksa jendela sebelah mana yang sengaja dibuka?" tanyanya heran.


****


Hai-hai!!! Gimana kira-kira? Ketahuan nggak si Melisa nanti sama Hafiz.


Ngomong-ngomong soal adat melayu malam berinai curi. Sebenarnya adat melayu ini lebih banyak dilakukan oleh suku melayu riau ya tapi ada beberapa melayu malaysia yang melakukan adat ini juga.

__ADS_1


Dan soal tata laksananya mungkin tiap masing-masing orang pengertian tentang "Curi Inai" ini beragam. Ada yang memang seolah-olah dicuri seperti yang author buat dalam kisah di bab ini. Ada yang hanya diambil begitu saja. Ada juga yang cuma diantar ke rumah mempelai pria tanpa.


Pokoknya apa pun itu happy reading ya, jangan sampai jadi bahan perdebatan ya... Kita di sini damai-damai sahaja. Setuju? Jangan lupa like dan komentarnya beib ...


__ADS_2