Jodoh Dari Malaysia

Jodoh Dari Malaysia
Bonchap 1


__ADS_3

Green House


"Ruby, kau jangan degiiil. Abang tak suke, kalau Ruby ganggu Abang Ammar main lah!" omel Ammar pada Ruby yang sedang mengacak-acak rubik milik sang abang, Ammar.


"Ammar tak baik macam tu. Biarlah adik Ruby main rubik punya abang. Kongsi hmm?" bujuk Ilham yang sedang sibuk merapikan bajunya.


"Kalau rosak macam mana? Rubik Abang Ammar mesti berkurang satu. Tak seronoklah, Dad! Lebih baik kite tukar sahaja adik Ruby dengan adik lil bro pada uncle dokter!" kecam sang abang.


Ilham geleng-geleng kepala mendengar Ammar yang uring-uringan melihat Ruby yang mengacak-acak rubik miliknya.


Bayi Ruby memang sudah berumur 9 bulan kini. Sesuai dengan umur koreksinya, dia sudah bisa tengkurap seperti sedang berenang di darat dan mengacak-acak semua barang-barang yang ada di sekitarnya.


"Isss! Ruby! Jangan macam tu lah!" Masih terdengar geregetan suara Ammar melihat tingkah sang adik.


"Ammar sayang, jangan dimarahin adeknya kasihan. Jangan gitu donk sama adek, Nak. Kasihan adek Ruby kalau abang Ammar marah-marah terus."


Yola yang baru saja selesai menyiapkan sarapan di dapur, langsung menghampiri Ammar dan memeluknya.


"Mom ... tengok adik Ruby! Semua rubik Ammar dimasukkan mulut dia dan tengok! Basah kena air liur dia semuanya!" adunya pada Yola.


Yola menghela napas dan melepaskan diri dari pelukan Ammar. Lalu Yola pun mengangkat Ruby yang sedang tengkurap di lantai dan menggendongnya.


"Ruby! Kamu jangan nakal sama Abang lah! Mommy cubit nanti," kata Yola pura-pura marah. Hal itu dilakukannya agar Ammar merasa lebih baik.


"Eeh, Mommy tak boleh cubit-cubit budak kesayangan Daddy-lah!" celutuk Ilham sembari meraih Ruby dari gendongan Yola.


"Cuba tengok, Mom! Daddy pilih kasih pun, tak sayangkan Ammar," rengek Ammar. "Semua ni kerana Ruby!"


"Ammar pun sejak sejak ada mommy Yola tak lagi sayangkan Daddy lah," balas Ilham tak mau kalah.a


"Ammar sayang Daddy, tapi Mommy, Ammar rindu. Ammar nak habiskan banyak mase dengan Mommy. Tapi sekarang Ruby pun ambil mommy dan daddy pula," kata Ammar sambil menangis.


Dan Yola sangat mengerti apa yang tengah dirasakan oleh anak sulungnya itu. Dia tengah cemburu pada adiknya.


"Isss, Abang! Abang tu sama anak sendiri aja gitu deh nggak mau kalah," omel Yola.


Ilham cengengesan mendengar omelan istrinya itu.


"Tak apa, Sayang. Kan masih ada Mommy. Ammar akan tetap jadi budak kesayangan Mommy," kata Yola sembari memeluk Ammar lagi.


Ammar semakin mengencangkan tangisannya. Membuat Yola melotot pada Ilham dan memberi kode ke suaminya itu untuk membujuk putra mereka.


"Uhhh, tak lah, Sayang. Ammar pun juga tetap jadi budak kesayangan daddy," bujuk Ilham akhirnya.


Ruby diserahkannya pada Yola, kemudian anak sulungnya itu digendongnya.


"Daddy berdusta!" tuding Ammar tak percaya.


"Tak berdusta, Daddy sayang sangat pun dengan Ammar," bujuk Ilham lagi.


"Tapi Daddy lebih sayangkan Ruby kerana dia budak perempuan!" tuduh Ammar.

__ADS_1


"Siapa yang cakap macam tu?" sangkal Ilham. "Daddy sangat sayang korang berdua. Keduanya budak kesayangan Daddy."


"Ammar tak percaye!"


Ilham menghela napas.


"Macam mana supaya abang Ammar percaye?" tanya Ilham pula.


"Ruby buat kotor semua mainan Ammar dengan liur dia. Ammar tak nak pakai lagi," kata anak itu merengut.


Yola geleng-geleng kepala melihat pertengkaran dua lelaki yang sangat penting dalam hidupnya itu.


"Nanti Daddy belikan Ammar rubik baru, humm?" rayu Ilham.


"Betul ke?" tanya Ammar tak percaya.


"Betul," jawab Ilham berusaha meyakinkan putranya.


"Promise?"


"Ya. I promise, Son," jawab Ilham.


"Sudah selesai bertengkar? Bisa kita sarapan sekarang?" tanya Yola berlagak galak. "Atau mau dilanjutin lagi? Biar Mommy sarapan duluan?"


"Kite tak begaduh, Mom. Betul kan, Ammar?" kata Ilham pada Ammar.


"Hum, tak begaduh pun, Mom!"


Yola masih berkomunikasi dengan bahasa Indonesia-nya meski sesekali dia menyelipkan logat bahasa melayu dalam kata-katanya agar lebih membuat Ammar memahami perkataannya.


Mereka kini duduk di kursi makan mereka masing-masing. Seperti biasa Ilham akan duduk di kursi utama tempat kepala keluarga berada, lalu Yola di sisi kanannya, dan kemudian Ammar berada di sisi kirinya. Sementara itu baby Ruby sengaja duduk di samping Yola dengan kursi makan bayi miliknya yang sengaja disetel setinggi meja makan.


"Ammar mau pakai apa? Strawberry? Coklat? Atau sweet cheese?" Yola menanyakan pilihan selai untuk roti yang akan menjadi sarapan Ammar.


"Ammar tak nak strawberry. Strawberry tu untuk budak perempuan, Mom," jawabnya.


"Hey ... sejak kapan strawberry hanya untuk perempuan?" tanya Yola sambil tertawa geli.


"Semenjak semua baju Ruby, kamar dia, kasut dia, semua ade gambaran strawberry. Itu tanda strawberry tu untuk budak perempuan, Mom!" jawab Ammar.


Yola terkekeh mendengarnya.


"Sayang, itu nggak benar. Strawberry bisa dimakan oleh siapa pun tanpa dibedakan oleh gender. But ... tidak untuk aksesoris. Jadi strawberry atau coklat? Atau keju?"


Ammar kelihatan berpikir sejenak.


"Ammar nak cokelat sahaja," katanya.


"Oke, Mommy buatkan," kata Yola.


Lalu kesibukan Yola mempersiapkan sarapan pagi untuk keluarga kecilnya pun kembali terlihat di rumah ini.

__ADS_1


Ya, semenjak Yola dan Ilham kembali dari Pnomh Penh, mereka memutuskan untuk tinggal di Green House, rumah hadiah pernikahan dari Atok Yahya. Setelah terbiasa mengurus Ilham dan Ruby sendirian di Pnomh Penh selama delapan bulan lamanya, saat kembali ke Kuala Lumpur, ibu dua anak itu memutuskan untuk mengurus keluarganya sendiri terpisah dari keluarga Nirwan. Awalnya Zubaedah, mertuanya keberatan. Namun saat Yola bilang dia ingin memanfaatkan apa yang telah diberikan oleh Atok Yahya pada mereka, akhirnya Zubaedah tak punya pilihan lain selain mengabulkan. Toh di rumah keluarga Nirwan saat ini pun ada Andini dan Hafiz yang menemaninya.


"Abang dah usai," kata Ilham sambil mengelap mulutnya dengan serbet bersih di atas meja.


Yola yang sedang menyuapi Ruby dengan bubur sereal melihat pada piring suaminya itu.


"Dikit amat makannya?" protesnya, mana kala melihat roti bakar yang dia siapkan hanya disantap selembar saja, menyisakan beberapa lembar roti lainnya.


"Abang tergesa-gesa, Honey. Abang mesti berjumpa dengan seseorang, mungkin dia dah tiba di airport," katanya.


Yola mengernyitkan keningnya heran.


"Siapa?"


"Kau mesti suke berjumpa dengan dia," kata Ilham.


"Mama?" tebak Yola.


Ilham mengangkat bahu.


"Putri?"


"Dah! Abang bertolak sekarang!" kata Ilham sambil mengecup puncak kepala Yola dalam.


Kemudian dia beralih pada Ruby, mencium dengan sayang pipi gembul belepotan bubur itu. Lalu ia pun pura-pura tak melihat Ammar, hingga Ammar melipat tangan di dada dan menatapnya dengan tatapan memicing.


"Oh, hahaha, Daddy tak lupa. Daddy pun sayang Ammar lah, tetapi kadang Ammar ni tak nak pula Daddy kissing," keluh Ilham.


"Kissing sekedar je," kata putranya itu.


Ilham mencium pipi Ammar sekedar menempel.


"Macam tu?" tanya Ilham.


Ammar mengangguk.


Ilham pun tertawa dan mengacak-acak rambut Ammar.


"Oke, Daddy pergi dulu, ya? Assalamualaikum," pamitnya pada Ammar dan Yola.


"Waalaikumsalam," jawab keduanya.


****


Di bandara, terlihat seorang wanita sedang mencari-cari orang yang akan menjemputnya. Tak lama senyumnya kemudian merekah mendengar panggilan seseorang kepadanya.


"Sonia!"


****


bersambung kalau masih banyak yang koment dan like 😂

__ADS_1


__ADS_2