Jodoh Dari Malaysia

Jodoh Dari Malaysia
Patung Emas


__ADS_3

"Sebenarnya apa yang telah kamu lakukan? Apa kamu sudah gila? Kenapa kamu membakar rumah keluarga Nirwan?" tanya Mr. Y di telepon.


"Maafkan saye, Mr.Y. Saye tak de kesempatan lain untuk menyelidiki bilik tidur dan bilik kerja Yahya Nirwan, bila tak lakukan hal tu. Hanya malam ni satu-satunya kesempatan saye untuk dapat masuk kat sana kerana rumah sedang sunyi. Puan Zubaedah dan cucunya sedang keluar pusing-pusing dengan kawan-kawannya. Ilham pun dah balik kat apartemenny denga Yola, sementara tu semua pembantu rumah dah pun masuk ke dalam bilik masing-masing untuk rehat. Jadi macam mana saye boleh sia-siakan kesempatan ni?" jawab Melisa membela diri.


Mendengar itu, kemarahan Mr. Y atau Lucas tiba-tiba mereda.


"Jadi kamu sudah berhasil menyusup ke ruang kerja dan kamarnya? Apa ada petunjuk yang telah kamu temukan?" tanya pria itu.


"Saye dapat beberapa pucuk surat kat almari Tuan Yahya tu, tetapi saye hanya boleh ambil 2 pucuk surat sahaja, sebab dimase saye sedang membaca surat itu, tiba-tiba Ilham dan Zubaedah datang. Kerana saye takut tertangkap, saye hanya sempat ambil beberapa sahaja," katanya lagi-lagi perkataaan yang bersifat pembelaan.


Lucas di seberang sana mengangguk-angguk.


"Jadi apa isi surat itu?" tanya penasaran. Dia mulai tertarik


"Surat dari Salim Gunawan," jawab Melisa lagi.


Kali ini ia menjawab dengan kepercayaan diri penuh kalau Mr. Y tidak akan marah padanya karena dia membutuhkan informasi darinya.


Mr. Y atau Lucas mengerutkan keningnya dengan senyum yang mengembang di sudut bibirnya.


"Apa isi surat itu?" tanya Lucas menjadi lebih tidak sabar.


"Saya bingung apakah saye mesti memberikan surat ini langsung pada Tuan, agar Tuan dapat membacanya sendiri. Ataukah saye bacakan sahaja di talipon ni? Sebab saye khawatir Tuan Yahya nantinya akan curige jika dia tersadar ade yang masuk kamar dia dan ambil surat tu. Hemat saye mengatakan sebaiknya saye tak lama mesti kembalikan surat ni ke tempatnya semula," kata Melisa.

__ADS_1


Lucas nampak manggut-manggut. Benar juga kata Melisa, jika Tengku Yahya Nirwan sadar ada penyusup di rumahnya, maka bukan tidak mungkin sebelum dia berhasil menjalankan seluruh rencananya, orang tua itu akan segera tahu siapa musuhnya yang sebenarnya. Itu artinya usahanya selama puluhan tahun ini untuk mendapatkan kembali harta rampasan kapal Yolanda akan sia-sia saja.


"Baik, kalau begitu kau baca saja surat itu untukku sekarang!" perintahnya.


Melisa manggut-manggut sebelum dia celingak-celinguk untuk melihat apa ada orang lain kira-kira di ruangan itu. Saat ini dia sedang berada di ruang rawatnya Sonia, setelah kejadian semalam mereka penghuni rumah Keluarga Nirwan mengungsi ke rumah tetangga, hari ini dia diantar untuk kembali menjaga dan mengurus Sonia di rumah sakit.


Melisa membaca kembali surat yang sempat dibacanya beberapa bagian saat malam kebakaran itu.


Yahya, kalau kau setuju kita jual saja patung itu. Itu patung emas, dengan itu kita bisa mendapatkan banyak uang dan membangun usaha masing-masing dari uang hasil penjualan patung itu.


Sampai disitu, gigi Lucas mulai gemeretak menahan geram mendengar isi dari surat itu.


Jadi benar kedua orang itu telah menjual patung itu? Tak bisa dibiarkan! geramnya dalam hati.


Selesai membacanya, Melisa buru-buru melipat kembali kertas itu dan mengantonginya secepatnya. Dalam hatinya dia mengerti sekarang apa yang dicari oleh Mr. Y ini. Jika melihat dari dendam dan kebenciannya selama bertahun-bertahun pada dua keluarga itu, Keluarga Nirwan dan Keluarga Gunawan, pastilah patung emas yang dimaksud dalam surat itu adalah patung emas yang mahal sekali harganya, hingga bisa membuat Tengku Yahya Nirwan mampu mendirikan perusahaan sebesar N-one Grocery.


Ahhh, Melisa jadi penasaran tentang patung itu. Mulai sekarang dia akan lebih giat mencari tahunya sendiri, untuk memenuhi rasa ingin tahunya dan bukan semata-mata karena suruhan Mr. Y.


"Kamu bilang surat yang kamu bawa dari kamar Yahya Nirwan ada dua, lanjutkan lagi! Bacakan untuk saya!" perintah Lucas pada Melisa.


"Ehmm, betul, tunggu sekejab, Mr. Y," Melisa kini berlagak sedang bingung mencari-cari dimana dia meletakkan suratnya, padahal surat yang dia ambil selembar lagi itu ada di tangannya.


"Kenapa?" tanya Lucas di telepon.

__ADS_1


"Mmm ... suratnya yang satunya tak de di kantung saya, macam mana ni Mr. Y?" Melisa berlagak seolah-olah dia sedang panik.


"Tak ada bagaimana?" tanya Lucas dengan nada yang meninggi.


"Entah, semalam suratnya ade kat kantung baju saye. Sekarang macam mana tak ade? Mr. Y, sekejap! Saye nak cari dahulu siape tahu suratnya jatuh dekat-dekat sini," kata Melisa bersandiwara.


Mr. Y alias Lucas menjadi semakin geram dengan pekerjaan Melisa yang dinilainya sangat ceroboh.


"Kau cari surat itu sampai ketemu! Atau kau akan menyesal karena menganggap remeh pekerjaan yang kuberikan padamu!" kata Lucas dengan intonasi yang mulai meninggi.


"Ba-baik, Mr. Y. Saye akan berusaha mencarinya dan tak kan membuat Mr. Y kecewa," katanya seolah meyakinkan. Padahal dalam hatinya dia sedang menyusun rencana yang lain.


"Baiklah, aku memegang kata-katamu itu! Dan sebaiknya saat aku menghubungimu kembali, kau telah mendapatkan surat itu dan jika memungkinkan semua surat yang berada di kamar Yahya Nirwan yang berkaitan dengan kapal Yolanda, kau bawa semuanya padaku," perintahnya.


"Baik. Saye akan usahakan, Mr. Y!"


Dengan dongkol Lucas mematikan teleponnya.


Teringat olehnya puluhan tahun silam, saat dirinya bergabung dengan tim perompak sindikat internasional. Mereka adalah kumpulan para penjahat profesional dengan target orang-orang kelas atas. Membajak kapal laut adalah hal biasa, bahkan merampok bank juga bukanlah pekerjaan sulit yang tidak bisa mereka lakukan. Ditambah lagi saat itu tim keamanan dan penyelidikan belumlah secanggih saat itu.


Hingga di suatu waktu mereka mendapat target untuk di rampok. Kapal Pesiar Yolanda. Dari informan mereka menerima kabar bahwa kapal itu pada hari itu akan membawa sebuah patung emas hasil pahatan, pemahat terkenal di Hamburg. Patung itu adalah patung seorang anak kecil bernama Montha Somnang, anak dari seorang pengusaha kaya raya di Kamboja. Patung seberat 1 kwintal itu asli dari emas murni 24 krat.


****

__ADS_1


Jangan lupa like dan komentarnya yah beib ....


__ADS_2